Langsung ke konten utama

Terawang Jiwa

 Ia menghela napas perlahan. Sejenak menatap lautan yang luas. Berbisik menguntai sajak sendu.

“Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri.”

“Lihatlah kemari wahai pepasiran pantai. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.”

Sungguh boleh jadi dialah orang paling munafiq di sepanjang pesisir pantai ini :)

 



 

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Bukan sebentar ia terbebani olehnya. Satu dasawarsa dilaluinya sembari menggiring pertanyaan itu. Suatu pertanyaan yang amat sukar terjawab, bahkan acap kali terpikir olehnya bahwa “Pertanyaan itu mustahil terjawab dengan sempurna.”

            Ah, itu jelas bukan sesuatu yang sepele lagi mudah. Logika manusiawi yang dimilikinya bahkan tidak bisa mencerna pertanyaan yang disimpannya sendiri. Segalanya menuntun lelaki itu kepada penyiksaan yang tidak ada habisnya.

            Sakit namun tak berdarah!

            Persoalan ini lambat laun semakin menyiksa. Pasalnya, kehidupan pria tersebut tidak akan ‘enjoy’ terasa tanpa eksistensi jawaban dari pertanyaan yang ‘mengikat’ tersebut.

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Ini bukan perihal asmara. Bukan pula tentang dendam dan air mata.

            Bukan seperti yang kau prasangkakan!

            Jauh diatas itu, ini tentang kehidupan dunia dan seusainya!

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Sesungguhnya lelaki itu mengetahui hakikatnya. Tentulah esensi dari sebuah pertanyaan itu; pasti memiliki jawaban, jika pertanyaannya benar. Entahlah, ia juga tak tahu pasti perihal kebenaran kalimat tanya yang selama ini mengikutinya—dimanapun lelaki itu berada dan kemanapun ia pergi.

            Namun, ia tak dapat memungkirinya; bahwa ia sangat takut. Sungguh, lelaki berambut pendek tersebut amat takut terhadap resiko dari pertanyaan penuh logika itu.

            Cih, lagi-lagi tentang rasa takut. Sekarang dirinya dapat melawan takut terhadap apapun yang menghadangnya, namun ada pengecualian untuk persoalan ini. Bisa-bisa orang yang ditanyakan perihal pemikiran pria itu; seketika naik pitam. Sungguh, ini jauh berbahaya dari yang korang pikirkan, dan resikonya really worst. Seriously.

            Bukan pemikiran orang biasa,

            Dan pastinya bukan pula pertanyaan yang biasa.

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Sungguh penghujung dekade yang amat berat lagi pelik. Bila tahun-tahun sebelumnya ia hanya membawa pertanyaan itu; dan hanya sesekali mengganggu akal pria tersebut, di tahun dua ribu dua puluh ini pertanyaan itu menjelma beban yang sentiasa mengusik akal serta nurani lelaki tanggung itu.

            Candra ketujuh, tepat kala dirinya mulai benar-benar terhantui. Ia hanya berani menyimpan pertanyaan itu seraya menalarnya baik-baik sekuat logika manusia yang dia punya. Ah, setajam apapun kemampuan penalarannya, secerdas apapun cara berpikirnya; tak mungkin baginya untuk dapat menemukan jawaban itu seorang diri. So, he just save ‘it’ in his heart deeply.

            “Belenggu itu tak lepas-lepas. Selalu mengekang. Selalu mengikuti. Menghantui.”, katanya pada suatu ketika.

            Sebulan berlalu sembari menggiring pertanyaan itu, dan lelaki tersebut mulai mendapati truth mengenai; dirinya mulai letih membawa pertanyaan itu. Akan tetapi pria tersebut masih ‘tatahan’ oleh rasa takut yang tersisa di batinnya.

            Dua bulan. Wah, asal kau tahu, rasa takut itu tergantikan. Lengser oleh rasa penasaran yang ada. Nyatanya inilah wujud peralihan yang nyata walau berformat periodik. Dirinya mulai mengeluarkan isi akalnya pada teman terdekatnya; as a shape of his extrovert soul.

