Langsung ke konten utama

ALTRE SEPARAZIONI DOLCI


Aduh!

Tanganku terasa sedikit mendenyut selepas berbenturan dengan meja kamarku. Seketika akupun terjaga dari tidur lelapku. Entah bagaimana caranya, aku tiba tiba terbangun di atas lantai kamarku, dengan dada yang lumayan sesak dikarenakan tidur tengkurap pada lantai. Padahal, seingatku tadi malam aku terbang melayang bersama seluruh mimpi, itu di atas kasur.

  Ah, akupun mengangkat badanku, dengan mendahulukan dada yang cukup ”ngeh” ini.

Aku menengok ke arah jam, ternyata jarum pendeknya menunjukkan jam dua belas. Aku senang, karena aku dapat melakukan kegiatan malam dalam waktu yang lebih lama. Namun kesenangan itu, mau tidak mau harus tanpa suara, sebab seluruh penghuni rumah telah tertidur.

Kemudian, aku melanjutkan ketikan berjudul “About heart” itu. Sebentar saja, ia telah rampung kuselesaikan. Memang, artikel itu tinggal dipoles sedikit lagi untuk siap dipublikasi.

Oh, whatsappku masih saja menyala di depan, dan hotspotnya juga masih menyala. Meski handphonenya telah diamankan. Jadi, aku dapat menggunakan whatsapp dari kamarku, melalui laptop.

  Ya, jam delapan tadi, percakapanku dengan Salma adalah tentang “sesuatu” yang teringin dikatakannya. Ah, firasatku buruk tentang itu. Dirinya juga mengatakan bahwa “Kalau tulisan di blog itu selesai, beritahu”. Seusai beberapa saat, aku mengatakan bahwa artikel tersebut telah dipublikasi, serta beberapa hal lain yang kubicarakan.

(Itu terjadi pada 16 Juli dirihari.)
~ ж ~

Detik ini, detik ke dua belas pada jam 00.00 di hari Rabu, 22 Juli 2020. Aku pulang. Sadar tidak, aku keluar kawasan sekolah? Ahaha. Aku pulang dikarenakan ada beberapa urusan yang harus dilakukan.

Semrawut sekali otakku sekarang. Tiada kata kata indah yang dapat dikeluarkan dari otakku kini. Haha. Aku di rumah sampai 23 Juli, berarti hari ketiga, aku kembali ke asrama.

~ ж ~

#BacktoLaptop

Kegabutan pada malam hari itu, malam 16 Juli 2020 tersebut, mengantarkanku pada terjaganya diriku pada pagi harinya, jam empat kurang. Jadi, pagi itu adalah 17 Juli 2020. Ah, itu adalah hari dimana aku akan kembali ke sekolah setelah empat bulan di rumah.


Aku mencoba mencari handphone, sambil mencari tahu apakah benda itumasih di dalam kamar orangtuaku ataukah tidak. Dan nahas, itu masih saja di dalam kamar orangtuaku sejak tadi malam. Seharian kemarin, aku sama sekali tidak mengecheck whatsappku, karena kondisi yang tak memungkinkan.

Ah, setidaknya aku dapat menunggu sampai semuanya bangun, orangtuaku keluar dari kamarnya, dan aku bisa mengambil benda tersebut dan mengaktifkan aplikasi whatsapp.

~ ж ~

Begitu ada kesempatan, secepat kilat kusambar ponsel itu, hanya untuk mengaktifkan whatsappnya, dan kembali ke kamarku kemudian membuka whatsapp web di laptop lenovo itu.

Kulihat ada limapuluh empat pesan dari Salma. Wah, angka yang sangat fantastis. Haha.

Firasatku sudah sangat buruk tentang itu. Ah, aku bahkan tidak ingin buru buru membukanya. Aku mendahulukan membuka pesan dari yang lain, seperti bia, dan whatsapp group lain yang ada. Bukan berarti mengakhirkan karena tidak penting, namun aku takut. Really.

Aku menghela napas sedalam mungkin, seraya berharap itu bukanlah semacam kata kata perpisahan darinya. 

Dan, benar saja. Ah, sesuatu itu benar. Pemikiranku tidak salah. Dugaanku tidak meleset.

~ ж ~

Mantap sal. Mantap.

Dua tahun tanpa apapun, dan kini kau benar benar mengakhirinya kembali.

Dan... kau mengatakan bahwa kita tinggal setahun lagi di Alkahfi kan? Haha. Iya. Setahun lagi kita saling mengenal. Selanjutnya entah.

