Aduh!
Tanganku terasa
sedikit mendenyut selepas berbenturan dengan meja kamarku. Seketika akupun
terjaga dari tidur lelapku. Entah bagaimana caranya, aku tiba tiba terbangun di
atas lantai kamarku, dengan dada yang lumayan sesak dikarenakan tidur tengkurap
pada lantai. Padahal, seingatku tadi malam aku terbang melayang bersama seluruh
mimpi, itu di atas kasur.
Ah,
akupun mengangkat badanku, dengan mendahulukan dada yang cukup ”ngeh” ini.
Aku menengok ke
arah jam, ternyata jarum pendeknya menunjukkan jam dua belas. Aku senang,
karena aku dapat melakukan kegiatan malam dalam waktu yang lebih lama. Namun
kesenangan itu, mau tidak mau harus tanpa suara, sebab seluruh penghuni rumah
telah tertidur.
Kemudian,
aku melanjutkan ketikan berjudul “About heart” itu. Sebentar saja, ia telah
rampung kuselesaikan. Memang, artikel itu tinggal dipoles sedikit lagi untuk
siap dipublikasi.
Oh, whatsappku
masih saja menyala di depan, dan hotspotnya juga masih menyala. Meski
handphonenya telah diamankan. Jadi, aku dapat menggunakan whatsapp dari
kamarku, melalui laptop.
Ya, jam delapan tadi, percakapanku dengan Salma adalah tentang “sesuatu”
yang teringin dikatakannya. Ah, firasatku buruk tentang itu. Dirinya
juga mengatakan bahwa “Kalau tulisan di blog itu selesai, beritahu”. Seusai
beberapa saat, aku mengatakan bahwa artikel tersebut telah dipublikasi, serta
beberapa hal lain yang kubicarakan.
(Itu
terjadi pada 16 Juli dirihari.)
~
ж
~
Detik ini, detik
ke dua belas pada jam 00.00 di hari Rabu, 22 Juli 2020. Aku pulang. Sadar
tidak, aku keluar kawasan sekolah? Ahaha. Aku pulang dikarenakan ada
beberapa urusan yang harus dilakukan.
Semrawut sekali
otakku sekarang. Tiada kata kata indah yang dapat dikeluarkan
dari otakku kini. Haha. Aku di rumah sampai 23 Juli, berarti hari ketiga, aku kembali ke asrama.
~
ж
~
#BacktoLaptop
Kegabutan pada
malam hari itu, malam 16 Juli 2020 tersebut, mengantarkanku pada terjaganya
diriku pada pagi harinya, jam empat kurang. Jadi, pagi itu adalah 17 Juli 2020.
Ah, itu adalah hari dimana aku akan kembali ke sekolah setelah empat bulan di
rumah.
Aku mencoba
mencari handphone, sambil mencari tahu apakah benda itumasih di dalam kamar orangtuaku
ataukah tidak. Dan nahas, itu masih saja di dalam kamar orangtuaku sejak tadi
malam. Seharian kemarin, aku sama sekali tidak mengecheck whatsappku, karena
kondisi yang tak memungkinkan.
Ah,
setidaknya aku dapat menunggu sampai semuanya bangun, orangtuaku keluar dari
kamarnya, dan aku bisa mengambil benda tersebut dan mengaktifkan aplikasi
whatsapp.
~
ж
~
Begitu ada
kesempatan, secepat kilat kusambar ponsel itu, hanya untuk mengaktifkan whatsappnya,
dan kembali ke kamarku kemudian membuka whatsapp web di laptop lenovo itu.
Kulihat
ada limapuluh empat pesan dari Salma. Wah,
angka yang sangat fantastis. Haha.
Firasatku sudah
sangat buruk tentang itu. Ah, aku bahkan tidak ingin buru buru membukanya. Aku
mendahulukan membuka pesan dari yang lain, seperti bia, dan whatsapp group lain
yang ada. Bukan berarti mengakhirkan karena tidak penting, namun aku takut. Really.
Aku menghela
napas sedalam mungkin, seraya berharap itu bukanlah semacam kata kata perpisahan darinya.
Dan,
benar saja. Ah, sesuatu itu benar. Pemikiranku tidak salah. Dugaanku tidak
meleset.
~
ж
~
Mantap
sal. Mantap.
Dua
tahun tanpa apapun, dan kini kau benar benar mengakhirinya kembali.
Dan...
kau mengatakan bahwa kita tinggal setahun lagi di Alkahfi kan? Haha. Iya.
Setahun lagi kita saling mengenal. Selanjutnya entah.
