Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini?
Oke, aku ‘maafkan diriku
sendiri.
Kini aku mesti menikmati
kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam
setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi
tiap waktu. Hehe. Huft, Thariq, percayalah ini sebentar saja.
Dan, benar saja. Malam
ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang
menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan
angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di
atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah.
Perlahan kuhembuskan
napas halus. Mengempaskan segala pikiran buruk yang mengekang. Menggunting
semua masalah yang menimpa. Ah...mantap. Aku suka sekali dengan kondisi
kepala semacam ini. Kosong. Relax dan nyaman. Untung saja tak ada orang di
sekitar. Mungkin tetangga akan kasak-kusuk jika melihat seseorang nan tengah
tersenyum sendirian di temaram malam sepertiku ini.
Mataku terpejam. Senyum
tersungging rapi. Segala ketenangan terlukis di wajah pemimpi itu. Nyaris saja
badanku rebah—saking nyamannya posisiku sekarang. Huah. Alhamdulillah. Demi
Allah, tak kutemukan satu kondisipun yang lebih nyaman daripada ini. Teknik pimpinan
asrama SMANSSu yang dibawakan ke alKahfi ternyata ada juga gunanya. Hahaha.
Mungkin kita semua tahu itu. Dan ketika aku praktekkan di situasi sunyi serupa
ini, sangat berguna dan bermakna bagiku. Seolah-olah semua masalah yang
menghinggapi sirna seketika. Kendati sebetulnya tidak. Semu belaka. Namun
setidaknya, sugesti dan mindset kita oleh karena itu telah terbenahi luar
biasa.
Angin menyibak dedaunan,
juga rambutku yang tidak lagi dapat dikatakan pendek. Melambai-lambai. Mataku
masih terpejam, dan kali ini sukmaku tidak lagi kosong. Kucoba mengisinya
dengan seseorang yang mengantarkanku hingga sampai di taman ini.
Kamu Mutiara, Aku Intan-berlian.
Sama sama mahal nilainya,
namun mutiara sudah langsung berharga sejak pertama kali ditemukan di dasar samudera.
Tidak memerlukan proses ataupun pengolahan lagi. Sedangkan berlian; tidak. Ditemukan
dengan wujud lain—intan, kemudian perlu dipoles dan diolah terlebih dahulu agar
mencapai angka yang jauh lebih ekspensif. Diproses menjadi sebuah berlian,
sesuatu yang telah dibenahi.
Analoginya seperti itu.
Hahaha. Cocok, bukan? Segelintir orang saja yang mengetahui, arti dari ‘Almas’ itu
adalah berlian.
I have a value. I think i deserve to be called a ‘good boy’, but, really, aku ini banyak kurangnya. Banyak sekali. Sungguh pribadiku bukanlah sebaik yang kamu kira, dan bukan pula seburuk yang kamu sangka. Perlu banyak sekali pembenahan dan perbaikan untuk manusia serupa diriku ini. Itulah mengapa aku tambah yakin dalam memilihmu. Seseorang yang kupercaya; mampu sama sama membenahi kehidupan fana ini. Aku yakin kamu bisa membenahiku, dan sedikit-sedikit aku juga bisa membenahimu.
Dan, jikapun aku memang
tidak ditakdirkan bersamamu, sudilah kiranya menjadi teman surgaku. Dua insan
yang saling tolong menolong dalam kebaikan. Ingatkan aku bila aku salah. Tegur
aku. Akupun begitu, akan mengingatkanmu. Jangan karena satu masalah, akhirnya
kita terpecah. Bahkan seolah tak pernah saling kenal. Menghilang begitu saja.
Jika dirimu sampai di
surga Allah, dan kau tidak menemukanku di sana, kumohon. Kumohon. Aku mohon,
carilah aku. Tanyakan pada Rabb yang maha kuasa, dimanakah diriku berada.
Maha Besar Allah. Meski
punya pasangan surga sepertimu itu jauh lebih menyenangkan daripada ‘hanya’
sebatas teman surga, namun itu jauh lebih bermanfaat. Lebih berharga untuk
kita. Sehingga tidak ada yang percuma. Tiada sesuatupun yang sia-sia.
Agar kelak, intan
sempurna jelma berlian.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Malam semakin matang. Mantap
melaju ke pusarannya. Awan mulai mengerubungi cakrawala, lalu lalang kesana
kemari. Berlarian ria, mendekap angkasa. Ah?! Sudah berapa lama aku di sini??
Bahkan cuaca yang tadinya teramat cerah, sekarang sudah mulai mendung. Temaram
cahaya rembulan pun sudah terbias rapi oleh gumpalan uap air itu. Menyisakan
lampu taman yang malah lebih terang daripada yang di atas.
Sekali lagi secarik senyum terbit di mungko den, dan itu adalah yang kesekian kalinya di malam hari itu. Kupandang sekitar, menyapu segenap area taman. Okelah, saatnya bangkit. Aku berdiri dan mulai melangkah ke dalam rumah. Seharian ini aku sudah letih, dan benar benar tidak ada alasan untukku tidak beristirahat. Mungkin memang sudah saatnya aku tidur. Merelaksasi seluruh organ tubuhku.
Salma, maafkan aku.
Bahkan aku tiada sempat
mengucap selamat tinggal padamu.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
9 Ramadhan 1442.
Sudah tiga hari semenjak
kepergianmu. Aku telah memaafkan diriku sendiri, dan aku sudah ringan hati. Kuyakin
kamu tidak akan merasakan sesuatu itu berlama lama. Kamu sudah memaafkanku,
ye,? Iyakan?
Hari ini, aku minta izin
kepadamu untuk ikut acara buka bersama itu. Heheh. Mendadak sekali, bukan? Ehehe.
Bahkan aku menjadi pendaftar terakhirnya. Bukan karena apa-apa, namun
teman-teman dekatku, seperti Ariq dkk., membujukku agar aku berpartisipasi di
dalamnya. “Bilo lo leh, Thor?!”
Mengapa sih, aku mesti
meminta izin padamu? Ya letak permasalahannya adalah; bahwa aku telah mengatakan
tidak ikut kepadamu. Aku jadi boong ke kamu, dong, kalau seandainya maen
nyelonong gituaja.
Tenang aja.
Aku pastinya menjaga kehormatanku. Pandanganku. Kelakuanku. Ketika teman
laki-lakiku nyaris semuanya ngudud, aku dengan tegas menolak tawaran
mereka untuk ikut ‘barasok’. Aku masih memegang prinsipku. Sejak dilahirkan ke
muka bumi ini, aku tidak pernah merokok dalam bentuk apapun. Dan aku takkan
merusak predikat itu. Takkan pernah.
Aku
bangkit seusai memakan makanan ringan. Ketika orang menawariku sebatang rokok
Xbold. Usai kutolak, aku pergi, sendiri. Ke ujung balkon. Pemandangan tampak
luas dari atas sini. Hingar bingar kesibukan Jambak tampak hidup. Angin berkesiur,
menggiring udara sejuk yang tiada duanya. Kuhela napas, lantas bergumam
sendiri,
Maaf, aku ikut.
Hei, andai kau ada di
sini, akan kubawa engkau ke pinggir balkon ini. Akan kutunjukkan bagaimana seorang
raja menatap optimis kepada kotanya. Bagaimana sang raja berusaha menghibur
permaisurinya. Menciptakan nuansa syahdu yang sama sekali bukan bak mahajanah.
Sehingga ‘kan kubisikkan
kata yang akan terpateri selamanya di sukmamu.
Wahai, andai. Namun
jikapun kamu tidak berada di sana sekarang,, kupastikan kamu juga tidak akan
ada di sini. Hahaha. Kutahu itu.
Aku menoleh ke belakang.
Merasa ada yang memperhatikanku sedari tadi. Ah, rupanya benar. Vita Ananta
telah memandangku aneh sejak tadi. Untung cuma satu orang. Jika sa—
“HEI!”
Semesta yang baru saja
kubentuk buyar seketika oleh sentakan Rayhan alZalkis. Entah dari arah mana ia
tiba. “Mengapa kau melamun, menyendiri di sini?? Pake senyum-senyum sendiri,
lagi!!” Hanya cengiranku yang keluar, bentuk seadanya dalam meladeni Rayhan. Huft.
Sebelum yang lain juga nyamperin, yaudah deh, aku kembali. Kembali berbaur
dengan asap-asap keparat itu.
Ketika Ikh-Akh melebur,
aku tetap menjaga mataku. Meneguhkan namamu di kepalaku. Oiya, kecuali kepada
Syifa, sesekali aku sengaja pelototin dia bersama Habibi. Gatau, cuma pengen
buat dia salting aja. Kadang mataku bisa ditandingkan juga melawan tajamnya
mata Safna loh:v yaa walau gakan menang lawan mata elangnya dia:v
Aku juga menghindari
semua lensa, dan kukira aku berhasil. Padahal ternyata ada yang menciduk aku-_
Satu lagi, aku agak
ribut ke Mia, ngegodain dia ke Ariq. Cie-ciein. Wkwkwk. Alhasil kedua belah
pihak risih, dan akhirnya mendiamkanku:v Bahkan Mariyono juga ikut turun tangan
mendiamkanku:v
Beberapa saat setelah
itu, Ariq tertawa sendiri, kemudian berkata,”Gila teh antum Thor.”
“Ha?”
“Iya, kenapa antum kok
berani aja sama akhwat tu? Ana usuah ana rasanya klo kayak gitu”
“Yaa gatau. Cuma
ngalahin rasa takut aja.”
Entah mengapa, kini aku
begitu berani untuk berkomunikasi dengan wanita. Padahal setahun lalu, baru
berjumpa saja aku bisa bisa berbalik arah.
Kalau padamu, Sal???
Ciah. Akupun ragu. Bagaimanapun suasana dahulu masih membelai memoriku. Hanya
kamu. Hanya kamu yang bisa membuatku gentar, tak berani bertatah kata. Entahlah,
berbeda dari yang lain. Degdegan loh, bahkan walau cuma sekedar bersua di
jalan.
Dan, aku pulang cepat.
Adzan Isya rasanya melecutku supaya cepet-cepet pulang. Entahlah, sanubariku
menyalahkan tindakan orang-orang sekitarku. Maghrib ada yang kelewat, isya
disepelein. Lagipula, aku izinnya ke orangtua sampai sebelum isya.
Gas kutancap, dan tak
sadar kecepatan mobil sudah mencapai 90. Entahla, aku merasa bersalah. Semenjak
aku lahir hingga kini, ketika aku melihat sesuatu yang tidak sependirian
denganku, berbeda dari apa yang kulihat biasanya.., otomatis badanku tidak
enak. Aneh aja. Ngefek ke lahir bathin. Sebenarnya bisa tidak terjadi kalau
nahi munkar, tapi ya, gamungkin juga marahin orang sebanyak itu. Heheh.
