Langsung ke konten utama

Condition Zero



  Malam ini, seperti biasanya, bintang gemintang bersembunyi dibalik awan awan yang lalu lalang begitu saja, seolah tak pernah perduli dengan apa yang ada di bawahnya. Manusia, seingin apapun untuk melihat bintang, takkan bisa memaksakannya.

  Harapan dan impian, kini laksana bintang gemintang yang sekarang. Mungkin kini masih tidak jelas, bahkan tidak kelihatan. Namun, memaksa untuk melihatnya bukanlah sesuatu yang memungkinkan. Sabar dan tawakkal adalah satu satunya jalan keluar dari permasalahan seperti ini.

  Malam ini, juga malam yang membuatku terus bangkit meraih impian yang ada. Lambat laun, hubunganku dengannya semakin baik saja, malah hampir akrab. Seluruh rasa sakitku selepas 25 Ramadhan  juga seakan lenyap, dan aku sangat mensyukuri itu.

  Tadi aku dan dirinya baru saja membicarakan tentang perjalanannya barusan, tatkala ia berkumpul dengan teman temannya. Aku juga menceritakan tertang susahnya diri ini untuk melawan hawa nafsu yang terus saja menggodaku untuk mengambil screenshot atas fotonya yang diunggah ke story Nabiila. Bukan begitu saja, entah mengapa aku merasa bahwa dia berusaha mencari topik pembicaraan dengan menanyakan;



  Sepele ya? Hahaha, itumah kalian. Aku rasa tidak begitu. Membaca hal yang semacam ini, adalah sebuah kegembiraan tersendiri bagiku, sampai sampai aku dapat dikatakan senyum senyum sendiri.. Duhai pembaca, merupakan sebuah prestasi kehidupan bahwa aku sampai pada titik ini. Aku tak pernah menduganya. Sebuah keanehan jikalau aku tidak takjub atas kondisi sekarang ini. Diriku di masa lalu mungkin akan tercengang jika mengetahui fakta itu akan terjadi di masa depan. Untuk sekedar menyapa saja, mungkin dahulu kami enggan. Namun sekarang, haha, entah bagaimana bisa terjadi.

  Kondisi ini juga menuntunku pergi meninggalkan rasa kekhawatiran yang tidak jelas akan masa depan. Rasa sakit yang kemarin meletup letup, kini hanyalah fakta sejarah saja. Aku ingin berlama lama dalam situasi seperti ini, namun jelas jelas itu bukanlah sesuatu yang memungkinkan. Aku harus betah dan bersyukur, setidaknya selama kondisi ini bertahan. Pun rasa gembira di hatiku, meski dosisnya mulai pasang selepas surut, namun aku harus tetap jaga agar tidak terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Memalukan, bukan? Kalau aku terlalu ngotot untuk berbincang dengannya. Engga bisa gitu juga kali. Gengsi tau :v Mungkin aku ingin berbincang dengannya setiap waktu, namun kurasa itu terlalu berlebihan baginya.

  Belajar menikmati kejadian hari ini, dan singkirkan semua keresahan akan masa depan. Ayolah, Thariq, kamu bisa!

Beberapa hari ini kurasa memang berjalan begitu luar biasa, karena disamping aku telah bisa berkomunikasi dengannya, aku juga bisa lebih dekat[akrab] dengannya. “Fantastis”, merupakan sebuah kata yang cukup bisa melambangkan kondisi akhir akhir ini. Itu kata perwakilan dari kondisi, bukan suasana hatiku. Ah, Bahkan diriku sendiri tak kuasa ‘tuk menakar rasa bahagia ini.

~  Ж  ~

Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Semenjak kejadian 25 Ramadhan itu, liburku seakan “mati” hingga kini. Tak ada lagi kebahagiaan yang begitu berarti bagiku selain hal hal yang menyangkut tentang dirinya. Aku jadi semakin merasa bahwa diriku semakin ketergantungan akan dirinya. Buktinya, detik ini, ketika kuotaku habis total, aku down entah mengapa. Tapi aku yakin, Rasa ini pasti tentang dirinya. Tak ada jalan lain selain mendekat pada-Nya. Lagi lagi ujungnya Allah jua. Oiya, kan Huwallahu Al-awwalu wal-Akhiru. Tak ada yang perlu diragukan lagi. No debat.