Lalu engkau memutuskan untuk mengatakan “cukup sudah”?
Ah, aku tidak mengetahui apa yang ada di hatiku pada kala itu.
Bukankah
lebih baik tanpa perpisahan, jadi ketika ada yang teringin dikatakan, bisa
langsung tanpa memulai kembali.
Aaaah!
Aku tidak mengerti!
Mungkin saja keadaan sedang tidak baik baik saja, tapi, apakah jalan terakhirnya adalah berpisah?
Ahsudahlah.
Mungkin saja keadaan sedang tidak baik baik saja, tapi, apakah jalan terakhirnya adalah berpisah?
Ahsudahlah.
Setidaknya bukan pergi. :)
~ ж ~
~ ж ~
Fajar masih belum
begitu jelas terlihat, namun kondisiku telah muram seperti ini. Benar benar telak
sesuatu itu memukulku, seakan akan aku terhempas jauh olehnya ke ujung dunia
bagian lain.
Setahun lagi
tanpa kehadirannya. Wow, sangat mengejutkan. Lalu, setelah ini, apa artinya
aplikasi whatsapp pada handphone itu?
Aku tidak
langsung menjawab, karena rasa sesak yang ada. Lagipun, dia jua telah
mengatakan, tidak usah dijawab.
Aku shalat shubuh
bersama segala perasaan yang campur aduk, dan ada sesuatu yang benar benar
merasuki tubuhku. Tidak perduli bagaimana tentramnya fajar pagi itu, namun yang
jelas, I’m not okay :(
Aku
menyesal. Aku menyesal tidak berusaha secara penuh dalam mengambil handphone
tadi malam, meski aku juga kangen. Sekarang, dia pun telah memutuskannya. Ditambah lagi aku yang tidak dipersilahkan untuk menjawab. Apakah lima puluh empat pesan itu adalah pesan terakhir diantara kita? :|
~
ж
~
Dia berkata bahwa
tidak usah dijawab, namun ego serta logikaku mengatakan, lebih baik dijawab.
Ego selalu menuntunku untuk seperti itu, untuk selalu dekat dengannya. Tapi,
kali ini logika memihak pada ego; lebih baik dijawab. Seolah olah logika mengatakan;,
“Come
on, Thariq. Kamu juga menginginkannya. Bukankah kamu menginginkan perpisahan
yang manis? Bukan seperti ini caranya. Tidak baik untuk diam di tempat dan
meratapi segalanya untuk sekarang. Bangkitlah dan raih handphonemu. Ada banyak
cara lainnya. Tak usah pikirkan kata kata dia yang menyeru untuk tidak
menjawabnya, karena seumur umur kamu baru sekali mendapat lima puluh empat
pesan darinya. Bukankah kamu tidak menginginkan, orang yang mengakhiri
segalanya adalah dia? Pasti bukan. Kamu telah memikirkannya sejak sepekan lalu,
dan itu memang benar benar terjadi sekarang. Lantas, untuk apa kamu harus
terpukul dan bersedih seperti ini? Bukankah kamu juga tidak terkejut mengenai
keputusannya? Bukankah kau telah menduganya? Sudahlah. Ayo, Thariq, Bangkit!
Gunakan diriku untuk berpikir. Bukannya dia mengatakan, “Setelah kembali ke
sekolah” ??! Berarti sekarang masih masanya kamu untuk berkata kata, setidaknya
lastword telah kau esahkan! Gunakan kesempatan yang tersisa untuk menjadikan
ini perpisahan yang termanis, Thariq Almas Neil Authar!”
Jemariku sudah
berkumpul, membentuk sebuah kepalan semangat. Alangkah lebih baiknya jikalau
diriku tidak menjawabnya melalui chat langsung, sebab tidak sopan namanya
jikalau kita tidak mempedulikan kata kata orang. Maka dari itu, aku kembali
menggunakan fitur private story. Sudah lama sejak diri ini menggunakan
fitur tersebut guna berbicara dengannya.
Bisa
dibilang, diriku mengucap Last Word padanya. Ah, aku banyak sekali berterima
kasih padanya, dan sampai kinipun, aku masih tetap bersyukur bahwa kita pernah
bersua kembali seperti kemarin. Terima kasih Salma.
Banyak
sekali hal yang teringin kukatakan, Sumpahh! tapi jariku akan gemetaran jika mengatakan semuanya.
Maka, yang dapat kukatakan padamu hanyalah Terima kasih dan terima
kasih.