            Entahlah apa yang terjadi pada takdir yang harus dijalani oleh pemuda itu. Pada usia sedini itu, dirinya mesti terbebani oleh buah dari pemikirannya sendiri; misteri yang cukup mustahil untuk dapat terpecahkan.

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

Four your information, dia adalah orang yang menjadi dalil bagi lingkungannya, khususnya teman sebaya, senior, dan yang manurun darinya. Orang orang mengambil dalih ucapannya; ya dari dia. Semua orang bertanya kepadanya. Entah itu masalah agama, kehidupan, dan akademik. Rata tanah.

Namun inilah faktanya yang terjadi; dia tidak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Bodoamatlah terhadap anggapan orang tentangnya. Dia sendiri saja tidak bisa bijak atas apa yang menimpa dirinya sendiri. Meski sebenarnya dia nyaris selalu dapat bijak terhadap urusan dan persoalan orang lain.

Orang-orang silih berganti, ‘menumpahkan’ segala keluh kesahnya kepada pemuda itu. Tapi, ya, begitulah kisahnya. Kondisi aslinya. Realita yang terjadi. Kini kamu mengetahuinya. Kurasa kamu paham. Bahwa sekuat-kuatnya sebuah tongkat, ia takkan dapat berdiri sendiri. Dan jikapun ia berdiri sendiri, ia akan rapuh ditelan masa.

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

Penumpahan pertama. Pojok kanan depan Masjid AnNur, sebuah rumah ibadah yang berdiri di sekolahnya. Teman curhatnya bernama Abda.

            Kala itu, bertepatan dengan naiknya matahari sepenggalahan. Usai menegakkan shalat, beberapa orang duduk-duduk di dalam rumah ibadah itu. Kendati duduk bersama, warga BaghdadOne memiliki topik pembicaraan yang berbeda-beda menurut komplotan bincangnya masing-masing. Pria itu berada di dalam sekumpulan manusia, tapi dia punya bahan pembicaraannya sendiri. Bahan yang terlampau berat untuk anak seusianya.

           Kisaran enam orang yang ada di sana, tapi sesungguhnya lelaki itu cuma berdua dengan karibnya di kala itu. Tanpa mempedulikan yang lain, kisahnya mengalir begitu saja laksana sungai kehidupan. Sungai yang bermuara pada suatu pertanyaan yang mustahil untuk terjawabkan.

            “Setiap manusia pasti memiliki suatu misteri yang amat membingungkan di dalam hidupnya; dan aku sudah mengantonginya sejak belia. AH! Ini sungguh pertanyaan yang sukar sekali.

            Ya, setidaknya itulah yang menggangguku belakangan ini.”

            Perkataannya menggema di cakrawala tiruan pada langit-langit masjid. Pun demikian dengan kisahnya yang mengalir begitu saja. Senyum paksaan merekah dari wajahnya yang sedikit pasi, sedang teman bicaranya terdiam seribu bahasa. Terpancar aura kebingungan pula dari wajah orang itu; dan pada akhirnya karibnya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain

 

 

            “Selamat tenggelam bersama pertanyaan dan pemikiranmu itu. Selamat.”

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Penumpahan kedua. Dalam masjid yang sama, tapi kali ini di bagian lain, waktu yang lain pula, serta dengan orang yang berbeda.

            Mihrab masjid, beberapa hari pasca penumpahan pertama. Ba’da shalat shubuh. Ditumpahkan kepada seseorang bernama Rasyid. Kala cerita tertuang sudah, Rasyid hanya dapat menatah kata dengan wajah datar—bagai baru saja mendapat ilham dari atas sana.

            “Sungguh, dahulu kukira segala yang kau capai adalah cerminan dari kehidupanmu yang sempurna itu.

