Langsung ke konten utama

Senja kala itu.




Ini adalah sebuah runtutan kisah indah nan menakjubkan. Ah, usahlah diriku memperpanjang muqaddimah. Anggap saja surprise kala membacanya. Hehe :v.

 

***

 

Enam tahun bersama, rasa yang digenggam erat oleh lelaki muda itu semakin menyerbak. Entah berapa kisah yang telah ia lalui bersama wanita penuh misteri itu. Dia sendiri tak tahu pasti, bagaimana caranya—telah bertahan sejauh ini. Bahkan terkadang dirinya bertanya tanya pada diri sendiri perihal bagaimana itu bisa terjadi.

 

Namun, ia tidak banyak ambil pusing dengan hal semacam itu; mengingat eksistensinya di antara dua insan tersebut, makin kesini—makin dianggap. Disitulah, ia nyaris jemawa karenanya. Oh, iya, terlupa. Besar kepala itu berbanding tipis dengan percaya diri. Argh, kurasa diriku (sang penulis) keliru dalam menuturkannya. Sang lelaki tersebut bukannya jemawa, tapi rasa percaya dirinya ‘stonks’ jauh keatas. Hal itu bukanlah mudah, mengingat perjalanan jauh yang t’lah ditapakinya begitu melelahkan.

 

Dan rasa percaya diri tersebut berlanjut, menyatu dengan denyut nadinya; mengantarkan dirinya pada malam itu.

 

Malam yang mungkin, takkan terlupa; walau coba ‘tuk melupa.

 

~ ж ~

 

Helaan napasnya terdengar menggaung di dalam ruangan berukuran 6x4 meter itu. Tidak heran, dia hanyalah seorang diri di sana. Terlebih lagi, malam pun semakin larut kala dirinya tengah menggali memori demi memori “tentang doi” yang masih terus lekat mantap hingga periode itu.

 

Demikian pula dengan dirinya; larut dalam tarian pena serta sanubari. Itu berujung kepada tenggelamnya lelaki itu bersama segala kenangan indah dengan sang pujaan hati. “Sang Puteri Kerajaan”, gumamnya.

 

Penanya menari indah, batinnya terbang melayang. Kini, pena tersebut mengikuti batinnya yang nota bene tengah menyusuri lembar demi lembar memori yang ada di hidupnya. Mulai dari momen pertama kali bersua, sampai kondisinya pada malam hari itu; semuanya tertulis pada secarik kertas yang menghiasi malamnya. Ya, malam yang bersih tanpa saputan awan. Rembulan bertahta di angkasa, seolah memamerkan manzilahnya di alam yang fana ini.

 

“Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.”

Al-Qamar:53

 

***

 

Pun begitu pula dengan perasaan lelaki itu, tidak ada alasan baginya untuk melanjutkan kebungkamannya. Lebih dari sepancawarsa digunakannya untuk duduk manis, menunggu berpangku tangan dengan diam membisu. Padahal ia sendiri tidak tahu menahu tentang “apa yang ditunggunya”. Mungkin benar, ia hanya mengulur waktu hinggga tiba pada masanya. Masa dimana dia telah ‘tidak kuat’ lagi menahan rasa itu. Masa ketika dia punya sepintal keberanian untuk melepas segala sesuatu yang sudah sekian lama terpendam.

 

Penantian tanpa kejelasan itu berakhir pada malam itu. Benar, malam itu adalah masanya. Masa yang dinanti-nanti, setidaknya selama enam tahun belakangan ini. Sepertinya, lelaki itu bukannya sudah muak memendam, dan bukan pula karena keberaniannya sudah terkumpul. Bukan itu. Lelaki itu agaknya mesti menyudahi penantiannya, sebab dirinya telah mempertimbangkan beberapa hal. Paling utamanya, kebersamaan lelaki itu dengan pujaan hatinya hanyalah tinggal beberapa saat lagi. Tidak lama lagi. Bisa dibilang, dia sudah berada di ujung tanduk, terkatung katung. Ditambah lagi dengan sudah banyaknya ‘kode’ yang diberikan sang wanita kepadanya; membuatnya tidak memiliki dalih yang ‘masuk akal’ untuk tidak mengungkapkan apa yang dirasanya.

 

“Yang dekat telah makin dekat”

An-Najm:57

 

***

 

Segala yang dirasanya, tertuang dalam secarik kertas yang lumrah disebut ‘surat’. Ahaha. Alangkah lucunya.

 

Surat; sebuah media bagi mereka yang ‘pengecut cinta’.

Surat; cara yang memiliki makna tersendiri dalam menyampaikan perasaan.

Surat; wujud seuntai asmara yang tidak dapat diungkapkan melalui interaksi langsung.

 



 

Entahlah, kendati sudah enam tahun memupuk rasa, perjumpaan yang tiada hentinya; setiap hari. Tetapi tetap saja pemuda itu bermental ‘kerupuk’. Bersua everyday bukan berarti menambah kepingan mental yang ada di batinnya. Andaikata ada, itupun cuma beberapa persen.

 

Jadi, pengungkapan itu ikhlas atau terpaksa?

Tak satupun keliru. Keduanya benar.