Serta
maaf :)
~
ж
~
Sembari bersiap
siap dalam rangka kembali ke asrama, kunyalakan laptop berwarna biru muda itu.
Logo acer terpampang jelas pada punggung laptopnya. Sudahlah Thariq, usahlah
dirimu promosi laptop. Hehe :v.
Ah,
sudah dilihat!
Perlu
waktu juga untuk dilihat olehnya. Entah itu karena hotspot yang belum jua
didapat, atau dia masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya yang membuatnya tidak
sempat. Aku? Aku biasa memakai hotspot dari kakakku. Meski ayahku pergi ke
kantor, aku masih bisa berselancar di internet.
Dia
menjawabnya dengan pertanyaan, “Siapa
saja yang bisa membaca blog ini?”
Aku yang sudah
hanya bisa memakai laptop, tidak bisa lagi buat story, mereply itu dari jalur
chat biasa, dengan alasan “tak dapat memakai fitur story”. Akhirnya kami bisa
berkomunikasi lagi.
Kami kembali
bercerita dan bercanda, dan pada akhirnya aku harus pergi. Aku harus pergi
ke asrama. Apakah cocok jikalau kepergianku ini dinamakan “meninggalkan”?
Tentu tidak. Aku tidak benar benar meninggalkan, hanya saja kondisi sekarang
ini, membuat “tidak memungkinkan” untuk melanjutkan. Ya, selalu begitu. Kita,
manusia, selalu menyalahkan keadaan yang ada. Syukuri saja, Thariq!
Terima
kasih salma, terima kasih. Entah berapa ungkapan terima kasih yang perlu
kukeluarkan detik ini. Kau telah membuatku bahagia akhir akhir ini, dan
setidaknya ketika kita pernah bersama dahulu, aku juga bahagia bersamamu.
Langkah yang kita ambil, semoga tidak salah. Dan semoga Allah mempertemukan
kembali langkah kita.
~
ж
~
Rasa
takutnya lebih besar?
Aku tidak seharusnya seperti ini.
Kalau
“rasa”nya tidak mendominasi, untuk apa aku melakukan segalanya?
Cih,
ayolah thariq, kamu mungkin menyukainya, mencintainya, namun tidak usah
keterlaluan. Dia saja tidak begitu. Biasa sajalah.
Sudah seharusnya
aku memikirkan hal itu sejak pertama kali melihat pesan tersebut. Oh, bukan,
melainkan aku telah mengoceh semacam itu ketika tengah membacanya untuk pertama
kali. Itu semacam seni menghibur diri dan “melawan” akan kesedihan yang datang.
~
ж
~
Aku melangkahkan
kaki kanan ke dalam ruangan asrama, sambil menghela napas panjang. Terdapat
banyak teman yang sedang beberes di dalam ruangan tersebut.
Dan
disinilah kegilaanku dimulai kembali.
Aku menyeru ke
arah dalam, “Ada yang rindu ke ana?!?!”
Semuanya menyahut
dan menjawab seakan mengejekku. Haha. Memang sudah tradisi kami seperti itu,
dan kami tidak lagi merasa tersinggung diperlakukan seperti itu.
Aku memang
seperti itu, orangnya tidak boleh dibiarkan sendirian, jika sedang bersedih.
Aku, kalau sudah bersama teman temanku, mengobrol bersama, seakan tidak
sedikitpun terdapat kesedihan padaku. Canda tawa itu, ah, selalu menghiburku,
dan sangat membantu dalam melupakan masalah itu sejenak, bahkan bisa memudar
untuk selamanya. Kalau sudah berkumpul bersama, bisa bisa perut kami bisa sakit
karena tertawa.
~
ж
~
Jam
dzhuhur, kami shalat jum’at di dalam masjid annur, dan sorenya aku langsung
menjadi imam shalat ashar berjama’ah. Belum mencapai giliranku, namun asatidz mempersilahkanku
untuk melangkah ke depan, mengimami ratusan orang di belakangku.
Ya,
aku adalah satu dari enam imam tetap Masjid Annur Alkahfi, Rimbo Binuang.
(sombongsekaleekaubambang:v).
(sombongsekaleekaubambang:v).
~
ж
~
Adzan shubuh
akhirnya berkumandang, setelah terlambat gara gara tidak ada yang dapat
memberanikan diri untuk maju dan mengambil mikrofon. Yaa setelah beberapa lama,
akhirnya ustadz BK menunjukku untuk kedepan. Aku? Maju saja. Tidak perduli
dengan akhwat yang tidak ada di sekolah pada shubuh kali itu. Emm, ya, banyak
ikhwah yang MPO kepada akhwat dengan peran yang dimainkan melalui mikrofon.