Kutarik kembali kakiku, menata
kembali pernapasan. Maaf untuk hari ini.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
11 Ramadhan 1442.
Yess! Wuhu! Setidaknya
aku bisa memandangnya meski dari jauh pada hari ini. Urusan legalisir raport
mengundangku untuk kembali ke tempat tinggalku selama tiga tahun belakangan. Yea,
dan Salma tengah berada di sana. Berjuang. Menuntut ilmu. Kurasa, nanti dia
akan keluar ruangan juga kala tahu aku sedang berada di lingkungan itu. Sekedar
memandang. Hehe.
Rencana awalnya aku sih berangkat
sendiri, tanpa ditemani keluarga. Tapi karena ada yang perlu dibincangkan oleh
ibuku pada kepala sekolah, mobil ini berisi empat orang sekarang.
Sedikit degdegan, tapi
kakiku tak gentar. Terus melajukan kendaraan.
Kemudi kuputar ke
sebelah kanan, dan ini sudah berada di atas beton jalan masuk alKahfi. Tak ada
palang penutup jalan, tapi sebagai penduduk lama—yang sadar akan peraturan,
yang menjunjung tinggi peraturan, (ciah:v) aku menaikkan rem tangan tepat di
sisi rumah nenek. Beberapa menit terhenti di situ, ternyata sulit menghubungi
Ustadz Iqbal—yang notabene tengah melatih murid peserta KSN. Alhasil kami
menunggu seraya berbincang hangat dengan nenek di dapur. Duduk duduk, dan
sejurus kemudian Chintya Wulandari datang bersama ibundanya. Kusapa dia
sekedarnya dengan isyarat alis—sudah biasa, beberapa hari lalu juga ketemu.
Pacarnya anak bupati tuh bos:v
Menit demi menit
berlalu, tiga belah pihak itu saling berbincang. Kecuali aku dan Tya yang hanya
diam.
Tut.
Oh, ada jawaban dari
Ustadz Iqbal. Aku dan ibuku disuruh masuk.
Yeah, aku masuk kembali
ke dalam mobil, lalu perlahan memasuki area SMP IT AL KAHFI. Huft, syukurlah
belum banyak berubah. Sungguh aku sangat benci bila mengunjungi suatu
tempat yang pernah kusebut rumah, dan itu telah berbeda. Segalanya memang tetap
membangkitkan memori yang pernah terlalui oleh rangkaian kenangan, but,
tetep aja, tempat tersebut seolah bukan yang pernah menjadi TKP dahulu.
Terlepas dari keinginanku agar tempat tersebut terus berkembang secara
berkesinambungan.
Kuparkirkan kendaraan di
bawah pohon samping asrama akhwat; atas saran sang ibu. Sejenak kusapu
pandangan ke sepanjang pelataran asrama sebelah sononya—banyak manusia di sana.
Tapi tak kutemukan doi di sana. Yoweslah. Gapapa. Gamungkin juga saia
manggil-manggil dia di tengah halaman sana. Turun dari mobil, dan masuk ke
kantor. Mengambil raport yang diserahkan oleh wali kelasku—kemudian keluar lagi
untuk menggandakan kertas-kertas itu. Fotocopy.
Langit berlapiskan
ribuan awan, namun tidak melunturkan azurenya. Jernih sekali. Sekejap kupandang
kelas-kelas ikhwah yang ada di lantai dua. Dari balkonnya, banyak adik kelas
yang melihat ke arahku. Auto ngerasa seleb dong wkwkwkw:v aku hanya membalas
dengan anggukan dan sedikit senyuman. Kemudian berangkat menyelesaikan urusan
fotocopy ini.
Setelah menuntaskan
urusanku di Afaf Advertising, aku kembali masuk ke area alKahfi. Parkir di
tempat yang sama, tapi pemandangan yang berbeda. Wajah itu langsung saja
tertembak di mataku. Tanpa menyapu pandangan—persis dengan waktu mencari foto
di spanduk wisuda tahfiz itu. Seolah-olah mataku memang ditakdirkan langsung
menengok ke sana. Ah, terlihat anggun dengan alQur’an di tangannya.
Aku senyum, sedikit
tertawa, “Heh? Ahaha. Salma’.”
Ibuku hanya ikut
tersenyum, mengikuti arah pandangan mataku. Sedangkan kakakku bertanya perihal dimana?
Sudah, cukup sudah. Energiku
kembali. Turun dari mobil tanpa menoleh ke belakang. Walau sesungguhnya di
kantor—saban sebentar aku selalu mencuri
pandang ke arah sana.
Selanjutnya, aku bersama
orang-orang di kantor berbincang perihal masa depan di dalamnya.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Semangat sekali aku
memasang sepatu ini. Entahlah, bukan karena aku hendak cepat-cepat meninggalkan
tempat yang sempat kubenci. Toh aku sempat berbincang sebentar dengan asatidz
ataupun adik kelas. Tiada dendam lagi yang tersisa. Akan tetapi, sepertinya, aku
ingin meniliknya lagi. Sekedar memandangnya dari kejauhan. Sungguh
dengan begitu saja aku dapat melepas puing-puing rindu:)
Tak
perlu bercengkerama. Pun berbincang di ujung senja.
Memandangmu
saja, aku cukup bahagia.
Aku masuk ke mobil. Tiba
tiba aku mendengus, Argh. Nyatanya ustadzah-ustadzah yang tepat di depan
mobilku tadi malah bertambah banyak. Ada dzah Surati juga di sana...tapi untuk sekedar
menyapa saja aku sungkan.
Berdampak pada
kebebasanku untuk memandang Salma. Aku sih gapapa yak, gakan ngaruh. Toh
saye bukan penduduk sini lagi:v Tapi yang kupikirkan adalah Salma. Bisa
jadi kala kupandang dia secara berlebihan, ustadzah jadi su’udzhon. Ah. Bodo!:v
Aku akan tetap memandangnya, walau tidak seefisien tadi.
Roda mulai bergerak, berputar
di atas beton alKahfi. Bergerak lambat. Mataku liar melirik ke
arah sana, namun tampaknya ia tak melihatku. Ia menunduk, menatap kitabnya.
Aku tersenyum halus,
tulus. Entahlah. Hatiku tenang begitu saja seusai memastikan keadaannya
baik-baik saja di sini.
YaaAllah. Salma Mutiara
Irza. Untuk kesekian kalinya aku kagum melihatmu. Kagum yang sama sekali bukan
temporer. Mengguratkan rasa yang semakin bertambah. Antahlah, kamu begitu
laksana malaikat, sedangkan aku bak manusia saja masih meraba-raba. Bisakah kawula
semacamku mencintai permaisuri sepertimu? Ahah. Terlihat sedemikian mustahil.
Hanya mengharap keajaiban menghampiri.
Kamu... di sana setiap
saat menggenggam mushaf. Berupaya seolah tak punya lelah. Menghafal,
menghafal,.. dan menghafal. Cinta terhadap dalamnya samudera kalamullah itu.
Hafidzhah sekian juz. Wahwahwah. Sungguh calon penjaga alQur’an. Sama sekali
tak bisa kutandingi:)
Apalagi nanti, ketika kita
terpisah sekian kilometer. Kamu yang setia dalam menyelami indahnya Dīnullah,
dan aku yang mulai terbatasi oleh ragam kegiatan yang bahkan belum kuketahui
musabab dan bentuknya.
Kita jauh beda:) yakin,
mau sama aku?
Aku ga pantes buat
siapa-siapa:)
Senyum pahit terbit di
wajahku. Begitu tenang. Kemudi terkontrol baik, hingga tiba di tujuan.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
16 Ramadhan 1442.
Pengembaraannya tak jua capai
kata usai. Harap terkubur hampa. Agaknya rindu ini memang ditakdirkan tanpa
temu.
Sang
permaisuri nyatanya tidak diizinkan-Nya bertemu dengan rajanya. Bahkan untuk
terakhir kalinya.
Semesta
kini acap bercanda. Maka kuatkan bahumu untuk itu.
Okay, THARIQQ!!!
Yea, kamu!
Inilah
yang menguji perihal perasaanmu kepada sang maha cinta. Ketika engkau mulai
mencintai manusia dengan sangat, disitulah Allah memberi ujian tersirat. Agar
jelas, yang manakah yang engkau cintai. Lewati saja! Sabar. Allah tahu
kesulitanmu. “Dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan
mengujinya..”
Percayalah.
Ada pelangi seusai hujan. Ada oase di tengah padang pasir. Begitu pula, اٍنّ مَعَ الْعُسْرِ يسْرً, right?
“sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan.”
asySyarh:6
Yakinlah,
Thariq Almas Neil Authar. Engkau bisa melewatinya. Sabar, sabar, dan sabar.
Sungguh tidak ada yang sia-sia. Allah tahu kau mencintainya, maka tidak mungkin
Yang Maha Mengetahui mengabaikannya. Dia tahu niat baik di hatimu, maka tidak
mungkin Yang Maha Kuasa menyia-nyiakannya.
Kau
tidak perlu membayangkan sesuatu yang tidak terjadi,Thor. Buat apa? Bahkan
engkau dan dirinya baik-baik saja sekarang. Hidup ini akan rumit sekali jika
kita sibuk membahas hal yang seandainya begini, seandainya begitu. Positive
thinking ajala. Allah mafhum apa yang terbaik buatmu. Bisa jadi orang yang
engkau pinta di setiap doamu itu bukan yang terbaik untukmu.
“Tapi
aku cuma mau dia...”
Jika
demikian, ikat lebih kuat. Doamu jangan sampai pernah putus. Dalam hadits
qudsi-Nya, Sesungguhnya Sang Maha Mendengar itu MALU jika ada seorang hambanya
yang memohon dengan amat sangat, dan Dia tidak mengabulkannya. Thor! Sekali
lagi, tiada sesuatupun yang sia-sia.
Boleh
saja hari ini engkau terhalangi dalam bertemu dengan Salma. Tapi satu yang
harus kau pegang baik baik; jangan terjebak nestapa karenanya. Allah tahu yang
terbaik buatmu. Mungkin saja pertemuan di bulan ini tidak sebaik pertemuan
abadi nanti. Yang mana telah ada ikatan suci, yang tak dapat diganggu oleh
sesiapapun lagi.
Tumpahkan
segalanya. Jika engkau tidak lagi
sanggup menahan, tumpahkan segalanya. Luapkan gejolak sendu yang kau simpan
selama ini. Pintalah ia, do’akan dia. Mengadulah kepada Rabb-mu. Kesulitanmu.