 

***

 

Jam dinding terus mendetik kala dirinya menulis kalimat terakhir pada suratnya. Tanpa terasa, benda itu telah menunjuk ke angka tiga. Okelah, mungkin saja itu menandakan bahwa lelaki itu harus beristirahat. Apalagi, empat jam lagi ia harus bersekolah, dan bertemu dngan seseorang bernama “Salma” itu.

 

Ya, pujaan hatinya.

 

Ia tersenyum puas melihat secarik kertas yang ada di hadapannya. Untuk kesekian kalinya, ia kembali menghela napas panjang. “Akhirnya selesai juga”, bisiknya kepada dirinya sendiri.

 

Ia beranjak dari duduknya, dan mulai mencoba ‘tuk meraih sebuah amplop pada meja terdepan di rumahnya. Dia tidak ingat pasti alasannya, tapi diriku menduga bahwa lelaki itu hanya mencoba memberi kesan ‘eksekutif’ pada surat itu. Satu hal lagi, dia ingin membuktikan ‘niat kuat’-nya dan keseriusannya untuk surat tersebut.

 

Semuanya usai, dan ia benar benar lega. Pasalnya, lelaki itu akhirnya memiliki segumpal mental untuk mengungkapkan segala yang tertanam di dadanya, meski cuma melalui secarik kertas.

 

Sebetulnya, secarik kertas itu tidak dapat menampung ‘indahnya’ rasa yang selama ini digenggamnya. Perlu ribuan kertas 4x4 meter untuk membahasakannya. Demikian pula dengan sastranya, perlu penyair legendaris nan mahsyur untuk dapat membahasakannya.

 

Dan malam itu, ia benar benar tidur dengan rasa lega yang menyelimuti. Meski singkat, itu sangat ‘enak’ terasa.

 

“dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,”

An-Naba’:9

 

***

#skipbeberapahari

***

 

  Fajar shadiq belum menghampiri, tetapi lelaki itu telah siap untuk berangkat. Memang, kala itu laskar yang beranggotakan enam orang plus pembimbing tersebut, mesti berangkat sekitar jam empat.

“Senang sekali dapat memandangnya di waktu sepagi itu. Dirinya sempat bersiap agak lama sebelum ikut masuk ke dalam mobil berlabel avanza tersebut.”, tuturnya kepadaku sambil tersenyum pahit:)

 



~ ж ~

 

Roda terus berputar kencang membelah keheningan pada gelapnya dinihari. Angin tak henti berkesiur, menggiring hawa dingin yang menusuk kulit. Hingga kini, pemuda itu masih punya memori tentang pagi itu. Jaket merah dan biru menjadi ‘saksi’ atas indahnya hari itu.

 

***

 

Matahari sudah setinggi tombak. Mobil hitam itu menghentikan lajunya bersama ratusan—bahkan mungkin ribuan kendaraan yang memadati perguruan itu. Pemuda berompi hijau itu turun, menghirup udara segar dan menggeliat untuk beberapa saat. Ia akan memulai hari itu, yang diketahuinya akan menjadi yang ‘unforgettable’. Dirinya tahu betul akan hal itu. Dengan sepucuk surat yang ada di dalam tas hitamnya, bukan mustahil lembaran sejarah hidupnyya tergenapkan oleh hari itu.

 

Administrasi dan kompetisi, bagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seringkali manusia terjebak diantara keduanya. Dan pagi itu, ia tidak terlalu peduli akan kedua hal tersebut. Persiapan ‘lomba’ yang ia lakukan, tidak sebanding dengan yang dipikirkannya sejak dua hari sebelumnya.

 

“..Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut (mengingat-ingat) mereka..”

Al-Baqarah:235

 

Satu nama. Ya, sanubarinya belum bisa beranjak dari nama itu. Enam tahun yang terlewati, tak mungkin tersingkirkan oleh kompetisi semacam itu. Alhasil, pun dengan ujung dari kompetisi tersebut; lelaki tersebut tidak lolos ke babak selanjutnya.

 

“Entahlah, bagaimana itu dapat terjadi. Finalis merupakan mereka yang dapat meraih peringkat delapan belas besar. Kau tanya aku? Aku mendapati namaku tertera di nomor sembilan belas.

 

Sebenarnya itu sudah sangat mengejutkan. Padahal daku hanya belajar pada waktu latihan; dan itupun karena ada ‘doi’. Malam sebelum itupun hanya kuhabiskan dengan dugaan-dugaan kosong; diagnosa tentang apa yang akan terjadi pada hari esok.

 

Tapi aku sangat bersyukur. Segala puji bagi-Nya yang telah menakdirkanku untuk menerima kegagalan pada perlombaan tersebut. Aku bahagia karenanya, dan amat sangat bahagia!

 

Mungkin saja kau heran mendengarnya, namun itulah realitanya! Karenanya aku dapat menemukan pengalaman jauh yang lebih indah daripada seandainya diriku masuk final. Pengalaman yang ‘andaikata’ diriku amnesia, bahkan ingatan itu takkan mungkin hilang dari akalku.” katanya dengan mata berbinar-binar.

