Langsung ke konten utama

Kala itu #2

 Sel; 26 Jan 21. 15.07.

Hasil gambar untuk wallpaper tengah siang

Kurang tidur. Headache mendekap ubun-ubun. Ya, memang sudah beberapa hari ini aku menjalani hidup tanpa terlelap di siang harinya. Bahkan malampun berlalu dengan lebih sedikit tidur dibanding siswa lain; lalok lambek jago tasentak.

Baru sekejap aku selesai mendengar nada alunan musik selundupan Abda. Rangkaiannya membuatku tertegun—biasa—terbawa suasana. Ehm, sudah sekian lama diriku tidak tercenung serupa ini. Apalagi karena lagu. Sudah lama.

Okay, we need a refresh. Ngerefresh otak. Keluar ruangan. Dalam pacuan lari dunia tipu-tipu ini, ada baiknya kita menyempatkan diri untuk sekedar rehat walau sejenak sahaja. Amat berguna—terlebih bagi yang menyelami kehidupan dengan sentiasa mengenakan kedok, topeng. Bagi mereka yang tak henti berpura-pura.

Awan meliputi cakrawala, namun itu tidak membuat pekarangan menjadi gelap. Sang surya seolah lihai memanfaatkan celah-celah gumpalan yang ada, demi kelangsungan hidup pengharapnya. Angin membina lambaian pepohonan, menghasilkan desiran yang menentramkan nurani. Bak melodi yang menghias kesunyian. Segalanya tampak baik. Syahdu terasa.

Tadi cenungan, kini daku mencoba berkontemplasi. Memikirkan segala peristiwa yang berlalu. Muhasabah diri. Juga tak kalah penting—masa depan yang belum jelas bagaimana situasi pelayarannya, dan dimana berlabuhnya. Siapa yang tahu, bukan?

Itulah dalih mengapa aku berkontemplasi. Bukan, bukan mendiagnosa ketidaktahuan tersebut. Akan tetapi, you know, like yang kutulis above, segalanya masih abu-abu. Masih terkemas agung di Lauh Al-Mahfuz. Justru berkat sarat ketidaktahuan tersebut, aku sudah sewajibnya merencanakan yang terbaik. Planning yang bagus, akan berbuah manis. Agar nantinya, yang abu abu itu berubah putih, bukan malah hitam. Lai paham kan?

Menit-menit berlalu, aku mendengus lemah. Kontemplasiku mulai melenceng kearah percintaan. Sungguh hal semacam ini takkan ada habisnya. Tak berujung. Jikapun ada, malah buntu. Argh, kusudahi saja perenungan ini. Hanya akan menyiksa. Cukup!!! Hentikan.

Tenggelam ku di lautan kesunyian. Nyanyian alam sekitar pun tidak mempan meramaikan hatiku. Tetap sepi, namun syahdu. Mentari tidak lagi terik, seperti sudah tak kuasa mencari celah antara ratusan awan. Sedikit temaram disini. Pun juga dengan semilir angin, ia membelai rambut hitamku. Melambai lambai.

Duhai, aku teringat sesuatu. Masih ada janji yang belum terealisasi. Suatu janji yang tak terucap, namun termaktub gamblang. Ah, cukup sudah diriku menunda-nunda. Harusnya aku memulainya sejak lama. Okay, here i go. Kuambil buku pribadiku, lantas bergegas menuju teras ujung asrama. Yea, inilah masanya. Saatnya menyambung cerita itu. Merajut kembali kisah yang telah lama usang.

 

▪

▪

▪

 

Dan… Thariq Almas Neil Authar mulai menulis…

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Waktu sudah mengembara kian jauh semenjak terakhir kali kami bersua. Akan tetapi, bukan berarti banyak pula momen yang terlewatkan. Lha iyalah. Wong aku selalu memperhatikannya, kok. Kuakui diriku merupakan penguntit tulen. Saban hari aktivitasku Cuma seputar ‘ngekor’. Mencari tahu apa yang dirinya lakukan. Melihatnya belajar, unjuk diri, atau sekedar menulis. Kau bertanya mengapa? Jawabannya tidak muluk-muluk; penasaran. Kepo. Entah mengapa aku tidak pernah bosan, selalu tertarik untuk mencari tahu. Memahami kesehariannya. Ingin saja rasanya untuk mengumpulkan informasi—segala hal tentangnya. Argh. Aku jadi bingung sendiri. Diriku sendiri saja tidak mengetahui ‘mengapa’. Mengapa aku begitu kepo dan penasaran. Mengapa aku sebegitu tertariknya untuk selalu menguntitinya. Yang pasti, rasanya, Ah, mantap.