Kepayahanmu. Demi Allah, itu lebih baik bagimu. :)
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Aku
tidak tahu apa itu cinta. Mendefinisikannya merupakan sesuatu yang tak dapat
dilakukan oleh manusia biasa sepertiku. Namun aku bisa merasakannya. Duhai,
rata-rata orang merasakan cinta pandangan pertamanya di bangku SLTP. Dan aku
berhasil mendapatkannya di bangku dasar, dan rasa tersebut mampu bertahan
hingga sepuluh tahun sesudahnya. Walau harus punya pasang surutnya, dan itu
hal yang biasa.

Wajar. Bisa pudar bisa kembali kentara. Selalu ada
masanya. Namun, tergantung bagaimana cara menjaganya agar tetap ‘ADA.’
Yaa
Allah. Kalau bukan karena cinta kepadanya, tentu aku tidak akan bisa menjadi
seperti sekarang. Seringkali dalam hidup ini aku menjadikannya motivasi agar
lebih maju. Kemudian cinta kepadanya itulah yang mengantarkanku kepada rasa
cinta kepada-Mu. Bukankah begitu, ilahiy? :) Sungguh aku telah lebih dahulu
merasakan sesuatu itu kepadanya daripada-Mu. Dahulu, kala aku belia.
agar kamu mengingat (kebesaran Allah)"
Az-Zariyat:49
Lalu
ketika aku telah mulai mengerti segalanya, aku mencintai-Mu lebih dari apapun.
Termasuk dia. Sungguh dirinyalah yang selalu membawaku kembali menghadap-Mu
dengan tangan terangkat. Muka yang memelas. Lisan yang mengucap. Maka, oleh
karena itu, tolong biarkanlah aku bersamanya hingga akhir menutup mata.
Duhai,
kalau bukan karena rasa itu, bisa saja aku tidak memiliki sama sekali prestasi
di bangku sekolah dasar. Kalau bukan karena rasa itu, pasti aku bukanlah orang
yang dikenal di tingkat SMP.
Dan,
sepertinya rasa tersebut takkan hilang dariku hingga bila-bila. Aku harus
bersiap, sebab harus menanggung hal itu selamanya.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Aku
merindukanmu. Kamu? Terserah
padamu. Terserah, apakah yang kau katakan di snap wa-mu dulu itu kenyataan atau
tidak.
Aku
merindukanmu. Bahkan di
jalan-jalan aku melihat sekeliling, melihat setiap plat nomor mobil yang ada.
Meski itupun bak lautan, aku tetap lakukan itu. Entahlah.
Aku
merindukanmu. dan engkau tahu
sekarang. Tiga tahun. Tiga tahun, you know? Ahah. Tak perlu tahu sebesar apa.
Aku
merindukanmu. dan kini aku harus mengikhlaskan rindu itu. Kau tahu? Semenjak dirimu mengatakan bahwa kau tidak
bisa ikut acara, aku benar benar kehilangan semangat dalam mengurus acara itu.
Bagaimana tidak? Sembilan dari sepuluh alasanku tidak hadir di sana. Namun, aku
tidak sedih karena kepergianmu, sebab itu juga untuk kebaikan dirimu.
Sungguh
kalau bukan karena rindu, malam ini tidak akan kulihat semua memori tentang
kita. History chat kita. Kemarin ataupun setahun lalu.
Dan
ketika aku melihat kembali pesan panjang pertama darimu itu, seketika aku
kembali jatuh. Dadaku kembali sesak. Namun bukan berarti aku nestapa lagi.
Bukan. Bahkan aku tersenyum pahit ketika membacanya ulang. Karena bagaimanapun,
itu semua telah berlalu. Aku hanya memposisikan diriku seperti dahulu, kala
pertama kali menerima pesan itu. Tidak lebih. Lembaran baru telah terbuka, dan
tidak mungkin lagi aku mengungkit noda di lembaran lama itu lagi. Toh, tidak
ada yang abu-abu lagi. Bahkan aku sudah mengetahui segelintir rasa yang ada di
hatinya. Bisa jadi itu justru lebih besar dariku. Bahkan ketika mengetik
kalimat ini, aku senyum sendiri:)
Aku
merindukanmu, dan sekali
lagi, aku harus mengikhlaskannya. Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan
bersua di tahun-tahun berbahaya ini. Dimana nafsu masih dipertuhankan oleh anak
seumuran kita. Namun bila kau temui aku di jalan, jangan lupa menyapaku.
Sungguh, jangan malu. Sapa aja:) Barangkali itu merupakan pertemuan
terakhir kita.
Agaknya
mesti bertahun-tahun lagi supaya kita bisa bertemu. Rindu ini sepertinya harus
dilipat kembali, digulung dalam-dalam. Disimpan di relung hati. Sebab tidak
mungkin bagi kita untuk memforsirnya. Sal, kau tahu aku akan pergi. Tiga
tahun lagi, dan kurasa keluargaku tidak akan kembali ke sini lagi. Dan
dalam tiga tahun ini aku mesti berkian kali beradaptasi dengan ragam lingkungan
baru. Tempat SK ayahku. Sekolahku nanti. Hingga akhirnya di pulau seberang
sana.
Karena
bagaimanapun aku mencintai ranah ini. Lahir, besar, dan menemukan diriku yang
sesungguhnya; ya disini. Menemukanmu. Lebih dari tanah jawa sana. Sungguh, aku
lebih mencintai apa yang ada di sini.
Rasanya
kian mustahil. Ratusan kilometer kita terpisah. Tapi aku sungguh masih ingat
dengan perkataanmu. Nothing is impossible. Dengan hati yang mantap, apalah yang
tidak dapat ditaklukkan. Apa yang tidak dapat dilakukan.
Aku
mencintaimu. Dan rasa itu tak mungkin kuabaikan. Rasa darimu, juga takkan
kusia-siakan.
Sembilan
tahun kita tinggal di lingkungan yang sama, dan akhirnya mesti saling melepas
raga di tahun ini. Raga? Iya. Tentu tidak berlaku bagi hati.
Suatu
hari nanti, aku akan kembali ke tanah ini. Menjemput segala kenangan. Semuanya.
Menyaksikan bagaimana kemajuan Pasaman Barat lagi. Tempat aku bermain dahulu.
Sekolah. Juga ratusan destinasi lainnya. Aku akan datang kembali, dengan isi
kepala yang berbeda. Kondisi yang berbeda. But, there is only satu tekad yang
sama.
Juga, mengetuk rumah seseorang. Menetap atau
menjemput.
Entahlah, atau malah harus pulang dengan tangan
kosong.
"dan tunggulah, sesungguhnya kami pun termasuk yang menunggu."
Hud:122
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Wahai.
Aku saja sempat pesimis.
Salma,
kamu percaya takdir, kan? Percaya kan?
Hanya
itulah tumpuan satu-satunya. Laksana lapis terakhir. Harapan terakhir dari
eksistensi ‘kita’ di muka bumi ini. Okelah kalau probabilitasnya kecil. Amat
kecil. Aku dan kamu, kelak akan dihadang jarak dan waktu. Lingkungan yang
berbeda. Kondisi yang berbeda. Waktu yang panjang. Akankah ia akan tetap
bersemi? Atau malah berguguran? Tentu itu juga tergantung kita. Seberapa kuat
do’a kita. Seberapa tangguh jiwa kita. Seberapa tinggi rasa dan kesetiaan kita.
Ini quoteny BJ Habibie.
Namun
yakinlah, Allah maha tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi yang kita
pupuk dari sekarang itu justru yang kelak akan meracuni. Mungkin saja Allah
menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kita rencanakan selama
ini...sebab bagaimanapun rencana Makhluk itu lemah—rencana-Nya lah yang pasti
akan terjadi. Dan sungguh, Allahlah sebaik-baik perencana.
“dan Aku pun membuat rencana yang jitu.”
Ath-Thariq:16
“..Sungguh, rencana-Ku sangatlah teguh.”
Al-Qalam:45
Sekali
lagi, Allah itu Maha Mengetahui. Tiada sesuatupun yang luput dari kekuasaan dan
pengetahuan al-‘Alim. Kuakui aku mencintainya, membutuhkan dirinya untuk
menjalani sisa umurku nanti. Namun Allahlah yang tahu apa yang terbaik
buatku. Buat dirimu. Buat kita. Boleh jadi, yang kuanggap terbaik buatku,
sempurna buatku, itu lebih dibutuhkan pribadi yang lain. Dan aku lebih baik
dipersatukan dengan seseorang yang lain.
“...Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal
itu baik bagimu.
dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
al-Baqarah:216
Maha
sempurna Rabbuna yang mengetahui segalanya. Walau hatiku memberontak; hanya
ingin Salma Mutiara Irza, tapi kalau Allah sudah berkata كُنْ!, maka terjadilah perkara tersebut. Aku tidak memiliki kuasa
apa-apa terhadap apa yang ada di depan dan belakangku. Aku mencintainya, tapi
boleh jadi ada yang mencintaiku, meminta dengan sangat kepada Rabbnya agar
dibersamakan denganku, lebih dari siapapun.
Maka
dari sekarang, aku hanya berharap tidak akan ada nyeri di dada. Rasa kecewa di
dalam hati. Tidak ada penyesalan di batin masing-masing, bila suatu hari nanti
yang kita harapkan itu tidaklah terwujud. Nyerah sih engga, menyerahkan segala
urusan ke Allah so pasti. Masing-masing dari kita kuharap bisa menggenggam segala
harapan dan impian, melambungkan semua itu jauh ke atas. Hingga setiap kali
memandang ke langit, bintang gemintang melukiskannya.
maka bertawakkallah kepada Allah."
Pegang
rasa itu. Aku juga, akan memegangnya dengan erat. Perihal kemarin, maafkan aku.
Sungguh sudah kusingkirkan semuanya demi kamu. Tidak akan aku ulangi lagi. Yaa,
terserah padamu untuk memilih percaya ataupun tidak.
Perihal
menjaga hati, siapa yang tahu. Aku tidak akan percaya janji siapapun, termasuk
jikapun aku sendiri yang berjanji. Siapapun. Sebab tak ada seorangpun yang
mengetahui apa yang akan ia tuai di esok harinya. Tiada sesuatupun yang tahu
betul mengenai masa depannya.
“Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui
(dengan pasti)
apa yang akan dikerjakannya besok.”
Luqman:34
Wallahu
A’lam. Dia-lah yang maha pembolak-balik hati. Yang hari ini membencimu, bisa
saja esok ia mencintaimu. Pun sebaliknya. Juga perihal janji, aku tidak akan
banyak berjanji lagi...karena yang paling menyebalkan dari sebuah ‘janji’ adalah
membuat seseorang menanti dan berekspektasi. Harapan yang tidak menentu. Dan
diriku tak ingin itu terjadi padamu. Pada kita. Cukuplah hati yang yakin, tekad
yang bulat. Barangkali dua hal itu mampu menyatukan langkah kita kembali di
suatu hari nanti. Oke, Ma:)
“dan kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
asy-Syarḥ:8
:)
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Aku
berjuang, dan kau lebih dari sekedar menghargainya. Takkan kusia-siakan semua itu.
