Langsung ke konten utama

Lorong Waktu; Memalukan.

 Masih gelap di luar sana, namun sebetulnya kaki langit terekah sinarnya sedari tadi. Tertutupi oleh dua gunung yang menjadi ikon keindahan latar AlKahfi. Hitam sejauh mata memandang. Dari dalam masjid sekolah ini, segalanya masih tampak samar. Mengenai ‘bertahan hidup’ dalam suhu rendah ini, tiada tempat yang lebih aman dan nyaman selain bagian dalam masjid. Dingin!

Begitulah. Peristiwa itu terjadi selepas shalat shubuh. Kira-kira di Bulan Dzulhijjah 1441 H. Entah apa yang merasuki tubuhku di kala itu, hingga diriku bisa seaneh dan seencer itu dalam berpikir. Sungguh aneh tapi nyata. Fajar yang tampak biasa saja bagi sebagian orang, menjadi penuh anugerah bagi orang sepertiku. Menjadi titik terang sekaligus ‘titik tolak’ dalam perjalanan kehidupanku.




~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Tatapanku nanar. Lamat-lamat dapat kulihat kumpulan manusia yang berkelompok. Satu, dua, tiga..., Ah! Mereka sungguh tidak bisa dihitung dengan jari. Banyak sekali. Tidak satupun sudut masjid ini yang tak diisi pemuda AlKahfi. Mengenakan pakaian shalat, menggenggam kokoh Kitābul-Furqān. Berusaha melekatkan isinya di dalam kepala.

Suara mereka tak kunjung mereda. Seolah mencerca nanarnya diriku. Laksana nyanyian kanon; lantunan ayat suci terdengar bersahut-sahutan mengiringi gerak semu sang mentari.

Tapi ini masih gulita.

Sekarang memang jam tahfidzh. Namun itu seakan tak bermakna bagiku. Keringat dingin bermunculan di antara kerut kening. Sungguh, aneh sekali. Pemikiranku bergelora di waktu sepagi ini. Kalau sudah seperti ini, biasanya aku tak bisa berbuat banyak. Akan lebih banyak perenungan. Akan lebih banyak penyesalan dan kepalan tangan.

Dan kini, aku tak dapat tahfidzh seoptimal biasanya.

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Seakan ada yang mengganjal di hatiku. Ini jelas-jelas bukanlah suatu pemikiran yang bisa disepelekan.

Entahlah. Orang orang menikmati tahfidzh seperti biasanya—sedangkan aku hanya dapat duduk terpaku di mihrab masjid ini. Ingin rasanya melanjutkan usaha menghafal Al-Qur’an, tapi kepala ini benar-benar di luar kendali. Ah, payah. Terserahlah apa anggapanmu, namun yang jelas; ini adalah kondisi yang rumit.

Tiga bulan. Nyaris satu trimester berlalu pasca momen itu. Momen kala pertama kalinya wanita itu menyapaku kembali usai terjadinya sebuah perpisahan. Suatu perpisahan formal tapi ‘gaje betul’. Penuh ketidakjelasan dan keraguan.

Namun sekarang tidak lagi. Segalanya sudah amat kentara. Yang abu-abu sudah berubah putih. Yang penuh noda telah kembali suci. Yang tercekat dan tertahan, tersampaikan sudah.

Semua berubah menjelma ‘lain’ oleh momen 25Ramadhan itu. Sebagai takdir magis yang tidak terduga, dirinya singgah lagi di hidupku. Menyebalkan memang. Pertahanan yang kubangun dua tahun belakangan ini roboh seketika. Sial. Percuma saja. Ternyata aku telah ditipu oleh hatiku sendiri. Kukira semuanya sudah kembali normal. Kehidupan sudah berjalan baik. Kesibukan telah berhasil menyingkirkan semua; termasuk rasa itu. Ternyata, itu hanya muslihat hatiku sendiri.

Menebalkan tinta nan usang dilahap waktu. Mengingatkan kembali makna rasa itu. Mengukir ulang namanya di hatiku. Gila! Ini jauh melampaui ekspektasi.

Mungkin beberapa orang menilaiku salah dalam memilih jalan. Dengan menyingkikan Nabilatul dan memilih Salma, aku sudah terlanjur jatuh di jurang yang serupa dahulu—katanya. Tapi menurutku tidak demikian. Sama sekali tidak terpikir olehku untuk berbalik arah. Tidak perduli apa tanggapan segelintir orang tersebut; bagai kata ‘wrong way’ yang hilang timbul di layar video game kala ‘salah arah’ di game balap-balapan.

Sebab  yang terjadi tidak lebih dari kisah Jim di buku Harga Sebuah Percaya. Setiap orang pasti akan merasakan cinta pertama. Dan pasti pernah terluka karena itu. Entah memilih lanjut atau menyerah karena sembilu, yang penting ialah; First love selalu spesial. Sangat istimewa. Sehingga setiap orang juga berekspektasi tinggi terhadapnya. Mimpi yang jauh melambung ke atas sana. Bila ada langit ke delapan, seperti itulah tingkatan halu para pejuang cinta.

 

Dan, setiap orang juga berhak mengutamakan cinta pertamanya daripada yang lain.

 

Seseorang mungkin bisa mencintai sosok selain ‘yang pertama’, namun tentu tidak akan seruwet itu. Contohnya aku saja, sempat suka terhadap yang lain. Mengalaminya sendiri; sehingga aku bisa menyimpulkannya.

Ah, sudahlah. Aku tidak ingin rusak lebih jauh lagi. Sudah sekian sel yang mati di tubuhku gara-gara penggalauan semacam ini. Dzhalim sekali aku. Menyiksa diri sendiri. Namun, yang perlu kau tahu bah—

 

 

“Woi! Alah teh maranuang tu!”

 

Lamunanku buyar. Ah, siapa itu?!

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Mataku coba ‘tuk menyapu sekitar. Hei, siapa yang telah lancang menggangguku? Jiwaku memang rapuh pagi ini, tapi tidak untuk dirobek oleh orang lain. Bagai bayi yang terkejut, aku akhirnya menemukan Muhammad ‘Abdul Rasyid di pojok mihrab. Ternyata dialah orangnya. Kuhela napas panjang, berusaha bersabar.

Dia mendekatiku yang tengah terpaku di tengah-tengah mihrab. “Ada apa”, katanya. Ia sepertinya tahu bahwa ada yang tidak beres denganku pada fajar kali ini. Duduk di sebelahku, tepatnya di samping sajdah imam. Sedangkan aku persis diatasnya.