Benar benar, aku down sekarang. Kini obatnya tinggal satu; kehadiran seseorang bernama “Salma”. Namun, takde duwid buat beli paket :v

Akhir akhir ini aku berpikir, pada hari kemarin aku yang sangat mengharap akan kehadirannya kembali pada hidupku, namun kini malah diriku yang menghilang. Dasar aku.

  Maklumi ya. Aku tahu kita sama sama tidak menginginkan ini.

~  Ж  ~


Kan kejadian :)

Aku salah!

Hari ini, 22 Juni 2020, aku menyatakan bahwa apa yang kutulis kemarin merupakan sebuah kesalahan. Aku belum bisa bangkit, nak. :v

  Ternyata, setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada diriku, sebetulnya aku belum bisa bangkit dari perasaan khawatir atau apalah itu namanya. Aku merasa baik, hanya ketika aku dan dirinya tengah berkomunikasi. Jika tidak, ah, aku merasa down kembali. Comeback to Condition Zero!

  Kuakui, beberapa hari ini memanglah berat. Komunikasiku dengan Salma sangatlah jauh berkurang. Kini, di dalam ruangan gelap ini, aku kembali merindukannya. Haha, lucu ya. Baru saja tadi siang aku berbincang dengannya, namun sekarang aku sudah  tersiksa seperti ini.

  Terbesit hasratku, ingin menyampaikan untaian pesan singkat yang lumayan terkesan gajelas namun kurasa pesan itu, ah, tanda aku merasakan sebuah kerinduan.

  Namun, bagaimana cara?
  Kuota kan habis total?

  Kubuka aplikasi messenger, kunyalakan mode gratisnya. Lalu, aku mencoba melihat apakah Naufal online sampai detik itu, atau tidak. Tapi, sebenarnya tak perlu kupastikan pun, dia pasti online juga. Jam 00.00 kurasa masih permulaan malam baginya.

  Basa basi sedikit, lalu, kebetulan sekali dia menawarkan jasa titipkan pesan segera dikirimkan untuk Salma :v yaudah, ternyata dia ngerti :v

  Pesanku itu, kurasa memang agak aneh. Bukan ente saja yang merasa :v

  "Jangan mati dulu ya" :)



~  Ж  ~

  Oh, ternyata Salma sudah tidur. Aku pastinya maklum atas itu.

  Aku menarik napas dalam dalam, kemudian memulai permohonan kepada Rabb untuk menyampaikan pesan kepadanya, dan aku sendiri tidak mengetahui cara yang akan dipergunakan Allah untuk menyampaikannya.

  "Selamat malam, selamat tidur ya Salma. Semoga engkau tidak seperti diriku, yang terus menerus memimpikanmu. Have a nice dream. Mimpilah dengan tentram bersama gugurnya dedaunan musim gugur, dimana kau tidak akan menemukan adanya diriku di sana."

  Mengapa pesannya seperti itu?

  Ah, aku susah mengungkapkannya, namun kurasa kata kata dilan cukup mampu menggambarkannya.

  Rindu itu berat, kamu gaakan kuat, biar aku saja. :v  (Retjeh sekaleee jiahahahah)
 
  Setelah itu, kulanjutkan tulisan blog ini. Sekali lagi kukatakan, Aku takkan mengantuk jikalau tengah melakukan sesuatu, mengenai dirinya. Termasuk kala membangun blog ini, sarana berkomunikasi kita. Sekarang, sudah pukul 00.38.

~  Ж  ~

  Kejadian 25 Ramadhan itu, benar benar merubah hidupku. Bahkan sampai hal sekecil mimpi ketika tidurpun, aku tak kuasa mengontrolnya. Maaf.

  Ajaib sekali, pakai mantera apalagi kamu. Kau 'buatku memimpikan dirimu setiap harinya. Tak seharipun tanpa kehadiranmu pada mimpiku~

  Tadi, malam ahad 28 Juni 2020, aku memimpikan hal yang saangat indah. Ah, bahkan itu masih terngiang ngiang hingga sore ini.

  Detik ini, aku bisa bernapas lega karena dirinya baik baik saja, dan kuharap aku juga harus bisa baik baik saja.