Rasamu, simpan saja. Jaga. Bila ada yang keliru, luruskan. Perbanyak
jujur. Jangan sampai kita diam-diaman hingga malah menyulut luka. Sungguh tiada
hal menyenangkan yang dapat kita ambil dari yang demikian. Hanya menghimpun
sembilu. Melebarkan luka di dada. Begitu menganga. Sampai tanpa sadar
menggelapkan rindu yang sebetulnya lebih besar dari konflik tersebut. Insiden
kemarin, contohnya. Bukannya menyalahkan siapa-siapa. Sebab sebetulnya
kesalahan tidak dibebankan kepada seorang atau dua orang saja. Banyak, tau. Toh
aku juga punya kesalahan besar di sana. Aku yang membiarkan orang lain membuka
rongga baru.
But,
don’t worry! Yours is unbeatable. Anytime. Forever.
Percayalah.
Ali 'Imran:62
Oke,
aku telah menjelaskan segalanya kepadamu, mengapa diriku sampai hati ngeblokir
kamu. Dan aku serius perihal itu. Sama sekali tidak bohong. Aku mencintaimu,
namun jika apa yang ada di antara kita hanya sebatas sejalan saja, bertepuk
sebelah tangan saja, demi Allah, untuk apa. Lebih baik keliatan acuh; tidak
peduli beberapa saat, daripada bertindak bodoh selamanya. Setelah semua yang
kita lewati, nyaris satu dekade ini, sudah sepantasnya aku menguji—ah, lebih
tepatnya mencari tahu. Masih adakah namaku di hatimu?
Once
more. Masih pentingkah aku bagimu? :)

Inget kaga? Sekitaran beberapa bulan lalu. Kadang²
saia nyapa gajelas. :)
Ya.
Begitulah. Sehari dua hari pasca kelulusan, aku masih menunggu. Menunggu engkau
menyapaku, atau sekedar mengucap salam. Tapi sungguh tampaknya tak ada
tanda-tanda sama sekali. Seakan tidak ada sama sekali niatmu untuk membuka
kembali lembaran lama itu.
Oleh
karena itu aku mulai menaikkan levelnya, berharap kamu sadar. Sadar. Dengan
basmallah, kublokir kontakmu. Berat rasanya; yang seharusnya kusapa, melepas
puing-puing rindu—malah harus kuperlakukan seperti ini. Tapi ini sudah
seharusnya kulakukan. Kendati mesti menanggung rasa bersalah dan rindu yang
teramat berat. Sehari bagiku setara sebulan. Ah, rasanya lama sekali jika
menunggu sesuatu yang seharusnya sudah bisa kita peluk.
Bahkan
aku mendengus sepersekian detik setelahnya. Yaa Allah, diriku telah
melakukan sesuatu yang sangat berlawanan dengan kemauanku. Tapi, tetap
kulanjutkan; demi suatu tujuan yang lebih berjangka panjang. Sesuatu yang
pantas kuperjuangkan.
Aku
menaruh harapan pada ilahi, agar dia secepatnya mengetahui. Agar dengan begitu,
penderitaanku lebih cepat usai. Rasa yang tertahan ini akan terbalaskan dengan
cepat; walaupun jawaban dari pertanyaanku itu pahit.
•
•
Ayolah,
jika aku bermaksud lain, pasti sudah kublokir juga Safna. Agar i don’t have
any relationship with u. Tapi, kau lihat sendiri kan?! Aku benar-benar
membiarkan akun Safna. Supaya dari sana engkau mengetahui, bahwa aku tengah
memblokirmu. Storyku tak lagi kelihatan di tempatmu, namun aku menyengajakan
agar selalu kelihatan di akun Safna. Itu kulakukan agar engkau lebih cepat
sadarnya,.. dan aku lebih cepat melepaskan yang tertahan itu.
Sehari.
Baru sehari!!! Kala aku sudah sama sekali mengacuhkan Gadis, juga Bia, aku
mendapatkan suatu pesan yang mengguncang hatiku. Amat sangat. Arrgh. Rasa
bersalahku seketika mendidih; berkumpul di kepalaku yang tiba-tiba sakit. Ah,
siapa ini?!
Tapi
di sisi lain, aku telah menemukan fakta yang mengejutkan. Oh, man. Dia
nyariin gua!!!! Wuhu! Ternyata aku masih penting baginya. Bahagiaku
masyaAllah luarbiasanya. Aku sendiri juga yakin kok, gaakan dia sendiri yang
ngechat aku lewat akun orang. Akun Safna, misalnya. Pasti dia mintol ama orang.
Dan aku juga belum tahu sebenarnya waktu itu, siapa yang dia pinta
pertolongannya. Sejurus kemudian kutanyakan pada Nabiila Amalia—dan kemudian aku
mengetahui itu adalah Nadzafatul Assyifa. Seketika aku tercekat, teringat masa
lalu itu. Namun, kurasa niatnya baik sekarang. Toh, dia sudah mendapatkan yang
lebih dariku. Jauh lebih cocok dengannya.
Aku
jawab, dan begitulah. Aku menjelaskan sedikit kepadanya—sebenarnya rasa tidak
menyenangkan itu hanya disebabkan oleh takut akan kesalahpahaman. Tapi
syukurlah, semuanya dengan mudah mengerti.
Okelah,
inilah saatnya. Dan aku wajib mengucap Alhamdulillah untuk ini.
Lembaran
itu dibuka kembali. Senyum terekah—entah bagaimana itu begitu lebar dari kedua
belah bibirku. Sumringah.
YaaAllah.
Terima kasih.
Entah
apa yang kurasakan saat itu. Luar biasa menakjubkan. Seolah penantian itu usai
bersama persoalannya. Sehingga aku tidak meragukan lagi, bahwa lawan bicaraku
itu juga seseorang yang menganggapku berharga. Euh, untuk orang kayak Salma
mah, dengan gengsi segepok itu, sudah sangat luar biasa jika dalam sehari—dia
sudah mencariku. Oh, shit. Thor, udah dong senyum sendirinya. Ngetik sesuatu
yang udah lewat, emang kebawa suasana on air-nya. Tapi, ga gini juga kali’:v
ampe gigimu keliatan banget:v lebar amat senyummu nak!!:v
Kalau
ngomong sama dia mah udah biasa ya, mau langsung chat atau lewat story. Tapi ya
tuman-nya ya cuma aku yang aktif. Seolah berbicara pasif, berbicara pada
sesuatu yang bisa mendengar tapi enggan untuk menjawab. Seakan-akan mantul
kembali kepada diriku sendiri. Ah, entahlah. Itu terjadi kala kangen-ku
tak tertahan. But,, for this time, i see her type a message for me!!! Dia
mengetik pesan kepadaku!! Wah, entahlah. Kebahagiaanku bahkan tak mungkin mampu
dibentangkan oleh frasa maupun bahasa manapun. Demi melihat tulisan
‘mengetik...’ di bawah namanya itu, aku spontan membedah dua bibirku—terbelah
selebar lebarnya.
•
•
Ada
kebahagiaan di sana.
Kentara
sangat kupandang, kelegaan terpancar dari nada-nada awal chat kita kala itu.
Sampai,..
Sampai
aku menjelaskan segalanya, secara singkat, tentang apa yang terjadi
sepeninggalmu.
Dan
aku memahami perasaanmu. Itu jelas rasa yang manusiawi. Sungguh. Aku pernah
merasakan yang seperti ini dahulu. Sudah lama sekali—hal yang membuatmu
mendiamkanku ketika daku mengingatkannya. Ketika mendengar dirimu malah
menyukai teman dekatku.
Ya,
itu beda lah Thor.
Okelah.
Aku tidak ingin berdebat. Salahin aja aku—walau menurutku yang salah itu bukan
satu atau dua orang.
Oke.
Kuterima.
Mohon
maaf:)
Sudahlah.
Bahkan aku tak ingin mengungkitnya lagi. Lembaran ini sudah di depan mata;
begitu menganga. Lantas mengapa kita tidak fokus kepada hal itu saja? Alangkah
meruginya kita jika tidak memanfaatkan itu dengan efektif dan efisien. Sebab,
manusia baru akan mengerti betapa berharganya sebuah kesempatan, waktu,... jika
sudah dihadapkan dengan perpisahan. Dan kita sudah berkali-kali menghadapinya.
Seharusnya kita sudah mafhum betul tentang itu. Bukan malah menyia-nyiakannya.
•
•
Alhamdulillah.
..kemudian
kesempatan itu tiba kembali. Diberikannya kembali.
Entah
apa yang akan kukatakan lagi. Haru, juga ada rasa...rasa apaya? Ah gatau.
Pokoknya nyampur semua epribadeh~
Walaupun
takkan—eh engga. Semoga engga. Husnudzhonku, nada-nada chatku dengannya yang
berbeda sekarang ini, karena masih canggung. Masih belum terbiasa lagi.
YaaAllah, kok kamunya sopan banget sih-_ Aku segan juga jadinya -_-
Sepertinya
memang butuh waktu, agar kembali semula lagi.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
21
Ramadhan 1442.
Sama
saja, tidak ada yang berbeda. Kehadirannya juga belum kembali menghampiri. Pengembaraan
sucinya itu juga belum menginjak langkah akhir. But at least, Alhamdulillah, aku
telah dilapangkan hatinya—bisa tersenyum tulus dalam menerima kenyataan itu.
Tak ada sama sekali luka di dadaku. Sungguh aku begitu merasa bersyukur
sekaligus bangga punya teman sepertimu. Yang dapat meredam hawa nafsunya
terhadap kehidupan duniawi untuk keperluan masa depan; baik itu di dunia maupun
akhirat. Yang dapat merelakan apapun demi Allah. Aku bangga nak:v
Aku
merindukanmu. Kalau bukan
karena rindu, tidak akan aku ditimpa mimpi-mimpi itu. Argh, kian kali
aku harus diterbangkan oleh mimpi dan dijatuhkan oleh realita. Sekali dua kali,
aku merasa sial, karena itu semua bukan kenyataan. Hanya dibawa terbang sekejap
mata, lantas dihempaskan ke tanah. Tapi, dengan frekuensi seperti ini (baca:2×5
hari, dengan asupan yang nyaris berturut-turut), tentunya aku tidak lagi merasa
seperti itu. Semua itu seakan obat penawar kangen akan kehadiranmu.
Wahai, sekalipun aku tidak ditakdirkan untuk bertemu
denganmu lagi.
Kuharap kita berjumpa walau hanya di alam mimpi.