 

Kali ini dia berbicara padaku dengan nada yang lebih ceria. Terpancar cahaya kebahagiaan dari wajahnya, dan semakin lama—kekentaraannya memudar. Selanjutnya, ia meneruskan plot ceritanya padaku.

 

“Bahkan, salah seorang dari pasukan kami yang lolos ke final di bidangnya kerap kali mengeluh padaku; hingga hari ini. Rekanku itu menyatakan bahwa ia lebih memilih berada di dalam ‘jangkauan lensa’ yang menjadi satu satunya kenangan terindah dari hari itu. Memang benar waktu itu kami melaksanakan fotbar di kala final diadakan. Jadilah dia tidak join fotbar tersebut; dan dia menyesalinya.

 

Aku amat beruntung. Demikianlah tuhan mengatur segalanya untukku. Kendati orang tidak mengharapkan ‘itu’ terjadi buatku, tapi sebaliknya; itu lebih dari sekedar yang kuharapkan. Buktinya, aku sempat melakukan aksi selebrasi—yang selalu dapat kuingat hingga kini.

 

Aku ingat bagaimana lompatan dan kepal tanganku, ingat bagaimana caraku melakukan itu di antara kerumunan massa, dan aku  juga ingat bahwasannya ia hanya beberapa langkah di belakangku. Ah, pokoknya semuanya ingat, deh!

 

Aku adalah dedengkot dikala itu.”

 

Matanya gemerlapan, dan lamat lamat kulihat secarik senyuman merekah di wajahnya. Suara gemericik hujan mulai menghiasi perjumpaan kami, dan lelaki itu kelihatannya hanya ingin menikmati suasana sore ini. Aku tidak tahu apakah yang terbentuk di wajahnya itu merupakan wujud maknawi dari kebahagiaan, atau malah bentuk tersirat dari ‘kuburan sendu’. Ah, entahlah. Ekspresi pemuda itu terlalu pelik untuk kutebak. Lebih baik buatku untuk iku bersamanya, larut membaur dengan tampias hujan yang terbawa oleh angin; menyapu dedaunan sekitaran kami.

 

***

 

Sekarang, pria itu berdiri takzim di hadapanku. Wajah yang sedari tadi sudah bisa teduh, kini menatap hangat ke arahku. Agaknya dia ingin melanjutkan kisah hidupnya.

 

Oh, benar saja.

 

~ ж ~

 

Sebagaimana biasanya, dia tidak menganggap tiap kompetisi yang diikutinya sebagai titik utama, apalagi sebuah beban. Hari itu, dia memperlakukan lomba tersebut layaknya tengah bersantuy di dalam kelas; seperti lomba-lomba lainnya. Starter packnya? Wah, tentu saja bisa menggelitik perut kalian. Pensil setengah jadi, dan tanpa penghapus. Lah gimana dong? Jiahaha, jawabannya: minjem ke sebelah; siapapun itu. Gakenal? Trobos ajalah :v

 

santuy kawan.

 

Ragam kompetisi, ujian, hingga tes di strata sekolah selanjutnya; lelaki itu memang tidak pernah kehilangan kebiasaannya. Bukannya tidak terurus. Hanya saja dia tidak tertarik untuk terlalu ‘royal’ dalam hal semacam itu. Terus terang, pria itu sudah disuruh orangtuanya untuk melengkapi atributnya, tapi ia lebih memilih agar diam di tempat dan tidak memenuhi nasehat orangtuanya :v

 

(Selalu dan pasti diomelin pas pulang; gara gara gituan x_x)

 

Anehnya, tanpa badai dan topan, guntur dan meteor; entah mengapa dia kala itu membawa dua papan ABO di dalam tas hitamnya XD awokaowkaowk.

 

***

 

Lepas berkuta dengan lembaran kertas-kertas, juga acara open house; laskar berjulukan “ce’em”  tersebut bermanuver ke dalam sebuah gedung olahraga milik perguruan setempat. Agaknya agenda inti dalam serangkaian acara hari itu, tidak lain dan tidak bukan—adalah acara itu. Hiburan dan pengumuman, sebagai intisarinya.

 

***

 

Gedung olahraga itu bergelora mantap. Ingar bingar ama terasa, dan tampak lautan manusia yang gegap gempita. Orang orang sibuk memikirkan tentang ‘bagaimana hasil dari jerih latihan mereka’, sementara lelaki itu; berdiri memaku di teras GOR, diantara kerumunan manusia. Pada kedua sisinya terdapat rekan-rekannya, memandang ke arah dalam.

 

Di situlah, dia mendapat angle yang sampai kini tak dapat lepas dari kepalanya; bahkan mungkin tidak akan pernah terlupa. Pengalaman yang sangat berharga baginya, dan mungkin juga bagi sang wanita.

 

“Aku tak pernah diberitahu tentang itu; dan dia juga tak pernah memberitahukan hal itu kepadaku hingga saat ini. Namun aku tahu pasti itu; bahwa momen itu juga salah satu highlight besar semasa hidupnya”, paparnya padaku.

 

~ ж ~

 

Napasnya sedikit tersengal, dan aku dapat mendengar suara batuknya yang lumayan pelan. Kedua bola matanya berkaca-kaca.