“Tidak ada. Sudahlah. Lanjut aja ngafal tu dulu.”

Tampaknya dia tidak percaya dengan apa yang telah kukatakan. Ya, mungkin setiap orang bisa merasakannya. Tidak perlu psikolog ulung untuk membaca perasaan melalui wajahku yang muram dan pasi ini. Anak berumur tujuh tahun saja mungkin telah bisa membacanya. Bahwa ‘ada sesuatu’.

Mulai tergurat tawa di raut mukanya. Ah, aku yang melihatnya menjadi sedikit panas.

“Kau kenapa? Bahkan anak kecil saja mengetahuinya; bahwa ada yang tidak betul. Baik-baiklah. Orang sepertimu mesti dibuyarkan. Kau butuh teman. Oiya, kamu kan benci—”

Aku menguap, dan mengatakan, “Bukankah sudah aku katakan, aku benci berteman dengan manusia! Bersahabat dengan manusia! Jadi kumohon, pergilah! Jangan sok dekat.”

(Maksudku, aku muak bersahabat [baca;terlalu dekat] dengan manusia. Seperti kata Mark Twain.)

“Kau mengatakan bahwa engkau benci bersahabat dengan manusia. Lantas, kamu mau berteman dengan siapa? Setan?”

-_-

Awal maksudku, aku jauh lebih menghendaki dekat dengan Allah dibanding manusia. Tapi aku hanya mengatakan kepada Rasyid, bahwa aku benci manusia. Mungkin gegara itu.

Tapi biarlah. “That’s not too bad,” batinku.

Sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan bila dikatakan seperti itu. Toh, diriku juga serupa jelmaan setan. Kelakuanku setelah berurusan dengan mereka sangat tidak mencerminkan Thariq yang sebenarnya.

 

Akulah sang setan.

 

Buruk rupa, buruk perilaku, dan buruk pikiran. Lengkap sudah. Jiwaku hangus dilahap api kebucinan. Sungguh suatu manifestasi yang buruk. Harusnya selama ini aku bertahan di jalur hidupku yang kujalani sekitar dua tahun lalu. Which is aku yang benar benar sendiri. Bebas. Suka-suka. Tanpa harus terikat dengan seorang wanitapun.

“Hei!”, untuk kedua kalinya ia membuyarkan heningku. Ternyata dia sedari tadi menunggu beberapa patah jawaban dari lisanku.

“Ah, yang dihadapanmu; inilah setan. Aku adalah setan.”

Dia terdiam, lantas nyeloteh, ”Aneh..., aneh.”

 

(Entahlah, aku tidak ingat apa yang terjadi beberapa saat setelahnya. Sudah beberapa bulan setelah kejadian itu. Namun yang jelas adalah; aku jadi curhat kepadanya. Perihal semuanya. Perihal ‘yang merusakku’ itu.)

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

“Mungkin dulu ketika aku kehilangan eksitensi dia, hidupku sedikit suram. Ekspresiku di awal periode itu sentiasa muram. Namun di situlah aku berkembang. Aku mendapat apa yang kumau dari hidupku. Segala perubahan yang kuinginkan tercapai—entah bagaimana caranya. Aku merasa terlahir kembali ke bumi ini dengan format yang berbeda. Thariq yang berbeda.

Beragam prestasi kehidupan yang dapat teraih dengan cara yang tidak disangka-sangka. Benar benar ajaib. Diriku yang sebelumnya tak pernah bermimpi setinggi itu—tapi akhirnya terwujudkan juga. Bahkan, di periode itulah aku merasakan relasi yang super dekat dengan Sang Pencipta. Mungkin itulah penyebabnya.”

Rasyid masih mendengarkan dengan takzim. Suara lantunan ayat juga begitu; masih saja menggaung di masjid ini. Semuanya masih berjalan normal.

“Hingga suatu hari. Tak sengaja kusapa Nabilatul Afiah Agus kembali, lepas kulukai hatinya setahun silam. Hanya ingin bermaaf-maafan. Tanpa ada maksud lain. Aku jujur! Tidak ada maksud lain.”

“Respons darinya ternyata tak terduga, dia jatuh hati lagi kepadaku. Melihat kondisi ini, aku tak mungkin mengulangi kesalahanku yang setahun sebelum itu. Menyia-nyiakan somebody yang berharga di mata orang lain. Toh, saat itu kukira Salma juga takkan peduli lagi padaku! Sehingga kukatakanlah kepadanya; bahwa aku juga menyukainya.”

“Sungguh aneh. Hari hari selanjutnya kurasa dia adalah malaikat penolongku. Membentangkan tangannya dengan senyum yang manis. Mengulurkannya, membantuku keluar dari masa-masa sulit. Sebagai lentera yang tanpa sengaja menyinari ratusan meter sekitarnya.

Aku sangat berterima kasih untuk itu. Kala tiada Salma, ia bersedia membasuh lukaku. Hingga aku bangkit, dan akhirnya mendapat kedudukan, dia menuntunku.

 

Tapi, ada satu hal  yang tidak boleh dilupakan.

Terjadi kerusakan dimana-mana.

Sungguh, diriku telah membuktikan kebenaran bahaya dari fitnatunnisa’

Sebelumnya, aku adalah orang yang tidak perduli lagi perihal hubungan percintaan dua manusia. Setelah datangnya dia, aku menjadi seseorang yang sukar memelihara pandangan. Suka sekali mencari perhatian.

Sebelumnya, aku adalah orang yang amat mampu menjaga lisanku. Bahasaku? Wah, sabi. Setelah datangnya dia, lisanku ceplas-ceplos. Ngasal.

Sebelumnya, aku adalah orang yang meninggalkan (seminimal-minimalnya) musik. Bahkan diriku sempat membencinya. Sungguh datangnya dia telah merubahku seratus delapan puluh derajat. Hari hariku selanjutnya, aku keseringan mendengar hal yang merusak tersebut.

Sebelumnya, aku tidak pernah memposting sesuatu yang berhubungan dengan penggalauan dan cinta. Selalu bermanfaat; ceramah, siraman rohani, AlQur’an, hingga muhasabah diri. Kini? Ah, aku telah jatuh jauh kedalam. Sangat tidak berkelas.