  Lalu engkau memutuskan untuk mengatakan “cukup sudah”?

  Ah, aku tidak mengetahui apa yang ada di hatiku pada kala itu.

Bukankah lebih baik tanpa perpisahan, jadi ketika ada yang teringin dikatakan, bisa langsung tanpa memulai kembali.

Aaaah! Aku tidak mengerti!

Mungkin saja keadaan sedang tidak baik baik saja, tapi, apakah jalan terakhirnya adalah berpisah?

Ahsudahlah.


Setidaknya bukan pergi. :)

~ ж ~

Fajar masih belum begitu jelas terlihat, namun kondisiku telah muram seperti ini. Benar benar telak sesuatu itu memukulku, seakan akan aku terhempas jauh olehnya ke ujung dunia bagian lain.

Setahun lagi tanpa kehadirannya. Wow, sangat mengejutkan. Lalu, setelah ini, apa artinya aplikasi whatsapp pada handphone itu?

Aku tidak langsung menjawab, karena rasa sesak yang ada. Lagipun, dia jua telah mengatakan, tidak usah dijawab.

Aku shalat shubuh bersama segala perasaan yang campur aduk, dan ada sesuatu yang benar benar merasuki tubuhku. Tidak perduli bagaimana tentramnya fajar pagi itu, namun yang jelas, I’m not okay :(

Aku menyesal. Aku menyesal tidak berusaha secara penuh dalam mengambil handphone tadi malam, meski aku juga kangen. Sekarang, dia pun telah memutuskannya. Ditambah lagi aku yang tidak dipersilahkan untuk menjawab. Apakah lima puluh empat pesan itu adalah pesan terakhir diantara kita? :|

~ ж ~
 
Dia berkata bahwa tidak usah dijawab, namun ego serta logikaku mengatakan, lebih baik dijawab. Ego selalu menuntunku untuk seperti itu, untuk selalu dekat dengannya. Tapi, kali ini logika memihak pada ego; lebih baik dijawab. Seolah olah logika mengatakan;,

“Come on, Thariq. Kamu juga menginginkannya. Bukankah kamu menginginkan perpisahan yang manis? Bukan seperti ini caranya. Tidak baik untuk diam di tempat dan meratapi segalanya untuk sekarang. Bangkitlah dan raih handphonemu. Ada banyak cara lainnya. Tak usah pikirkan kata kata dia yang menyeru untuk tidak menjawabnya, karena seumur umur kamu baru sekali mendapat lima puluh empat pesan darinya. Bukankah kamu tidak menginginkan, orang yang mengakhiri segalanya adalah dia? Pasti bukan. Kamu telah memikirkannya sejak sepekan lalu, dan itu memang benar benar terjadi sekarang. Lantas, untuk apa kamu harus terpukul dan bersedih seperti ini? Bukankah kamu juga tidak terkejut mengenai keputusannya? Bukankah kau telah menduganya? Sudahlah. Ayo, Thariq, Bangkit! Gunakan diriku untuk berpikir. Bukannya dia mengatakan, “Setelah kembali ke sekolah” ??! Berarti sekarang masih masanya kamu untuk berkata kata, setidaknya lastword telah kau esahkan! Gunakan kesempatan yang tersisa untuk menjadikan ini perpisahan yang termanis, Thariq Almas Neil Authar!”

Jemariku sudah berkumpul, membentuk sebuah kepalan semangat. Alangkah lebih baiknya jikalau diriku tidak menjawabnya melalui chat langsung, sebab tidak sopan namanya jikalau kita tidak mempedulikan kata kata orang. Maka dari itu, aku kembali menggunakan fitur private story. Sudah lama sejak diri ini menggunakan fitur tersebut guna berbicara dengannya.

Bisa dibilang, diriku mengucap Last Word padanya. Ah, aku banyak sekali berterima kasih padanya, dan sampai kinipun, aku masih tetap bersyukur bahwa kita pernah bersua kembali seperti kemarin. Terima kasih Salma.





Banyak sekali hal yang teringin kukatakan, Sumpahh! tapi jariku akan gemetaran jika mengatakan semuanya. 

  Maka, yang dapat kukatakan padamu hanyalah Terima kasih dan terima kasih.
Serta maaf :)




~ ж ~

Sembari bersiap siap dalam rangka kembali ke asrama, kunyalakan laptop berwarna biru muda itu. Logo acer terpampang jelas pada punggung laptopnya. Sudahlah Thariq, usahlah dirimu promosi laptop. Hehe :v.