Dia tak bisa melihatku. Namun aku tak henti melihatnya. Kutahu dirinya sibuk. Bisa saja dia ‘kaga open’ padaku jika saja diriku mencoba ngobrol di saat busy-busynya. Itulah mungkin, alasan mengapa diriku masih memilih diam membisu. Tapi, kuyakin, dimanapun ia berada, dia selalu tahu bila diriku memperhatikannya. Walau aku tidak lagi menampakkan wujudku. Itulah instingnya, dan ya, itu juga faktor mengapa aku bisa bertahan sejauh ini. Aku bisa merasa diakui. Eksistensiku bukan hanya de facto, tapi juga de jure.

Kesehariannya cukup unik. Selain kesibukan berorganisasi, pribadinya pun sedikit berbeda dari yang lain. Terlebih lagi dormitorymate-nya. Tatkala yang lain tengah melakukan sesuatu, dia ikut. Selalu ikut. Namun dia amat selektif. Itu yang membuatnuya lain. Ia selalu dapat menyaring, dan yang tidak lulus dalam seleksi—jelas ditolak. Bahkan dia berani untuk mengingatkan. Satu lagi, pemuda itu selalu punya waktu khusus untuk berkontemplasi, Alokasinya elastis, dinamis. Tidak terpaku, namun selalu ada. Selalu ada. Terlepas dari semua kegiatan padatnya.

Tergerak rasanya diri ini untuk menyapanya. Apalagi ketika dia tengah seorang diri. But, I always ditikung. Keduluan ama orang laen. Berkian kali kudapati situasi macam ini, tapi, ah, aku selalu kalah cepat—lebih tepatnya dia senantiasa punya teman bicara. Sehingga…

Selalu bersembunyi.

Lamat lamat melihat.

Entah sampai bila.

 

 

Namun, di siang itu…

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Awan putih berlalu lalang kian kemari, melintasi angkasa raya. Sesekali menghadang sang surya—membuatnya temaram. Probably karena mereka tidak mempunyai orbit, sehingga tak jelas kemana arah selanjutnya. Sepanjang hidupnya cuma menuruti arah angin. They’re always travelling, namun sebatas semu.

 

Sementara diriku? Worse than its.

Masih disini, tetap disini.

Menatap lamat-lamat ke arah pemuda itu.

Yang tengah menyepi.

Yang tengah menulis.

Yang belakangan ini, kuketahui namanya.

 

‘Thor.’

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Thor tampak tepekur takzim. Naga-naganya dia terbawa suasana tadi. Ditambah lagi nuansa ketenangan ini memang suitable buat merenung. Paduan cahaya temaram dan nyanyian angin sekitar amat menenangkan sukma. Siapapun yang menghayatinya, niscaya dia dapat merasakannya. Seperti kami, yang tengah duduk berdua di ujung teras bangunan ini. Lokasi yang sungguh strategis untuk bertafakur; tempat yang menghadap langsung ke arah sebuah perkebunan. Begitulah, seluruh dedaunan yang ada di sana melambai-lambai bak mengucap selamat tinggal pada kami.

Aku berada di samping pemuda itu, duduk menatap hamparan hijau bersamanya. Seru, dan kuharap kami bisa berkomunikasi di tengah hari ini—tapi aku telah lebih dulu berprasangka—tak akan. Lucu sekali, bukan? Bahkan raut wajahku sudah datar; kecewa sebelum mencoba.

Tiba tiba Thor tersenyum. Aku tidak kaget, tidak pula merasa aneh. Kadangkala ia memang seperti itu. Biasanya karena taragak sesuatu. Ah, melihat dia gila serupa ini, dalam jarak sedekat ini—aku jadi ikutan tersenyum. Bukan apa-apa, hany—

 

“Aku tahu kau disini.”

