Kala diriku telah
menginjakkan kaki di asrama, aku baru mengetahui bahwa banyak orang yang
menyusul kepulanganku. Beberapa dari mereka ada yang sakit benaran, dan, shht,
ada yang pura pura sakit. Contohnya saja Arkan, Fadhil. Sewaktu aku bersiap
siap untuk pergi, Arkan (juga Fadhil) menanyakanku, mau pergi kemana, dan dia
tampak sehat walafiat serta masih dapat meloncat. Mengejutkannya, kata teman
temanku; ia pulang malam harinya dengan alasan sakit. Ketika di rumah, dia mengupload
story yang di dalamnya ada foto dirinya, sedang berdua dengan Fadhil; tengah
jalan jalan.
Bukan cuma mereka,
Furqon, yang waktu itu berpura pura sakit; menempelkan mug panas ke kepalanya
(tidak lupa leher,dll) , hampir berhasil pulang setelah diketahui bahwa suhu
kepalanya tinggi selepas ditembak thermogun. Namun sandiwara itu
terhentikan karena ada salah satu teman yang mengatakannya pada ustadz.
Entahlah, masih ada yang lain, seperti Rayhan AlZalkis. Usaha usaha mereka, ah,
lebih baik disimpan buat sesuatu yang lebih bermanfaat.
Sedangkan diriku? Ah,
aku tidak pernah berusaha seperti itu. Kondisi ini yang membuatku pulang pergi
dua pekan sekali. Ya, kuakui, sudah beberapa bulan ini aku “kontrol” kondisi
kesehatan tubuhku di RSUD Pasaman Barat.
Dan terkadang, pikiran
gila itu mendatangiku. Haha.
Apakah dia akan tiba
dalam acara pemakamanku, sekiranya umurku tidak sampai beberapa saat lagi?
:”)
~
ж
~
Duduk pada bangku kelas
sembilan, aroma pahitnya perpisahan terlanjur sudah tercium. Ah, sudah
kubilang, masalah perpisahan, aku tidak kuat. Ketika ustadz Abri Maijon
mengangkat tema pembicaraan tentang perpisahan saja, bukan hanya aku; tapi
seluruh angkatan kedua SMP IT AlKahfi terdiam, dan aku tahu pasti mereka juga
merasakan hal yang sama denganku; meski mereka takkan mengakuinya. Ahaha. Sudah
menjadi hakikat lelaki, seperti itu.
Entahlah, nyaris tiga
tahun berlalu semenjak penyerahan diri kami kepada asatidz, dan waktu tak bosan
mengingatkan kembali bahwa semuanya hanya sementara, sebentar. Ah, rasanya baru
beberapa hari yang lalu kala diriku lompat jauh di area berumput di perbatasan
ikhwah-akhwat, dan kini lokasi itu telah menjadi gedung.
Ya, masa dengan mudahnya
meninggalkan memori memori indah tentang kita. Ah, yang kumaksud ‘kita’, kini
bukan lagi antara diriku dan Salma. Semuanya. Ya, semua dari kita. Kita pernah
saling mengenal, pernah saling dekat, namun pada akhirnya aku juga ragu, bahwa
nantinya kita juga saling melupa.
Karena aku tipenya bukan
dekat dengan seseorang tertentu atau dengan geng tertentu, aku dapat merasakan
kenangan kuat dengan orang orang yang bahkan mungkin tidak pernah ‘kangen’
padaku setelah perpisahan terjadi. Preman preman itu, teman teman polosku itu,
ah, semuanya bercampur dengan rata di kepalaku. Kerisauanku bukan lagi terhadap
berpisah dengan satu atau dua orang, namun semuanya. Aku benci perpisahan.
Bicara tentang
perpisahan, cih, aku lemah. Haha. Mungkin saja jika kamu berbincang tentang hal
tersebut denganku; bagai diriku dengan temanku, kadang mereka tidak mengerti
bahasaku. Katanya, “puitis sekali hidupmu”
~
ж
~
“Makin kesini makin
keliatan kali sekolah kita banyak dramanya ya”, gerutu
Lathif ketika kami tengah duduk berdua di depan asrama Khalid ibn Walid. Masa
itu, kami disuruh bersih bersih, sebersih bersihnya karena pejabat dinas
pendidikan akan mendatangi sekolah kami. Aku tidak ingin banyak komentar
tentang hal ini, namun aku setuju dengan pernyataan itu.
“Lebih parah daripada
drama korea lagi, rasanya”
Aku tertawa.