Ah, sudah dilihat!

Perlu waktu juga untuk dilihat olehnya. Entah itu karena hotspot yang belum jua didapat, atau dia masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya yang membuatnya tidak sempat. Aku? Aku biasa memakai hotspot dari kakakku. Meski ayahku pergi ke kantor, aku masih bisa berselancar di internet.

Dia menjawabnya dengan pertanyaan, “Siapa saja yang bisa membaca blog ini?”

Aku yang sudah hanya bisa memakai laptop, tidak bisa lagi buat story, mereply itu dari jalur chat biasa, dengan alasan “tak dapat memakai fitur story”. Akhirnya kami bisa berkomunikasi lagi.

Kami kembali bercerita dan bercanda, dan pada akhirnya aku harus pergi. Aku harus pergi ke asrama. Apakah cocok jikalau kepergianku ini dinamakan “meninggalkan”? Tentu tidak. Aku tidak benar benar meninggalkan, hanya saja kondisi sekarang ini, membuat “tidak memungkinkan” untuk melanjutkan. Ya, selalu begitu. Kita, manusia, selalu menyalahkan keadaan yang ada. Syukuri saja, Thariq!

Terima kasih salma, terima kasih. Entah berapa ungkapan terima kasih yang perlu kukeluarkan detik ini. Kau telah membuatku bahagia akhir akhir ini, dan setidaknya ketika kita pernah bersama dahulu, aku juga bahagia bersamamu. Langkah yang kita ambil, semoga tidak salah. Dan semoga Allah mempertemukan kembali langkah kita.


~ ж ~

Rasa takutnya lebih besar?

Aku tidak seharusnya seperti ini.

Kalau “rasa”nya tidak mendominasi, untuk apa aku melakukan segalanya?

Cih, ayolah thariq, kamu mungkin menyukainya, mencintainya, namun tidak usah keterlaluan. Dia saja tidak begitu. Biasa sajalah.



Sudah seharusnya aku memikirkan hal itu sejak pertama kali melihat pesan tersebut. Oh, bukan, melainkan aku telah mengoceh semacam itu ketika tengah membacanya untuk pertama kali. Itu semacam seni menghibur diri dan “melawan” akan kesedihan yang datang.

~ ж ~

Aku melangkahkan kaki kanan ke dalam ruangan asrama, sambil menghela napas panjang. Terdapat banyak teman yang sedang beberes di dalam ruangan tersebut.

Dan disinilah kegilaanku dimulai kembali.

Aku menyeru ke arah dalam, “Ada yang rindu ke ana?!?!

Semuanya menyahut dan menjawab seakan mengejekku. Haha. Memang sudah tradisi kami seperti itu, dan kami tidak lagi merasa tersinggung diperlakukan seperti itu.

Aku memang seperti itu, orangnya tidak boleh dibiarkan sendirian, jika sedang bersedih. Aku, kalau sudah bersama teman temanku, mengobrol bersama, seakan tidak sedikitpun terdapat kesedihan padaku. Canda tawa itu, ah, selalu menghiburku, dan sangat membantu dalam melupakan masalah itu sejenak, bahkan bisa memudar untuk selamanya. Kalau sudah berkumpul bersama, bisa bisa perut kami bisa sakit karena tertawa.

~ ж ~

Jam dzhuhur, kami shalat jum’at di dalam masjid annur, dan sorenya aku langsung menjadi imam shalat ashar berjama’ah. Belum mencapai giliranku, namun asatidz mempersilahkanku untuk melangkah ke depan, mengimami ratusan orang di belakangku.

Ya, aku adalah satu dari enam imam tetap Masjid Annur Alkahfi, Rimbo Binuang.
 
(sombongsekaleekaubambang:v).

~ ж ~

Adzan shubuh akhirnya berkumandang, setelah terlambat gara gara tidak ada yang dapat memberanikan diri untuk maju dan mengambil mikrofon. Yaa setelah beberapa lama, akhirnya ustadz BK menunjukku untuk kedepan. Aku? Maju saja. Tidak perduli dengan akhwat yang tidak ada di sekolah pada shubuh kali itu. Emm, ya, banyak ikhwah yang MPO kepada akhwat dengan peran yang dimainkan melalui mikrofon.

Do’a setelah shalat begitu jua, aku juga yang maju kedepan.

