Langsung ke konten utama

Pelangi Sesudah Hujan.

 02 Agustus 2020.

  Malam semakin pekat kala diriku masih saja mencoba untuk membaur dengan segarnya udara. Semilir angin seolah menghiasi malamku yang indah ini. Seketika akupun terhenyak, sebab ada sesuatu yang melintas di benakku.

 

  “Sekarang, dia sedang apa disana, ya?”

 

  Ah, aku keheranan terhadap diriku sendiri. Mengapa aku seperti itu? Sudahlah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Harusnya aku camkan hal itu sejak awal. Syukuri saja, Thariq! “Alhamdulillah!”

 

~ ж ~

 

  Mungkin saja malam semakin larut, namun langit AlKahfi kini semakin benderang. Awan awan seolah tak punya nyali untuk menghalangi rembulan, sehingga ia dapat menunjukkan rupa aslinya—yang kebetulan pada malam ini berbentuk waxing gibbous moon.

 

  Tanpa kusadari, kepalaku—tak ada bedanya. Jikalau rembulan memantulkan sinar mentari, batok kepalaku memantulkan cahaya bulan malam ini, serta lampu teras yang tepat berada di atasku.

 

  Maksudnya?

 

  Ya, KINI BETA BOTAK KAKA! :v

 

~ ж ~

 

31 Juli 2020

 

Helaan napas berat baru saja keluar dari organ pernapasanku. Huft, hari kemarin benar benar menyebalkan; membuktikan parahnya esensi dari mengharap. Bukan hanya aku, seluruh temanku juga merasakannya. Merupakan salah satu musabab dari “merelakan ‘ied di sekolah” adalah hal itu. Mungkin, jika saja yang turun pagi itu bukanlah air hujan, pasti ‘ied tersebut dapat menjadi salah satu dari hari raya yang indah; which is seluruh pelajar AlKahfi berkumpul dalam dua lokasi yang super dekat. Begitu juga dirinya dengan diriku, dalam jarak sedekat itu, apa yang tidak mungkin? Haha. Mungkin, itulah kafarat dari harapan unfaedah seperti itu. Bukan hanya aku; rata rata temanku juga begitu. Maka dari itu, Allah turunkan hujan beruntun. Dini hari dan tatkala mentari meninggi setinggi tombak.

 

Namun, sejak kapan kita membenci hujan? Apakah sejak kita mengenal banjir? Ah, entahlah. Lagipula, bukankah hujan adalah karunia dari-Nya?

 

Sungguh tidak terhingga nikmat Allah bagi orang yang berpikir. Demi menghalangi niat buruk hambahamba-Nya, Dia tidak mengirimkan bala atau semacamnya, melainkan nikmat!

 

Hujan tidak pernah turun dengan maksud yang buruk. Waktu dan keadaanlah yang membuatnya terasa buruk. Ah... bukankah cinta juga begitu?

~Fiersa Besari

 

~ ж ~

 

Melompat dari lantai lantas merebahkan diri di dipanku. Hmm, memang itu caraku saban naik ke atas dipan. Bagiku, menaiki tangga dipan terlalu mainstream :v makanya diriku selalu meloncat, jika ingin naik keatas :v Lagipula, lebih cepat dengan cara seperti itu :v

 

Ahh, ingatan tentang hari ini, aku tidak ingin memikirkannya terlalu dalam. Biarlah. Toh manfaatnya juga banyak. Persentase maksiat berkurang dikarenakan hujan tadi pagi.

 

Tadi, aku juga sudah MPO ke seberang. Haha. Kalau kalian berpikir bahwa aku susah susah membawa sapu, bernyanyi sana sini itu hanya untuk MPO ke akhwat, kalian salah. Aku kadang memang segila itu :v

 

Tapi waktu itu emang ada juga sih niat MPOnya ke akhwat:v

 

~ ж ~

 

1 Agustus 2020

 

Aku berhasil dengan mudah untuk ikhlas terhadap hujan yang terjadi kemarin pagi, bahkan mungkin aku yang mendahului yang lain. Saat pertama kali mengetahui bahwa kala itu langit tengah mencurahkan air, aku mengeluh. Namun beberapa menit setelahnya, aku gembira lagi; tanpa ada beban pikiran apapun tentang itu. Kau harus tahu bahwa itu sangatlah kontras dengan santri lainnya yang mayoritas mengeluh berkepanjangan.