Do’a setelah
shalat begitu jua, aku juga yang maju kedepan.
Waduuuh ustadz
Hafia Akbar juga menunjukku agar memimpin Alma’tsurat pagi. Mau tidak mau ya
harus dipatuhi, lagipula diriku juga teringin. Hehe. Cuma, ya, suara sudah agak
letih setelah dua peran sebelumnya.
Memang, dua tahun
disini, aku tidak terlalu MPO dengan akhwat, karena tidak tahu siapa yang harus
kutarik perhatiannya. Haha. Yaa, jadi aku tidak apa apa juga, kalau tidak ada
akhwat di seberang. :v
Dan
kau hadir, merubah segalanya
(Lebih
Indah-Adera)
~
ж
~
Seberes mengerjakan
bermacam hal, bisa dibilang beres beres, mencuci pakaian, berembuk bersama
pembina osis yang baru, dan lainnya, aku memutuskan untuk tidur. Mungkin
keinginanku (bersama puluhan ikhwah gen2 lainnya:v) untuk melihat akhwat yang
datang juga ada, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku lebih baik berbuat
kebaikan untuk diri sendiri, salah satunya dengan memperhatikan dan menuruti
keinginan tubuhku yang lelah ini. Aku tidur, tanpa melihat apapun yang ada di
depanku. Sebenarnya dipanku selurus dengan jendela yang tembus pandang, tapi,
yang penting bobok! :v
~
ж
~
Malam harinya,
tidak ada kegiatan yang begitu berarti. Hanya saja, asrama lain tengah
mengikuti rapat asrama, sedangkan asrama kami yang super “wow” itu, hanya
bersantai santai dan berbincang bersama. Sesekali kurasa perlu untuk
menyendiri, dan merenungi serta menerawang apa yang telah terjadi. Diriku
seakan melupa. Segala yang terjadi, kurelakan saja. Aku telah memasrahkan
semuanya kepada-Nya, hingga lupa apa yang terjadi beberapa waktu lalu adalah
sebuah masalah besar dan dapat menimbulkan keterpukulan, jika saja aku tidak
bersama teman teman. Tak bisa dipungkiri, bahkan disela-sela canda tawa yang
terjalin, aku masih dapat merasakan rasa sakit itu, meski perlahan pudar. Mungkin inilah
saatnya diriku mengingat, dan menebalkan kembali apa yang telah pudar. Bukan untuk menyiksa
diri sendiri atas segala luka, namun agar diri ini bisa mengerti kondisi dan
dapat mengambil pelajaran.
Malam ini, adalah
malam kedua setelah perpisahan kami. Apakah keadaannya baik baik saja diseberang
sana? Oh, mungkin saja ia telah baik baik saja, sama sepertiku.
Perpisahan ini,
ah, kalau aku harus menjalani satu tahun kedepan tanpa kehadiran dirinya lagi,
mungkin saja aku sedih, mungkin saja aku hampa. Tapi, bagaimana lagi, itu
merupakan keputusannya. Baiklah, goodgirl comeback :v
Ya. Aku harus
menerima kenyataan itu, meski pahit. Setidaknya dalam hitungan jam, aku telah
dapat menerima kenyataan pahit itu. Keadaan memanglah sedang tidak baik baik
saja, namun untuk melakukan perpisahan, tentunya itu semakin membuatku tidak
baik baik saja. Perjalananku ke sekolah, ah, waktu itu, apa yang ada di dalam
dadaku sangatlah menganehkan. Serasa ada yang mengganjal, tapi bukan penyakit
ginjal (eh,ginjaldiperutyak:v).
Ada yang sesak, tapi bukan asma.
Kenyataan
ini bak pil pahit, yang harus kutelan agar sembuh dari suatu penyakit;
Kenyataan dan pil pahitnya adalah perpisahan, penyakitnya adalah
ketergantungan.
Merupakan sebuah
keputusan dari Salma juga, segala yang terjadi semenjak 25Ramadhan itu.
Keakraban itu, wah, sudah keputusan yang sangat beresiko yang dibuat oleh
Salma. Dan kini, ia juga membuat keputusan untuk berpisah. Ya, aku harus
menerimanya. Yang beresiko saja diambil, maka harusnya keputusan yang bersifat
mementingkan kebaikan untuk kedepannya, seharusnya kami ambil juga.
Lagipun, jika
saja aku memintanya untuk bertahan dalam kondisi seperti ini, aku juga tidak
memiliki hak apapun.