Lalu, aku mencoba
mengungkit kembali persoalan ruangan LKS, perpustakaan, BK, OSIS yang hanya
menjadi syarat sebagai kelengkapan untuk diakreditasi. Dia membenarkan, dan
diriku cuma manggut manggut.
“Ada juga yang sepemikiran
dengan ana ya”
Kami berdua tertawa.
Entahlah, aku juga tidak
tahu mengapa bisa seperti ini; semuanya bagai taubat setelah naik ke kelas
sembilan ini. Lathif dkk sudah tidak lagi MPO ke lawan jenis, apalagi pacaran.
Arkan tidak terlalu ngotot lagi, meski tidak merubah kelakuannya secara umum.
Eh, aku sedikit keliru.
Geng Arkan sekarang telah merajalela, kenakalannya telah menjadi gangguan bagi
sebagian orang. Semenjak naik kelas sembilan ini, geng Lathif seakan tidak
terlalu kelihatan lagi, dan kurasa mereka telah lebih baik. Kalau masalah geng
Arkan, ah, sudahlah, kadang harus sabar dalam menghadapinya, dan it’s okay.
Mengapa aku mau berteman dengan orang seperti Lathif, Arkan?
Seperti dirimu, dan yang lainnya juga, kita tentu tidak nyaman sekali jika ada seseorang yang marah ataupun benci pada kita.
Jika dengan berteman dapat meredam kebencian, lantas apakah alasan untuk tidak melakukannya? Cukup bentengi saja diri dengan keimanan dan semacamnya, dan mutlak; kita tidak akan tertular olehnya.
Mengapa aku mau berteman dengan orang seperti Lathif, Arkan?
Seperti dirimu, dan yang lainnya juga, kita tentu tidak nyaman sekali jika ada seseorang yang marah ataupun benci pada kita.
Jika dengan berteman dapat meredam kebencian, lantas apakah alasan untuk tidak melakukannya? Cukup bentengi saja diri dengan keimanan dan semacamnya, dan mutlak; kita tidak akan tertular olehnya.
~
ж
~
Yeah, aku telah baik
baik saja sekarang. Meski kadang sekumpulan ingatan tersebut
kembali, namun diriku tidak lagi ambil pusing terhadapnya. Aku telah
memandangnya sebagai kenangan yang tak dapat terlupakan, meski sekiranya suatu
hari nanti diriku ingin melupa. Manusia
adalah sarangnya khilaf dan lupa, lantas untuk apa lagi berusaha agar bisa
lupa? Cukup pandang saja dari sisi lain, yang dimana kita dapat mensyukuri
bahwa itu pernah terjadi.
Mungkin diriku masih
dapat bersedih karenanya, namun aku telah banyak canda tawa seperti biasa.
Mungkin diriku masih
dapat menyesal karenanya, namun aku telah belajar mengikhlaskan semuanya.
Ya. Untuk apa lagi,
selalu menyesalinya? Sungguh, itu hanya akan mengurangi kinerja kita saja.
Sejarah takkan dapat dirubah, namun masa depan sungguh masih bisa diperbaiki.
Dan kini, aku telah ikhlas akan segalanya. Waktu dan masa akan terus bergulir
seiring jantung kita berdetak. Segala kemungkinan akan masa depan, semua
kuserahkan kepada-Nya, tak terkecuali kamu. Iya, kamu, Salma. Hehe.
Siapapun nantinya yang
jadi pendamping hidup kita, aku yakin itu adalah yang terbaik menurut-Nya.
Mungkin jika kita pikirkan sekarang, kita belum bisa menerimanya. Namun,
aku sendiri yakin, bahwa meski diriku meyakini bahwa jika aku bersamamu, aku
akan bahagia; dirimu yang terbaik untukku, tapi aku tidak boleh melupakan fakta
bahwa siapapun yang akan membersamaimu nanti, dialah pilihan tinta ilahi. Dia
adalah yang terbaik untukmu, menurut sang maha mengetahui. Haha. Beruntung
sekali dia.
Tapi, itu tidak apa
bagiku; karena jika dirimu dibersamai dengan orang yang terbaik untukmu,
tentunya dirimu bahagia.
Bahagiamu,
bahagiaku :) :v
~
ж
~
“Harapan tak selalu berpihak pada kenyataan.
Kuatkan hatimu untuk itu.”
-Pujangga malam-
Aku harus
kuat. Aku harus tangguh. Aku harus ikhlas. Banyak ‘harus’ yang terlintas di
kepalaku, namun aku melupakan fakta bahwa semua butuh proses. Aku yang dahulu down
mulu, membutuhkan proses untuk kembali ceria seperti ini. Ya, begitulah
hidup.