 

Namun, yang harus kuterima kenyataannya pada detik ini adalah: bahwa aku tidak dapat join turnamen sepakbola karena kondisi kesehatan yang kurang baik. Kakiku masih dalam proses penyembuhan dari Paronychia. Pun tubuhku; kata dokter, tidak boleh banyak berolahraga untuk sementara waktu.

 

Saat tengah membaca buku Catatan Juang untuk kedua kalinya (stelah tamat), tiba tiba ustadz Abdurrahim datang ke dalam asrama kemudian mengumumkan bahwa ada tiga barberman yang diundang ke ikhwah. Sesiapa yang merasa rambutnya tidak memenuhi standar ketentuan sekolahan harap dirapikan segera. Mengingat diriku yang lupa memangkas rambutku menjelang masuk asrama, aku langsung bangkit, lalu sesegera mungkin menuju kepada lokasinya; di dalam kelas Alquds1. (perlu diingat, saia udah Baghdad1 :v) Perjalanan menuju kesana, aku berpapasan dengan dua orang yang penampilannya tidak biasa; botak gundul. Mariyono dan David, mereka cabut beberapa hari yang lalu.

 

Mengambil antrian disitu dengan teriak, “Siapa sebelum ana!?!”. Sesimpel itu, bukan? Hehe. Oiya, aku menyengajakan ‘tuk bawa buku ke lokasi antrian, supaya tidak bete dalam penantian. Sungguh, pengalamanku dalam mengantri pangkas rambut di sekolahku, lumayan buruk. Aku tidak pernah kebagian antrean, sehingga selalu dapat pemangkasan gelombang kedua. Syukurlah pada pagi itu, barber yang diundang itu tiga orang. Jadi, aku lebih cepat dapat bagian antre. Ditambah lagi aku datang mubakkiran, sehingga aku hanya perlu mengantri (menunggu) sekitar lima sampai enam orang.

 

Kala membaca buku, aku teringat akan keinginanku dari setahun lalu; yang bisa jadi muncul karena saran bang Siharman Fikri plus diingatkan dua orang yang digunduli tadi. Aku teringin botak.

 

Menurutmu itu keinginan yang aneh? Pun demikian denganku, juga sempat berpikir seperti itu. Namun, perlu diketahui bahwa saat diriku kelas enam, aku keseringan memakai produk kimia dalam merapikan rambut (minyakrambut). Jadi, rambutku kusut dan susah diatur (hanya bisa pakai minyak/aer).

 

Aku yang duduk di samping barbermannya, langsung saja berteriak yang lebih mirip mengumumkan hajat yang tadi terlintas di kepalaku. “oi, rasanya ana pengen botak oii!”

 

Tidak ada yang percaya omonganku, dan ada beberapa orang  seperti Lathif yang membalas omonganku itu dengan kalimat “Kalau Thariq tu Bullshit aja nyo! Gapercaya anaa :v” (nadanya malah terdengar seakan menantangku untuk membuktikannya :v)

 

Menghadapi omongan orang seperti itu, aku mah selow bae. Keinginan tersebut nyaris kubatalkan, tetapi beberapa detik selanjutnya; ketika diriku membaca buku, hajat itu seakan menguasai kepalaku. Aku sangat teringin.

 

Aku masih saja mengoceh seperti tadi, yang menyatakan bahwa aku teringin botak. Pikiranku masih saja memikirkan minus dan plus dari botak itu sendiri. Ya, setelah kupikirkan, aku memang harus berani bagai Rajawali; kalau sudah tua, ia menerbangkan dirinya ke puncak tertinggi yang ia lihat, lantas mematuk-matuk batu sampai paruhnya pecah. Itu dilakukannya untuk dapat mendapat paruh yang baru; kokoh kembali.