Aku
berjumpa lagi, lagi dan lagi denganmu di alam bawah sadar. Walau di setiap
mimpi itu, sama sekali tak berani daku menatah walau sepatah untukmu. Entahlah,
malunya ampe kebawa bobo:v
Tidak
ada saling berbincang, bertukar pikiran. Namun, aku sudah kelewat bahagia walau
melihatmu dari jarak yang tidak dekat. Memandangmu tersenyum. Ah—senyum itu.
Sama dengan yang kulihat tiga tahun lalu.
Terima
kasih telah menghiasi malam-malamku. Begitu juga siangku, kala aku kebobolan
tidur.
•
•
•
Masih
21 Ramadhan, tapi ini udah hampir jam 1 malem.
Salma.
Ah,
bukan Salma saja. Siapapun yang membaca ini.
Mengejutkan
sekali ya, secepat ini...?
Blog
ini tiba di tahap akhirnya.
Sungguh
aku juga ragu, bimbang menempatkan kata itu di judul artikel kali ini. Namun,
kendati demikian, aku meyakinkan diri, tetap melakukannya. Bukan apa-apa,
tapi,, Rasulullah pernah mengatakan dalam sebuah haditsnya, ”Merupakan tanda
baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.”
(Arba’in An-Nawawiyah:12)
Blog
ini? Gaguna? Ya jelas berguna lah. Jelas jelas ini tempat dimana
tulisan-tulisanku dapat berkembang. Sebagai alat komunikasi pasif tatkala
segalanya memaksa aku dan Salma untuk diam membisu. Apa lagi, ya? Banyaklah.
Situs ini seolah sudah menjadi penyalur buah pikiranku. Tanpa ini, segalanya
bisa saja tertahan, berujung stress dan lainnya.
Tapi
kini kusadari, peran situs ini
tuntas sudah.
Hey,
sudah tuntas!!
Genap
setahun hijriyah blog ini menerawang isi kepalaku. Menampung buah pikiranku.
Mengembangkan potensiku. Dan kini, perannya sudah selesai.
AND.
Yang
harus dipertimbangkan juga,
Ini
blog, berkecimpung di bidang apaan??
Cinta-cintaan??
Okelah
kalau cintanya ke Rabb YME. Ini?!
Sungguh
aku takut, di Yaumul hisab nanti, aku ditanya perihal blog ini. Untuk apa, demi
apa. Lantas apakah yang terjadi bila ujung-ujungnya kusebut untuk Seorang
wanita yang bernama Salma Mutiara Irza??
Dan
aku sudah begitu banyak menelan ludah yang telah kubuang sendiri. Aku tak ingin
ini semakin berlanjut, dan dengan begitu mudahnya gelar munafiq tiba di
pundakku. Tidak!!! Aku jelas-jelas tidak menginginkannya. Apalagi perihal
berbohong, aku tidak ingin berbohong di tulisan-tulisanku. Namun ada beberapa
hal yang membuatku sesekali mesti menyelipkan ketidakbenaran. AH! Sungguh aku
tidak ingin lagi.
jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
Ayolah.
Mungkin kata orang aku diberi potensi menulis lebih di usia yang baru menginjak
satu dekade setengah ini. Namun itu tidak bermakna aku boleh menggunakannya
sesuka hatiku. Tidak. Jelas tidak. Semua kemampuan itu asalnya dari Tuhan
semesta alam, dan semua itu pun nantinya—mau tidak mau juga kembali pada-Nya.
Aku tidak mau kelak di Hari Kemudian bila ditanya tentang kemampuan menulisku,
aku hanya menjawab untuk memuja seorang makhluk. Untuk mengisahkan cerita cinta
sepasang manusia. Tidak mau! Sesungguhnya hal ini sudah kupikirkan semenjak
berada di tengah jalan—kala blog ini masih berkembang. Namun, aku selalu
menunggu waktu yang tepat. Yea, dan kurasa inilah saat yang tepat untuk
mengakhirinya.
Awalnya
blog ini diniatkan bukan untuk full of kebucinan.
Coba
pikirkan, jika aku terlalu terbuka di sini—i mean menceritakan segalanya di
sini, lalu apa yang akan kukisahkan, kujelaskan kepadamu kala kita telah
dibersamakan nantinya? Kehabisan bahan pembicaraan dah nanti:v Oiya, perihal
episode-episode yang tampaknya belum kelar, seperti serial ‘Kala itu’, ikhlasin
aja:v Udah, biarkan aja. Kelanjutannya akan kupaparkan ketika kita sudah
serumah nanti wkwkwk:v
Dan,
ternyata periode blog ini lebih pendek daripada yang dahulu:) sungguh aku tak
mengiranya kala pertama kali mendirikan blog ini. Tapi, setidaknya aku kini
yakin, ini adalah langkah terbaik untukku. Untuk kita.
Terima
kasih, telah bersedia mendengarkan—eh, membaca bacotan residu kepalaku. Terima kasih banyak untuk tahun yang luar biasa ini. Tanpa
kalian, aku mungkin kekurangan semangat dalam membangun blog ini. Dan tanpa
blog ini, aku akan kekurangan akal. Sebagaimana perkataan seorang penulis yang
pernah kubaca;
“Menulislah! Sungguh menulislah satu-satunya jalanku
untuk tetap waras.”
Terima
kasih. Walau tulisanku tidak bagus-bagus amat, kalian tetap ingin membacanya.
Walau kadang keroyokan—asal banyak tapi kualitas penulisannya ancur seperti artikel
kali ini, kalian tetap bersedia membacanya. Sungguh aku telah lama tidak
mengembangkan tulisanku lagi, dan kali ini aku mencobanya kembali. Tapi agaknya
tempat ini sudah begitu antik, jadi aku harus pindah wadah. Tenang saja. Aku
akan terus menulis, walau tidak lagi di tempat ini. Aku ‘kan terus mencoba
menulis sesuatu yang sebenarnya tidak betul-betul kusukai. Yang lebih positif,
membenahi dunia yang benar-benar sedang tidak baik-baik saja ini. Duhai, ini
bentuk pewarasan dunia, namun memaksaku untuk semakin tidak waras. Bismillah,
aku hijrah karena Allah. Bantulah aku. Mungkin ini akan sulit. Sama sekali
belum terbiasa. Tapi, sungguh ini untuk kebaikan masyarakat, umat manusia.
Dunia fana.
Alangkah lucunya. Bahkan blog ini punya bab epilog
tanpa punya prolog
sbnrnya ada. tapi aku tarik lagi.
Sungguh
tiada kata yang pas untuk mengutarakan rasa terima kasihku kepada seluruh
pembaca. Bagaimanapun setahun yang berharga ini merupakan salah satu penentuku
untuk tahun-tahun selanjutnya yang harus diperjuangkan. Dan kalian menyaksikan
segalanya, menyempatkan untuk membaca bait demi bait; paragraf demi paragraf.
Thank
you so much. Jazakumullahu khairan.
•
•
•
Hanya
ada satu hal yang kurang.
Tulisan
dari admin satu lagi. Wkwkwk.
Yaudahlah.
"Mengapa kamu tidak menjawab?"
As-Saffat:92
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Maka
izinkanlah aku menuangkan sesuatu. Melaut di samudera hatiku yang luas. Walau
kita harus sama sama mengikhlaskan, bahwa ini adalah yang terakhir.
Lagi-lagi
ini adalah larut malam. Hei, mungkin kamu sudah terlelap di sana ya?
Hahaha.
Selamat mengarungi angkasa mimpi. Eheheh. Usai menuntaskan tulisan ini, aku
akan tidur tepat waktu kok. Engga kayak kamu-_ kalo dirumah udah kayak
kelelawar aja. Kasian tuh mata!
Sejujurnya
aku masih memiliki jutaan kata yang hendak kuungkapkan kepadamu. Namun
sepertinya ini bukan waktu yang tepat—walau sepanjang blog ini berdiri, inilah
waktu yang paling tepat. Karena aku meyakini, ada waktu yang lebih tepat untuk
hal ini. Itupun kalau ada:)
•
•
Khatam
sudah perihal rasaku. Sepertinya ini yang terakhir, dan tidak ada lagi yang
harus kujelaskan mengenai itu. Sisanya akan kutuntaskan suatu saat nanti. Tentang
rasamu, up to you. Aku tidak begitu mengharapkan rasamu itu dijelaskan
sepanjang tali baruak. ‘Cause i believe. Aku mempercayaimu, sebagaimana
aku mempercayai diriku sendiri. Jikalau bukan karena rasa percaya, mana mungkin
aku memiliki rasa padamu. Sungguh menempatkan rasa pada seseorang itu
memerlukan rasa percaya yang tidak sedikit. Itulah mengapa seorang pecinta
tidak akan ilfeel dengan mudah ketika tahu kekurangan orang yang dicintainya.
Mereka selalu percaya bahwa orang itu adalah manusia yang tepat untuk dicintai,
bagaimanapun ia. Baik atau buruknya.
Menerima
seseorang itu tidak mudah, namun kau telah membuktikan kebenarannya. Bagaimana
seorang Thariq Almas Neil Authar yang dahulunya tidak memiliki apapun yang bisa
dibanggakan—nekad untuk menaruh rasa pada seseorang yang disukai siapa saja;
dan akhirnya diterima dengan segala kelapangan hati. Wah! Itu merupakan salah
satu keajaiban yang pernah terhampar di kehidupanku. Entah dengan kalimat apa
lagi aku bisa menjelaskan kekagumanku terhadapmu.
Tak
perlu munafiq. Kita diberi mata, dan tentu kita berhak menggunakannya. Siapapun
yang mengalami jatuh cinta pasti diawali dari mata. Barulah turun ke hati. Hey,
ayolah. Kalau aku hanya memandang fisik, sesungguhnya aku saja tidak pantas
dikagumi fisiknya. (nah, sekali lagi
aku kagum padamu. Aku yang kek monyet ini ko suka? Jan becanda!:v) Kalau aku hanya memandang fisik, tentulah aku telah
beralih dari kamu yang hilang begitu saja—fisiknya udah gaada. Sebab yang
membuatku—siapapun bertahan itu adalah attitude orang tersebut. Kualitas orang
tersebut. Kalau good looking tapi attitudenya sampah, ya sampah juga
menurutku.
Okelah
dahulu di awalnya aku menyukaimu karena keindahan rupamu. Kuakui. Tapi,
bagaimana aku bisa bertahan sejauh ini? Nyaris sedekade ini? Dengan
menyingkirkan yang lain pula? Tidak lain dan tidak bukan karena sikapmu. Sifatmu,
gelagatmu, agamamu yang membuatku masih saja terkagum-kagum, hingga sekarang.