~
ж
~
“Thariq
mana?! Thariq?!”
Suara dari ustadz Isran
membuyarkan seluruh orang di ruangan masjid ini, tak terkecuali diriku yang
sedang bercengkrama dengan beberapa temanku. Hm, Ariq, Ile, dan Furqon. Ya, waktu
itu aku sedang bersama mereka. Hujan masih saja menabrak apa saja yang menghalanginya.
Aku diberitahu bahwa
ibuku telah menunggu di dapur, untuk menjemputku agar bisa kontrol pengobatan.
Untung saja, aku telah menyiapkan sweater dan topi di dalam tas. Haha. Aku
hanya ingin menutupi botakku dari akhwat :v
Mengambil payung secara
random, lalu sesegera mungkin menuju dapur.
Kalau kalian mengira
bahwa diriku kala itu berjalan cepat dan menunduk gara gara pemalu, kalian
salah. Aku memang seperti itu, ingin cepat sampai di tujuan. Mungkin penulisan “sikap
sabar mulai berkembang” pada kolom attitude di raportku memang ada benarnya
juga.
Ya, aku memang biasa
seperti itu, tapi bedanya adalah, kalau di sekitar ikhwah, pandanganku jauh
lebih terangkat. Dadaku lebih membusung. Beda halnya ketika lewat akhwat, aku
hanya tidak ingin terlihat berkelebihan gaya. :v
Lagipula, bukankah tujuan pensyariatan menundukkan pandangan itu untuk menghindari penglihatan terhadap yang bukan bukan? Ya, benar seperti itu. Aku juga acap kali begitu jika berpapasan atau berjumpa dengan akhwat. Nah, kalau sesama ikhwah, nundukin pandangan? Mau ditabok apah? Palingan dibully juga nantinya :v
Lagipula, bukankah tujuan pensyariatan menundukkan pandangan itu untuk menghindari penglihatan terhadap yang bukan bukan? Ya, benar seperti itu. Aku juga acap kali begitu jika berpapasan atau berjumpa dengan akhwat. Nah, kalau sesama ikhwah, nundukin pandangan? Mau ditabok apah? Palingan dibully juga nantinya :v
~
ж
~
Sudahlah. Satu jam lagi aku akan menuju
asrama. Maafkan diriku yang ketikannya itu tidak seperti biasanya, karena ini
juga buru buru. Hehe. Aku hanya ingin menyempatkan bercerita sedikit.
Oke? Hehe. Bye!
Kubuka laptopku, lalu menyalakan aplikasi Microsoft Word. Namun, ide sama sekali tertahan dalam otakku, dan itu dikarenakan kondisi perasaanku yang tidak support dengan apa yang akan kutulis.
Aduh.
...
Eh, tunggu sebentar!
Aku rindu padanya. Aku rindu.
Bukankah trik itu ada?
Masih bisa kah?
Kucoba baca lagi, kata demi kata. Ya, sama seperti sebelumnya, kurasa ada yang mengganjal di dalam hatiku. Kurasa aku tidak usah menjelaskannya secara panjang lebar lagi, karena kalian juga telah kuberitahu; laksana film sendu.
Ah, Salma.
Kenapa kata katamu begitu sakti? :v
Sudahlah. Aku mulai mengetik, kata demi kata.
Aduh.
...
Eh, tunggu sebentar!
Aku rindu padanya. Aku rindu.
Bukankah trik itu ada?
Masih bisa kah?
Kucoba baca lagi, kata demi kata. Ya, sama seperti sebelumnya, kurasa ada yang mengganjal di dalam hatiku. Kurasa aku tidak usah menjelaskannya secara panjang lebar lagi, karena kalian juga telah kuberitahu; laksana film sendu.
Ah, Salma.
Kenapa kata katamu begitu sakti? :v
Sudahlah. Aku mulai mengetik, kata demi kata.
Hahaha. Tidak apa apa.
Tidak usah khawatir, tidak usah cemas Sal. Aku mengetahui bahwa kamu
mencemaskanku. Semuanya baik baik saja.
(Geer sekali diriku
yaAllah :v)
Penyakitku hanyalah
sekedar penyakit yang lazim diderita orang seusiaku (yang suka olahraga), dan apesnya,
entah mengapa harus diriku yang menerima kenyataan bahwa pemuncak parahnya
adalah aku. Hahah. Pikiran gila tersebut hanyalah sebuah pemikiran akan masa
depan.
Komentar
Posting Komentar