02 Agustus 2020.
Malam semakin pekat kala diriku masih saja mencoba untuk membaur dengan segarnya udara.
Semilir angin seolah menghiasi malamku yang indah ini. Seketika akupun
terhenyak, sebab ada sesuatu yang melintas di benakku.
“Sekarang, dia
sedang apa disana, ya?”
Ah, aku
keheranan terhadap diriku sendiri. Mengapa aku seperti itu? Sudahlah. Tidak ada
yang perlu dikhawatirkan. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Harusnya aku
camkan hal itu sejak awal. Syukuri saja, Thariq! “Alhamdulillah!”
~
ж
~
Mungkin saja
malam semakin larut, namun langit AlKahfi kini semakin benderang. Awan awan
seolah tak punya nyali untuk menghalangi rembulan, sehingga ia dapat
menunjukkan rupa aslinya—yang kebetulan pada malam ini berbentuk waxing
gibbous moon.
Tanpa kusadari, kepalaku—tak ada bedanya. Jikalau rembulan memantulkan
sinar mentari, batok kepalaku memantulkan cahaya bulan malam ini, serta lampu
teras yang tepat berada di atasku.
Maksudnya?
Ya, KINI BETA BOTAK KAKA! :v
~
ж
~
31 Juli 2020
Helaan napas berat baru
saja keluar dari organ pernapasanku. Huft, hari kemarin benar benar menyebalkan;
membuktikan parahnya esensi dari mengharap. Bukan hanya aku, seluruh temanku
juga merasakannya. Merupakan salah satu musabab dari “merelakan ‘ied di
sekolah” adalah hal itu. Mungkin, jika saja yang turun pagi itu bukanlah
air hujan, pasti ‘ied tersebut dapat menjadi salah satu dari hari raya yang
indah; which is seluruh pelajar AlKahfi berkumpul dalam dua lokasi yang
super dekat. Begitu juga dirinya dengan diriku, dalam jarak sedekat itu, apa
yang tidak mungkin? Haha. Mungkin, itulah kafarat dari harapan unfaedah seperti
itu. Bukan hanya aku; rata rata temanku juga begitu. Maka dari itu, Allah
turunkan hujan beruntun. Dini hari dan tatkala mentari meninggi setinggi tombak.
Namun, sejak kapan kita
membenci hujan? Apakah sejak kita mengenal banjir? Ah, entahlah. Lagipula,
bukankah hujan adalah karunia dari-Nya?
Sungguh tidak terhingga
nikmat Allah bagi orang yang berpikir. Demi menghalangi niat buruk
hambahamba-Nya, Dia tidak mengirimkan bala atau semacamnya, melainkan nikmat!
Hujan tidak pernah turun dengan maksud yang
buruk. Waktu dan keadaanlah yang membuatnya terasa buruk. Ah... bukankah cinta
juga begitu?
~Fiersa Besari
~
ж
~
Melompat dari lantai lantas merebahkan diri di dipanku. Hmm, memang itu
caraku saban naik ke atas dipan. Bagiku, menaiki tangga dipan terlalu
mainstream :v makanya diriku selalu meloncat, jika ingin naik keatas :v Lagipula, lebih cepat dengan cara seperti itu :v
Ahh, ingatan tentang
hari ini, aku tidak ingin memikirkannya terlalu dalam. Biarlah. Toh manfaatnya
juga banyak. Persentase maksiat berkurang dikarenakan hujan tadi pagi.
Tadi, aku juga sudah MPO
ke seberang. Haha. Kalau kalian berpikir bahwa aku susah susah membawa sapu,
bernyanyi sana sini itu hanya untuk MPO ke akhwat, kalian salah. Aku kadang
memang segila itu :v
Tapi waktu itu emang ada
juga sih niat MPOnya ke akhwat:v
~
ж
~
1 Agustus 2020
Aku berhasil dengan
mudah untuk ikhlas terhadap hujan yang terjadi kemarin pagi, bahkan mungkin aku
yang mendahului yang lain. Saat pertama kali mengetahui bahwa kala itu langit
tengah mencurahkan air, aku mengeluh. Namun beberapa menit setelahnya, aku
gembira lagi; tanpa ada beban pikiran apapun tentang itu. Kau harus tahu bahwa itu sangatlah kontras dengan santri lainnya yang mayoritas mengeluh berkepanjangan.