Sebelumnya, aku tegap berdiri di atas kalimat Hasbiyallahu wani’mal wakil, ni’mal maula wani’mannashir. Sungguh datangnya dia telah mencuci ulang otakku, jadi bergantung pada manusia. Padahal dengan kalimat itulah aku berkembang. Besar.

Banyak hal lain yang telah menyeleweng dengan prinsip hidupku sebelumnya. Niatku yang biasanya lillahi ta’ala, menjadi sering berbelok arah.

 

Sungguh aku telah rusak.

 

Dan aku kini menyadarinya. Menuntut perubahan.”

 

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Menghela napas pendek. Mencoba menahan kepalaku yang sudah benar benar terasa nanar. Jiwaku terbang entah kemana—yang tersisa hanyalah jasad hampa. Sudahlah, Thariq. Jangan berlebihan dalam menuturkannya. Kamu hanya pusing saat itu. Tidak lebih!:v

Sebetulnya Rasyid sudah mengetahui bahwa kalau yang namanya ‘Thariq’ sudah seperti itu, pasti yang keluar dari lisannya cuma seputar kata kata bijak dan kalimat yang tak jelas dipahaminya ataupun tidak. Sehingga dia paham bahwa ia tak perlu banyak komen dan berkata-kata. Yang diperlukan cuma penajaman telinga; supaya aku tidak ribet lagi untuk mengulangi perkataan.

Tapi sepertinya tidak terlalu diabaikannya. Dia masih banyak komen, masih banyak berkata. Takpe lah, dia sudah bersedia menjadi pendengar.

“Aku amat benci diriku sendiri. Amat sangat!

Aku membenci diriku yang tak kuasa menahan mudharat yang datang. Aku membenci diriku yang tidak memegang kata katanya; bahwa  akan menggenggam rasa itu sampai bila-bila. Aku membenci diriku yang terpengaruh hal-hal yang aku sendiri tidak sadar, jika dia memberi pengaruh buruk. Aku membenci—AH!”

Lihatlah diriku ini. Mengenaskan. Aku tak sadar kata-kataku tadi benar-benar menggugah emosiku. Seakan gerbang ‘hasrat’ sengaja dibuka lebar-lebar. Mataku berkaca-kaca. Tanganku mengepal keras. Jari kakiku meringkuk. Gerahamku bersua kokoh.

Hampir saja kutinju sajadah yang kududuki ini. Sebetulnya aku telah lama sadar, bahwa itu tak ada faedahnya. Namun, ya, aku lagi lagi tidak mempedulikan hal hal semacam itu. Selama ini aku suka menghakimi benda kokoh di sekitarku, namun kini tidak lagi.

Terdiam dan tergugu. Memalukan. Seorang Thariq seperti itu, memalukan.

Ledakan emosi tadi merebut sebagian kesadaranku. Aku sempat kehilangan kendali tubuhku, meski cuma beberapa detik.

Napasku mendesis, mengeluarkan udara panas—yang entah dari kapan memanasnya.

 

 

“Aku membenci diriku. Aku benci manusia. Aku sungguh menyesal.”

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Matahari pagi menyapa. Ribuan larik cahaya menerobos antara dedaunan. Begitu pula masjid. Jam yang terpajang di dinding bangunan ini tanpa sadar telah menunjukkan jam enam lewat tiga puluh menit.

  Eh, sudah terang saja.

Kegiatan khalayak pun  masih sama, namun sudah ada lima-enam orang yang beranjak kembali ke asrama. Mungkin sudah mencapai target hafalan. Aku? Ah, meski di kelompok elite, tapi sifat malasku jarang dapat dikalahkan. Sudahlah. Buntu jika membahas tentang hafalan AlQur’an. Tentu yang baca ini jauh lebih berpengalaman dan unggul. Iya, kan? Hehe.

 

Masih di titik yang sama, rotasi empat puluh lima derajat ke arah utara. Duduk bersila tegap, dengan tangan yang masih mengepal.

Jiwaku sungguh rapuh pagi itu; dan aku tidak peduli mengapa, dan harus menumpahkannya kepada siapa saja. Mungkin saja jikapun yang di depanku ini adalah orang lain, maka tetap saja kutumpahkan serupa.

Rapuh namun menggelora.

Seberkas cahaya menerobos ventilasi. Menabrak mataku yang kentara genangannya. Seketika mataku terpicing, sehingga pandanganku tunduk. Kepalan tanganku melemah.

Terkuak sudah kedok Thariq pagi ini. Entahlah, aku tidak begitu peduli bila Rasyid membisikkan sesuatu ke orang lain tentang apa yang terjadi pada pagi ini. Tapi yang penting; aku percaya padanya. Sejauh yang kukenal, ia tidak pernah membuka rahasiaku.

 

Tunduknya pandanganku tadi, juga pertanda tunduknya jiwaku. Pikiran pun ikut jinak. Terasa kehangatan di kepalaku. Yah, inilah saatnya berhenti.

Satu ayatpun tidak lekat di hatiku pagi ini. Buruk, mungkin. “Ndak baa ge tu do, skali-kali nyh,” kataku mengutip perkataan Zaki Aditya, kala Rasyid bertanya perihal itu.

Menghela napas lantas beranjak, meninggalkan Rasyid yang masih duduk berpikir. “Tunggu!, Kok duluan aja,” serunya, sambil mengejarku yang sama sekali tidak menoleh ke belakang.

 

Masjid sudah lengang. Hanya menyisakan segelintir orang yang masih ‘bersantai’.

 

Melangkah keluar dengan kaki kiri, dan segera meraih sandal yang biasa kuparkirkan di pojok kanan belakang teras masjid. Aku akhirnya bisa melanjutkan langkah; dengan langkah sepasti-pastinya. Oh, ternyata sarapan telah tiba. Mempercepat langkah, tapi masih bisa disusul oleh Rasyid.

 

 

“Ah, aneh-aneh saja. Kukira cuma dua orang temanku yang otaknya sedikit error. Yang membuatku gila tatkala berada di dekatnya. Mariyono, Farhan Meidy,...

Dan sekarang, ada orang yang benci berteman dengan manusia. Membenci dirinya sendiri. Bahkan mengakui dirinya itu setan! Ah, itu sungguh manifestasi yang menakjubkan.”

 

 

Aku terkekeh ringan tanpa menoleh kepadanya. Sebatas lirikan mata, yang seakan melukis emotikon 😏

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

  Ah, payah. Sulit sekali untuk membahasakannya kembali. Padahal waktu itu adalah momen terpenting; yang secara tidak langsung mengubah hidupku. Pola pikirku. AH, Biarlah! Karena kurasa, hanya orang yang mempunyai ingatan beranugerah yang dapat mengupas kembali suatu momen di hidupnya dengan rinci; sedetil-detilnya.