Baik
baik disana ya sal. Pesanmu untuk fokus belajar sungguh sungguh, ditambah lagi
dengan tidak pudarnya lagi namamu di hatiku, InsyaAllah akan kuusahakan.
~
ж
~
Bagaimana
manusia bisa dengan mudah mengikhlaskan, merelakan, dan melupakan, namun yang
diajari pada pembelajaran adalah semacam menghafal, mempertahankan, dan
melestarikan? Sungguh, banyak sekali kaidah kaidah materi pembelajaran yang
berbanding terbalik dengan permasalahan kehidupan yang harus dihadapi.
Pembelajaran yang seharusnya, realita kehidupan, seakan tergantikan dengan
materi matematika dan sains. Padahal, untuk sukses, bukan dengan nilai
matematika kita, namun cara kita mengelola kehidupan kita, cara kita menghadapi
segala realita kehidupan yang ada.
Semudah
itu cara membolak balikkan fakta, duhai para pelopor pendidikan.
~
ж
~
Aku memikirkan
hal tersebut, dan mensyukuri bahwa masih ada teman teman gilaku itu,
yang dapat menyembuhkan segala yang terjadi pada hatiku. Meski tidak ada mata
pelajaran yang mengkaji tentang cara merelakan, namun kehidupan jua terkadang
menjadi guru. “Alam takambang jadi guru”, kata orang minangkabau.
Ah,
Salma. Kamu menyuruhku untuk melupakan segalanya? Melupakan kita pernah chatan
bersama, hanya demi kebaikan (kefokusan) dalam membanggakan orangtua? Oh, tidak
bisa semudah itu ferguso. Disamping memang sulit, dengan adanya kenangan itu,
mungkin aku bisa patah, tapi patah tersebut bertujuan untukku tumbuh.
Bahkan ketika aku mengetahui bahwa WhatsAppku dihapus oleh orangtuaku, aku sempat lumayan down. Emm, orang tidak mengerti seberapa penting history chat pada aplikasi itu. Ah, kan kalau sekiranya kangen, bisa bacain ituh history :|
Dan kini, semuanya telah hilang. :(
Bahkan ketika aku mengetahui bahwa WhatsAppku dihapus oleh orangtuaku, aku sempat lumayan down. Emm, orang tidak mengerti seberapa penting history chat pada aplikasi itu. Ah, kan kalau sekiranya kangen, bisa bacain ituh history :|
Dan kini, semuanya telah hilang. :(
~
ж
~
Lamunanku
terhancurkan karena suara keras dari dalam asrama. Suara itu berupa perintah
yang harus dilaksanakan, seperti “TIDUR LAGI WOI!!!”
Aku yang sedari
tadi merenung diluar asrama, terkejut dan lari kedalam. Sebelum “sensei” (julukan
kami terhadap ust Maarief Rachman, aowkoawkoawoakawok) melakukan sesuatu yang
tidak-tidak. Sebelum amarah meledak. Haha.
Aku, ketika ada
jadwal tidur, secepatnya aku bersiap segera untuk berwudhu, gosok gigi, (oiya
skincare jgk awokaowkaowok) dan naik ke atas dipan.
Pastinya
sebagai manusia aku ngehalu dulu, baru tidur. Haha.
Aku terbangun
karena Wafiq Azani menutup pintu kamar mandi. Dia kembali tidur. Kulihat
sekeliling, hanya aku sendiri yang terbangun. Mudah sekali aku bangun, haha.
Memang, sejak di asrama, aku selalu bangun di awal. Apalagi dengan teman teman
asrama sekarang, aku selalu bangun pertama.
Tanpa
mempedulikan apapun, aku tancap gas saja. Kuambil handuk yang terpasang rapi
pada hanger yang tergantung itu. Menuju kamar mandi, dan mandi di dalam WC,
sesuatu yang dilarang di ikhwah. Haha. Bahkan semenjak balek dari libur
corona ini, aku selalu mandi di dalam WC, tanpa diketahui orang :v skillnya ada
doong :v
Seusai mandi, kupakai baju yang baru kuterima kemarin, yakni baju jersey
yang kutunggu tunggu sedari Desember tahun lalu. Dingin sekali, kulapisi dengan
sweater berlabel SLVHX. Sekaligus pakai sarung, supaya nanti kalau azan, sudah
ready untuk ke masjid.
Kuambil buku Catatan Juang karya Fiersa Besari, lalu
melanjutkan bacaanku yang sedikit lagi selesai, padahal baru memasuki hari
ketiga.