Namun, yang harus
kuterima kenyataannya pada detik ini adalah: bahwa aku tidak dapat join turnamen
sepakbola karena kondisi kesehatan yang kurang baik. Kakiku masih dalam proses
penyembuhan dari Paronychia. Pun tubuhku; kata dokter, tidak boleh banyak
berolahraga untuk sementara waktu.
Saat tengah membaca buku
Catatan Juang untuk kedua kalinya (stelah tamat), tiba tiba ustadz
Abdurrahim datang ke dalam asrama kemudian mengumumkan bahwa ada tiga barberman
yang diundang ke ikhwah. Sesiapa yang merasa rambutnya tidak memenuhi
standar ketentuan sekolahan harap dirapikan segera. Mengingat diriku
yang lupa memangkas rambutku menjelang masuk asrama, aku langsung bangkit, lalu
sesegera mungkin menuju kepada lokasinya; di dalam kelas Alquds1. (perlu diingat, saia udah Baghdad1
:v) Perjalanan
menuju kesana, aku berpapasan dengan dua orang yang penampilannya tidak biasa;
botak gundul. Mariyono dan David, mereka cabut beberapa hari yang lalu.
Mengambil antrian disitu
dengan teriak, “Siapa sebelum ana!?!”. Sesimpel itu, bukan? Hehe. Oiya, aku
menyengajakan ‘tuk bawa buku ke lokasi antrian, supaya tidak bete dalam
penantian. Sungguh, pengalamanku dalam mengantri pangkas rambut di sekolahku,
lumayan buruk. Aku tidak pernah kebagian antrean, sehingga selalu dapat
pemangkasan gelombang kedua. Syukurlah pada pagi itu, barber yang diundang itu
tiga orang. Jadi, aku lebih cepat dapat bagian antre. Ditambah lagi aku datang mubakkiran,
sehingga aku hanya perlu mengantri (menunggu) sekitar lima sampai enam
orang.
Kala membaca buku, aku
teringat akan keinginanku dari setahun lalu; yang bisa jadi muncul
karena saran bang Siharman Fikri plus diingatkan dua orang yang
digunduli tadi. Aku teringin botak.
Menurutmu itu keinginan
yang aneh? Pun demikian denganku, juga sempat berpikir seperti itu. Namun, perlu
diketahui bahwa saat diriku kelas enam, aku keseringan memakai produk
kimia dalam merapikan rambut (minyakrambut). Jadi, rambutku kusut dan susah
diatur (hanya bisa pakai minyak/aer).
Aku yang duduk di
samping barbermannya, langsung saja berteriak yang lebih mirip
mengumumkan hajat yang tadi terlintas di kepalaku. “oi, rasanya ana pengen
botak oii!”
Tidak ada yang percaya
omonganku, dan ada beberapa orang
seperti Lathif yang membalas omonganku itu dengan kalimat “Kalau Thariq
tu Bullshit aja nyo! Gapercaya anaa :v” (nadanya malah terdengar seakan
menantangku untuk membuktikannya :v)
Menghadapi omongan orang
seperti itu, aku mah selow bae. Keinginan tersebut nyaris kubatalkan, tetapi
beberapa detik selanjutnya; ketika diriku membaca buku, hajat itu seakan
menguasai kepalaku. Aku sangat teringin.
Aku masih saja mengoceh
seperti tadi, yang menyatakan bahwa aku teringin botak. Pikiranku masih saja
memikirkan minus dan plus dari botak itu sendiri. Ya, setelah kupikirkan, aku
memang harus berani bagai Rajawali; kalau sudah tua, ia menerbangkan dirinya ke
puncak tertinggi yang ia lihat, lantas mematuk-matuk batu sampai paruhnya pecah. Itu
dilakukannya untuk dapat mendapat paruh yang baru; kokoh kembali.
Patah untuk tumbuh!
Meski aku akan
kehilangan rambutku, aku akan mendapatkan rambut yang jauh lebih indah setelah
ini. Ya. Aku harus melakukannya. Ini dapat kuceritakan pada anak cucuku nanti,
bahwa di SMP aku pernah memangkas habis rambutku, bukan karena kenakalan, namun
karena hendak berevolusi.
Lagipun, setelah kupikir
pikir; plusnya jauh lebih banyak dari minusnya. Setelah beberapa
saat memikirkan itu, dan diriku telah mengumpulkan tekad—yang lumayan. Aku
mengumumkan sekali lagi, namun dengan tambahan kata “SERIUS”.
Akhirnya, ada sponsor.
“Kalau memang antum
beneran mau botak, ana bayarin thor!”, seru Rifki Abdillah Al-Afif.