            Dahulu, kurasa hidup yang ditakdirkan untukmu itu jauh lebih baik dariku.

            Dahulu, aku tak bisa menghindar dari rasa iri padamu.”

            Sang pria sama sekali tidak menduganya. Tidak, sedikitpun tidak. Kerutan di alisnya melukiskan hal itu dengan begitu kentaranya. Benar benar nanar.

            “Namun sekarang tidak lagi. Tidak akan lagi. Seusai mengetahui ini, aku benar benar terlepas dari semua hal memalukan itu.

            Kini, kurasa lebih baik bagiku untuk menjadi diriku sendiri—walau hanya apa adanya, Itu jauh better dibanding punya otak sepertimu.”

            Pemuda itu Cuma termangu; tergugu. Kepalanya tertunduk—dan sekarang ia lebih tepat jika dikatakan ‘mendekam’.

 

            Ah, Entahlah.

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Sebetulnya lelaki itu tahu bahwa ia tak akan menemukan jawaban dari dua orang temannya tadi. Akan tetapi, setidaknya dia merasakan kelegaan dari yang tertahan selama ini. Dan pada akhirnya, dia juga diyakinkan oleh kedua manusia yang jadi ‘penampung curhatannya’; bahwa perlu kasasi agar kasus ini segera tuntas sampai ke akar-akarnya.

            Hah? Kasasi?

            Maksudnya?

            Ehm, naik banding perihal pertanyaan ini; bertanya kepada somebody yang mempunyai ilmu yang jauh lebih tinggi untuk bisa mendapatkan poin jawabannya.

 

            “Petinggi sekolah? Ayahku? Ah, mungkin saja ilmu mereka amat ‘berurat berakar’ di kepala mereka, honestly, that’s too extreme.”, pikirnya.

 

            Ujung-ujungnya, ia memutuskan untuk ‘menumpahkannya’ kepada salah seorang ustadz yang lumayan akrab dengan dirinya—yang keilmuannya cukup matang dibanding asatidz lainnya. Ustadz yang sesaat lagi akan menyandang gelar magister. Baru saja menapaki jenjang pernikahan semenjak beberapa bulan silam.

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Sekian kali mendapat kesempatan, tapi disia-siakannya begitu saja. Bukan. Bukan karena rasa takut maupun khawatir. Namun Paja tu hanya tidak ingin momen penumpahannya berjalan sekedarnya saja. Mesti tertumpahkan seutuhnya, tanpa sisa. Agar segala beban yang menimpanya juga turut sirna tanpa sisa.

            Jalan yang mampu dirinya pakai for that purpose hanyalah satu; menulis. Dengan cara itulah ia bisa menyuguhkan persoalan tersebut hingga ke akar-akarnya. Tapi, cara itu jelas-jelas tidak efektif untuk ini. Tanggapannya pasti tidak segamblang pembicaraan langsung. I think, you understand what i’ve mean.

            Oleh karena itu, sampai detik kamu membaca ini—pertanyaan itu belum tertumpahkan kepada targetnya; dan ia berdalih dengan alasan yang aneh, tapi sungguh, ia jujur perihal ini.

            “Malas.”

            Terus terang dia malas menulis pokok-pokok pertanyaan itu.

 

            :v

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Eits, tunggu dulu. Tidak sepenuhnya begitu.

            Tatkala dia mengikuti suatu lomba menulis online, kebetulan pembimbing that man adalah ustadz yang dimaksud. Wah, kebetulan sekali. Dia jadi punya waktu lebih untuk bersama dengan ‘target penumpahannya’; sehingga alokasi lebih mudah diatur. Opportunity juga menjadi tidak terhitung.

            Akan tetapi, dia lebih memilih untuk ‘nurutin’ rasa malasnya itu. Kini bukan hanya perihal perasaan itu yang menghadang, tapi dikokohkan dengan ke-supersibukan pemuda itu dengan adanya lomba tersebut.

            Namun, di suatu ketika...