 

“Keluarlah”

 

Sungguh daku terkesiap hebat. Tubuhku sampai melompat—saking kagetnya. Wh—what? Lha kok bisa? Ba—bagaimana dia bisa  tahu persis, jika aku ada di sini? Argh! Jangan-jangan… sebetulnya dia selama ini bisa melihatku?! Jika iya…artinya…dia tahu bahwasanya selama ini—aku menguntitinya?! Menatap wajahnya dari dekat?! AH!

 

“Ayolah. Jangan berpura-pura.”

 

Wajahku merah padam. Malu sekali aku~ Ah, bodoamatlah. Yang penting dia yang ngajak di siang ini. Ga mungkin nolak.

Kuhela napas panjang, lantas memunculkan diriku—like kamui jutsu at Naruto films.

Hasil gambar untuk kamui

 

 

 

 


                                                                                                                           


Kami bersitatap panjang. Lumayan lama untuk dua insan yang telah berpisah dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Sejurus kemudianThor menyunggingkan senyum kepadaku—dan malu-malu kubalas dengan senyum tipis.

“Hai,” ucapnya padaku seraya memasang tampang senyum Sai—di film Nartoh jugak:v

Hasil gambar untuk senyum palsu sai

 

 

 

 

 

 

 


~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

“Assalamu’alaikum.”

Masih dengan tampang menggelikan itu, salam terucap kepadaku. Kalau bukan karena wajib berbalas, takkan kujawab saking gugupnya diriku. Hei, bukannya aku pemalu. Toh pertemuan lalu kami,… aku sa ae kok! Aku malu karena… ternyata dia tahu bahwa aku kerap kali menguntitinya! Kecyduck!!

“Apa kabar?”

 

“Ba—bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini??
   Bagaimana engkau bisa melihatku?!” saking kaget dan herannya, aku tak perduli akan pertanyaan basa-basinya.

Thor tertawa renyah, “Tentu saja aku tahu. Lagipula, memangnya jika aku tahu… Ada masalah?”

“Argh. Jawab saja..! Bagaimana?!” timpalku ketus.

Masih disertai wajah menyebalkan itu, ”Ayolah, kawan. Pun aku tidak mengetahuinya. But, aku cuma ngerasa suatu feel yang sama dengan saat pertama kali kita jumpa. Dan sejak itu pula, aku kerap merasakan that feel. Musabab itulah, aku tahu engkau sering mengikutiku. Meski sebenarnya aku tidak bisa melihatmu.”

“…dan kala aku berdiam sambil menatap rerimbunan pohon, suasana itu ngelonjak. Menggelora.”

Wajahku merona. Mungkin ‘itu’ terjadi karena diriku memandangnya dari jarak sedekat itu. Tapi, sekali lagi,, bodoamat. Yang penting dia tidak bisa melihatku menguntit. Terus terang, itu bagian yang amat membuatku malu—jika benar terjadi.

 

“Oh. Rupanya demikian,”

Thor mengangguk mafhum.

 

“Kukira kau sibuk,” tambahku.

Rambutnya tersibak angin, “Tidak. Sungguh tidak. Walau ada kalanya aku direpotkan oleh ber—“

“direpotkan??” aku tertawa—tanpa sadar memotong perkataannya.

“Heheh. Iya, direpotkan.” yang ditanya ikutan tergelak.

 

Thor melanjutkan kalimatnya, “Walau ada kalanya aku direpotkan oleh berbagai aktivitas, beragam kegiatan… Aku juga punya waktu senggang. Heh, kenapa nggak nyamperin pas waktu-waktu itu?”

Dengus. Kesal. “Eh, bukannya aku tidak menghendakinya, ya. Cuma, aku agak khawatir jika kamu kecapaian. Jikalau kamu terlalu letih, lantas bagaimana kau dapat berkisah kepadaku dengan lancer tanpa tersendat-sendat? Tanpa malas-malasan? Hei, aku sudah kenal sifatmu..!”

Argh. Lelaki itu malah tertawa. Nyebelin dah!

“Satu lagi, yang engkau harus pahami, ya. Berkali kucoba untuk—yang kau kate “nyamperin” di waktu luangmu, tapi engkau justru sentiasa lebih dulu punya teman bicara! Ah, gimana kaga kesel?!” tambahku ketus.

“Ahaha. Eh, nggulu. Lha kok ga nyamperin ketika itu? Biar bisa ngobrol bareng…” dia ngomong seenaknya.

Fastly I’m calm down. “Aku cuma nggak pengen, banyak orang yang mengetahui keberadaanku.”