“Kalau memang abang mau
botak, ana kasih abang uang sepuluh ribu!”, Rezky tak ingin kalah.
“Kalau emang pengen
botak, kami duluin gilirannya ha!”, ungkap beberapa orang disekitarku.
Wah, pastinya aku tambah
ikhlas dalam memotong (ups), menghabisi rambutku. Udah kepengen, dibayarin
pulak! Diduluin pulak! Ehhe :V
Yaudah, aku terima semua
sponsornya. Rezeki gaboleh ditolak :v. Lalu, detik selanjutnya aku harus menguatkan hati. Tidak akan
perduli kata kata orang, dan cemoohan orang begitu pula. Mungkin setelah ini
aku akan dicerca, namun tak apa bagiku.
Menunggu giliran
selanjutnya seakan detik detik menegangkan dalam hidupku, jantungku berdegup
keras. Aku masih saja memegang-megang rambut kesayanganku itu, sambil
mengucapkan selamat tinggal :v beberapa orang di sekitarku, ada yang
menakut nakutiku, ada juga yang menyemangatiku. Ada juga yang perutnya geli
sebab gelagatku itu. Haha.
Raahul telah usai dalam
pemotongan rambutnya; yang berarti aku akan duduk di bangku itu, dan membiarkan
barberman tersebut membabi buta rambutku. Hahaha :v
Terdengar beberapa suara
kebisingan, dan itu adalah “WOII KETOS BOTAK WOII!!” :v
Dan, diriku duduk
disitu, menunduk saja. Tidak ingin melihat sekitarku yang telah menjadi tribun.
Bukan lagi hitungan jari yang memanjat dinding, berdiri di atas meja hanya
untuk melihatku botak :v di dalam dan sekitar kelas tersebut, ada sekitar 50
orang; dan semuanya ingin melihatku gundul :v
Terdengar dari arah kerumunan,
beberapa orang yang berkata “Mirip Shaolin” :v
~
ж
~
Entahlah, kalau
oranglain, lazimnya menutup nutupi kepala botaknya. Berbeda dengan diriku,
semua yang berpapasan denganku, aku sapa sembari memperlihatkan kepalaku.
Alhasil mereka tertawa geli melihatku. Aku tidak marah dengan hal itu, malah
aku balas tertawa juga.
Bahkan, aku pergi ke
beberapa asrama, hanya untuk memamerkan rabut botakque :v tanggapan dari mereka
beragam, ada yang menanyakan tentang kasus apa yang telah kulakukan, dan ada
yang tertawa saja. Contohnya saja Ustadz
Isran, melihatku ia berkata: “Siapa botak haram tu?!” :v
Saking bangganya aku,
Ariiq Dzakwan mengatakan bahwa hal seperti itu tidak perlu dilakukan; “Thor,
udahlah thor (ketawa) bangga kali antum kayaknya sama pala antum tu” :v
Aku juga
sempat membanggakan kepada dewan guru; dan tanggapannya beraneka ragam pula.
Ustadz Ihsan mengatakan diriku mirip narapidana kabur, ustadz iqbal keheranan
dan menanyakan dengan sangat serius tentang penyebab diriku botak.
Dan kenyataannya; aku
sama sekali tidak ada kasus apapun sehingga digunduli. Segala yang kulakukan di
hari itu adalah atas kemauan diriku sendiri :)
~
ж
~
Aku adalah orang pertama yang bangga akan botaknya.
Entahlah, respon orang lain semuanya baik perihal penampilanku yang baru. Ada yang mengatakan bahwa aku mirip piccolo, Shaolin, Deddy Corbuzier :v. Yaa, semua orang mengatakan bahwa kepalaku yang gundul itu cocok dengan penampilanku. Bentuk batok kepalaku itu memang bagus; kata mereka:v
~ ж ~
Aku mengetahui bahwa
sesaat lepas barberman tadi membabat habis rambutku, satu rombongan
memutuskan untuk membotaki kepalanya pula. Rombongan ini berasal dari kelasku,
setidaknya beranggotakan Rasyid, Raja, Rama, dan lainnya. Tidak tanggung
tanggung, mereka melakukannya secara bersamaan pada dua giliran setelahku.
Begitu pula beberapa anak kelas delapan. Rezi, dan satu rombongan yang biasa
dikenal preman kelas delapan. Danu, Riyad AP, Daffa Addin, dan lain
lain. Serangkaian kabar ini membuat bibirku tersenyum. Entahlah, aku merasa
tidak sendirian.