Waduuuh ustadz Hafia Akbar juga menunjukku agar memimpin Alma’tsurat pagi. Mau tidak mau ya harus dipatuhi, lagipula diriku juga teringin. Hehe. Cuma, ya, suara sudah agak letih setelah dua peran sebelumnya.

Memang, dua tahun disini, aku tidak terlalu MPO dengan akhwat, karena tidak tahu siapa yang harus kutarik perhatiannya. Haha. Yaa, jadi aku tidak apa apa juga, kalau tidak ada akhwat di seberang. :v

Dan kau hadir, merubah segalanya
(Lebih Indah-Adera)

~ ж ~

Seberes mengerjakan bermacam hal, bisa dibilang beres beres, mencuci pakaian, berembuk bersama pembina osis yang baru, dan lainnya, aku memutuskan untuk tidur. Mungkin keinginanku (bersama puluhan ikhwah gen2 lainnya:v) untuk melihat akhwat yang datang juga ada, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku lebih baik berbuat kebaikan untuk diri sendiri, salah satunya dengan memperhatikan dan menuruti keinginan tubuhku yang lelah ini. Aku tidur, tanpa melihat apapun yang ada di depanku. Sebenarnya dipanku selurus dengan jendela yang tembus pandang, tapi, yang penting bobok! :v

~ ж ~

Malam harinya, tidak ada kegiatan yang begitu berarti. Hanya saja, asrama lain tengah mengikuti rapat asrama, sedangkan asrama kami yang super “wow” itu, hanya bersantai santai dan berbincang bersama. Sesekali kurasa perlu untuk menyendiri, dan merenungi serta menerawang apa yang telah terjadi. Diriku seakan melupa. Segala yang terjadi, kurelakan saja. Aku telah memasrahkan semuanya kepada-Nya, hingga lupa apa yang terjadi beberapa waktu lalu adalah sebuah masalah besar dan dapat menimbulkan keterpukulan, jika saja aku tidak bersama teman teman. Tak bisa dipungkiri, bahkan disela-sela canda tawa yang terjalin, aku masih dapat merasakan rasa sakit itu, meski perlahan pudar. Mungkin inilah saatnya diriku mengingat, dan menebalkan kembali apa yang telah pudar. Bukan untuk menyiksa diri sendiri atas segala luka, namun agar diri ini bisa mengerti kondisi dan dapat mengambil pelajaran.

Malam ini, adalah malam kedua setelah perpisahan kami. Apakah keadaannya baik baik saja diseberang sana? Oh, mungkin saja ia telah baik baik saja, sama sepertiku.



Perpisahan ini, ah, kalau aku harus menjalani satu tahun kedepan tanpa kehadiran dirinya lagi, mungkin saja aku sedih, mungkin saja aku hampa. Tapi, bagaimana lagi, itu merupakan keputusannya. Baiklah, goodgirl comeback :v

Ya. Aku harus menerima kenyataan itu, meski pahit. Setidaknya dalam hitungan jam, aku telah dapat menerima kenyataan pahit itu. Keadaan memanglah sedang tidak baik baik saja, namun untuk melakukan perpisahan, tentunya itu semakin membuatku tidak baik baik saja. Perjalananku ke sekolah, ah, waktu itu, apa yang ada di dalam dadaku sangatlah menganehkan. Serasa ada yang mengganjal, tapi bukan penyakit ginjal (eh,ginjaldiperutyak:v). Ada yang sesak, tapi bukan asma.

Kenyataan ini bak pil pahit, yang harus kutelan agar sembuh dari suatu penyakit; Kenyataan dan pil pahitnya adalah perpisahan, penyakitnya adalah ketergantungan.

Merupakan sebuah keputusan dari Salma juga, segala yang terjadi semenjak 25Ramadhan itu. Keakraban itu, wah, sudah keputusan yang sangat beresiko yang dibuat oleh Salma. Dan kini, ia juga membuat keputusan untuk berpisah. Ya, aku harus menerimanya. Yang beresiko saja diambil, maka harusnya keputusan yang bersifat mementingkan kebaikan untuk kedepannya, seharusnya kami ambil juga.

Lagipun, jika saja aku memintanya untuk bertahan dalam kondisi seperti ini, aku juga tidak memiliki hak apapun.




Baik baik disana ya sal. Pesanmu untuk fokus belajar sungguh sungguh, ditambah lagi dengan tidak pudarnya lagi namamu di hatiku, InsyaAllah akan kuusahakan.