Bila engkau mendengarku pada momen itu secara langsung, aku dapat menjamin bahwa kau juga akan tergugah perasaannya. Ah, sudahlah. Tak perlu membicarakan sesuatu yang mustahil.

Jadi, maaf atas ketidakberdayaan diriku, kisah di atas jadi tidak sesuai ekspektasimu. Andai kau tahu, itu juga jauh dari ekspektasiku.

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

19 Jumadil Ula 1442.

Angkasa sudah mulai berterus terang, namun murung. Suhu udara lebih dingin daripada biasanya. Wajar, hujan baru saja terhenti. Oiya, hari ini adalah Hari Ahad, mungkin saja orang yang memiliki niat untuk bersenam di Kantor Bupati akan berpikir dua kali bila ingin bergegas menuju ke sana.

Pun jiwaku, murung. Tidak tahu mengapa.

Aku baru saja menyelesaikan tulisanku tentang suatu pagi di Bulan Dzulhijjah. Lega, rasanya. Akhirnya bisa menamatkan tulisan kembali di rumah—setelah sekian lama. Hah? Iyakah?! Mwehehe. Selama lima bulan ini aku hanya mengandalkan tulisan dari asrama. Rumah hanya tempatku mengetik dan melakukan proses editing, tanpa berpikir lebih panjang lagi. Lagipula, sulit untuk menggerakkan hati agar senantiasa rajin mengetik. Sulit sekali. Godaan Instagram dan banyak hal lainnya sangatlah sukar dilawan:v Yaa, jika dinalar, masuk akal juga, sih, menurutku. Pasalnya kala di sekolah, kita tidak ada berinteraksi dengan handphone sama sekali. Jikapun ada, pasti tidak leluasa. Jadi, ketika sudah leluasa, talampau acok pulo lah:v

Nah, di pagi hari yang murung ini, aku mengajak kita semua agar sentiasa melafazhkan pujian dan ungkapa rasa syukur kita pada Yang Maha Kuasa. Tanpa ridho-Nya, apalah arti semua ini. Apalah arti segala yang kita usahakan. Semoga kita bisa memaknai hari seperti ini. Hari yang dimula dengan berkah, dan insyaAllah hingga akhir pun berkah.

Walau murung sepertiku, setidaknya kita masih berusaha memaknainya. Usahlah memikirkan hal-hal yang belum terjadi. “Yaumuka, Yaumuka,” kata salah satu imam besar. Harimu, ya, harimu. Hari ini ya hari ini. Tidak usah terlampau menyesali yang lalu; dan jangan mengkhawatirkan yang ada di hadapan kita.

 

Lupakan apa yang membuat kita sedih, syukuri apa yang telah terjadi. Hidup tidak selalu manis, dibalik kepahitan akan ada kemanisan yang muncul.

 

 

 

Ergh, ah.

Aku mencoba relaksasikan badanku. Ah~enak sekali. Geliatku laksana memandang taman syurga. Ahaha.

Sudahlah. Hari ini insyaAllah lebih baik daripada hari kem—

 

 

 

?

Aku mendengar rintikan kembali.

.

.

.

 

Oh, ternyata rezeki kembali tercurah dari atas sana.

 

Alhamdu?

(Lillah:v)

 

 

Sesungguhnya instingku letih, namun ketikanku masih jauh dari bayanganku. Cih, kala di asrama aku mengharapkan yang berkali lipat dari ini. Realita hasil ketikanku hanya seujung jari dibanding yang diharapkan. Oleh karena itu, hari ini dan seterusnya hingga kembali ke asrama; aku akan memaksimalkannya:)

 

•

•

 

Kunyalakan laptop acer-ku, lalu membuka Microsoft Word yang sudah di-pin pada taskbar. File, Recent, dan akhirnya meng-click file “I’M AUTHAR”.

Tampaklah hasil ketikanku selama libur kali ini. Ergh, too little. Kugulirkan sampai ke paling bawah dengan PgDn key, hingga akhirnya sampailah di titik terakhir tulisanku. ~ ~ ~

.... Oke, saatnya mulai mengetik.

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

 

Assalamu’alaikum, hei, Salma! Apa kabarmu?

Kuharap engkau baik baik saja. Akupun begitu, kondisiku telah pulih. Terima kasih telah berkeputusan seperti itu. Nyatanya aku sendiri telah merasakan mashalatnya. Alhamdulillah, aku lebih baik sekarang; walau tanpamu.

Sangat lebih baik.

Terima kasih. Terima kasih untuk segalanya. Mungkin ini bagai perkataanku beberapa bulan lalu, namun ketahuilah makna yang kuhembus padanya telah berbeda.

Terima kasih telah menyadarkanku kembali. Kendati tidak langsung, engkau amat berperan untuk itu. Kau tahu? Era pisahjalur kita sentiasa membuatku murung di awal, tetapi membenahiku untuk selanjutnya. Memberi masa untukku berkembang. Aku mungkin sempat rusak, sempat konslet. Sempat pula terluka gara-gara keputusanmu itu. Namun masa yang engkau putuskan benar-benar mengubahku. Benar benar membuka gerbang pemikiran yang luar biasa. Otakku berjalan fantastis seusai itu. Bahkan kesadaran akan konsletnya diriku juga bangkit di masa itu.

Ah, gatau ah, yang penting, Syukron katsiran yaa! :D

 

•

•

Allah memperkuat punggung seseorang melalui ujian. Selalu seperti itu.
Terima kasih yaa Rabb, Terima kasih Salma. Aku semakin kokoh.

•

•

Memang, aku sempat bersedih karena keputusanmu.

Terluka. Marah. Hilang kontrol. Kacau. Tak tahu apa yang harus dilakukan kedepannya.

 

Namun sekarang tidak lagi.
  Sal, aku benar benar sudah pulih sekarang. Bahkan kondisiku lebih baik daripada ketika diriku masih bisa berbincang lewat gawai denganmu hingga tengah malam. Kala kita masih sering bercanda—walau kadang garing tidak jelas. Keadaanku jauh lebih baik dibanding itu. Aku sudah bisa tergelak lepas, menikmati bumi Allah ini dengan sebaik penghayatan. MasyaAllah, luar biasa! Justru dengan segala badailah aku bisa menikmati pelangi dengan sesyahdu ini.