 

Aku sangat berharap agar dia segera melanjutkan alur ceritanya, tapi nyatanya tidak. Kepalanya seperti menalar suatu hal yang kian berat. Wajahnya yang teduh terlihat murung. Dalam sekejap doktrin yang selama ini kupegang tentangnya menjadi lenyap begitu saja. Lihatlah, orang yang selama ini kuanggap humoris, ceria, dan acap kali gila; tiba tiba menitikkan air mata di hadapanku! Sepengetahuanku, pria berambut pendek di depanku adalah seseorang yang sama sekali bersih dari permasalahan. Tampangnya selalu mengisyaratkan bahwa dia adalah ‘orang tanpa beban hidup’. Namun, apa yang terjadi sekarang? Ini sungguh diluar dugaan.

 

“dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,”

An-Najm:43

 

Seluruh pencapaian yang telah digapainya, dan beragam manzil yang ‘terjamah’ olehnya, ternyata tak ada relasinya dengan suasana batinnya selama ini; dan merupakan hal yang aneh karena aku baru menyadarinya pada detik ini.

 

“Orang menduga bahwa hidupku amat enteng. Orang mengira bahwa terlalu mudah untuk ditakdirkan menjadi manusia sepertiku. Dengan gampangnya orang lain menaruh rasa iri; bahkan dengki padaku.”, nadanya mengecil dan samar samar suara batuknya terdengar pula.

 

Pria berkelahiran Rabu itu melanjutkan, “Sesungguhnya apa yang mereka semua lihat itu tidak lebih dari kemudahan dan kebahagiaan yang semu. Mereka hanya memandang kedokku yang masif, tanpa sadar bahwa penglihatan mereka tersilap oleh suatu hal yang disebut ‘iri’.”

 

Kalimat barusan terus menggema di telingaku. Entah mengapa, tapi aku senang mendapat pelajaran berharga pada senja kali ini.

 

***

 

“Oh, Aku sangat berterimakasih kepada dua rekanku itu. Tanpa mereka, mungkin saja ‘rasa’ itu takkan tersampaikan pada kesempatan itu.”

 

~ ж ~

 

Berdiri diantara kerumunan. Samar samar ia dapat melihat seorang wanita berseragam nyaris sama dengannya—tampaknya tengah kebingungan mencari rekan-rekannya yang lain. Gadis itu melihat kesana kemari—sekelilingnya yang dipadati oleh ribuan manusia.

 

Gadis itu hanya ‘sendirian’ di sana!

***

 

Sebenarnya semenjak keluar dari kelas bernama ‘Jeddah’ tadi (baca:lokasi perlombaan), dia sudah cuma fokus terhadap satu hal yang utama; mencari momen yang epat lagi efektif untuk ‘memindahtangankan’ sepucuk surat yang ada di dalam tasnya.

 

dan kesempatan terbaik sudah hadir di hadapannya; bahkan itu hadir di pelupuk matanya!

 

“Aku sangat menyadari kesempatan itu, begitu pula dengan kedua rekanku.

 

Pasalnya; pertama, pembimbing kami sedang tidak bersama kami, dan tidak pula bersamanya. Bisa dibanyangkan jika ‘mereka’ mengetahui surat tersebut. Wah, bisa bisa alur cerita selanjutnya akan kacau, bahkan binasa.

 

Kedua, doi tengah seorang diri, tanpa seorangpun yang menemaninya. Sebetulnya kalaupun ada, tidak akan menjadi suatu masalah. Namun, tentulah suatu hal yang mempermudah urusan jika dia hanya seorang diri.

 

  Lantas, hal apa lagi yang menghalangiku untuk tak memberikannya?

Entahlah, aku juga tidak menemukan dalih yang pas tentang hal tersebut.

 

Kurasa hanya karena mentalku yang lemah saja, jadinya aku ragu, deh”

 

“Ah, betapa cemennya daku dahulu”, dia menggerutu kecil.

 

Sama sekali tak terbesit di pikiranku untuk memaksanya agar terus berkesinambungan dalam berkisah. Bukan apa apa, semua orang tahu bahwa dia tidak suka diperlakukan serupa itu. Lagipula, kali ini dia hadir sebagai sosok yang amat butuh akan ketenangan.

 

Tatkala manusia yang berada di depanku ini mulai terlihat tenang, ia akhirnya mengambil napas untuk plot cerita selanjutnya.

 

“Temanku sibuk meyakinkan diriku; bahwa ini adalah kesempatan paling mantap. Bukan main, salah seorang dari mereka yang bertubuh sedikit lebih pendek daripadaku sampai menggoncang-goncangkan tubuhku; saking gemasnya dia akan mentalku yang amat lemah. Masih lekat di pikiranku, dia mengatakan padaku dengan nada yang sedikit meninggi. ‘Hei, Apa lagi yang kau tunggu? Bukankah ini kesempatan terbaik buat kita? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?!’

 

Aku? Masih saja tenggelam bersama sejuta keraguan, hingga tiba di dasar palung ketakutan.

 

Yang ada di pikiranku kala itu hanyalah keraguan, keraguan, dan keraguan. Kepalaku dipenuhi oleh  rasa khawatir. Tak ayal bagaimanapun kesempatannya, bila niat saja belum terbentuk sempurna; mana bisa?