~ ж ~

Bagaimana manusia bisa dengan mudah mengikhlaskan, merelakan, dan melupakan, namun yang diajari pada pembelajaran adalah semacam menghafal, mempertahankan, dan melestarikan? Sungguh, banyak sekali kaidah kaidah materi pembelajaran yang berbanding terbalik dengan permasalahan kehidupan yang harus dihadapi. Pembelajaran yang seharusnya, realita kehidupan, seakan tergantikan dengan materi matematika dan sains. Padahal, untuk sukses, bukan dengan nilai matematika kita, namun cara kita mengelola kehidupan kita, cara kita menghadapi segala realita kehidupan yang ada.

Semudah itu cara membolak balikkan fakta, duhai para pelopor pendidikan.

~ ж ~

Aku memikirkan hal tersebut, dan mensyukuri bahwa masih ada teman teman gilaku itu, yang dapat menyembuhkan segala yang terjadi pada hatiku. Meski tidak ada mata pelajaran yang mengkaji tentang cara merelakan, namun kehidupan jua terkadang menjadi guru. “Alam takambang jadi guru”, kata orang minangkabau.

Ah, Salma. Kamu menyuruhku untuk melupakan segalanya? Melupakan kita pernah chatan bersama, hanya demi kebaikan (kefokusan) dalam membanggakan orangtua? Oh, tidak bisa semudah itu ferguso. Disamping memang sulit, dengan adanya kenangan itu, mungkin aku bisa patah, tapi patah tersebut bertujuan untukku tumbuh.

Bahkan ketika aku mengetahui bahwa WhatsAppku dihapus oleh orangtuaku, aku sempat lumayan down. Emm, orang tidak mengerti seberapa penting history chat pada aplikasi itu. Ah, kan kalau sekiranya kangen, bisa bacain ituh history :|

Dan kini, semuanya telah hilang. :( 

~ ж ~

Lamunanku terhancurkan karena suara keras dari dalam asrama. Suara itu berupa perintah yang harus dilaksanakan, seperti “TIDUR LAGI WOI!!!”

Aku yang sedari tadi merenung diluar asrama, terkejut dan lari kedalam. Sebelum “sensei” (julukan kami terhadap ust Maarief Rachman, aowkoawkoawoakawok) melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Sebelum amarah meledak. Haha.

Aku, ketika ada jadwal tidur, secepatnya aku bersiap segera untuk berwudhu, gosok gigi, (oiya skincare jgk awokaowkaowok) dan naik ke atas dipan.



Pastinya sebagai manusia aku ngehalu dulu, baru tidur. Haha.


Aku terbangun karena Wafiq Azani menutup pintu kamar mandi. Dia kembali tidur. Kulihat sekeliling, hanya aku sendiri yang terbangun. Mudah sekali aku bangun, haha. Memang, sejak di asrama, aku selalu bangun di awal. Apalagi dengan teman teman asrama sekarang, aku selalu bangun pertama.

Tanpa mempedulikan apapun, aku tancap gas saja. Kuambil handuk yang terpasang rapi pada hanger yang tergantung itu. Menuju kamar mandi, dan mandi di dalam WC, sesuatu yang dilarang di ikhwah. Haha. Bahkan semenjak balek dari libur corona ini, aku selalu mandi di dalam WC, tanpa diketahui orang :v skillnya ada doong :v

  Seusai mandi, kupakai baju yang baru kuterima kemarin, yakni baju jersey yang kutunggu tunggu sedari Desember tahun lalu. Dingin sekali, kulapisi dengan sweater berlabel SLVHX. Sekaligus pakai sarung, supaya nanti kalau azan, sudah ready untuk ke masjid.

  Kuambil buku Catatan Juang karya Fiersa Besari, lalu melanjutkan bacaanku yang sedikit lagi selesai, padahal baru memasuki hari ketiga.

  Aku duduk di kursi panjang depan asrama tengah, lumayan lama juga daku membaca buku disana. Bercak bercak tapak kaki anjing (hewan) terlihat di sepanjang teras. Aku semakin yakin bahwa diriku adalah orang yang pertama bangun di antara seluruh penduduk Alkahfi, setelah menunggu lama sekali, dan orang belum bangun jua.

  Kira kira setengah jam sudah berlalu semenjak aku mulai duduk di kursi itu. Semakin aneh saja, satu orangpun tidak ada yang keluar dari asrama manapun. Lampu asrama juga belum nyala sedari tadi. Ah, aneh sekali. Pertanyaan tentang waktu baru muncul di benakku pada saat itu. (jam asrama kami abis batre waktu tu) Aku menuju lemari Rayhan AlZalkis, lalu merogoh permukaan atas lemarinya. Nah, ketemu juga. Kuhidupkan lampu jam tangannya, dan aku sangatlah terkejut melihat bahwa jam masih menunjukkan pukul satu lewat empat puluh dinihari.