 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Asy-Syarh: 5-6
(MasyaAllah, Dia sampai-sampai mentaukidnya. Dan kini aku membuktikannya.)

 

Kondisi kesehatanku—yang pernah kuceritakan kacau imunitasnya, juga sudah kembali normal. Alhamdulillah, semua telah berjalan normal. Bahkan aku dan dirimu, juga normal; seperti biasa. Seakan kita tidak pernah berinteraksi di kisaran bulan Syawwal itu. Tak apa, sama sekali tidak apa apa.

Sekarang aku justru senang dengan kondisi semacam ini. Ehm, mungkin karena aku sudah bisa sepertimu. Bersyukur. Tanpa kusadari di kala itu, aku telah melupakan apa yang kutuntut selama dua tahun perpisahan kita. Yang kubutuhkan ialah ‘eksistensi’, meski cuma pudar semata.

Maaf, maaf telah merepotkanmu perihal rinduku.

 

Maafkan aku.

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Sungguh dirimu benar. Maafkan aku. Tidak berinteraksi bukan bermakna ‘pisah’ ataupun tak berteman lagi. Aku saja yang terlalu egois, yang mementingkan rinduku dibanding segala rules dalam hidup ini. Toh, aku masih bisa berinteraksi denganmu meski pasif. Aku masih dapat merasakan kehadiranmu meski cuma bayang bayangnya saja. Aku masih bisa mengetahui bahwa kamu masih hidup:)

(Heheh. Dahulu, pasca perpisahan sekolah, dua tahun tanpa kehadiranmu, orang masih acap mengatakan bahwa aku masih suka padamu. Sebenarnya iya, sih:v tapi asudahlah. Aku hanya ingin menipu mereka bahwa aku tidak terlalu terbelenggu oleh ikatan rasa itu. Jadi, aku biasanya menjawab ‘cie-ciean’ mereka dengan..,

“Untuk apa menyukai orang yang; bahkan aku tidak mengetahui dia disana baik baik saja, atau mengapa?

 Untuk apa menyukai orang yang; bahkan aku tidak mengetahui dia disana masih hidup atau sudah tiada?” :v maap:v

 Dan orang percaya itu. Pertengahan kelas delapan, tiada lagi yang berniat untuk ‘cie-ciein’ aku dan kamu. Eh, bukan. Masih ada saja, tapi satu-dua.)

 

 

Oh, iya. Aku hanya ingin memberikan sedikit penjelasan. Tentang episode ghibahku dengan Arkan.

Kau kira aku percaya?

 

Cih.

 

 

 

 

Mwehehe dikiiit:v wkwkwk

 

Tapi itu tidak membuatku mundur. Bukankah sudah kubilang, bahwasanya aku bisa langsung normal beberapa menit setelah itu? Hei, Salma. Coba pikir. Ketika ada orang yang bercerita, isma’. Dengarkan. Bukankah itu sudah mendasar di pelajaran akhlaq?

Itu yang pertama.

Kedua, bila kita mendengar sebuah hembusan berita yang tidak jelas benar atau tidaknya, tidak percaya sama sekali menjadi hak kita. Juga percaya, menjadi hak kita pula. TAPI, AlQur’an dengan segala keajaibannya telah menjelaskan segamblang-gamblangnya; bahwa...,

 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Al-Hujuraat:6
(Fasik? I don’t knowwkkwkw:v)

...

Nah, yang terjadi tuh, simpelnya begini. Arkan cerita, aku dengarkan. Mahirnya cara dia mengarang sebuah cerita, membuatku percaya; tapi hanya sebentar. Down-ku hanya sebentar. Sudah kubilang, bukan? Selanjutnya, aku bisa nyantuy dan bahagia kembali. Asal kau tahu, aku bisa menghilangkan rasa down itu karena sebuah usaha. Usaha mempercayaimu. Menghilangkan segala su’udzhon.

Jadi, berhasilnya aku menyirnakan rasa ‘down’ itu bersamaan dengan sirnanya percayaku kepada ceritanya si Arkan.

Lai paham?

 

Nah, kok, si Thariq masih juga mengungkitnya di Blog? Seakan dia amat percaya berita itu?

 

Baca ayat di atas:) Salahkah daku jika melaksanakannya? Jika diriku mencoba bertabayyun?

 

 

“...Aku percaya (padaMu), tetapi agar hatiku tenang (mantap.)”
Al-Baqarah:260

 

 

 

Oiya, ada alasan lain, yang InsyaAllah buat kamu sebel :v

 

Sudah kuceritakan, aku dulu sempat teriris karena keputusanmu. Kala aku berasumsi bahwa kita pisah:v. Ehm, ya, inilah faktanya; bahwa aku hanya memancingmu—berharap engkau speak up tentang masalah itu. Eheheh. Maafkan diriku yang waktu itu.

Ya, aku sangat memahami bahwa setiap orang tidak menyukai kesalahpahaman. Aku juga begitu. Jadi, kumanfaatkan fakta menarik itu untuk menarik dirimu. Menarik dalam hal speak up:v itulah makanya, kukatakan tadi; Maaf, maaf telah merepotkanmu perihal rinduku.

Bahkan tanggapannya di luar halu-ku. Kamu dengan luar biasanya mengetik sepanjang itu, terlebih lagi ketikannya bukan saja meluruskan apa yang bengkok. Banyak sekali dan amat bermakna.

 

OIYA, KOK KAMU KURANG AJAR BANGET SIH?!?!
  TAU KESALAHANMU APA?!?

Engkau telah membuat hidungku kembang dengan applause dan ucapan terima kasihmu; dan lupa untuk mengempiskannya. :v

Eak:v

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Kurang lebih ya seperti itu. Aku minta maaf soal semuanya. Segala rasa yang kau alami seusai keputusanmu itu. Diriku yang kadang belaga’ lupa denganmu, kadang seperti sangat peduli. :).... ~~ Aku sudah menjelaskannya, bukan, di salah satu snap?

 

Sekali lagi terima kasih. Makasiiiiiih:’)

Maaf juga untuk segalanya.

 

~Jalur Protokol, Pasaman Barat, 1442:)

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Mataku telah perih. Sudah menuju larut malam. Ehhm, yaa, ternyata ketikan itu bertahan satu hari sebelum akhirnya selesai.