 

Patah untuk tumbuh!

 

Meski aku akan kehilangan rambutku, aku akan mendapatkan rambut yang jauh lebih indah setelah ini. Ya. Aku harus melakukannya. Ini dapat kuceritakan pada anak cucuku nanti, bahwa di SMP aku pernah memangkas habis rambutku, bukan karena kenakalan, namun karena hendak berevolusi.

 

Lagipun, setelah kupikir pikir; plusnya jauh lebih banyak dari minusnya. Setelah beberapa saat memikirkan itu, dan diriku telah mengumpulkan tekad—yang lumayan. Aku mengumumkan sekali lagi, namun dengan tambahan kata “SERIUS”.

 

Akhirnya, ada sponsor.

 

“Kalau memang antum beneran mau botak, ana bayarin thor!”, seru Rifki Abdillah Al-Afif.

 

“Kalau memang abang mau botak, ana kasih abang uang sepuluh ribu!”, Rezky tak ingin kalah.

 

“Kalau emang pengen botak, kami duluin gilirannya ha!”, ungkap beberapa orang disekitarku.

 

Wah, pastinya aku tambah ikhlas dalam memotong (ups), menghabisi rambutku. Udah kepengen, dibayarin pulak! Diduluin pulak! Ehhe :V

 

Yaudah, aku terima semua sponsornya. Rezeki gaboleh ditolak :v. Lalu, detik selanjutnya aku harus menguatkan hati. Tidak akan perduli kata kata orang, dan cemoohan orang begitu pula. Mungkin setelah ini aku akan dicerca, namun tak apa bagiku.

 

Menunggu giliran selanjutnya seakan detik detik menegangkan dalam hidupku, jantungku berdegup keras. Aku masih saja memegang-megang rambut kesayanganku itu, sambil mengucapkan selamat tinggal :v beberapa orang di sekitarku, ada yang menakut nakutiku, ada juga yang menyemangatiku. Ada juga yang perutnya geli sebab gelagatku itu. Haha.

 

Raahul telah usai dalam pemotongan rambutnya; yang berarti aku akan duduk di bangku itu, dan membiarkan barberman tersebut membabi buta rambutku. Hahaha :v

 

Terdengar beberapa suara kebisingan, dan itu adalah “WOII KETOS BOTAK WOII!!” :v

 

Dan, diriku duduk disitu, menunduk saja. Tidak ingin melihat sekitarku yang telah menjadi tribun. Bukan lagi hitungan jari yang memanjat dinding, berdiri di atas meja hanya untuk melihatku botak :v di dalam dan sekitar kelas tersebut, ada sekitar 50 orang; dan semuanya ingin melihatku gundul :v

 

Terdengar dari arah kerumunan, beberapa orang yang berkata “Mirip Shaolin” :v

 

~ ж ~

 

Entahlah, kalau oranglain, lazimnya menutup nutupi kepala botaknya. Berbeda dengan diriku, semua yang berpapasan denganku, aku sapa sembari memperlihatkan kepalaku. Alhasil mereka tertawa geli melihatku. Aku tidak marah dengan hal itu, malah aku balas tertawa juga.

 

Bahkan, aku pergi ke beberapa asrama, hanya untuk memamerkan rabut botakque :v tanggapan dari mereka beragam, ada yang menanyakan tentang kasus apa yang telah kulakukan, dan ada yang tertawa saja.  Contohnya saja Ustadz Isran, melihatku ia berkata: “Siapa botak haram tu?!” :v

 

Saking bangganya aku, Ariiq Dzakwan mengatakan bahwa hal seperti itu tidak perlu dilakukan; “Thor, udahlah thor (ketawa) bangga kali antum kayaknya sama pala antum tu” :v

 

  Aku juga sempat membanggakan kepada dewan guru; dan tanggapannya beraneka ragam pula. Ustadz Ihsan mengatakan diriku mirip narapidana kabur, ustadz iqbal keheranan dan menanyakan dengan sangat serius tentang penyebab diriku botak.