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Horizon telah bersiap menjemput mentari. Sudah menjelang senja. Kesiur angin membasuh segala yang ditakdirkan kepadanya. Orang orang bergegap gempita, menaungi aktivitasnya masing-masing; didominasi oleh para pemuda yang berolahraga. Berbeda dari yang lainnya, sore itu pemuda tersebut tengah asyik mendengarkan pengalaman hidup seorang ustadz yang ‘dihormati’ itu; mulai dari masa mudanya, prestasinya, sampai kisah cintanya—eksklusif terceritakan dengan lengkap dan runtut.

            Ba’da dzalika, Orang-orang bubar menuju asrama masing-masing, kecuali pemuda itu. Dia memang punya urusan lain dengan ustadz itu. Ya, kompetisi. Kelihatannya dia hendak memperlihatkan hasil karyanya pada pembina—untuk segera dicek.

            Ketika ustadz itu duduk takzim membacanya, ada seorang teman sekelas dari ‘the man’ tersebut—bertanya seputar kehidupan fana ini.

            “Bagaimana cara menghindari hal-hal yang begituan, ustadz?”

            Ustadz itu berhenti membaca, lantas menjawab pertanyaan itu beberapa saat.

            Beres, kemudian sang penanya tadi beranjak pergi.

            Pemuda itu tersenyum remeh, sebab dirinya tahu benar bahwa pertanyaannya jauh lebih berbobot dan menantang daripada yang baru saja ditanyakan orang lain.

            Dengan santainya dia nyerocos, “Pertanyaanku jauh lebih butuh dijawab daripada itu,”

            Pengecekan karya tulisnya jadi tertunda sejenak oleh karenanya. Tampak beberapa kerutan di kening sosok guru itu tatkala ‘mengintrogasi’ pemuda itu—karena dirinya tak ingin memberikan pertanyaan yang ‘menghantui’ itu begitu saja. “Belum saatnya”, katanya bersama senyum simpul yang terbit di wajahnya.

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Faktanya, karena ustadz itu kepo,, ia memberikan sedikit clue untuk meredamnya.

            Kau tahu, apa yang terlontar dari sang guru begitu mendengarnya?

            “Wah, Bahaya antum ni.”

            :)

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

Semakin dewasa seseorang, makin banyak pula pertanyaan yang tidak terjawab olehnya.

-Sang Penandai-

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Saat dirinya mendapat kesempatan untuk go home, pemuda itu menyempatkan diri—mencari kunci jawabannya. Satu persatu artikel dan video dicermati sebaik mungkin olehnya; hingga terkumpullah suatu rangkaian nan berujung sebuah kesimpulan yang amat bermakna di hidupnya.

 

            50% sudah terjawab. Syukur dah!

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Hei, jangan anggap remeh paja tu. Ia bukanlah seorang pengecut. Jangan berasumsi bahwa dia tidak bisa mengalahkan perasaan khawatirnya.

            Sungguh, ia telah mengambil langkah besar lagi nekad untuk hal ini.

 

 

.

.

 

            Malam Kamis, 25 November 2020.

 

            Cakrawala berkabung. Awan memayung. Angkasa kelihatan mendung. Benar saja, segalanya tampak murung pada malam itu.

            Lain halnya yang terjadi pada pemuda tersebut. Ceria sekali dia di malam itu. Entahlah, mungkin saja itu disebabkan oleh karena si pria mendapat makanan gratisan pemberian temannya:v

            Tiba-tiba empat orang ustadz mengambil alih perhatian penghuni masjid. Orang-orang spontan keheranan—sebab hal seperti itu belum pernah sekalipun terjadi. ByTheWay, agaknya semacam acara talkshow hendak diadakan secara eksklusif untuk tingkatan Baghdad saja; terbukti dari adanya pengusiran WN-AlQuds sebelum acara tersebut dimula.

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

Lelaki itu menyimak dengan santuy. Bersama malkist-nya, penyampaian asatidz berlangsung meriah.