Aku memang tidak terbiasa begadang lagi, namun jiwaku tetap saja kuat andaikata dibawa batanggang. Kuniatkan untuk begadang, tapi kurasa mataku terlanjur perih—dampak kantuk.

 

 

Lega. Aku akhirnya bisa merasa lega. Sudah kujelaskan padanya tentang ketikan itu. Suatu ketikan yang malah terkesan ‘DoubleSalahPaham:v” pahami saja sendiri tentang istilah itu. :v

 

Namun otakku butuh ketenangan. Butuh istirahat seusai diperintah berpikir melulu. Gila! Kepala ini seperti ditusuk-tusuk. Tadi siang aku sangat letih, mondar-mandir di suatu gedung—sendirian.

 

 

Sekitar jam setengah sebelas malam.

Kulipat kembali laptop itu, lantas mengendap-endap ke ruang tamu, meraih smartphone ibu yang tergeletak di-cas. Berhasil!:v Aku membawanya ke kamarku. Membuka instagram, scroll sampai bosan, dan akhirnya memutuskan untuk bercerita pada Salma. Yea, itu juga karena khawatir gada yang kubur :v

 

•

Selesai. Entah mengapa kantukku juga selesai. Napasku menderum di kamar tidur kecil ini.

Helaan napasku sedikit berat. Ah, segininya. Aku bahagia bisa bercerita padanya walau tergolong pasif. Tak pa lah:v Cukup segitu saja aku sudah amat senang. Cukup demikian.

 

Rumah ini seolah tak berpenghuni lagi. Sunyi. Hanya ada sayup-sayup suara tetesan air—sepertinya dari kamar mandi. Kubuka pintu kamarku, lalu menuju pintu depan-nya rumahku. Yaa, rumahku pisah sedikit dengan rumah  utama; orangtua. Dua rumah disambungin. Jadi, ya, ‘depan rumah’ itu bisa bermakna ganda kalau engkau ke rumahku.

Keluar rumah. Duduk di kursi taman, menikmati suasana asri sekitar. Semilir angin malam menyapa, menyibak dedaunan taman ini. Pohon yang menjulang terlihat melambai-lambai. Alhamdulillah, jiwaku bisa lebih tenang dengan ini.

Kutadahkan kepalaku, tersenyum simpul memandang jutaan gugus di angkasa.  Pun bulan menyabit indah. Rupanya cakrawala amat cerah, seolah menyesuaikan dengan suasana hatiku. Tenang. Damai. Tentram.

Aku menghela napas panjang...,
  Kemudian teringat pada salah satu quotes-nya Darwis di buku Rindu.

 

"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

 

Apalah arti kehilangan, semua ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

 

Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

 

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."

 

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

 

Masih memandang angkasa.

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.”
Al-Ma’arij: 19

 

Ayat itu mengingatkanku pada diriku di masa lampau. Ah, tak henti aku mengeluh perihal aku dan Salma. Padahal, semua sudah baik baik saja. Tanpa kesalahpahaman lagi. Tanpa ketidakjelasan lagi. Akunya saja yang kurang bersyukur. Bahkan, aku lupa bahwa yang seperti ini adalah do’aku dua tahun lalu.

“Bukankah dia (Allah) yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepadaNya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu sebagai Khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
AnNaml:62

 

“Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah lagi yang masih kamu ragukan?”
AnNajm:55

 

Aku terhenyak. Sungguh, rasa syukurku amat sedikit, dan benarlah apa yang tertera di raportku enam bulan lalu:v

 

Ergh,. Aku sepertinya keterlaluan mengejar dunia. Sumpah, menyesal rasanya. Entahlah. Padahal,..


“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau.”
Muhammad:36

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia berguncang?”
Al-Mulk:16

 

Sebenarnya simpel. Alasan mengapa Allah tidak memberikan kesempatan lebih untukku;

“Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?
(Tidak!) Maka milik Allahlah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.”
AnNajm:24-25.

,... karena Dia hendak mencegahku dari tindak melampaui batas:)

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki.”
AsySyura:27

Satu lagi..., bak perkataan Musa a.s kepada kaumnya.

“Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti sesuatu yang lebih baik?”
AlBaqarah:61

 

...

Mungkin saja Allah menyembunyikan sesuatu dibalik semua ini. Kondisi ini...., kurasa juga tidak buruk. Hanya rasa kufur yang menyebabkan semuanya seakan-akan berjalan amburadul. Hei, Thariq, semua ini sudah lebih baik! Mungkin saja jika segalanya berjalan dengan maksain, maka itu akan jadi buruk. Bahkan jauh lebih buruk daripada keadaan hubunganmu sekarang ini.

Thariq, dengar perkataan ini. KAU HARUS SABAR! Segalanya akan indah pada waktunya. Jiwamu harus sentiasa tenang. Kau harus belajar kuat. Perbaiki dirimu, hingga kau akan bertemu dengannya dalam versi yang paling baik darimu.

Bersabarlah,

“Sampai waktu yang ditentukan.”
AlMursalat:22

 

 

Percayalah, Thor, suatu saat nanti.

 

“Dan bersabarlah karena tuhanmu.”
Al-Muddatstsir:7

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Pratama Griya Makmur terasa sunyi. Hening mengambang. Hanya desir angin..., dan suatu alunan musik dari rumah di seberangku duduk. Sepertinya masih ada yang bangun selain aku di sekitar sini. Tuh, ruangannya aja masih idup lampunya.

Aku akhirnya tersadar. Ah, sudah pukul setengah dua dini hari. Mungkin saatnya untuk istirahat. Tapi, Ergh, aku belum puas berpikir!

Trobos ae lah:v lanjot:v

 

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.”
Az-Zariyat:17
(Alhamdulillah bermanfaat:))

 

  ..

Kembali duduk di kursi itu, lantas menunduk ke arah rerumputan. Lagi, tenggelam.

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Salma, maafkan aku yang enam bulan lalu. Yang lancang telah memintamu banyak hal. Terserahlah engkau bersedia memaafkan ataupun tidak. Tentang tulisanmu di blogku—terserah padamu. Aku juga tidak memaksamu, bukan? Sudahlah. Jika memang tidak berkenan atau memang tidak ingin, aku juga tidak keberatan. Serius! Tidak apa jika memang seperti itu. Lagipula perkataan Safna ada benarnya juga, “Nanti gabisa berhenti loh.”

 

Oiya, perihal memilikimu.