Dan yang perlu kau tahu ini bukanlah kekaguman temporer. Sekarang, dan
kedepannya. Kapanpun itu. Walau akhirnya tidak seperti yang kuharap, tapi rasa
itu takkan mungkin hilang. Hanya bisa pudar dikikis masa, tapi really itu gakan
bisa ilang. Seharusnya engkau bertanggung jawab atas segala yang terjadi
atasku!!! Karena hingga sekarang, apapun itu, aku gabisa lepas darimu.
Seakan setiap hal menghadirkanmu kembali di hadapanku.
Tanganku.
Bagaimanapun juga, entah bagaimana sudah tidak bisa lepas darimu. Kala
termenung atau apapun itu jua, tanganku kerap membentuk pola S. Dan itu
mengingatkanku padamu. Ketika mengetik, atau apapun itu, menulis
juga—keyword yang pertama kali kupencet tanpa sadar adalah S—bisa dilihat dari
kebanyakan pangkal kalimat ataupun paragrafku yang berawalan S—dan itu sudah
menjadi bagian dari alam bawah sadarku. Begitu juga menulis, atau ketika bosan
dalam pembelajaran di kelas, ataupun saat bengong melihat kertas kosong, sesuatu
yang pertama kali kubentuk adalah huruf S. Dan itu mengingatkanku padamu.
Tanda tanganku?! Kau juga pernah tahu. Itu tak pernah lepas darimu. Bahkan ketika
kau hilang tanpa jejak, hingga sekarang. Pola yang sentiasa dilihat semua orang
ketika melihat kertas surat edaran dari osis di mading. Selalu ada huruf S di
sana. AH! Aku tidak tahu bagaimana. Dan itu tidak pernah tidak
mengingatkanku tentang dirimu. Jadi, bagaimana aku bisa lupa akan dirimu?
Oleh
karena itu, jangan pernah berubah. Ragamu boleh saja berevolusi, tapi hatimu
jangan. :)
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Akan tetapi, aku mesti berterus
terang.
Aku
bukanlah malaikat tanpa sayap yang maksum. Bukan pula syaikh; ulama yang minim
kesalahan dan kekurangannya. Sungguh aku punya banyak kekurangan. Lantas
bersediakah kamu menerimaku?
Ayolah.
Semakin dewasa kita hanya mencari seseorang yang ingin menetap. Menerima kita
apa adanya. Itulah terkadang aku terang terangan memproklamirkan bahwa aku
tidak sebaik yang orang kira. Sungguh aku takut digelari oleh Allah sebagai
seseorang yang bermuka dua. Karena menurut al-Hadits yang ṡahih, ”Sesungguhnya orang
yang paling jelek di hari kiamat kelak adalah orang yang mempunyai dua wajah.”
Dan aku jelas-jelas tidak menghendaki yang demikian.
Aku
heran sendiri jadinya, mengapa selama ini aku selalu—getol menyiarkan
kelebihanku di sini. Seolah berbangga diri, nyaris terjatuh dalam kesombongan. Dan
terkadang menjatuhkan orang. Hei, Thariq! Ah. Aku sendiri tidak tahu mengapa.
Padahal orang-orang yang membaca tulisan-tulisan yang ada di blog ini bukanlah
orang-orang yang patut dibegitukan.
Aku yang hina ini bersembunyi di balik topeng
kelebihan. Tanpa kusadari, selama ini memang begitu adanya.
Aku
manusia biasa, dan aku bukan seseorang yang shalih betul. Masih butuh banyak
perbaikan dan pembenahan. Ya, aku adalah manusia dengan kekurangan dimana-mana.
Fisikku tidak sempurna, bahkan banyak kurangnya. Pun begitu pula dengan
akhlaqku, masih cacat dimana-mana. Bahkan aku masih bermandikan kemaksiatan.

berjuang bersama, bukan cuma menunggu di puncak.
Terserahlah
anggapanmu kepadaku. Mau kau menganggapku tidak baik, dan lainnya, ya itu
dikembalikan padamu. Aku tidak pernah sekalipun memaksamu untuk menyukaiku. Aku
mencoba terbuka, jujur, menjadi diriku sendiri. Karena bila aku menutupi semua
kekuranganku, aku bukanlah Thariq Almas Neil Authar yang sesungguhnya. Dan
kalau engkau mencintai Thariq palsu, maka engkau yang nantinya akan kecewa.
Karena bila kita telah bersama, kau akan menyadari yang selama ini kau cintai itu
bukan diriku yang sebenarnya. Aku terbuka kepada dunia, bahwa aku tidak
sebaik yang mereka kira, lantas siapakah yang masih bertahan??
Inilah aku. Mungkin banyak yang lebih baik dariku,
tapi percaya tidak percaya..,
Aku ini limited edition. Aku ya aku. Cuma ada satu.
Sungguh kau tidak akan menemukan seseorang yang sama denganku.
Sekalipun mirip,
Tidak akan sama.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Membencimu adalah sebuah
kemustahilan bagiku.
Segalanya
beralih, apapun itu. Kondisi berubah berlarian mengiringi waktu yang selalu
berganti. Dan kala itupun aku mesti kehilangan dirimu. Aku terpaksa menata
ulang hati, mencoba meninggalkan segala hal yang menghantui di belakang.
Menegakkan tulang punggung, mengokohkan bahu agar hal hal menyedihkan tidak
datang keroyokan. Menguatkan diri, tertatih-tatih bangkit dari segala
keterpurukan. Pada proses itu kuproklamirkan kepada semuanya bahwa aku
membencimu. Padahal itu merupakan kebohongan terbesarku dalam mencintaimu.
Benci
dan cinta, acap disamakan. Disandingkan. Dan itu terjadi kepadaku. Aku tidak
tahu, apakah aku pernah membencimu atau bukan. Seingatku, tiada secuilpun
alasan untuk membencimu bagaimanapun jua. Kecewa mungkin berkali kali; namun
benci jelas tidak. Mengapa aku bisa kecewa? Sebab kecewa itu berbanding lurus
dengan kepercayaan. Bangkit dan jatuh lagi dalam sebuah rasa percaya itu biasa,
dan aku telah mengalaminya selama ini.
Entahlah,
runyam sekali untuk dinalar. Tidak tahu mengapa, aku tiada dapat membedakan
antara cinta dan membencimu. Tak ubahnya seorang pecinta yang acap dikecewakan.
Ia tak dapat membenci, namun sesungguhnya ia sedang merasakannya. Sebab cinta
dan benci hanya beda setipis kapas saja.
Aku
pernah begitu kecewa. Dan itu seolah membangkitkan aroma kemurkaan di dalam
pengontrolan diriku. Ah, wahai. Jika saja itu merupakan kebencian, pasti aku
tidak akan kembali ke rumah ini. Rumah yang selalu menjadi tempatku untuk
pulang. Kau ingat peristiwa aku lari tak tentu arah itu? Ngehajar bangunan
reyot di tengah sawah itu? Itu manifestasi penyesalan, broh. Bentuk
sesal dari kebungkamanku selama ini. Apa, lagi? Coba temukan satu, satu saja
yang menunjukkan bahwa aku begitu membencimu. Dan jika sudah ketemu,
tanyakan padaku. Aku akan menjelaskannya hingga argumenmu patah.
Bagaimana
aku bisa membencimu? Sedangkan hatiku masih saja dipenuhi oleh namamu.
Bagaimana
aku bisa membencimu? Bahkan alam bawah sadarku pun mendukungku dalam
mencintaimu.
Bagaimana
aku bisa membencimu? Sedangkan air mata penuh harapku pernah terjun oleh
karenamu??
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Sekarang
aku tidak ingin overthinking lagi. Segala urusan akan bertambah rumit jika kita
terlalu memikirkannya. Biarlah semuanya mengalir begitu saja. Tidak ada yang
perlu diforsir, tidak ada yang perlu dipaksakan. Biarpun suatu saat nanti aku
menemukan semua yang ada itu tidak sesuai dengan impian yang kususun sejak
dahulu, tidak apa. Aku tidak akan kecewa berlebihan. Penyesalan mungkin pasti
ada, sebab selalu ada penyesalan di dalam hidup manusia. Tapi kuharap kelak
tidak akan berlebihan, karena kuyakin takdir Allah—itulah yang lebih baik.
Itulah yang terbaik.
Jadi
mulai sekarang aku sudah terbiasa berlaku bodoamat. Bukan, bedakan acuh tak
acuh dengan bodoamat. Menurut Mark Manson di dalam salah satu bukunya, bodoamat
adalah sikap yang seakan tidak peduli terhadap segala yang menghalanginya dari
suatu tujuan. Bukan acuh tak acuh. Bodoamat terhadap segala rintangan yang akan
menghadangku nantinya—dan insyaAllah bodoamat terhadap apapun penyesalan di akhir
kelak.
Jika
kau tanya perihal kehendakku, tentu aku masih menginginkanmu. Begitu pula
bertahun tahun selanjutnya. Tapi sekali lagi, aku manusia biasa. Akan selalu
ada keajaiban dalam hidup, tapi kita jangan melupakan realita. Kenyataan kadang
terlampau pahit untuk ditelan mentah-mentah. Dunia ini keras, babe.
Hari
ini mungkin aku mengatakan, bahwa suatu hari nanti aku akan kembali menemuimu.
Mengucap janji suci bersamamu. Namun, bukankah ini terlalu dini untuk
mengatakannya?
Aku
manusia merdeka. Begitu pula dirimu, dan kita semua. Perbudakan telah sirna
dari muka bumi. Oleh karena itu, janganlah kita malah menjadi budak kedepannya
atas segala yang kita janjikan sekarang. Kita masih bebas memilih bintang mana
yang akan kita dekap nantinya. Itulah mengapa aku membatalkan semua janjiku,
berhenti memberi harapan padamu. Biarlah aku sendiri yang mengharap pertemuan
abadi kita nantinya. Aduhai, aku masih teringat nasehat cinta terakhir dari
ibuku. “Kamu boleh menyukai, boleh mencintai, tapi jangan diumbar-umbar!
Merusak anak orang itu namanya.” Seketika aku teringat akan
tulisan-tulisanku. Argh, bisa jadi semua itu malah merusak pikiran Salma dalam
jangka waktu yang tidak sebentar. Membuatnya tidak fokus untuk melanjutkan
hidup—overdosis dalam memikirkan kalimat dan janjiku. Eheheh. Aku tau gakan
sampe gitu juga sih. Kemungkinan tertinggi cuma mengganggu kefokusan
tahfidzhmu. Aaah pokoknya aku tetap tidak mau kata-kataku itu malah mengganggu
masa depanmu.
Maka
merupakan sebuah keniscayaan jika aku mesti menghentikan semuanya. Walau
sebetulnya harapan masih menggantung agung di dalam sukma. Biarkan aku belajar
mencintai diriku sebesar aku mencintaimu. Biarkan aku belajar bagaimana cara
menyayangi lingkungan, keluarga sebagaimana aku menyayangi dirimu. Dan biarlah
aku memperbaiki diri dahulu. Sungguh aku ingin lepas darimu beberapa tahun saja, dalam
artian benar benar bisa move on; terus melaju kencang. Tanpa peduli
langkahku ini akan menyatu kembali denganmu atau tidak.