 

Dan kenyataannya; aku sama sekali tidak ada kasus apapun sehingga digunduli. Segala yang kulakukan di hari itu adalah atas kemauan diriku sendiri :)

 

~ ж ~


Aku adalah orang pertama yang bangga akan botaknya.


  Entahlah, respon orang lain semuanya baik perihal penampilanku yang baru. Ada yang mengatakan bahwa aku mirip piccolo, Shaolin, Deddy Corbuzier :v. Yaa, semua orang mengatakan bahwa kepalaku yang gundul itu cocok dengan penampilanku. Bentuk batok kepalaku itu memang bagus; kata mereka:v



~ ж ~

 

Aku mengetahui bahwa sesaat lepas barberman tadi membabat habis rambutku, satu rombongan memutuskan untuk membotaki kepalanya pula. Rombongan ini berasal dari kelasku, setidaknya beranggotakan Rasyid, Raja, Rama, dan lainnya. Tidak tanggung tanggung, mereka melakukannya secara bersamaan pada dua giliran setelahku. Begitu pula beberapa anak kelas delapan. Rezi, dan satu rombongan yang biasa dikenal preman kelas delapan. Danu, Riyad AP, Daffa Addin, dan lain lain. Serangkaian kabar ini membuat bibirku tersenyum. Entahlah, aku merasa tidak sendirian.

 

Ariq, Ile, Abda, Radit, Habibi, mereka ikut juga:v

 

Matahari terik di atas kepala; memanggang apa yang tersembul dibawahnya. Entahlah, aku kehabisan tenaga untuk menjalani sisa hari ini. Sepertinya aku memang kelelahan. Bibirku terlalu banyak tersenyum dan tergelak; padahal hatiku masih belum mengikhlaskan secara sempurna mengenai ‘kegundulan’ ini. Untung saja berita-berita tadi membuat kepalaku tidak terlalu dipenuhi oleh keraguan akan tepat atau tidaknya piihanku tadi.

 

Lama lama ini menjadi semakin mewabah. Keseluruhan salah satu geng kelas sembilan (David,Furqon,Fatul,) membabat rambutnya pula;  dan ini adalah puncak beritanya. Kabar ini sampai ke telingaku selepas aku bangun tidur siang. Wah, aku merasa sangat senang dikala itu. Tidak ada ketertundukan lagi, karena aku tahu bahwa jika saja mereka telah memutuskan untuk botak; maka kekuatan laskar botak takkan terbendung.

 

“...dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut.”

Al-Fath:27

 

Benar saja. Ras botak menjadi golongan terhits dan terheboh setelahnya. Semuanya membanggakan kepalanya, bahkan kepada asatidznya sekalipun. Aku tidak termasuk mereka, namun aku kerap kali ikut menyelisihi orang orang yang kurang menyukai gelagat kami.

 

Yazid; “AAAAH! Kenapa ni!? Kemana mana ana ketemu orang botak! :v”

 

Perkataan seperti “Engga botak, ga keren”, “Dasar penakut, masa’ gini aja ga berani”, “Botak adalah solidaritas”, “Botak itu trend”; semakin sering terdengar di telinga ikhwah. Entahlah, itu adalah bentuk yang menyebabkan enyahnya rasa takut dan ragu orang orang yang ingin dibotak; dan menjadi power buat orang orang yang telah gundul kepalanya.

 

Ujung ujungnya; sekitar 30 orang lebih tergerakkan hatinya untuk bernasib sama dengan kami, dengan tujuan yang berbeda beda.

 

 

Really, aku terselamatkan; bahkan terusung tinggi. Nikmat apa lagi yang kurang padaku,?

 

Alhamdulillah.

 

Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragukan? 