  Astaghfirullah, berarti daku tadi mandi sekitar jam satu malam?!?!?!

  Alamakk :v kebiasaan rumah kebawa-bawa :v

~ ж ~

  Sore yang murung, dilengkapi awan awan yang makin menggelapkan dirinya. Tak terasa hujan telah mengetuk atap rumah Allah yang kami tumpangi untuk shalat, dan secepat kilat—membasahi dan menerjang apa saja yang menghalanginya.

  Seusai kegiatan shalat ashar, seperti biasanya kami tilawah dua lembar terlebih dahulu. Ketika seru serunya membaca, Ustadz Isran maju; bersandar di pojok masjid. Didekatku.

  Dia berseru, “Ini ustadz bacain kelompok ustadz...!”

  Memang, masa masa seperti ini adalah masa rolling kelompok tahfidz.

  Aku tidak memperdulikannya, karena daku selalu ditempatkan di kelompok yang dibimbing Ustadz Firdaus melulu, bersama bintang bintang dalam bidang tahfiz lainnya.

  Namun, takdir berkata lain.

  “selanjutnya, Thariq..,”

  Hah, apah? Namaku dipanggil? Aku tidak yakin.

  Tapi Ariq, yang duduk disampingku, mengatakan bahwa benar adanya aku ditempatkan pada kelompok ustadz Isran.

  Sebenarnya beberapa orang dari eks-kelompokku akan sujud syukur kalau mendengar bahwa mereka keluar dari kelompok bertarget tinggi itu. Namun, aku tidak baik baik saja. Ini masalah harga diri.

  Beberapa teman dari eks-kelompokku kemarin, keluar dari kelompok itu, ditempatkan pada kelompok ust Muhsin, dan itu juga kelompok menengah keatas. Namun, aku?

  Kelompok ust Isran adalah kelompok terbawah, biasanya.
  Holy shit.

  Bayangkan saja, teman temanku, Fauzi, YUDHA(astaghfirullah), ReyhanGusti, Arkan!

  Arkan, aku pernah mendengar kabar dari teman sedipanku, ketika dites hafalan surat Al-Falaqnya oleh ust pembimbing tahfiznya kemaren, dia tidak hafal!

  A’udzubillah, mengapa aku ditempatkan disitu wahai manusiaaaa!

~ ж ~

  Lumayan banyak juga yang mengomentari kepindahan kelompokku.

  Rayhan AlZalkis: “Kelompok antum tu golongan apa ya? Antum aja yang nampaknya ‘pro’ disitu” (hiyak:v)

  Luthfi: “Kenapa disitu antum tu? Yudha pulak temen antum? Astaghfirullah. Ngapa ampe segitunya? Dari kelompok teratas sampai terbawah”

  Banyak tanggapan lain. Sedangkan Ariq, dia mengerti keadaanku. Dia sepertinya memilih untuk tutup mulut, tidak komen apapun dihadapanku. Dia hanya tersenyum pahit, mirip kolaborasi antara senyum prihatin dan tidak tega. Hahah.

~ ж ~

  Pahit sebenarnya, melihat kelompok ustadz Firdaus bersama sama lagi tanpa kehadiran diriku di dalamnya. Sebenarnya tidak apa apa, namun gengsiku mengamuk—lebih dari yang kalian tahu. Bahkan, seorang yang menurut seluruh teman-temanku bacaannya selalu salah, eh, ditempatin di kelompok ustadz Firdaus.

  Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba melihat dari sudut pandang lain.

  Ya, setidaknya aku tidak pernah lagi tertekan oleh target yang ada. Tidak akan pernah lagi terancam tidak pulang gara gara target hafalan. Begitulah. Waktu akan menunjukkan penyebab mengapa itu terjadi, namun untuk sekarang, syukuri saja. Mungkin teman yang ada disini; tempat baru ini, lingkaran yang diridhai ilahi ini, bukanlah teman yang dapat dicontoh dan dijadikan teman terbaik, namun aku harus selalu mensyukurinya. Tidak ada ruginya jika kita mengambil pelajaran dari orang seperti itu.

  Lalu, seberes itu, aku mencoba untuk mengintrospeksi diri ini.