Ariq, Ile, Abda, Radit,
Habibi, mereka ikut juga:v
Matahari terik di atas
kepala; memanggang apa yang tersembul dibawahnya. Entahlah, aku kehabisan
tenaga untuk menjalani sisa hari ini. Sepertinya aku memang kelelahan. Bibirku
terlalu banyak tersenyum dan tergelak; padahal hatiku masih belum mengikhlaskan
secara sempurna mengenai ‘kegundulan’ ini. Untung saja berita-berita tadi
membuat kepalaku tidak terlalu dipenuhi oleh keraguan akan tepat atau tidaknya piihanku tadi.
Lama lama ini menjadi
semakin mewabah. Keseluruhan salah satu geng kelas sembilan (David,Furqon,Fatul,)
membabat rambutnya pula; dan ini adalah
puncak beritanya. Kabar ini sampai ke telingaku selepas aku bangun tidur siang.
Wah, aku merasa sangat senang dikala itu. Tidak ada ketertundukan lagi, karena
aku tahu bahwa jika saja mereka telah memutuskan untuk botak; maka kekuatan laskar
botak takkan terbendung.
“...dengan
mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut.”
Al-Fath:27
Benar saja. Ras
botak menjadi golongan terhits dan terheboh setelahnya. Semuanya
membanggakan kepalanya, bahkan kepada asatidznya sekalipun. Aku tidak termasuk
mereka, namun aku kerap kali ikut menyelisihi orang orang yang kurang menyukai
gelagat kami.
Yazid;
“AAAAH! Kenapa ni!? Kemana mana ana ketemu orang botak! :v”
Perkataan seperti “Engga
botak, ga keren”, “Dasar penakut, masa’ gini aja ga berani”, “Botak adalah
solidaritas”, “Botak itu trend”; semakin sering terdengar di telinga ikhwah.
Entahlah, itu adalah bentuk yang menyebabkan enyahnya rasa takut dan ragu orang
orang yang ingin dibotak; dan menjadi power buat orang orang yang telah gundul
kepalanya.
Ujung ujungnya; sekitar
30 orang lebih tergerakkan hatinya untuk bernasib sama dengan kami, dengan tujuan
yang berbeda beda.
Really, aku
terselamatkan; bahkan terusung tinggi. Nikmat apa lagi yang kurang padaku,?
Alhamdulillah.
Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragukan?
An-Najm:55
~
ж
~
Begini. Berdasarkan
pengalamanku dan yang lainnya, Botak itu merupakan hal yang menarik dan
sungguh seru. Bebas, tanpa perlu menyisir rambut, tanpa khawatir teracaknya
rambut, dan sensasinya jelas luar biasa. Kepala jadi ringan dan dingin. Hanya doktrin pada
masyarakat yang menjadikannya seakan akan suatu hal yang buruk dan ngenes. Apalagi
di kalangan santri; wah, itu adalah sesuatu yang sungguh memalukan lagi
memilukan.
Lagi lagi masalah
doktrin.
Entahlah, doktrin yang merubah
segalanya. Hei, sesekali cobalah mematahkan sebuah doktrin. Lihatlah, kami
dapat melakukannya! Ikhwah AlKahfi berhasil merubah kesan ‘buruk’ pada suatu
hal yang memang sejak dahulu diangggap bukan hal yang wajar lagi baik. Selama
ini ‘Botak’ itu adalah hal yang terpandang buruk. Ayahku saja
(mungkingegaradiajugaalumnisantri) sempat kurang percaya bahwa segala yang
kulakukan didasari oleh niatku sendiri. Entahlah. Perlu dua menit untuk diriku
menjelaskannya pada ayaku itu; pada jam dua belas malam di depan seven
mart.
Ya, aku bangga bisa
menjadi tokoh penggerak revolusioner. Seseorang yang bisa mengenyahkan doktrin
yang selama ini dipegang. Dari niat dan kemauanku sendiri, puluhan orang juga
mengikuti style-ku.
Wuahahahha saia tokoh
penggerak kegundulan awokawokawokawok:v
Pesanku, Harus berani
beda. Kita mesti berani mengatakan “YA” pada sesuatu yang bertujuan baik; meski
doktrin masyarakat berbalik daripada anggapan kita. Patah untuk tumbuh. Berpisah
sementara dengan rambutku, dan siap menyambut yang lebih baik di kemudian
hari:)
*sidestory
Pagi itu dikerubungi
awan, tebal sekali. Rintik hujan mulai turun dari langit yang tengah murung.