 

Jadilah aku menggelari diriku sendiri sebagai ‘orang tercemen di jagat raya’. Tubuhku dikuasai oleh rasa ragu dan khawatir, dan aku tak bisa memungkirinya. Perlahan namun pasti kurasakan jemariku bergetar hebat; sebab mesti mempertimbangkan dua hal yang amat menentukan di hidupku dalam waktu yang kian singkat.

 

‘Pilihan’ itu senantiasa ada. Aku dan kamu tentu sudah tahu jika dunia ini dipenuhi dengan pilihan. Entahlah, kita laksana hidup diantara pilihan dan keputusan. Kita baik, itu pilihan. Kita Islam? Shaleh? Itupun juga pilihan. Bahkan demikian pula tentang hidup, itu juga merupakan sebuah pilihan.

 

Tapi, kala itu kedua bola mataku tersilap oleh keraguan. Mentalku diselubungi oleh ketakutan, sehingga tidak dapat peka dan paham akan kesempatan terbaik yang takkan datang dua kali.

 

Ku hanya diam. Tak bergeming walau sedikitpun. Badanku tergoncang, pun begitu pula dengan hatiku. Batinku saat itu seperti dijadikan medan peperangan oleh dua hal yang sangat kontra; rasa ingin dan rasa takut. Keduanya bergelora hebat, dan arena seakan terbentang karenanya.

 

Perang sedang berkecamuk!”

 

~ ж ~

 

Sayangnya, waktu yang tersedia untuk kesempatan tersebut tidaklah berbanding lurus dengan waktu yang dibutuhkan untuk ‘peperangan’ itu. Kesempatan itu singkat, cuma sekitaran satu menit sahaja. Alhasil, pria itu memanglah tidak berhasil mengambil keputusan sebelum pemenang dari ‘yang tengah berkecamuk’ itu rilis.

 

Untunglah temannya yang sedari tadi gemas terhadap ‘kekerupukan mental’ pemuda itu; tiba tiba menawarkan sesuatu yang sangat berpengaruh di dalam hidup pemuda berambut hitam tersebut.

 

“Kau tahu, apa?”, tanyanya.

 

Aku menggeleng.

 

“Dia menawariku untuk menjadi ‘kurir’ dalam penyerahan secarik kertas tersebut.”

 

Matanya sayu, tampak kesenduan yang terpancar dari wajahnya yang pasi. Aku merasakan gejolak penyesalan dari dalam dirinya.

 

“Sebetulnya aku tidak memiliki plan semacam itu. Sama sekali tidak.”

 

Dia menunduk, atau lebih tepatnya sedikit meratap. Sejenak mengambil napas, kemudian bangkin dan menatap nanar; berkata penuh gejolak.

 

“Tapi dengan kesempatan yang luar biasa bagus, sedang diriku sama sekali tak bergeming; bisa bisa aku kehilangan that’s chance forever. Selamanya!

 

Beruntung aku masih punya teman yang pengertian dan bergerak cepat.

 

Mungkin aku terlalu dungu. Entahlah, terserah apa anggapanmu tentangku yang dulu. Namun yang pasti; if you hate me, i hate me more! I regret that! Akupun menyesalinya!

 

“dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”

Al-Qiyamah:2

 

Aku menyesal—sungguh menyesali ketumpulan mental yang terjadi pada diriku yang dulu. Padahal gambaran kejadian yang kubayangkan sejak malam malam sebelumnya adalah aku. Seharusnya aku yang memberikannya langsung pada Salma! Ah, aku tak mengerti mengapa tega teganya—rasa takut menyusup ke dalam tubuhku.”

 

Matanya mengedip-kedip, dan dia sudah sedikit santai dari sebelumnya.

 

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin...”

Al-Fath:4

 

“Walhasil, hingga kini diriku ‘changed’; menjadi sosok yang tak mengenal rasa takut. Aku Cuma tidak mau perasaan itu kembali menguasai diriku, dan kembali merusak ekspektasiku dan alur hidupku yang indah.

 

Namun, esensinya aku tetaplah manusia yang memiliki hati dan perasaan—termasuk perasaan takut. Ya, aku salah dalam menuturkannya—di dalam relung hatiku, rasa itu masihlah tersedia.

 

Dia ada, dan ia nyata. Namun, aku senantiasa mencoba untuk mengalahkannya. Hari hari yang kulewati sekarang; yang acap kali orang bilang ‘sangat mudah’ itu, penuh manzil pula, tidak luput dari peristiwa itu. Sejak peristiwa itu terjadi, aku memiliki sebuah pegangan yang berharga; bahwasannya keraguan dan ketakutan hanyalah memaksa kita agar menuai kerugian serta penyesalan.. Oleh karena itu, aku selalu mencoba menaklukkan rasa takutku; sekarang atau kedepannya.”

 



 

~ ж ~

 

Pemuda itu tidak banyak kata (baca:jugakarenatakut), langsung saja menitipkan sepucuk surat tersebut pada ‘sang kurir’. Merogoh tas, mengambil benda pipih tersebut. Kemudian menyerahkan surat itu ‘begitu saja’.