An-Najm:55

 

~ ж ~

 

Begini. Berdasarkan pengalamanku dan yang lainnya, Botak itu merupakan hal yang menarik dan sungguh seru. Bebas, tanpa perlu menyisir rambut, tanpa khawatir teracaknya rambut, dan sensasinya jelas luar biasa. Kepala jadi ringan dan dingin. Hanya doktrin pada masyarakat yang menjadikannya seakan akan suatu hal yang buruk dan ngenes. Apalagi di kalangan santri; wah, itu adalah sesuatu yang sungguh memalukan lagi memilukan.

 

Lagi lagi masalah doktrin.

 

Entahlah, doktrin yang merubah segalanya. Hei, sesekali cobalah mematahkan sebuah doktrin. Lihatlah, kami dapat melakukannya! Ikhwah AlKahfi berhasil merubah kesan ‘buruk’ pada suatu hal yang memang sejak dahulu diangggap bukan hal yang wajar lagi baik. Selama ini ‘Botak’ itu adalah hal yang terpandang buruk. Ayahku saja (mungkingegaradiajugaalumnisantri) sempat kurang percaya bahwa segala yang kulakukan didasari oleh niatku sendiri. Entahlah. Perlu dua menit untuk diriku menjelaskannya pada ayaku itu; pada jam dua belas malam di depan seven mart.

 

Ya, aku bangga bisa menjadi tokoh penggerak revolusioner. Seseorang yang bisa mengenyahkan doktrin yang selama ini dipegang. Dari niat dan kemauanku sendiri, puluhan orang juga mengikuti style-ku.

 

Wuahahahha saia tokoh penggerak kegundulan awokawokawokawok:v

 

Pesanku, Harus berani beda. Kita mesti berani mengatakan “YA” pada sesuatu yang bertujuan baik; meski doktrin masyarakat berbalik daripada anggapan kita. Patah untuk tumbuh. Berpisah sementara dengan rambutku, dan siap menyambut yang lebih baik di kemudian hari:)

 

 

 

 

 

*sidestory

Pagi itu dikerubungi awan, tebal sekali. Rintik hujan mulai turun dari langit yang tengah murung. Pembelajaran shift satu dan dua diberlakukan sebaik mungkin oleh dewan guru, dan diriku memutuskan untuk berbincang di teras kelasku yang baru saja dipel; bersama Nabil Alfath. Beberapa lama setelah itu, aku masuk ke dalam kelas untuk sementara waktu; hingga shift satu dimula. Ya, aku shift kedua; jadi mau tidak mau aku harus keluar kala shift satu mulai.

 

Beberapa orang menanyakan kepadaku; mengapa aku ada di dalam kelas. Padahal aku team shift2. Aku memberikan alasan, “Cuma lagi pengen aja.”

 

Aku menulis tentang blog ini. Sebuah buku berwarna kuning; kutuangkan segala feses pemikiranku padanya. Aku bahagia jika menulis. Sudah itu saja. Kalimat demi kalimat, dan tanpa terasa bel Ash-habul Kahfi berbunyi. Lenganku bersiap menulis beberapa kalimat yang mampu kutuliskan di sisa waktu itu, dan ya; ada sesuatu yang terjadi di kala itu.

 

Aldi Praseptio berdiri di depan kelas sambil caper. Beberapa orang muak melihatnya, dan bagiku itu juga merupakan sebuah gangguan bagiku untuk mendapat kemudahan dalam menulis. Ah, bukan. Tapi sedikit lirikan mataku padanya saja sudah membuatku cringe. Aneh. Aneh! Gelagatnya tidak support dengan mataku:v. Jadilah ia dibully oleh beberapa orang tersebut. Aku hanya menambahkan di bagian akhirnya; dan pada akhirnya itu seperti yang dituturkan Rasyid kepadaku. Lisanku memang jarang mengeluarkan bunyi tidak sedap, tapi sekalinya keluar—amat menyakitkan.