Pembelajaran shift satu dan dua diberlakukan sebaik mungkin oleh dewan guru,
dan diriku memutuskan untuk berbincang di teras kelasku yang baru saja dipel; bersama
Nabil Alfath. Beberapa lama setelah itu, aku masuk ke dalam kelas untuk
sementara waktu; hingga shift satu dimula. Ya, aku shift kedua; jadi mau tidak
mau aku harus keluar kala shift satu mulai.
Beberapa orang
menanyakan kepadaku; mengapa aku ada di dalam kelas. Padahal aku team shift2.
Aku memberikan alasan, “Cuma lagi pengen aja.”
Aku menulis tentang blog
ini. Sebuah buku berwarna kuning; kutuangkan segala feses pemikiranku padanya. Aku
bahagia jika menulis. Sudah itu saja. Kalimat demi kalimat, dan tanpa
terasa bel Ash-habul Kahfi berbunyi. Lenganku bersiap menulis beberapa
kalimat yang mampu kutuliskan di sisa waktu itu, dan ya; ada sesuatu yang
terjadi di kala itu.
Aldi Praseptio
berdiri di depan kelas sambil caper. Beberapa orang muak melihatnya, dan
bagiku itu juga merupakan sebuah gangguan bagiku untuk mendapat kemudahan dalam
menulis. Ah, bukan. Tapi sedikit lirikan mataku padanya saja sudah membuatku cringe. Aneh. Aneh! Gelagatnya tidak support dengan mataku:v. Jadilah ia dibully oleh beberapa orang tersebut. Aku hanya
menambahkan di bagian akhirnya; dan pada akhirnya itu seperti yang dituturkan
Rasyid kepadaku. Lisanku memang jarang mengeluarkan bunyi tidak sedap, tapi
sekalinya keluar—amat menyakitkan.
Dia langsung menuju ke
arahku, dan aku tidak terlalu peduli terhadap itu. Aku hanya lanjut menulis, sampai
dia memukul meja tempatku menulis. Kedua bola mataku mendelik kearahnya,
dan kuperlihatkan lembaran kertas yang tercoret tak sengaja oleh tanganku sendiri
(sebab getaran yang disebabkan pukulan tadi).
Dengan nada bass,”Baik
baik ajalah ya.”
Sekitar dua menit kami
berdebat, dan sebetulnya aku tidak membawa amarah sedikitpun pada perselisihan
itu. Bibirku sempat tersenyum beberapa kali melihat tingkahnya yang aneh. Bagai
kalah dalam debat. Ya, aku tersenyum di kala itu tidak lain untuk
merendahkannya. Lokasi debat kami terus melebar, hingga ke depan kelas.
Kemudian pasca
perdebatan itu, dia mencoba menyerangku. Ah, kujatuhkan saja badannya agar dia
malu dan tidak coba-coba lagi mencelakakanku. Tanpa diduga, dia masih saja
mencobanya kembali. Kuraih lehernya dan mencekiknya dengan rasa rasional yang
amat sangat. Cekikan siku kanan, dikunci oleh siku kiri. Demi rabb semesta
alam, aku rasa kali itu aku tidak memberikan power yang tinggi.
Kurnia Pratama menendang Aldi; yang
menyebabkan keraguan pada setiap orang yang menyaksikannya.
Aku sempat tertawa
ketika melakukan itu semua. Ya, aku memang tanpa emosi dikala
itu.(Cumaemosibentargegarabukutercoret:v) Jujur, aku sama sekali tidak ingat
akan rasa sakit yang ia rasakan kala itu; karena kurasa itu bukanlah sesuatu
yang bisa membuat orang tersiksa. Tapi, yang terjadi jelas jelas diluar
bayanganku. Aba-aba permohonan ampun yang ia lakukan (nepuk2lantai) tidak
kuindahkan. (yaakarenasaiagamikir,itutusakit:v)
Hampir sekelas menonton
kami berdua; dan beberapa orang (palingkerasmahsi’ile) memperingatiku bahwa
wajahnya sudah tampak tak berdaya lagi.
“Alah teh thor, mati
e sa-nta lai tu!!!”
Aku yang masih asyik
tertawa langsung saja terdiam kaget. Ah, aku syok waktu itu. Kala dilepaskan,
dia memang tak dapat lagi bergerak. Dia diam tengkurap dan menangis. Sekitaran
kami pasti mendengar isakannya.