 

“Mengapa?”

“No. Udah, jangan banyak tanya, bacod.” Jawabku.

“Hehehe,” jawaban basa-basinya selalu buatku sebal.

 

Dibawah langit yang temaram, di atas lantai yang berdebu. Diantara keculasan manusia, di sisi lain keangkaraan penguasa. Ia mengatakan padaku.

 

“Jadi begini, kawan”

 

“Aku ingin memenuhi janjiku di lantai atas dulu. Menyambung kisah itu. Merajut kembali kisah yang telah lama usang.”

 

 

 

“Meski kutahu, engkau mengetahui sebagian kisahnya.”

 

▪

 

▪

 

▪

 

Oh, shit. Dia juga tahu itu.

 

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Zaman beralih musim berganti. Roda masa terus berputar seiring berjalannya waktu. Dari musim semi ke musim gugur hingga musim semi lagi. Yang dahulu cupu, kini telah berkembang. Yang dahulu bimbang, sekarang telah yakin. Dan, yang dulu bersemi.,, akhirnya mesti gugur juga.

Ini adalah sebuah kisah sendu dari orang yang sama—yang sekwartal lalu mengungkap cerita ‘bersemi’-nya. Nah, kini giliran cerita gugurnya yang akan tersingkap. Eh, entahlah. Aku bahkan kurang tahu, apakah semua ini lebih condong ke arah mana. Hikayat ini sarat dengan kenestapaan, namun juga erat dengan kejayaan. Ibarat kedondong. Permukaannya bagus, kelihatannya apik, tapi dalamnya bertolak belakang dari ‘kelihatannya’. Kejayaan yang semu. Tidak lebih dari itu. Mungkin orang yang memandang dari ‘kelihatannya’ akan mengira pemuda itu penuh prestasi dan happiness, di saat yang sama pemuda itu juga punya masalah sendiri. Masalah yang—bahkan kala itu dia berasumsi jika masalah itu takkan pernah usai.

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Set waktu; strata istanbul.

Sembari menggenggam sebuah pulpen, kakinya terayun-ayun anggun di tepi kolam ikan. Kala itu lingkungan tersebut masihlah asri, sama sekali belum tercemar oleh polutan apapun. Air kolamnya masih jernih, demikian pula dengan udaranya yang sejuk walau mentari terik. Ke arah manapun mata memandang, semuanya masih hijau. Yea, sore itu indah. Mayoritas pemuda di situ memilih olahraga—sebagai aktivitas favorit mereka—untuk kegiatan senja kali itu. Berkian kali bunyi dentuman bola terdengar menggaung hingga area kolam.

Thor menarik napas pelan. Sudah beberapa bulan terlewati baginya tanpa mengikuti riyadhoh permainan. Cih, pernyataan yang amat buruk. Karena dengan riyadhoh permainanlah ia bisa mengembangkan fisiknya. Binaraga—yang konon menjadi penggantinya pun hanya sebatas membentuk tanpa menumbuhkan. “Argh, paronychia ini mengganggu saja,” gerutunya sambil mengepalkan kedua tangan—kakinya terhenti sejenak. Pena yang digenggamnya badatak.

Namun tak apa. Thor jadi memiliki waktu kontemplasi yang jauh lebih banyak. Hasil tulisan yang makin berkembang. Itu lebih dari cukup.

…dan di pinggir kolam ini, dia berhasil menghadirkan kembali sosok itu. Sebuah sosok dari gambaran masa lalunya yang terlanjur memudar…Hangus dilahap masa.

Sebuah sosok  yang pernah mengisi hatinya.


Malang bukan kepalang, rasa itu mesti terputus tanpa kejelasan. Tak ada yang mengetahui, apakah berbalas atau tidak. Apakah bertepuk sebelah tangan atau justru saling memiliki rasa. Entahlah, namun pastinya kedua belah pihak tersebut selama ini hanya menuruti gengsinya dan malunya sendiri. Alhasil, tidak terjadi apa-apa.

Nothing happened. You see?!


Yang tersisa hanyalah kenangan. Yang menemani tinggal hampa dan kesunyian. Tak ada lagi si dia yang menyejukkan hati. Seperti mutiara yang terpendam dalam kerang, juga kelamnya samudera. Dua kegelapan sekaligus. Argh. Bahkan semua ini tak pernah terbayangkan. Sama sekali tidak.