 

Dua sekawan itu saling tersenyum lalu mengangguk-angguk. Sementara yang satu lagi, ikut ikut saja; tidak begitu paham akan apa yang dilakukan oleh dua orang rekannya.

 

***

 

Dia bahkan tak berani melihat momen penyerahan surat tersebut. Aduhai kasihannya. Mentalnya begitu lemah. Ia memulai langkahnya, menuju tribun penonton gedung itu. Tanpa menoleh ke belakang, ia melangkah dengan sedikit terburu-buru. Di hatinya terdapat rasa penyesalan—sebab semestinya dirinya sendiri yang menyampaikan benda itu.

 

***

 

Sementara sang lelaki menaiki anak-demi anak tangga, dua rekannya menghampiri sang wanita tersebut. Berbeda dengan lelaki yang tengah naik ke tribun, ‘sang kurir’ yang satu ini berjalan dengan langkah santuy. Berdiri selangkah di depan rekannya, ia menyampaikan barang itu dengan caranya sendiri. Awalnya meletakkan di atas tas sang wanita tanpa disadari oleh wanita itu sendiri, dan ketika perempuan itu bergerak; otomatis suratnya terjatuh.

 

“Hei!”

 

Perempuan itu langsung menoleh; mendengar ada yang memanggilnya. Dengan isyarat kepala, dia agaknya menanyakan, “Apa?”

 

“Kamu buang suratnya, ya?!”, kata sang kurir pada gadis itu, seraya menunjuk sebuah amplop yang berisi surat itu; nan telah terdampar di lantai. Tampak dari wajah sang wanita itu nuansa kebingungan, sambil tersenyum heran. Matanya yang sipir bertambah sipit oleh karenanya.

 

Lengannya mencoba mengambil surat itu, sembari berkata,”Apa ini? (Aku saja tidak mengetahuinya, bagaimana aku mau membuangnya?! :v)”.

 

Jemarinya memegang secarik kertas berselimut amplop—yang pernah diperjuangkan oleh seorang lelaki; yang bahkan tidak hadir di situ.

 

“Baca aja.”

 

Sang wanita mengangguk, diikuti oleh rekahan senyum yang begitu manis. Kelihatannya dia mengerti apa yang sedang terjadi.

 

***

‘sang kurir’ pergi menjauh dari tempat itu; memulai langkahnya untuk mendekati lelaki berambut hitam yang telah tiba di ujung tribun. Ketika melihatnya, ‘sang kurir’ mengangkat tangan dan mengacungkan jempol, sebagai tanda bahwa ‘MISI TELAH BERHASIL:)”

 

***

 

Pemuda itu berdiri di ujung tribun, menyaksikan jempol yang teracung di bawah. Dia tersenyum puas, demikian pula dengan ‘sang kurir’.

 

Pandangannya teralih kepada sosok yang selalu terpikirkan olehnya. Ya, sang wanita itu.

 

~ ж ~

 

Hujan telah berhenti. Suasana yang tadinya dingin, kini berubah hangat. Pun begitu pula dengan manusia di depanku, dirinya sudah lebih dari sekedar ‘tenang’. Lengkungan senyum di bibirnya telah beberapa kali merekah dari wajahnya. Entah keajaiban apa yang terjadi pada angkasa, lepas menangis ia bersedia memperlihatkan senja terbaiknya. Bagaimanapun, hal ini bukan bisa dinikmati saban hari.

 

“MasyaAllah”, serempak kami berdua menyatakannya.

 

Sungguh sore hari yang amat indah lagi menakjubkan. Jingga sejauh mata memandang. Awan tak lagi menyelimuti, bahkan mereka ‘membiarkan’ sang mentari tenggelam dengan leluasa. Angin berkesiur kencang, menyusuri tiap lorong dan kelas di tingkat kedua dari bangunan ini. Aku dapat melihat dengan jelas lambaian rambut hitamnya yang berkilau. Matanya memandang jauh ke arah pegunungan yang sekarang telah menjelma jingga.

 

“Indah, ya.”, katanya tiba-tiba tanpa sedikitpun menoleh kepadaku.

 

Lelaki itu menghela napas panjang, tersimpul oleh rekahan senyum yang terbit di wajahnya. Oh, ternyata dia hendak melanjutkan ceritanya yang hampir usai. Aku bersiap, duduk memangku dagu. Mendengarkan dengan seksama.

 

“Temanku telah tiba di sisiku, kemudian bersama kami melempar pandangan ke setiap sudut bangunan tersebut. Tak satupun objek yang tidak kami amati. Langit-langit, panggung, lapangan, dan apapun itu. Nikmat sekali rasanya dapat mengamati semua dari atas sana. Bersama harapan dan impian yang terwujud, segalanya terasa indah.

 

Pandangan kami terhenti pada satu titik, yakni sosok yang masih saja diam. Itu terjadi karena temanku yang kusebut ‘sang kurir’ tadi menunjuk ke titik tersebut.”

 

“Dirinya masih saja terdiam di sana, dan siapapun dapat paham bahwa dia t’lah menghentikan pencarian. Kala itu aku bahagia, sebab dia memegang surat tersebut dengan kokoh. Seaesthetic yang dia bisa.