Aku duduk di kursi panjang depan asrama tengah, lumayan lama juga daku
membaca buku disana. Bercak bercak tapak kaki anjing (hewan)
terlihat di sepanjang teras. Aku semakin yakin bahwa
diriku adalah orang yang pertama bangun di antara seluruh penduduk Alkahfi,
setelah menunggu lama sekali, dan orang belum bangun jua.
Kira kira setengah jam sudah berlalu semenjak aku mulai duduk di kursi
itu. Semakin aneh saja, satu orangpun tidak ada yang keluar dari asrama
manapun. Lampu asrama juga belum nyala sedari tadi. Ah, aneh sekali. Pertanyaan
tentang waktu baru muncul di benakku pada saat itu. (jam
asrama kami abis batre waktu tu) Aku menuju lemari
Rayhan AlZalkis, lalu merogoh permukaan atas lemarinya. Nah, ketemu juga.
Kuhidupkan lampu jam tangannya, dan aku sangatlah terkejut melihat bahwa jam
masih menunjukkan pukul satu lewat empat puluh dinihari.
Astaghfirullah,
berarti daku tadi mandi sekitar jam satu malam?!?!?!
Alamakk
:v kebiasaan rumah kebawa-bawa :v
~
ж
~
Sore yang murung, dilengkapi awan awan yang makin menggelapkan
dirinya. Tak terasa hujan telah mengetuk atap rumah Allah yang kami tumpangi
untuk shalat, dan secepat kilat—membasahi dan menerjang apa saja yang
menghalanginya.
Seusai kegiatan shalat ashar, seperti biasanya kami tilawah dua lembar
terlebih dahulu. Ketika seru serunya membaca, Ustadz Isran maju; bersandar di
pojok masjid. Didekatku.
Dia berseru, “Ini ustadz bacain kelompok ustadz...!”
Memang,
masa masa seperti ini adalah masa rolling kelompok tahfidz.
Aku tidak memperdulikannya, karena daku selalu ditempatkan di kelompok
yang dibimbing Ustadz Firdaus melulu, bersama bintang bintang dalam bidang tahfiz
lainnya.
Namun,
takdir berkata lain.
“selanjutnya,
Thariq..,”
Hah,
apah? Namaku dipanggil? Aku tidak yakin.
Tapi
Ariq, yang duduk disampingku, mengatakan bahwa benar adanya aku ditempatkan
pada kelompok ustadz Isran.
Sebenarnya
beberapa orang dari eks-kelompokku akan sujud syukur kalau mendengar bahwa
mereka keluar dari kelompok bertarget tinggi itu. Namun, aku tidak baik baik
saja. Ini masalah harga diri.
Beberapa teman dari eks-kelompokku kemarin, keluar dari kelompok itu,
ditempatkan pada kelompok ust Muhsin, dan itu juga kelompok menengah keatas.
Namun, aku?
Kelompok ust Isran adalah kelompok terbawah, biasanya.
Holy shit.
Bayangkan saja, teman temanku, Fauzi, YUDHA(astaghfirullah),
ReyhanGusti, Arkan!
Arkan, aku pernah mendengar kabar dari teman sedipanku, ketika dites
hafalan surat Al-Falaqnya oleh ust pembimbing tahfiznya kemaren, dia tidak
hafal!
A’udzubillah,
mengapa aku ditempatkan disitu wahai manusiaaaa!
~
ж
~
Lumayan banyak juga yang mengomentari kepindahan kelompokku.
Rayhan AlZalkis: “Kelompok antum tu golongan apa ya? Antum aja yang
nampaknya ‘pro’ disitu” (hiyak:v)
Luthfi: “Kenapa disitu antum tu? Yudha pulak temen antum?
Astaghfirullah. Ngapa ampe segitunya? Dari kelompok teratas sampai terbawah”
Banyak tanggapan lain. Sedangkan Ariq, dia mengerti keadaanku. Dia
sepertinya memilih untuk tutup mulut, tidak komen apapun dihadapanku. Dia hanya
tersenyum pahit, mirip kolaborasi antara senyum prihatin dan tidak tega. Hahah.
~
ж
~
Pahit sebenarnya, melihat kelompok ustadz Firdaus bersama sama lagi
tanpa kehadiran diriku di dalamnya. Sebenarnya tidak apa apa, namun gengsiku
mengamuk—lebih dari yang kalian tahu. Bahkan, seorang yang menurut seluruh
teman-temanku bacaannya selalu salah, eh, ditempatin di kelompok ustadz Firdaus.