  Aku menemukannya, diantara jutaan memori yang tersisa di kepalaku. Mungkin target hafalanku hampir selalu tercapai, namun ada suatu gambaran memori di kepalaku, dimana aku bercanda dengan Safwa, meribut. Tidak sekali dua kali. Mata ustadz Firdaus sangat tajam padaku di waktu-waktu itu.

  Oke, aku juga punya salah, dan mungkin bukan kesalahan kecil.

~ ж ~

  Ya, kini aku telah terbiasa dengan lingkungan kelompok yang seperti ini. Arkan, kau tanya dia?

  Hahaha. Entah apa yang menyambetnya setelah libur kemarin, sehingga dia tidak pernah macam macam lagi padaku. Mungkin dia tetap saja brengsek di mata orang, tapi bagi mataku; sudah berkurang.

  Pemikirannya yang diceritakan olehnya padaku sedikit perlu diberi applause, seperti dia teringin pindah sekolah karena ibunya kesusahan mencari nafkah. Tapi, ibunya malah tidak mau anaknya pindah.

  Ah, sudahlah. Lupakan saja. Namun ada satu percakapan.

  Satu momen yang spontan membuatku merasa sedikit aneh.

~ ж ~

  Aku melepas sweaterku pada malam hari itu, sambil berjalan menuju dipanku.

  Berpas-pasan dengan arkan yang lagi berlagak seperti wanita, (na’udzubillah aowaokaokwoawk) (hoodie ditutup rapat di kepala, trus pake kacamata, abistu ngelenggaklenggok di tengah asrama dengan dua jari telunjuknya yang menempel di pipi) aku teringat pembicaraanku dengan Nabiila dan Salma, tatkala mereka merasa sangat terganggu dengan bertemunya ikhwah dan akhwat Alkahfi, mengatasnamakan Cahaya Makkah.

  Sebenarnya aku ingin menanyakan keterangan tentang itu, dan kebetulan pula dia sedang seperti itu. Aku tidak ingin menanyakannya secara langsung pada pembicaraan, namun karena aku sangat mengenalinya, (esede kan deket-_) dia pasti akan menceritakan segalanya meski aku baru memancingnya sedikit.

  “Eh, Arkan, ituh kacamata yang antum pake di story antum tu, punya siapa yak?”
  “Hah?”
  “Engga.. kemaren ada engga, dateng ke rumah cica?”
  “Oooh itu... hahaa banyak yang komen tu... (mulai mengecil suaranya, karena dipanku kan deket ust Abdur) Diana,.. trus
  Salma”

  Mulutnya sama sekali tidak bersuara saat menyebut nama Salma. Mungkin jika Salma tidak cerita padaku tentang itu, aku tidak akan mengerti isyarat mulut arkan. Tapi, waktu itu, tanpa perlu diulangi, aku langsung saja mengerti.

  “Apa katanya?”
  “Sini dulu aaa... (menarikku ke tengah asrama)”
  “Awalnya dia buat,’Assalamu’alaikum’ trus ditanyanya, ‘ini arkan cm ya?’
  trus ana jawab ‘iya, trus arkan mana lagi’”
  “Terus?”
  “Dia bilang ‘save ya:)’ gitu.. terus ana jawab lah, ‘udah lama’...
   Trus dia buatnya tuh engga di chat gitu... pake story, trus klo ana udh baca, langsung dihapusnya aja.. jadi seakan buat itu aja nyh. Lagipula kan, biasa aja... ana kan bincang gitu ga pake perasaan... Trus ana tanya kan.., ‘siapa yang megang handphone sekarang ni?’ trus dijawabnya di story tu,’yang megang sekarang itu Salma’.”

  Cerita dari Arkan jauh lebih panjang, namun aku tidak ingat dan tidak ingin ingat lebih jauh. Lisanku sangat ingin mengatakan segalanya, tentang perbedaan cerita, dan chat itu, tapi aku lebih memilih untuk menepati janjiku, serta mengunci rapat rapat mulutku. Sehingga, yang keluar hanyalah senyuman pahit. Malam itu, aku rencananya menghabiskan waktu dengan buku Catatan Juang. Tapi, entah mengapa tanganku agak gemetaran setelah mendengar cerita itu.

  Mengapa jalan ceritanya beda?
  Mengapa?
  Aku tidak habis pikir.
  Mengapa?
 
  Aku tidak akan cemburu ataupun marah jika kalian berkomunikasi. Lagipula kan, aku ini siapa, coba’?