Kalau
perihal jodoh, aku mengimani qadarullah. Bisa diusahakan, tapi kalau memang
sudah ketetapan—ya mau gimana lagi. Aku harus menyadari bahwa hidup tak selalu
mulus. Bisa jadi impian yang telah kupupuk dari sekarang itu berujung hampa.
Maka aku harus menguatkan punggung, mengokohkan bahu untuk itu. Aku harus bisa
hidup bersama orang lain tanpa meringis kala mengingat tentang kita.
Sudahlah.
Aku hanya perlu berjuang untuk kehidupanku. Perihal hidup orang, nanti, ketika
sudah berkeluarga. Jika aku terus memperbaiki diri, berjuang untuk kehidupan,
niscaya jodoh itu akan datang sendiri. Bukan cuma dia, namun masih banyak lagi.
Kurasa untuk standar manusia sehina diriku juga masih bisa diharapkan orang
lain. Pas udah gede—gamungkin juga ga laku.

Waktu ada masalah—ceramah ayahku tidak jadi di masjid
dekat rumahnya. Jadi chat deh, bentar doang.
Oleh
sebab itu, janganlah kamu cemburu jika suatu hari nanti aku beriringan bersama
wanita. Atau sekedar chat. Come on, hatiku selalu kepadamu.
Akan ada masanya aku sudah terbiasa dengan interaksi lawan jenis. Dan kamu
harus memaklumi itu. Pertemanan antar lawan jenis tidak selalu berarti ada rasa
di dalamnya. Apalagi rasaku ini sudah tersegel.
Kalaupun
aku punya rasa, toh itu akan selalu runtuh lagi jika melihat senyummu. Agh,
andai kau tahu sudah berapa yang berurusan denganku; kuhindari, kusingkirkan
demi satu nama. Ya siapa lagi kalau bukan kamu.
Sebenarnya
kamu juga. Kamu juga seperti itu. Aku tahu, sangat mengetahui kalau kamu itu
sebetulnya lebih dari apa yang aku lakukan, tapi kamunya super menjaga diri.
Tertutup untuk diketahui lelaki sembarangan. Orang-orang hanya mengetahui
namamu, tapi parasmu dan sifatmu hanya abu-abu di pikiran mereka. Walau
sebenarnya bukan untukku, tapi, aku ucapkan saja. Terima kasih, sudah menjaga
dirimu buatku.
(geer
kalee saia wkwkkw)
Baik baik tanpaku ya:)
•
•
Wahai,
jangan khawatir. Sudahlah, mengkhawatirkan sifatku yang begini cuma buang-buang
waktu. Mulai sekarang hingga nanti, aku akan benar-benar biasa saja terhadap
sesiapa yang datang ke hidupku. Perihal mereka mempunyai rasa atau tidaknya,
itu terserah mereka. Siapa suruh datang ke hati yang udah terisi.
Kalau
kamu khawatir berapa manusia yang terluka sebabku, kukatakan dari sekarang,
jangan merasa bersalah. Itu memang harus kulakukan untuk mempertahankan asa
ini. Aku pergi dari rumahku—kamu, hanya untuk satu tujuan; tidak lain untuk
pulang kembali. Aku tidak akan pergi tanpa pulang.
Aku
akan selalu menemukan jalan pulang. Selanjutnya terserah padamu, percaya atau
tidak. Hatiku telah terukir oleh namamu, dan itu takkan hilang oleh manusia-manusia
yang mencoba menulis namanya di hatiku. Orang-orang berkata aku telah
begini—aku telah begitu, padahal mereka nihil sama sekali tidak tahu perihal
apa yang ada di hatiku. Oey, yang ada di hatiku cuma kamu. Iya, kamu.
Siapa?
Dia? Ah, jelas aku pilih kamu sal. Jangan bergurau.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Untuk
sekarang, aku tidak ingin memaksamu. Aku tidak ingin mengekangmu. Sungguh
duniamu bukanlah tentang diriku saja. Aku doang yang egois, pengen diperhatiin.
Ya bukankah wajar, jika seseorang ingin diperhatikan oleh orang yang
disayangnya? Ah, lebay:v
Al-Ma'arij:19
Yaa
pokoknya aku sempat merasa dicuekin. Gak tau kenapa, padahal kalau kubaca ulang
setahun lalu juga begini. Mungkin ini karena terbiasa chat dengan orang yang
over perhatian—banyak bacod, jadinya ketika chat sama kamu lagi—rasanya
dicuekin, karena standar perhatianku gatau kenapa berubah. Nah, sekarang aku
kembali seperti dulu lagi. Yaa terserah kamu, yang penting sehari itu ada
kabar. Aku ngga tahan banget kalo kamu ngilang. Perihal balas chat lama, akupun
balas chat lama kok.(iyakan:v) Kalau tidak sedang memegang ponsel, tentu aku
tidak akan membalasnya. Iya, aku tahu. Kamu tidak selalu memegang handphone.
Sama sepertiku. Dan memang seharusnya seperti itu, karena jika dunia kita
hanyalah ponsel, ponsel, dan ponsel saja, apa faedahnya kita hidup.
Namun
aku juga punya perasaan, dan itu kadang tidak waras. Kadang aku begitu kangen,
dan aku benar-benar membutuhkan perhatian darimu. Kumohon seandainya itu
terjadi, tolong ladeni. Kadang-kadang gila juga. Namun apa boleh buat.
Juga,
ketika aku mengajak berbicara serius, tolong dengarkan, tolong fast response.
Kadang terdapat waktu-waktu dimana aku mesti ngomong serius. Dan kalau kamu
slow response, apa jadinya coba. Argh. :v
Jadi,
setidaknya selama jeda sebelum sekolah—kembali ke kesibukan masing-masing,
kuharap kita bisa jadi teman yang baik. Tidak lebih dari itu.
Aku
tidak ingin mengekangmu, dan selamanya begitu.
:)
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Semuanya
terjadi karena suatu alasan.
Sebetulnya
semua akan lebih mudah jika seandainya dahulu, Allah tidak mempertemukan kita.
Bila saja aku mengatakan ‘ya’ kepada tawaran menggiurkan SD N 09 itu.
Bila saja keluargaku tidak menetap di pulau ini.
Sesungguhnya
yang demikian akan lebih mudah. Sungguh. Lebih baik aku tidak pernah
diperkenalkan denganmu. Dengan begitu aku dapat fokus menjalani hidup tanpa
terjebak dalam lingkaran rumit ini. Hari-hariku akan berlalu tanpa ambil pusing
soal cinta. Fokus menggapai cita-cita. Bayangkan, kawan! Seorang Thariq yang
seperti itu!? Yang tidak rusak karena persoalan rasa?!
Namun
aku tetap bersyukur, sangat bersyukur bisa mengenalmu. Motivasiku. Argh, sekali
lagi, tanpamu aku takkan begini. Dan tanpamu aku bukanlah Thariq yang sekarang.
Allah mempertemukan kita, agar saling belajar. Saling memperbaiki diri, walau
ujungnya masih berkabut. Jalannya pun terjal dan berduri.
Denganmulah
aku bisa lebih dekat kepada-Nya. Mungkin karena itulah aku selalu dikembalikan
kepadamu, jika sedikit saja lebih jauh. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa.
Demi Allah, semuanya terjadi karena suatu alasan. Dan aku tidak tahu apa, apa
alasan dirimu ada di hidupku. Supaya apa. Apakah singgah atau sungguh. Apakah
menetap atau sekedar memberikan pelajaran.
Allah
lebih mengetahuinya. Sudah menjadi rahasia Allah, telah tertulis di Lauh
al-Mahfuz berjuta tahun yang lalu. Siapa yang akan mendampingiku nantinya, juga
dirimu. Itu bukan urusan kita. Yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan
berusaha.
Doa,
doa, dan doa. Hanya itu, bukan? Cih, hehehe. Itu kembali menyadarkanku akan
hinanya manusia. Saking tidak berdayanya. Tapi apa boleh buat, memang seperti
itu sejak azali.
Engkau boleh saja mengatakan, tidak boleh
mengharapkan yang tidak pasti. Berarti kita tentu boleh mengharap janji
Allah--sebaik-baik penepat janji, bukan? Ya pasti dong. Allah menjanjikan bahwa
hadiah terindah dipersiapkan untuk orang yang sabar. Allah menjanjikan—الطيبين لطيباث—dan itu takkan pernah teringkari. Kita
boleh mengharapkan janji Allah, bukan? Kita boleh berharap agar diberi
sesuatu—seseorang yang terbaik, bukan?
Al-Muddatstsir:7
Maka
pintalah dengan segenap kemantapan hati. Hadirkan Allah di setiap persoalan
hidup kita. Kalau sudah begitu, tidak mungkin Allah tidak menolong kita.
Kita
boleh saja terpisah oleh jarak. Tapi tentu itu tidak membuat asa ini putus.
Tentu tidak. Selama do’a menguntai ke angkasa, tidak ada sesuatupun yang tidak
mungkin. Nothing is impossible. Okelah, kau sekolah di situ, dan aku
sekolah di sana. Tapi bukankah kita masih memandang langit yang sama? Berdo’a
pada tuhan yang sama? Maka ingatlah itu. Jangan pernah menangisi perpisahan
lagi.
•
•
•

Catatanku pada 12 Ramadhan 1442.
Tak
apa. Jangan ragu. Lanjutkan langkahmu itu. Tuntut ilmu sejauh bumi terhampar.
Usahlah pertimbangkan diriku. Lupakan. Hidupmu itu berharga. Hanya sekali, maka
manfaatkanlah sebaik-baiknya. Kutahu impianmu itu amatlah tinggi, maka dekap
semuanya dahulu. Baru kemudian, pikirkan perihal cinta-cintaan.
Baik-baik di sana;
dimanapun engkau berada. Ingatlah bahwa aku selalu di sisimu. Selalu mendukung
setiap langkahmu. Di sana, jauh di dalam hatimu. Jikapun tak terasa, maka ingatlah Innallaha ma’ana.
Tak perlu takut, tak perlu ragu.
Selepas ini, aku tak
memiliki kuasa apapun terhadapmu. Aku bukan lagi seseorang yang kamu bisa
jumpai setiap hari layaknya dahulu. Bukan pula seseorang yang dapat menemani
dan mengisi ruang chatmu seperti detik ini. Sekali lagi, baik baik di sana. Aku
tidak ingin kamu kenapa-napa. Tetaplah berjuang.
“Dan
aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.”