Berusaha untuk selow dan
tidak panik, aku tetap diam di tempat. Kini jarak aku dan Aldi lumayan jauh
bagi orang yang ‘bertengkar’. Aku masih saja berharap bahwa ia berpura-pura
menangis, sambil tersenyum melihatnya dikerubungi empat orang. Empat orang itu
kelihatan berusaha meredakan tangisnya, sedangkan dua orang di sebelahku
tersenyum puas melihatnya menderita. Entahlah. Terus terang aku merasa bersalah
dikala itu.
“Waang ko thor, mati e
tadi, baa leh?”,,.
“Alaaaah mana sakit tadi
tu... Jangan pura pura lagi Al- “
BRAK!
Aku kaget sekali. Ia
bangkit dan memukul papan tulis. (Konyolnya yang saia khawatirkan tuh
papantulisnya, klo ampe retak bakalan berabe nasib saia:v) Ia memaki-makiku,
dan aku baru menyadari secara pasti bahwa penyebab segalanya adalah aku. Bukan
tendangan Rama. Tak lama sesudah itu, dia
duduk di bangkunya, dan aku menyampaikan beribu ucapan maaf padanya.
Selembut yang kubisa, setegar yang dia mampu. Kau tahu? Bel telah selesai
berbunyi! Berarti Ustadz Iqbal sesaat lagi akan tiba di kelas. Jika saja ustadz
iqbal tahu kejadian ini, bisa bisa (dia dan) aku dibotak ulang. DISILET!!!
Belum lima hari saia botak, mau dibotak ulang?? TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK!!!
Aku terhenyak mengingat
fakta itu. Cih, benar benar. Sampai akhir usahaku untuk meminta maaf, dia tidak
juga bisa memaafkan. Ia malah meminta tolong teman yang lain untuk mengambilkan
tisu agar dia bisa menyegarkan kembali wajahnya yang sudah teramat kusut.
Ustadz Iqbal masuk ke
dalam kelas, menyibak kerumunan sekitaran meja Aldi. Aku
sungguh lega karena Aldi berusaha normal. Setidaknya bila ia tak memaafkanku,
ia masih berusaha untuk membuat segala yang terjadi pada pagi itu menjadi
sebuah kasus. (Lagipula, klo ampe jadi kasus, dia juga yg nyari gara2:v)
Aku keluar, dan
berbincang di masjid bersama Ile, Ariq, dan Furqon. (Sbenernya dicandain jg ama
mereka, “Ko apain aldi tadi tu ha? Mau mati dia lagi-_) Selepas itu, hari berjalan
sebagaimana yang telah kubicarakan di episode NotTle. Aku pulang setelahnya.
Lantas bagaimanakah dengan
hubunganku dengan Aldi?
Hehe. Ikhwah
tidak banyak cincong; langsung aksi dan memuncak pada saat itu juga. Lepas dari itu, segala pihak pasti langsung baikan. Kala
kembali ke asrama, dia menyindirku sedikit lalu aku kusambut itu dengan senyum
dan tawa. Alhasil, tak ada lagi dendam, dan peristiwa itu tak lagi terputar dengan esensi
buruk di hati masing masing. Itu telah menjadi kisah yang tersimpan dan dapat
diambil pelajarannya bagi ketiga pihak; baik diriku, Aldi, dan yang
menyaksikannya.
*SideStoryCiekLai...NanLawak:v
Ariq Thosya juga memiliki
niatan untuk menggunduli rambut sejak lama, namun tiada keberanian untuk
memulai. Tujuannya sama sepertiku; patah untuk tumbuh. Ia tidak menyukai takdir
yang dibebankan kepadanya: rambut keriting parah. Haha. Melihat yang lain
gundul; ia mendapat kesempatan.
Eeeeeeeh Tumbuhnya
gitujugak aowkaowkaowkaowkaowkaowkaowkaowkawokawokawokawokawok
Hingga akhirnya, sekarang rambut saia
sudah tumbuh. Sudah dua bulan lebih berlalu semenjak peristiwa yang kuceritakan di episode kali ini. Pelangi sesudah hujan tertuai sudah. Aku telah mendapat apa yang kuharapkan kala memutuskan semua itu :).
Ini adalah salah satu tamsil 'patah untuk tumbuh' yang kuharapkan:)
...
Ditulis beriringan dengan episode NotTle, tapi proses editingnya belum kelar kelar juga ampe libur kali ini:v Akhirnya bisa kelar jugak :v

Komentar
Posting Komentar