Bahkan aku tidak tahan membuka tulisan lamaku sendiri, apalagi tentang ini. Malu, tau. Jauh sekali pemikiranku. Okelah kalau itu tentang cita-cita. Tapi, ini?! Sungguh aku telah lupa diri. Perjalananku dan dirimu masihlah terbentang luas sejauh mata memandang. Kita tidak tahu kapan bermuaranya. Atau kapan berlabuhnya. Jadi, aku tidak ingin kita benar benar terikat dengan masa lalu, sehingga tidak luwes untuk meneruskan langkah. Kita adalah manusia merdeka. Bebas. Pilihan kita masih banyak, dan aku dan kamu bebas untuk memilih milyaran bintang lainnya. Kita bebas menentukan jalan kita kedepannya, termasuk pasangan. Kita bebas menentukan rumah yang akan kita tinggali nantinya. Maafkan aku yang sangat egois dan keras kepala.

 

“...Padahal setiap urusan telah ada ketetapannya.”
Al-Qamar:3

 

Tidak semua orang yang singgah itu sungguh. Mungkin saja aku hanya singgah di hidupmu, tapi saksikanlah bahwa aku memang pernah benar benar sungguh. Kondisi yang membuatnya seakan tidak sungguh. Bila suatu saat nanti kau ingat aku, jangan bersedih. Kita punya takdir yang harus kita jalani sendiri; entah itu kita menyatu atau tidak di ujungnya. Pasrahkan saja. Ikhlaskan saja. Sesungguhnya Allah maha mengetahui siapa yang terbaik untuk kita.

Ya, Salma. Aku tidak lagi seperti waktu itu. Aku telah mengikhlaskan segalanya. Apapun yang terjadi nantinya, InsyaAllah itu yang terbaik. Kau, cukup perbaiki dirimu di sana, dan aku akan membenahi segenap jiwa dan ragaku. Di sini. Atau dimanapun. Barangkali aku tidak tinggal di sini lagi, namun aku akan tetap mengingatmu. Menjadikanmu salah satu tujuan di dalam hidupku. Raga kita mungkin akan jauh nantinya, tapi Allah Maha Kuasa mendekatkan hati yang saling mendoakan. Terima kasih.



Kutahu cita cita jauh lebih urgen daripada semua yang kukatakan di sini. Yea, salah satu cita-citaku adalah memiliki dirimu. Tapi, biarlah itu menjadi yang ke-sekian. Bukan, bukan berarti aku tidak menghendakinya. Namun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada kehidupan kita kedepannya. Mungkin kita akan bertemu seseorang yang lebih baik daripada salah satu di antara kita; dan mencintainya. Tidak apa. Itu berarti Allah memang telah mempersiapkan yang terbaik. Pasrahkan saja, Allah tahu yang lebih baik untuk kita.

Allah lebih tahu:)

Mungkin di awal nanti berat, ketika kau mendengar kabar bahwa aku telah dibersamakan dengan yang lain. Tapi, InsyaAllah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Pun diriku, juga begitu.

Kejar saja impian dulu, baru perihal cinta-cintaan. Menjadi bucin  seumur hidup adalah bencana. Camkan itu.

 

Pun, sebenarnya aku merasa tidak pantas denganmu. Aku bukan level-mu. Itu yang kukhawatirkan. Hei, ituh hafalan masih nambah? Mweheheh. Kala aku mengetahuinya, aku sempat terkesiap beberapa saat. Wah, calon istriku shalehah:v wkwkkw bukan. Bukan itu yang kupikirkan. Yang kupikirkan adalah bahwa akan sukar, bila aku menyamai level ‘baik’mu dimata-Nya. Aththayyibin liththayyibat, menjadi kutakuti. Tapi aku positive thinking aja, semoga saja. Jikapun tidak, aku mungkin bisa mendapatkan seseorang yang benar benar menerimaku. Meski bukan kamu:)

 

Salma..,

Aku takkan pernah melepasmu.

Tidak akan.

 

Namun aku akan melepas diriku sendiri.

...

Karena aku tak pernah sekalipun memilikimu, tak punya hak apapun.

Tidak pernah mengikat, bagaimana bisa melepas?

Sungguh yang kulepas adalah diri sendiri.

Agar jiwaku tak meronta bila kau benar-benar dengannya.

Dia jodohmu.



Ilahi, aku meminta dengan segenap hati, bersamakan kami.

Jika engkau tidak berkenan, kumohon kokohkan punggungku. Kuatkan hatiku. Bantu aku mengikhlaskannya.

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Bukan berarti aku sedih. Bukan berarti aku menyerah.

Sudah kukatakan aku telah pulih. (meski sbnrnya saat mengetik ini ana jadi kebawa perasaan:v)

Jadi, tidak perlu khawatir aku galau atau bagaimana. Hei, jujur sebenarnya aku tidak suka dikatakan like, “Jangan pulak masang story galau abisni ya”. Seakan meremehkan sosok lelaki sekali anda. Tapi takpa, kumaafkan.

Menyerah? Tidak akan. Do’aku sentiasa menguntai. Tenang saja. Dan akupun tidak akan menuntutmu untuk setia; konsisten menjaga hati. Bukan hakku. Akupun tidak bisa berjanji untuk menjaga hati; karena sekali lagi, kita tidak tahu apa yang bisa terjadi pada masa depan. Ehm, namun akan kucoba.

 



 

Impian masih banyak yang belum tercapai. Ilmu masih banyak yang belum terserap. Aku akan menggali sedalam-dalamnya, sehingga menjadi ‘ulama nantinya. Aku juga memiliki cita-cita sebagai pendakwah. Aku akan mengejarnya, hingga liang lahat menyambutku dengan tangis bahagia.





Oleh karena itu, tidak apa aku tidak satu sekolah lagi denganmu. Tak apa jika aku berpisah denganmu. Bukan masalah bila aku harus tertinggal dua tahun darimu.  Jika jodoh, maka jadilah. Tanpa memandang apapun. Yang penting aku harus membenahi diri sendiri—hingga kita bisa bersama lagi.

 




Terima kasih, terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk pelajaran hidupnya. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, walau andaikata hanya sekejap.

Terserah, aku sekarang telah melepas diriku sendiri. Mau apa katamu, terserah. Jadi, kuharap aku sendiri bisa menerima kemungkinan apapun yang terjadi di depan nanti. Allah Maha Kuat dan Menguatkan. Punggungku sudah kuat. Hatiku sudah mantap. Aku memang belum dewasa, tapi pada kenyataannya, manusia semakin dewasa setiap harinya.