Akhirnya
aku memutuskan untuk mencoba melihat dari sudut pandang lain.
Ya,
setidaknya aku tidak pernah lagi tertekan oleh target yang ada. Tidak akan
pernah lagi terancam tidak pulang gara gara target hafalan. Begitulah. Waktu
akan menunjukkan penyebab mengapa itu terjadi, namun untuk sekarang, syukuri
saja. Mungkin teman yang ada disini; tempat baru ini, lingkaran yang diridhai
ilahi ini, bukanlah teman yang dapat dicontoh dan dijadikan teman terbaik,
namun aku harus selalu mensyukurinya. Tidak ada ruginya jika kita mengambil
pelajaran dari orang seperti itu.
Lalu,
seberes itu, aku mencoba untuk mengintrospeksi diri ini.
Aku menemukannya, diantara jutaan memori yang tersisa di kepalaku.
Mungkin target hafalanku hampir selalu tercapai, namun ada suatu gambaran
memori di kepalaku, dimana aku bercanda dengan Safwa, meribut. Tidak sekali dua
kali. Mata ustadz Firdaus sangat tajam padaku di waktu-waktu itu.
Oke, aku juga punya salah, dan mungkin bukan kesalahan kecil.
~
ж
~
Ya, kini aku telah terbiasa dengan lingkungan kelompok yang seperti ini.
Arkan, kau tanya dia?
Hahaha. Entah apa yang menyambetnya setelah libur kemarin, sehingga dia
tidak pernah macam macam lagi padaku. Mungkin dia tetap saja brengsek di mata
orang, tapi bagi mataku; sudah berkurang.
Pemikirannya yang diceritakan olehnya padaku sedikit perlu diberi applause,
seperti dia teringin pindah sekolah karena ibunya kesusahan mencari nafkah.
Tapi, ibunya malah tidak mau anaknya pindah.
Ah, sudahlah. Lupakan saja. Namun ada satu percakapan.
Satu
momen yang spontan membuatku merasa sedikit aneh.
~
ж
~
Aku melepas sweaterku pada malam hari itu, sambil berjalan menuju
dipanku.
Berpas-pasan
dengan arkan yang lagi berlagak seperti wanita, (na’udzubillah aowaokaokwoawk)
(hoodie ditutup rapat di kepala, trus pake kacamata, abistu ngelenggaklenggok di tengah asrama dengan dua jari telunjuknya yang menempel di pipi) aku teringat pembicaraanku
dengan Nabiila dan Salma, tatkala mereka merasa sangat terganggu dengan
bertemunya ikhwah dan akhwat Alkahfi, mengatasnamakan Cahaya Makkah.
Sebenarnya aku ingin menanyakan keterangan tentang itu, dan kebetulan
pula dia sedang seperti itu. Aku tidak ingin menanyakannya secara langsung pada
pembicaraan, namun karena aku sangat mengenalinya, (esede kan deket-_) dia
pasti akan menceritakan segalanya meski aku baru memancingnya sedikit.
“Eh,
Arkan, ituh kacamata yang antum pake di story antum tu, punya siapa yak?”
“Hah?”
“Engga..
kemaren ada engga, dateng ke rumah cica?”
“Oooh
itu... hahaa banyak yang komen tu... (mulai mengecil suaranya, karena dipanku
kan deket ust Abdur) Diana,.. trus
Salma”
Mulutnya
sama sekali tidak bersuara saat menyebut nama Salma. Mungkin jika Salma tidak
cerita padaku tentang itu, aku tidak akan mengerti isyarat mulut arkan. Tapi,
waktu itu, tanpa perlu diulangi, aku langsung saja mengerti.
“Apa
katanya?”
“Sini
dulu aaa... (menarikku ke tengah asrama)”
“Awalnya
dia buat,’Assalamu’alaikum’ trus ditanyanya, ‘ini arkan cm ya?’
trus
ana jawab ‘iya, trus arkan mana lagi’”
“Terus?”
“Dia
bilang ‘save ya:)’ gitu.. terus ana jawab lah, ‘udah lama’...
Trus dia buatnya tuh engga di chat gitu... pake story, trus klo ana udh
baca, langsung dihapusnya aja.. jadi seakan buat itu aja nyh. Lagipula kan,
biasa aja... ana kan bincang gitu ga pake perasaan... Trus ana tanya kan.., ‘siapa
yang megang handphone sekarang ni?’ trus dijawabnya di story tu,’yang megang
sekarang itu Salma’.”