 

Dia langsung menuju ke arahku, dan aku tidak terlalu peduli terhadap itu. Aku hanya lanjut menulis, sampai dia memukul meja tempatku menulis. Kedua bola mataku mendelik kearahnya, dan kuperlihatkan lembaran kertas yang tercoret tak sengaja oleh tanganku sendiri (sebab getaran yang disebabkan pukulan tadi).

 

Dengan nada bass,”Baik baik ajalah ya.”

 

Sekitar dua menit kami berdebat, dan sebetulnya aku tidak membawa amarah sedikitpun pada perselisihan itu. Bibirku sempat tersenyum beberapa kali melihat tingkahnya yang aneh. Bagai kalah dalam debat. Ya, aku tersenyum di kala itu tidak lain untuk merendahkannya. Lokasi debat kami terus melebar, hingga ke depan kelas.

 

Kemudian pasca perdebatan itu, dia mencoba menyerangku. Ah, kujatuhkan saja badannya agar dia malu dan tidak coba-coba lagi mencelakakanku. Tanpa diduga, dia masih saja mencobanya kembali. Kuraih lehernya dan mencekiknya dengan rasa rasional yang amat sangat. Cekikan siku kanan, dikunci oleh siku kiri. Demi rabb semesta alam, aku rasa kali itu aku tidak memberikan power yang tinggi.

 

 Kurnia Pratama menendang Aldi; yang menyebabkan keraguan pada setiap orang yang menyaksikannya.

 

Aku sempat tertawa ketika melakukan itu semua. Ya, aku memang tanpa emosi dikala itu.(Cumaemosibentargegarabukutercoret:v) Jujur, aku sama sekali tidak ingat akan rasa sakit yang ia rasakan kala itu; karena kurasa itu bukanlah sesuatu yang bisa membuat orang tersiksa. Tapi, yang terjadi jelas jelas diluar bayanganku. Aba-aba permohonan ampun yang ia lakukan (nepuk2lantai) tidak kuindahkan. (yaakarenasaiagamikir,itutusakit:v)

 

Hampir sekelas menonton kami berdua; dan beberapa orang (palingkerasmahsi’ile) memperingatiku bahwa wajahnya sudah tampak tak berdaya lagi.

 

“Alah teh thor, mati e sa-nta lai tu!!!”

 

Aku yang masih asyik tertawa langsung saja terdiam kaget. Ah, aku syok waktu itu. Kala dilepaskan, dia memang tak dapat lagi bergerak. Dia diam tengkurap dan menangis. Sekitaran kami pasti mendengar isakannya.

 

Berusaha untuk selow dan tidak panik, aku tetap diam di tempat. Kini jarak aku dan Aldi lumayan jauh bagi orang yang ‘bertengkar’. Aku masih saja berharap bahwa ia berpura-pura menangis, sambil tersenyum melihatnya dikerubungi empat orang. Empat orang itu kelihatan berusaha meredakan tangisnya, sedangkan dua orang di sebelahku tersenyum puas melihatnya menderita. Entahlah. Terus terang aku merasa bersalah dikala itu.

 

“Waang ko thor, mati e tadi, baa leh?”,,.

“Alaaaah mana sakit tadi tu... Jangan pura pura lagi Al- “

 

BRAK!

 

Aku kaget sekali. Ia bangkit dan memukul papan tulis. (Konyolnya yang saia khawatirkan tuh papantulisnya, klo ampe retak bakalan berabe nasib saia:v) Ia memaki-makiku, dan aku baru menyadari secara pasti bahwa penyebab segalanya adalah aku. Bukan tendangan Rama. Tak lama sesudah itu, dia  duduk di bangkunya, dan aku menyampaikan beribu ucapan maaf padanya. Selembut yang kubisa, setegar yang dia mampu. Kau tahu? Bel telah selesai berbunyi! Berarti Ustadz Iqbal sesaat lagi akan tiba di kelas. Jika saja ustadz iqbal tahu kejadian ini, bisa bisa (dia dan) aku dibotak ulang. DISILET!!!

 

Belum lima hari saia botak, mau dibotak ulang?? TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK!!!