‘KALA ITU’, Thor menyangka semuanya akan kekal abadi. Ketika Salma tersenyum memegang suratnya. Ketika mereka duduk bersama dalam sebuah mobil, lantas menikmati udara pengembaraan. Ketika mereka masih duduk sekelas, kemudian saling asyik mencuri pandang.



Saat Salma menerima cokelat darinya—walau tetap saja—lelaki itu tak pernah berani untuk sekedar memberikannya langsung.

 

Cih, lelaki macam apa dia.

 

Berdecis.

Sejurus kemudian ia tak terlihat di situ lagi.

 

 

Kau tahu? Ia kini tengah berlari. Tertatih tatih.

Namun ia sendiri tak tahu arah.

 

Hanya mengikuti arah gelora sukmanya.

 

 

▪

 

 

Terus berlari, meninggalkan semuanya.

Pulpen, buku…

 

…Juga tenangnya gemerecik air kolam.

 

 

 

Meninggalkan. Segalanya.


"Ingatlah ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun"
Ali 'Imran:153

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Yang terbawa hanyalah penyesalan dan amarah.

Tergopoh-gopoh Thor berlari. Tidak jelas kemana. Dia hanya butuh waktu sendiri. Jua tempat yang bisa ia luluh lantakkan, bisa menerima bentakannya. Sungguh muak, benar benar muak. Enam tahun itu seolah tak ada faedahnya sama sekali. Gak guna.

Mentari ufuk barat menerabas celah dedaunan kelapa sawit, membiasnya menjadi ribuan larik cahaya. Belum ada penebangan besar-besaran. Belum ada timbunan sampah. Segalanya masih hijau, juga masih ada jembatan kecil tempat penyeberangan bandar kecil.

(Sekarang, bandar cilik itu telah binasa...meninggalkan sejarah.)

Bukan, bukan disana ia berdiri. Thor masih berlari. Membelah kesunyian senja.

Pemuda itu terus berlari meninggalkan area sekolahnya. Menggiring sesal. Melewati jembatan, kebun sawit, hingga irigasi. Wajahnya merah padam. Tampaknya dia kalap tertahan. Tangannya terayun-ayun dengan mengepal keras.

Langkahnya terhenti di hadapan sebuah gubuk. Naga-naganya itu tempat peristirahatan para petani. Ya, sekelilingnya kini sawah lepas, dan sejak tadi ia menyusuri irigasi sawah tersebut. Wah, ternyata jauh sudah lelaki itu berlari.

Napasnya tersengal, kontras dengan atmosphere sekitarnya yang memukau. Waktu itu musim panen. Padi nan ranum terbalur anggun oleh cahaya sang surya. Thor seakan tengah berada di gudang harta, bahkan melampauinya. Di kiri dan kanan, sepanjang jalur ini—semuanya keemasan. Sore ini seolah memang disetting untuk menenangkan manusia yang satu itu.

But,, tiba tiba..,

 

BRAK!

 

Ah, entahlah... nahas sekali nasib pemuda itu.

 



 

BERSAMBUNG.


Selesai ditulis di Rimbo Binuang, 9 Februari 2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

DOPODICHÉ : UNA SPERANZA

PERINGATAN : Episode ini mengandung tingkat halusinasi yang sangat tinggi, jika sekiranya pembaca tidak kuat menahan cringe dalam membacanya,... ah pokoknya lanjut aja deh :v   Hai, Salma!   Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.   Akhirnya kita bertemu lagi, ya?   Meskipun tidak bertatap muka, aku sudah senang sekali. Saangat bahagia!   Kendati aku tidak memiliki hak apapun dalam hal merindukanmu, aku melanggarnya! (anebukanbangga) Selama ini kumerindukanmu.   Setelah dua tahun lamanya, akhirnya kita memiliki titik temu juga. Walau memang, pertemuan kita ini begitu tidak diduga dan sangat mendadak, apalagi dimulai dengan luka, akhirnya kita bisa berjumpa kembali!       :) ~    Ж    ~   Aku mencoba menenangkan diri. Aku keluar dari rumahku, meraih tali penyangga ayunan itu, dan mulai mengayunkannya dengan sesekali hentakan kaki yang cukup membuatku merasa melayang. ...