Cerita dari Arkan jauh lebih panjang, namun aku tidak ingat dan tidak
ingin ingat lebih jauh. Lisanku sangat ingin mengatakan segalanya, tentang perbedaan cerita, dan chat itu, tapi aku lebih memilih untuk menepati janjiku, serta mengunci rapat rapat mulutku. Sehingga, yang keluar hanyalah senyuman pahit. Malam itu, aku rencananya menghabiskan waktu dengan
buku Catatan Juang. Tapi, entah mengapa tanganku agak gemetaran setelah
mendengar cerita itu.
Mengapa
jalan ceritanya beda?
Mengapa?
Aku tidak habis pikir.
Mengapa?
Aku tidak akan cemburu ataupun marah jika kalian berkomunikasi. Lagipula
kan, aku ini siapa, coba’?
Tapi,
apa salahnya sih, jujur? Bahkan diceritamu, dia yang minta save. Tapi, dengan
bukti itu, dimana arkan juga diperlakukan seperti itu olehmu. Memakai privacy
story, ah, entah mengapa aku jadi yakin pada cerita arkan gara gara poin itu
Seketika aku teringat sebuah quotes, "Jangan merasa dispesialkan! Dia mungkin saja memperlakukan anda, sama saja, seperti itu pula kepada yang lain."
Seketika aku teringat sebuah quotes, "Jangan merasa dispesialkan! Dia mungkin saja memperlakukan anda, sama saja, seperti itu pula kepada yang lain."
~
ж
~
Ah, sudahlah. Aku tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Sudah mampu
diriku untuk mengikhlaskan masalah yang ada. Haha. Tidak apa apa. Lagipula,
belum tentu itu benar. Sampai saat ini, daku kan juga belum tahu siapa yang
benar dan salah. Atau bahkan, akunya saja yang salah? Yasudahlah. Salahkan aku
saja.
Aku
masih berusaha :)
Seni
Untuk Bersikap Bodoamat pada diriku, mungkin telah lebih tajam oleh kejadian
kemarin, atas keputusanmu itu. Bukunya pun telah usai kubaca :) Jadi, aku lebih
mudah untuk mengikhlaskan, dan memandangnya secara sudut pandang lain.
Lagipula, aku tidak ingin kesalahan di masa lampau terulang kembali, dengan
poin Su’udzhon. Dan merupakan sebuah prestasi, dalam hitungan menit, aku kembali stabil, seolah tidak ada masalah apapun, dan melanjutkan membaca.
Daun
yang jatuh tak pernah membenci angin.
Dia
membiarkan dirinya jatuh begitu saja.
Tak melawan. Mengikhlaskan semua.
~Tere
Liye dalam salah satu bukunya.
Maka,
daun saja bisa, apakah dengan begitu,
Kita,
sebagai manusia akan menjadikan semua masalah yang datang
masalah besar? Tentu tidak bisa. Derajat kita lebih tinggi.
~
ж
~
Intinya, dalam beberapa hari ini, banyak sudah yang terjadi. Belum
sampai seminggu setelah perpisahan manis kita itu, tapi sudah banyak yang ingin
kuceritakan. :)
Aku mungkin sedih waktu berpisah denganmu, dan mungkin selanjutnya juga
seperti itu, tapi aku sendiri juga tahu bahwa hal yang seperti itu merupakan tidak
baik. Lagipun, dengan adanya perpisahan seperti ini, tertutup kemungkinan atas
kecewanya lagi engkau pada diriku atas beragam kesalahan yang kubuat.
Mungkin aku sedikit kecewa tanpa kejelasan waktu itu, tapi yasudahlah,
aku juga tidak berhak untuk kecewa. Yeeee akhirnya aku juga yang kecewa :v
Aku
letih, aku capek, tapi aku baik baik saja :)
Maaf, emang gaje nih tulisan. Otak saia maintenance sekarang aaa :v
Lagipula kan ituh saia udh keluar dari keadaan down gitu,
jadi kurang maksimal dalam mengetik ni :v
Selesai diketik pada tanggal 22 07 '20, jam 23.39 malam.
Ga terbiasa lage saia, nulis di kertas :v liatnya aj udh gaenak :v
jadi mumpung dirumah, ane selesaikan :v
jadi mumpung dirumah, ane selesaikan :v
(privasi
rahasia kita itu? Ah, tenang saja, aman :))
(tambahan) Ah, baru saja aku mempublikasikan artikel ini, dan aku terlelap. Dia kembali hadir di mimpiku. Jiahhh :v Hadoooooh :v










Komentar
Posting Komentar