 

Bayangkan, siapa yang tidak bahagia bila berada di posisiku saat itu? Akupun sudah menunggu lama untuk momen serupa itu.”

 

Kini lelaki itu tersenyum halus ke arah cakrawala nan terbentang luas. Kaki langit telah menyambut mentari, membuat angkasa dipenuhi mega merah. Indah. Indah sekali. Di hari spesialnya, Allah seakan menyiapkan senja terindah untuk direnungi.

 

Dia berbisik kecil, dan aku bisa mendengar lantunan Al-Furqan dari dua bibirnya. Kurang lebih artinya;

 

“ Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,”

Al-Insyiqaaq:16

 

“Laksana mahligai kehidupan. :)”

 

“Dan satu wajah itu muncul di hariku, diam di sela-sela berlian yang bertaburan di lautan angkasa dan manusia. Dari kejauhan dapat kulihat ia tersenyum, mengatakan bahwa ia akan selalu menungguku untuk kembali. Membuatku sadar: ia telah menuntunku pada ujung pengasingan.”

 

“Pengembaraanku telah berakhir, dan masa berkelanaku telah tuntas sudah”

 

“Aku tak lagi perlu mencari, karena pencarianku telah usai. Dia adalah yang selama ini kucari, dan dia adalah jawaban dari segala pertanyaan yang ada.”

 

~ :)

 

~-~-~-~-~-~ ж ~-~-~-~-~-~

 

Seuntai kisah mengalir sudah padaku. Sejauh ini segalanya masih tampak indah, namun ingatlah bahwa ini belum keseluruhannya. Belum ada jalan terjal yang dipenuhi ranjau dan duri. Belum ada kesunyian serta kehampaan. Juga belum tercakup di dalamnya perihal rindu, tangis, hingga keikhlasan untuk melepaskan.

 

Semuanya belum berakhir begitu saja!

 

***

 

Perjumpaan kami for today agaknya berakhir di sini.

 

Dia pergi menjauh. Kulepas kepergiannya dengan lambaian tangan. Lain waktu, ia akan menuntaskan kisahnya; dan ia berjanji tentang itu. Kala punggungnya tidak kelihatan lagi, kupejamkan kedua mataku dan lenyap begitu saja.

 

***

 

#SenjaKalaItu

14 September 2020.

 

 

Pria itu telah mandi, dan kini menggunakan setelan batik merah serta sarung berwarna merah pula. Dibalut almameter sekolahnnya, membuatnya terlihat amat berwibawa. Al-Ma’tsurat berjamaah telah usai dibacakan, dan sejenak ia memuaskan hasratnya yang begitu menggelegak. Ia ingin melihat senja.

 

Ia keluar dari rumah ibadah tersebut, lalu menuju pojok teras belakang. Di sana ia dapat menikmati senja yang amat fenomenal ini. Matanya memandang takzim ke arah cakrawala, dan senyuman tipis terbentuk di wajahnya yang teduh. Tangannya saling menggenggam kokoh di belakang tubuhnya, sekilas mirip posisi istirahat ditempat.

 



(Kirakira mirip ginilah:v)

 

Aku ada di sisinya, tapi dia tidak mengetahui itu. Ya, mungkin dirinya memanglah tidak perlu tahu mengenai hal ini. Sore ini kupandang wajahnya yang teduh dan penuh ketenangan itu dari dekat. Kau tahu? Kami berdua tengah menikmati senja terindah yang pernah ada. Perpaduan antara warna merah dan biru membuat angkasa kelihatan megah; bernuansa keunguan.




 

Tangannya bergererak meraih secarik kertas yang ada di saku jaketnya. Tampak ia menulis sesuatu, sepertinya adalah sebuah kata kunci untuk tulisan selanjutnya. Pulpennya? Sedari tadi ia genggam. Ia memang tidak pernah meninggalkan penanya.

 

Lepas dari itu, ia menghela napas lantas tersenyum. Mulutnya berbicara panjang lebar. Mungkin saja ia merasa bertatah kata sendiri. Padahal kenyataannya aku berada di depan wajahnya dalam jarak sedekat ini.

 

“kemudian dia merenung dan memikirkan,”

Al-Muddatstsir:21

 

“Salma.

 

Kau lihat, senja kala ini?

 

Indah, bagai senyummu.

 

Segalanya tampak indah hari ini, dan aku sangat bersyukur karenanya.

 

Aku sangat tahu ini adalah hari spesialmu; dan ketahuilah ini juga merupakan hari yang amat spesial bagiku.

 

Hari ulang tahunmu.

 

Aku tak tahu harus berbuat apa, dan aku tak berdaya; tak dapat melakukan apapun untuk ulang tahunmu kali ini.

 

Keadaan memang tidak mendukung.”

 

  “Ah, usahlah diriku menyalahkan keadaan. Aku sudah sangat bersyukur bisa menikmati senja di penghujung hari ulang tahunmu. Aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih dapat menikmatinya, atau tidak.

 

  Haha.”

 

  Ia tertawa namun sedikit tercekat. Seperti ada yang tertahan.