Hingga,,...

            “Agenda belajar malam kita pada malam ini agak berbeda ya...”

            “Di sini antum bisa bertanya segala sesuatu yang ada di pikiran antum.... Apa saja! Bahkan pertanyaan konyol pun jadih.”

            “Kalau bisa yang menantang dikit.”

            Seolah pasukan semut menyerbu sekujur tubuhnya. Itu sebuah kondisi yang amat membuat urat lehernya berdenyut jauh lebih cepat. Malkist yang ada di dalam mulutnya seketika hambar—kehilangan perisa.

            Merinding!

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Abda melihatnya dengan tatapan—seakan mengatakan “Tafadhdhal!”; memberi aba-aba agar pria itu menanyakannya. Seolah menantang.

            Kondisi semakin ‘wah’!

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Gengsi mendidih di kepalanya. Ia adalah seorang lelaki, pantang baginya untuk takut terus menerus.

           

Sampai pada akhirnya...,

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia mendapati lengannya telah terangkat pada sesi kedua.

Ajaib.

 

“Dan dia tidak takut terhadap akibatnya”

AsySyams:15

 

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

 

“?”

Nyaris ratusan pasang mata membulat karenanya. Wow. Seketika area masjid hening, bersamaan dengan mulai terjunnya rerintikan hujan—menabrak atap masjid.

 

 

•

 

 

•

 

 

•

 

 

•

 

 

            “Kalau antum, engga perlu ditampar, kan, Riq?”

 

“...Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.”

Al-Baqarah: 150

 

~ ๐•€'๐•„ ๐”ธ๐•Œ๐•‹โ„๐”ธโ„ ~

            Begitulah. Itulah sebagian kisah yang terceritakan kepadamu. Kepingan demi kepingan makin kentara, berangsur meninggalkan segala kesemuan yang dipunyai. Semakin eviden. Akan tetapi, bukan berarti keadaannya masih seperti itu. Sudah ditulis olehnya; kuncinya adalah evolusi. Segalanya menjelma beda. Segalanya berevolusi.

 



 

Sudah enjoy. Tak lagi pernah terlintas di benaknya. Pun begitu pula dengan belenggunya. Kenestapaannya. Tidak ada lagi. Tidak ada sesuatupun yang kekal dan abadi di alam ini. Semuanya rata tanah. Akan musnah dan binasa pada waktunya.

            Sekarang, meskipun kesempurnaan tidak jua didapat, tapi pemuda itu tidak peduli lagi. Periode pencarian usai sudah. Rasa syukur sudah lebih dari cukup untuk hal ini.

 

ู„ุง ุชุญุฒู†.

ุงู† ุงู„ู„ู‡ ู…ุนู†.

:)

 

“Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

Al-Baqarah: 243



Episode ini disengajakan sedikit rancu dan kurang jelas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

DOPODICHร‰ : UNA SPERANZA

PERINGATAN : Episode ini mengandung tingkat halusinasi yang sangat tinggi, jika sekiranya pembaca tidak kuat menahan cringe dalam membacanya,... ah pokoknya lanjut aja deh :v   Hai, Salma!   Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.   Akhirnya kita bertemu lagi, ya?   Meskipun tidak bertatap muka, aku sudah senang sekali. Saangat bahagia!   Kendati aku tidak memiliki hak apapun dalam hal merindukanmu, aku melanggarnya! (anebukanbangga) Selama ini kumerindukanmu.   Setelah dua tahun lamanya, akhirnya kita memiliki titik temu juga. Walau memang, pertemuan kita ini begitu tidak diduga dan sangat mendadak, apalagi dimulai dengan luka, akhirnya kita bisa berjumpa kembali!       :) ~    ะ–    ~   Aku mencoba menenangkan diri. Aku keluar dari rumahku, meraih tali penyangga ayunan itu, dan mulai mengayunkannya dengan sesekali hentakan kaki yang cukup membuatku merasa melayang. ...