hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini.
dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini?
pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku cuma berhasil memberi distraksi dalam hal mengingatmu.
tiga tahun yang melelahkan, aku kembali pulang ke sini. tapi rumah ini tak ada penghuninya lagi. aku duduk di tempat ini, namun hanya sendiri ditemani sepi. lihat, tidak ada yang peduli. dan aku cukup malu apabila harus mengorek ulang seluruh kisah yang pernah kita lalui. itu seumpama makan ludah sendiri.
aku takkan mengerti semua ini. laksana sebuah fase yang ditetapkan, seluruhnya bermetamorfosis sempurna. seakan-akan semua telah diatur, aku ditakdirkan untuk selalu kembali ke sini. kalau saja hari itu aku tidak mengirim pesan itu, tentu plotnya tidak akan begini. aku pasti bisa dengan mudah kembali mencoba menghubungimu, mencari tempat terindah untuk kita berbincang. namun semua itu sia sia, bubur sudah jadi. tak pantas bagiku untuk tetap di sini, aku harus tetap berjalan. sejauh mata hatiku memandang ke depan.
di depan sana ada rektorat terindah di nusantara. semoga ada hal baik yang kuraih di sana, tanpa harus memikirkan eksistensi kita. aku boleh saja bodoh di 2022 karena mengirim pesan itu, tapi aku akan menjadi orang terbodoh sepanjang sejarah apabila harus mengais hubungan kita lagi. aku tidak ingin bodoh dua kali, ada harga diri yang harus aku dekap erat.
selamat tinggal, orang yang tak lagi kuingin sebut namanya. abadilah dalam keasingan ini, dan lupakan bahwa kita pernah dekat, pernah bersama. kita boleh berbincang selepas ini, tapi jangan pernah kau ingat aku pernah menjadi pengagummu sampai sebodoh itu. kau pantas bahagia, dan aku juga. sampai jumpa di persimpangan berikutnya.
Komentar
Posting Komentar