 

  “Terima kasih telah hadir di hidupku; dan terima kasih untuk segalanya. Mungkin kau takkan mendengar hal ini untuk sekarang, tapi aku percaya bahwa suatu hari nanti aku bisa mengatakannya secara langsung padamu. Lihatlah! Langit senja kali ini menyokongku untuk bersajak tentangmu. Ya. Perihal dirimu.

 

  Kita selama ini selalu didukung oleh tuhan kita.”

 

  “Oh iya, ketahuilah bahwa seharian ini aku sudah berkali kali mengucapkan ‘selamat’ padamu. Mungkin kau tidak mendengarnya, tapi sesungguhnya segala nada telah kucoba; dari yang di dalam hati hingga sekuat hati. Aku berteriak di situ. Hehehe. Untung saja salah seorang karibku juga berulangtahun di hari yang sama denganmu. Jadi, aku dapat mengambil dalih yang mungkin bisa kau mengerti tanpa mesti kujelaskan.

 

  Sekali lagi, Selamat ulang tahun. Maafkan bila diriku tak melakukan apapun; dan yang dapat kulakukan hanya menulis tentang semua ini. Itu saja. Hanya hal itu yang dapat kulakukan untukmu.”

 

  “Aku pernah menjadi orang terbahagia di muka bumi karena memiliki ‘rasa’mu, dan kini akupun mesti bisa pula menjadi orang yang paling tabah di jagat raya; karena mesti kehilanganmu lagi.

 

  Ah, bukan itu. Bukan kehilangan. Kutahu engkau selalu ada. Kita selalu ada. Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun keadaannya; kita selalu bersama. Jauh di lubuk hati, kutahu sebenarnya kita selalu ada.”

 

  “Salma, aku ingin memberitahumu bahwa diriku sekarang terjebak pada persimpangan antara dua impian. Satu impian perihal memilikimu, dan satu lagi impian dalam meraih kesuksesan dalam hidup. Dua hal itu; SMA N 1 Sumbar dan MA Darunnajah; memiliki dua hal yang berimbas beda. Sudah dapat kita duga bagaimana kesudahan kita selepas tamat dari satu diantara dua sekolah menengah atas tersebut. Yang satu lebih memungkinkan untuk memilikimu, dan yang satu lagi amat beresiko untuk dapat membuatku kehilangan dirimu selamanya; walau sebenarnya aku lebih tahu bahwa yang ini dapat lebih mudah mengantarkanku pada kesuksesan di dunia maupun di akhirat.

 

  Beta bingung, namun sungguh beta lelah.

 

  Butuh pemikiran yang dewasa dalam menentukannya; dan sampai kini aku belum jua dapat memutuskannya. Aku sempat memutuskan satu dari kedua hal itu, namun semua orang yang kukenal membuatku ragu; mesti memikirkan ulang dengan sematang-matangnya pemikiran.

 

  Ah, sudahlah.”

 

  “Kini aku telah berada di penghujung masa kepemimpinanku sebagai ketua osis. Kau tahu, Ma? Aku berharap aku takkan menjadi seorang pemimpin besar lagi, sebelum aku memimpin kehidupan kita berdua.”

 

  “Terima kasih untuk segalanya, Salma. Termasuk untuk luka ini. Kenestapaan ini. Karena semanis apapun perpisahan itu, ya tetap perpisahan. Ada kisah yang mesti berubah menjadi seuntai kenangan yang tak dapat terulang lagi.

 

Semoga bahagia dengan kehidupanmu di seberang sana. Pasti banyak yang mengucapkan selamat padamu di hari ini ya? hahaha.

 

Meski kita tak lagi dapat saling melihat, saling memandang, namun percayalah bahwa kita selalu bersama:)

 

Dengarkanlah, hai Salma. Ini dari seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu keajaiban kecil setiap harinya”

 

Ia memejamkan mata, lantas perenungan itu berakhir; lalu meninggalkan senja terindah itu.

 

“Selamat Ulang Tahun, Salma.Terima kasih untuk segalanya. :)” ۩

 

***

 

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Al-‘Ashr:1-3

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

DOPODICHÉ : UNA SPERANZA

PERINGATAN : Episode ini mengandung tingkat halusinasi yang sangat tinggi, jika sekiranya pembaca tidak kuat menahan cringe dalam membacanya,... ah pokoknya lanjut aja deh :v   Hai, Salma!   Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.   Akhirnya kita bertemu lagi, ya?   Meskipun tidak bertatap muka, aku sudah senang sekali. Saangat bahagia!   Kendati aku tidak memiliki hak apapun dalam hal merindukanmu, aku melanggarnya! (anebukanbangga) Selama ini kumerindukanmu.   Setelah dua tahun lamanya, akhirnya kita memiliki titik temu juga. Walau memang, pertemuan kita ini begitu tidak diduga dan sangat mendadak, apalagi dimulai dengan luka, akhirnya kita bisa berjumpa kembali!       :) ~    Ж    ~   Aku mencoba menenangkan diri. Aku keluar dari rumahku, meraih tali penyangga ayunan itu, dan mulai mengayunkannya dengan sesekali hentakan kaki yang cukup membuatku merasa melayang. ...