Aku terhenyak mengingat fakta itu. Cih, benar benar. Sampai akhir usahaku untuk meminta maaf, dia tidak juga bisa memaafkan. Ia malah meminta tolong teman yang lain untuk mengambilkan tisu agar dia bisa menyegarkan kembali wajahnya yang sudah teramat kusut.

 

Ustadz Iqbal masuk ke dalam kelas, menyibak kerumunan sekitaran meja Aldi. Aku sungguh lega karena Aldi berusaha normal. Setidaknya bila ia tak memaafkanku, ia masih berusaha untuk membuat segala yang terjadi pada pagi itu menjadi sebuah kasus. (Lagipula, klo ampe jadi kasus, dia juga yg nyari gara2:v)

 

Aku keluar, dan berbincang di masjid bersama Ile, Ariq, dan Furqon. (Sbenernya dicandain jg ama mereka, “Ko apain aldi tadi tu ha? Mau mati dia lagi-_) Selepas itu, hari berjalan sebagaimana yang telah kubicarakan di episode NotTle. Aku pulang setelahnya.

 

Lantas bagaimanakah dengan hubunganku dengan Aldi?

 

Hehe. Ikhwah tidak banyak cincong; langsung aksi dan memuncak pada saat itu juga. Lepas dari itu, segala pihak pasti langsung baikan. Kala kembali ke asrama, dia menyindirku sedikit lalu aku kusambut itu dengan senyum dan tawa. Alhasil, tak ada lagi dendam, dan peristiwa itu tak lagi terputar dengan esensi buruk di hati masing masing. Itu telah menjadi kisah yang tersimpan dan dapat diambil pelajarannya bagi ketiga pihak; baik diriku, Aldi, dan yang menyaksikannya.

 

 

 

 

 

 

 

*SideStoryCiekLai...NanLawak:v

 

Ariq Thosya juga memiliki niatan untuk menggunduli rambut sejak lama, namun tiada keberanian untuk memulai. Tujuannya sama sepertiku; patah untuk tumbuh. Ia tidak menyukai takdir yang dibebankan kepadanya: rambut keriting parah. Haha. Melihat yang lain gundul; ia mendapat kesempatan.

 

Eeeeeeeh Tumbuhnya gitujugak aowkaowkaowkaowkaowkaowkaowkaowkawokawokawokawokawok

 

 

 

 

 

 

 

Hingga akhirnya, sekarang rambut saia sudah tumbuh. Sudah dua bulan lebih berlalu semenjak peristiwa yang kuceritakan di episode kali ini. Pelangi sesudah hujan tertuai sudah. Aku telah mendapat apa yang kuharapkan kala memutuskan semua itu :).


Ini adalah salah satu tamsil 'patah untuk tumbuh' yang kuharapkan:)


...



Ditulis beriringan dengan episode NotTle, tapi proses editingnya belum kelar kelar juga ampe libur kali ini:v Akhirnya bisa kelar jugak :v

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

DOPODICHÉ : UNA SPERANZA

PERINGATAN : Episode ini mengandung tingkat halusinasi yang sangat tinggi, jika sekiranya pembaca tidak kuat menahan cringe dalam membacanya,... ah pokoknya lanjut aja deh :v   Hai, Salma!   Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.   Akhirnya kita bertemu lagi, ya?   Meskipun tidak bertatap muka, aku sudah senang sekali. Saangat bahagia!   Kendati aku tidak memiliki hak apapun dalam hal merindukanmu, aku melanggarnya! (anebukanbangga) Selama ini kumerindukanmu.   Setelah dua tahun lamanya, akhirnya kita memiliki titik temu juga. Walau memang, pertemuan kita ini begitu tidak diduga dan sangat mendadak, apalagi dimulai dengan luka, akhirnya kita bisa berjumpa kembali!       :) ~    Ж    ~   Aku mencoba menenangkan diri. Aku keluar dari rumahku, meraih tali penyangga ayunan itu, dan mulai mengayunkannya dengan sesekali hentakan kaki yang cukup membuatku merasa melayang. ...