Hud:86
Engkau benar, untuk sekarang lebih baik kita
memikirkan cara meraih cinta Allah. Belum saatnya untuk pusing perihal cinta
kepada makhluk.
•
•
Pergilah,
walau namamu acap kuceritakan kepada keluargaku. Teman-temanku. Entah seberapa
bosan mereka,.. tapi entah mengapa aku suka sekali membahasnya.
Aku
selalu mencari kata selain ‘terima kasih’, namun ketika aku berhenti dalam
pencarian kudapati kenyataan bahwasanya tak ada yang bisa menggantikannya.
Suka aja ama nih lagu:v
Salma
Mutiara Irza,
Terima
kasih.
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
Cukup
sudah. Aku berhenti merintih. Meraung kesakitan atas luka yang hanya dipekikkan
oleh sang bodoh. Allah, tolonglah aku. Segala yang kulakukan ini demi
kemashlahatan.
Kalaupun
aku tidak ditakdirkan dengannya, aku takkan kufur. Selalu masih ada saja syukur
yang bisa dirasa dalam kondisi apapun. Terburuk sekalipun. Meski berat, akan kujalani. Bagaimanapun itu. Kamu
juga. Tak ayal siapapun nantinya yang akan berdampingan denganmu, maka
bersyukurlah. Dia mencintaimu. Sebab tidak setiap orang bisa beruntung dapat
menjadikan cinta sejatinya sebagai pendampingnya. Namun semua orang bisa
beruntung bila ia menjadikan pendampingnya sebagai cinta sejatinya.
Apapun
yang terjadi kedepannya, kuserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Takkan kutangisi
takdir itu. Karena segalanya telah tertulis indah di lauh al-mahfuz; bahkan
sebelum aku pertama kali menaruh rasa padanya. Allah lebih tahu. Dan Allah
lebih mengerti apa yang terbaik buatku.
Sal,
jujur aku masih saja mencintaimu. Dan aku tak mementingkan lagi rasamu itu
tetap padaku atau tidak. Karena cinta itu bukan soal menerima, atau saling
bertukar. Namun cinta itu perihal memberi.
Dan
bila nanti ternyata yang mendampingimu bukan aku, maka janganlah engkau kembali
ke hidupku walau sekejap saja. Jangan sampai wajah indahmu itu kembali
tertangkap lensa mataku. Sesungguhnya hanya dengan demikian tembok pertahanan
yang telah kubangun sepanjang hidup bisa roboh seketika. Sebab rasaku selalu
kembali padamu, walaupun pendampingku bukan kamu nantinya. Maka biarkanlah aku
dan pendampingku nanti hidup bahagia, tanpa terjerat masa lalu.
I’m yours. Hari ini ataupun esok lusa.
Berkembanglah,
perbaiki total dirimu ketika diriku tidak ada. Jadilah sang hafidzhah. Jadilah
sang bintang. Tentang diriku, tak usah khawatir. Walau arah masa depanku belum
jelas, tapi impianku sudah terpateri. Aku juga akan memperbaiki diri. Meski aku takkan sanggup menandingimu, namun biarlah.
Biarlah Allah yang menentukan. Sebab jodoh takkan salah alamat.
Salma,
jikalau kita tidak dibersamakan di dunia. Kuharap kita dipertemukan di
surga-Nya. Jikapun tidak berkenan juga, aku
akan meminta kepada Rabb agar diberikan pasangan di surga yang sepertimu.
Terima
kasih, terima kasih, terima kasih. Aku tidak ingat tanggal pertama kali aku
melihatmu, namun aku ingat angle dan tempatnya. Bukan, bukan di kelas arafah.
Tapi di depan pagar TK al-Faras. Aku ingat sekali itu. Dan terakhir kali aku
melihatmu, aku masih ingat detilnya. Maka biarlah Allah yang mengatur pertemuan
kita selanjutnya. Semoga kita kuat menjalaninya. Hasbunallah.
Bila
situs ini adalah wadah, maka sewajibnya diganti—kepenuhan.
Bila
situs ini adalah jalan, maka ia telah tiba ke ujungnya.
Bila
situs ini adalah peristirahatan, maka ia sudah sepatutnya ditinggalkan.
Selalu
ada ganjaran bagi orang yang pergi dalam langkah-langkah yang baik.
Hari
ini adalah akhir, tapi juga awal. Awal dari pewarasan dunia yang sudah
seharusnya dimulai dari kita.
Ada
pertanyaan? Jika ada tanyakan padaku.
Akan
selalu ada jalan baru, selalu ada lautan baru. Namun tetaplah pegang tekad yang
satu. Hati yang sama. Terima kasih telah bersedia menggurat kisah ini
bersamaku. Hikayat terindah yang pernah kujumpai.
Selamat
menyelami kehidupan yang lebih luas. Berjuanglah. Tantang dunia dan seisinya. Carilah
arti cinta, maka engkau akan menemukan segalanya. Bila kiranya waktu tak
menyisakan sesuatupun lagi, kelak engkau akan jatuh di haribaan ilahi dengan
cinta-Nya yang terindah.
Mahligai
seindah apapun takkan dapat menggantikannya. Maka suatu hari nanti,
Kembalilah
dengan tenang.
Kembalilah
dengan cinta. ۩
Allahu
akbar. Saksikanlah, yaa Allah. ﷻ
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
■■■■ tamat. ■■■■
~
𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ
~
*Catatan kecil di bulan Syawal.
Hoamm.
Tadi malem aku baru aja namatin inih blog. Ngomong-ngomong, hari ini udah
tanggal 2.
Banyak
hal yang terjadi sesudah penjelasan panjangku di atas. Banyak yang perlu
direvisi kembali.
♦
♦
niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya."
At-Talaq:2
Janji
Allah itu pasti. Hadiah terindah buat orang-orang yang sabar itu bukan sekedar
iming-imingan semata.
Aku
telah membuktikannya.
Alhamdulillah.
Bisa juga ternyata aku bersua dengannya. Bukan di dalam mimpi lagi, tapi nyata
terlihat. Nyata adanya. Agaknya mimpi kemarin itu bukan main-main. Bukan
sekedar isapan jempol. Kurasa Allah menunjukkan ar-Rahmannya—mencoba
menenangkanku. Memberinya lewat isyarat mimpi. Ibrahim a.s bermimpi menyembelih
Isma’il a.s sebanyak tiga kali, kemudian melaksanakannya. Sedang aku mesti
bermimpi delapan kali berturut-turut tentangmu di kala itu. Gimana engga ‘wah’
coba. Mimpinya seperti yang terjadi di realita. Selalu perihal buka
bersama, dan engkau hadir. Walau aku selalu terdiam di sana. Tidak berani
menyapa, hanya memandang dari kejauhan.
Bahkan Allah seakan turut mendukung eksistensi kita.
Hei.
Waktu itu sebetulnya aku sedang kesal. Tapi begitu melihat wajahmu, aku luluh.
Entah mengapa, namun pada akhirnya aku selalu menolak untuk memandang ke
arahmu. Aku takut rasa itu tumbuh pesat lagi di saat aku mesti berpikir
dalam-dalam. Meski sebetulnya sangat ingin, namun terus kutahan. Bahkan ketika hendak
pulang saja, aku tiada memandang ke sana. Bukan karena malu. Serius, bukan
karena malu. Tapi aku hanya berusaha menghindar. Dan mungkin kelak aku akan
menyesali itu.
Sudahlah.
Aku tak ingin mengungkit itu lagi.
□
Aku
tetap mencintaimu. Hanya saja aku berhenti menunjukkannya. Aku berhenti jadi si
budak atas apa yang dirasa. Jika memang hadirku tidak lagi diharap, jangan kira
aku bertingkah bebal—bertahan dengan segala sembilu. Kutahu engkau cerdas, tapi
akupun tidak bodoh. Aku tidak akan menetap di rumah yang tidak menyediakan
tempat untukku.
Biarlah
itu tetap ada di hati, namun itu takkan membuatku ngestuck di poin ini.
Aku akan selalu push rank, mendaki tebing kehidupan. Dan kuharap engkau selalu
ada di sisiku, bukan cuma menunggu di atas sana. Jika tidak ragamu, maka jiwamu
kuharap kehadirannya. Biar aku bisa semangat dalam mendaki.
Rasaku
selalu untukmu. Perihal rasamu, aku percaya. Kalau bukan karena rasa percaya
tidak akan kubantu Rasyid. Membuat akun whatsapp, membantunya
memverifikasikannya. Walau sebetulnya aku tahu tujuan utamanya.
Sebagai
teman aku hanya ingin Rasyid mengecap indahnya cinta meski sekejap. Meski
kutahu somebody yang diinginkannya itu sama denganku. Sekali lagi aku tidak
ingin mengekangmu.
□
Manusia
penuh dengan kealpaan. Kekhilafan. Jadi jangan karena satu kesalahan kita
hancur. Sebab itu memanglah fitrah kita. Aku percaya kita bisa melewati
segalanya. Kamu bukan lagi anak kecil, pasti kamu paham akan hal ini.
Untuk
sekarang dan selanjutnya, aku harap kita tetap saling menyapa. Dapat mengurangi
rasa gengsi. Setidaknya sampai ketika kita punya kesibukan masing-masing. Beraktivitas
di sekolah masing-masing.
□
Terbukalah
padaku. Jujurlah. Kalau ada sesuatu
yang membuatmu merasa aneh, ada yang janggal, katakan padaku. Menahannya hanya
menimbulkan masalah yang lebih besar.
□
Sekarang
aku bahagia. Sangat nyaman dengan apa yang ada. Merasa cukup bila telah
berbincang denganmu. Entahlah, rasanya beda sekali dengan waktu pertama kali
chat di kala itu. Aku sudah amat terbiasa dengan keadaan ini. Nyaman dan
tenteram.
Tidak,
tidak ada rasa keanehan lagi kala chat denganmu. Rasanya sudah begitu sempurna.
Aku suka sekali. Ya, waktu aku mengetik ‘ada sesuatu yang beda’ di artikel atas
itu cuma merasa like—emang kalo kita ama yang kita suka pasti rasanya kurang
mulu. Tapi, kini aku sudah merasa cukup, begini saja hingga nanti.
Jika
engkau punya pertanyaan, apakah aku chat dengan wanita lain juga. Ya, aku masih
chat. Namun asal kau tahu, kujawab seadanya. Seadanya. Kadang kujawab ‘Y’
tagak, kadang sesuatu selain itu; sekedar tidak terkesan sombong. Up to you,
percaya engga percaya.
Oyaudahlah.
Aku rasa tak ada yang mesti kulanjutkan. Sampai jumpa di kesempatan lain!:)







































Komentar
Posting Komentar