 

Aku akan tetap mencintaimu, walau nantinya daku tidak lagi menunjukkannya.

Jikapun ujian kehidupan akan terus datang dan pergi silih berganti, aku tidak akan lagi bersikap bucin.

 

Aku telah menjadi Thariq Almas Neil Authar.

Bukan lagi si bucin kelas kakap.

I’M AUTHAR.

 

Dan.., semoga

Sehandal Thariq ibn Ziyad

Seberharga Almas

Se’berisi’nya buku Neilul-Authar

.... atau mungkin seperkasa King Arthur.

 

 

Ah, kurasa aku tak perlu menjadi siapapun.

Aku hanya perlu menjadi Thariq Almas Neil Authar.

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Aku cukup menjadi Thariq. Menjadi ‘Abdullah yang taat. Beres dah semuanya. Segala urusan akan dipermudah. Ujung ujungnya juga bakalan indah.

Kedepannya, aku akan memajang kembali prinsip itu di otakku. 

"حسبي الله ونعم الوكيل, نعم المولى ونعم النصير."

Sudah, cukup dengan demikian! Hidupku akan lancar lagi! Indah lagi! Buktinya, Alhamdulillah sampai sekarang aku baik baik saja. Tidak lagi meringis karena sembilu apapun.

 

“Kemudian jalannya Dia mudahkan.”
‘Abasa:20

 

Tanpa ketergantungan pada seorangpun. Aku bahagia. Tafadhdhal-lah siapa yang ingin datang dan pergi di kehidupanku. Yang penting bila aku bergantung pada lafazh itu, maka tidak ada yang tidak mungkin. Aku tidak dapat kesepian. Aku senantiasa bersama-Nya dimanapun aku berada.

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
Al-Hadid:4

 

Aku benar benar tenang sekarang. Bahkan diriku juga tidak akan pernah kecewa lagi, karena dengan kalimat itu, seseorang menyatakan dia tidak lagi berharap pada manusia.

 

"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia."

~Umar ibn-AlKhaththab, Amirul Mukminin

 

“dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
AsySyarh:8

فصدقالله.

Aku mengatakan seperti ini bukan berarti aku telah baik. Telah shaleh. Bukan!!!! Aku masih jauh dari kata itu. Aku masih dalam proses; dan mungkin masih dangkal. Namun, kuharap kita bisa sama-sama membenahi diri.

Pertanggungjawaban ketikan... Hmmm aku takut.. Kuakui aku memang manusia yang penuh dosa.. Sudahlah, aku hanya ingin bersikap baik. Apa salahnya?

 

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: " حسبنالله, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).”
AtTaubah:59

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Terima kasih, Salma. Sekali lagi terima kasih. Engkau adalah salah seorang yang paling berpengaruh di kehidupanku. Terima kasih.

Kini aku tidak lagi terlalu ngebucin. Suka ya suka, banget ya banget. Tapi ‘banget’nya masih dalam kewajaran. Aku takkan bertindak bodoh, aku harus mengejar impianku. Aku tidak boleh ‘maksain’ dan galau. HARUS KUAT! Perbanyak tersenyum dan sesekali tertawa. Demi Allah, kau juga, ya:)

 

Jatuh hati boleh, bucin jangan.
Cinta boleh, bodo jangan.

 





Setidaknya aku telah bisa bercanda tawa dengan teman-teman lain. Wah, sungguh, aku sudah bahagia hidup di dunia ini. Asal kau tahu, di asrama, aku hampir tidak pernah bersedih. Gila mulu:v ya... kurasa itu anugerah. Telah terjadi penguatan hati. Alhamdulillah, Biidznillah.

 

Namun, ingat, bagaimanapun keadaannya, dimanapun tempatnya, aku juga sempat ingat engkau. Biarlah, itu tidak apa-apa. Selama tidak mengganggu aktivitas, aku juga bersyukur atas itu.

 

 

 

Terima kasiiih:)

...dan have fun! Nikmati hidupmu!:) Selagi masih muda!

 

~ 𝕀'𝕄 𝔸𝕌𝕋ℍ𝔸ℝ ~

Yess, aku mendapat bahan ketikanku selanjutnya. Kuhela napas, dan masuk ke dalam rumah. Bulan masih tersenyum melihat tingkahku yang aneh di malam itu. Juga dedaunan, melambai-lambai seakan tergelak tenang memandangku. Alam sangat indah di malam itu. Atas maupun bawah—sepadan indahnya. Sungguh kenikmatan perai ini tercipta atas seizin-nya.

 

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”
(hayooo dimana letak ayat ini:v)
Hehehe... pasti tau dong:v dasar hafidzhah:v

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebetulnya ana cuma skitar 10 hari di klompok ust isran klo gasalah... Ust Firdaus ngatain bahwa pembagian  kelompok oleh ust akbar tu banyak salah inputnya... Jd wktu tu dibuat ulang... Langsung ust Firdausnya yang bikin:v Tu makanya di cerita kadang ana bilang, tahfizny dket ariq... rasyid....
Ana dah balek ke klompoknya, dan ada yang beberapa ditendang:v

Setelah pisah lg, sejak itu juga ana hampir gapernah lagi cerita ma arkan. Lathif juga. Gaada ana dket ma mreka lagi do:v Ya.... Apalagi ana tau dy boong cerita kmrn tu kan, males jgk:v 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

DOPODICHÉ : UNA SPERANZA

PERINGATAN : Episode ini mengandung tingkat halusinasi yang sangat tinggi, jika sekiranya pembaca tidak kuat menahan cringe dalam membacanya,... ah pokoknya lanjut aja deh :v   Hai, Salma!   Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.   Akhirnya kita bertemu lagi, ya?   Meskipun tidak bertatap muka, aku sudah senang sekali. Saangat bahagia!   Kendati aku tidak memiliki hak apapun dalam hal merindukanmu, aku melanggarnya! (anebukanbangga) Selama ini kumerindukanmu.   Setelah dua tahun lamanya, akhirnya kita memiliki titik temu juga. Walau memang, pertemuan kita ini begitu tidak diduga dan sangat mendadak, apalagi dimulai dengan luka, akhirnya kita bisa berjumpa kembali!       :) ~    Ж    ~   Aku mencoba menenangkan diri. Aku keluar dari rumahku, meraih tali penyangga ayunan itu, dan mulai mengayunkannya dengan sesekali hentakan kaki yang cukup membuatku merasa melayang. ...