  Tapi, apa salahnya sih, jujur? Bahkan diceritamu, dia yang minta save. Tapi, dengan bukti itu, dimana arkan juga diperlakukan seperti itu olehmu. Memakai privacy story, ah, entah mengapa aku jadi yakin pada cerita arkan gara gara poin itu

  Seketika aku teringat sebuah quotes, "Jangan merasa dispesialkan! Dia mungkin saja memperlakukan anda, sama saja, seperti itu pula kepada yang lain."

~ ж ~

  Ah, sudahlah. Aku tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Sudah mampu diriku untuk mengikhlaskan masalah yang ada. Haha. Tidak apa apa. Lagipula, belum tentu itu benar. Sampai saat ini, daku kan juga belum tahu siapa yang benar dan salah. Atau bahkan, akunya saja yang salah? Yasudahlah. Salahkan aku saja.


Aku masih berusaha :)

  Seni Untuk Bersikap Bodoamat pada diriku, mungkin telah lebih tajam oleh kejadian kemarin, atas keputusanmu itu. Bukunya pun telah usai kubaca :) Jadi, aku lebih mudah untuk mengikhlaskan, dan memandangnya secara sudut pandang lain. Lagipula, aku tidak ingin kesalahan di masa lampau terulang kembali, dengan poin Su’udzhon. Dan merupakan sebuah prestasi, dalam hitungan menit, aku kembali stabil, seolah tidak ada masalah apapun, dan melanjutkan membaca.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.
Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja.
 Tak melawan. Mengikhlaskan semua.
~Tere Liye dalam salah satu bukunya.

Maka, daun saja bisa, apakah dengan begitu,
Kita, sebagai manusia akan menjadikan semua masalah yang datang
masalah besar? Tentu tidak bisa. Derajat kita lebih tinggi.

~ ж ~

  Intinya, dalam beberapa hari ini, banyak sudah yang terjadi. Belum sampai seminggu setelah perpisahan manis kita itu, tapi sudah banyak yang ingin kuceritakan. :)

  Aku mungkin sedih waktu berpisah denganmu, dan mungkin selanjutnya juga seperti itu, tapi aku sendiri juga tahu bahwa hal yang seperti itu merupakan tidak baik. Lagipun, dengan adanya perpisahan seperti ini, tertutup kemungkinan atas kecewanya lagi engkau pada diriku atas beragam kesalahan yang kubuat.

  Mungkin aku sedikit kecewa tanpa kejelasan waktu itu, tapi yasudahlah, aku juga tidak berhak untuk kecewa. Yeeee akhirnya aku juga yang kecewa :v

  Aku letih, aku capek, tapi aku baik baik saja :)





Maaf, emang gaje nih tulisan. Otak saia maintenance sekarang aaa  :v
Lagipula kan ituh saia udh keluar dari keadaan down gitu, 
jadi kurang maksimal dalam mengetik ni :v

Selesai diketik pada tanggal 22 07 '20, jam 23.39 malam.

Ga terbiasa lage saia, nulis di kertas :v liatnya aj udh gaenak :v
jadi mumpung dirumah, ane selesaikan :v


(privasi rahasia kita itu? Ah, tenang saja, aman :))



(tambahan) Ah, baru saja aku mempublikasikan artikel ini, dan aku terlelap. Dia kembali hadir di mimpiku. Jiahhh :v Hadoooooh :v

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

Tanpamu?

Gambar hanya pemahit :v awokawoawokawok   Manusia, pastilah punya sesuatu yang sangat berharga baginya. Selain Tuhan dan Agama, pasti ada juga. Pasti ada sesuatu yang jika tiada, akan membuat dia terpukul sekali. Baik itu harta, benda, cenderamata, ataupun manusia lainnya. Tak peduli berapapun rintangan yang akan dihadapi, Seorang manusia akan siap mempertaruhkan bermacam hal demi mendapatkannya.   Aku juga merupakan seorang manusia, yang punya hal yang berharga tersebut pula. Aku tak ingin ia pergi, tak ingin ia menghilang dari hidupku.   Dia adalah,   Hahaha, dah nebak ya?   Iya, tebakan kalian bener.      ~    Ж    ~   Hari hari berlalu tanpa dia. Rasanya berat sekali, namun mau tidak mau aku harus menjalaninya. Mau dipaksakan bagaimanapun, akan tetap begitu. Roda perputaran waktu akan terus berjalan seiring bergantinya masa. Kita tak punya hak untuk merubah tatanan qadha kita yang su...