~  Ж  ~

  Bohong jika mengatakan bahwa aku sudah pulih total dari kejadian tempo lalu. Pada kenyataannya, aku belum juga dapat pergi meninggalkan segala kekhawatiran yang ada. Masih perlu waktu, dan kurasa bukan sebentar.

  Sesuatu yang besar memerlukan waktu yang banyak pula.

~  Ж  ~

  Secercah cahaya mendatangiku, menjadi lentera yang dapat kuandalkan kapanpun jua. Namun, lentera itu sendiri tak dapat kupastikan kapan ia meninggalkanku.

  Ah, aku sudah letih dengan segala perumpamaan.

~  Ж  ~

  Mengirim pesan pesan melalui orang lain, tentunya tidak nyaman. Aku ingin secara langsung melakukan komunikasi dengannya, tanpa perantara. Ya, walaupun kurasa kali ini masih saja harus memakai perantara aplikasi. Kapan, ya, kita bisa ngobrol bareng? Ah, aku membayangkan menghabiskan hari bersamanya, berjalan bersama dirinya, serta senja, jua menemani. Berbincang tentang kehidupan, menjadikan kita kuat kedepannya.

  Ah, indahnya halu-ku :v

  Tunggu halal yak :v

  Awokawokawokawok :v
~  Ж  ~

  Meski kita sudah lancar jaya, akrab dalam berkomunikasi melalui ponsel masing masing, bukan berarti kita bisa seperti itu jua pada kehidupan nyata. Aku yakin, jika kita dipertemukan kembali, yang ada hanya saling senyum. Wah, itupun sudah sangat tinggi levelnya. Namun, nanti akan kuusahakan melawan gejolak itu.

  Aku merupakan orang yang mungkin dapat dibilang heboh kalau bersama teman sesama lelaki, namun jauh beda halnya ketika berurusan dengan lawan jenis. Ah, sama saja rasanya Public Speaking sama berurusan  dengan wanita seumuranku. :v

  Ya, aku memang seperti itu. Entah mengapa, atau mungkin dikarenakan tidak berteman dengan wanita secara langsung selama dua tahun belakangan ini. Yeah, kurasa memang itu penyebabnya. Hal ini bukan saja dirasakan oleh diriku, loh. Teman temanku juga merasa seperti itu. Tidak bertemu dalam jangka waktu yang lama menyebabkan pertemuan antar lawan jenis terasa sangat langka, spesial, dan menjadi mendebarkan. Banyak sekali temanku yang seperti itu. Orang orang yang masih saja merasa biasa ketika nempel dengan akhwat, umumnya orang yang pacaran, Serius!

  Tamat dari dunia pesantren, mungkin akan sembuh.

  Entah itu salting, atau malah deg-degan, wah itu merupakan sebuah fenomena ketika aku harus berurusan dengan lawan jenis. Lemah sekali aku. Dasar aku.

  Mungkin “penyakit” ini akan kambuh tatkala ada reuni atau semacamnya, dan itu yang nantinya akan membuat kalian merasa aku telah berbohong tentang “Aku bukanlah seseorang yang pendiam lagi”. Padahal, aku tidak berbohong!

  Bayangkan, jikalau dengan orang yang tidak kucintai saja aku bisa deg-degan, apalagi dengan seseorang yang mengisi banyak ruang dihatiku? Ah, bisa bisa jantungku hampir copot seperti pertemuan diriku dengannya di dekat kasir Rawit Indah pagi itu.

  Hahaha, yang penting kalau sudah terbiasa, layaknya aku pada kakakku, perlakuanku lumayan baik, menurutku. Ah, kurasa orang orang akan merasa seru juga berteman dengan diriku yang sok seru ini. :v

  Jadi, ambil saja sisi positifnya. Aku tidak akan mudah ngegombalin wanita, dan aku tidak berbakat dan tidak mau menjadi fucekboi. Aku bisa lebih mudah menjaga hati untuk satu orang saja. Haha, semoga rasa kecewa di masa depan tidak akan menghampiri hati yang sepanjang masa kujaga ini.

~  Ж  ~
 
  Ah, sudahlah, sekarang telah 01.00 pada tanggal 24 Juni 2020. Aku harus shalat shubuh di masjid pagi ini. Tidak seperti Naufal ataupun teman temanku yang lain, yang kalau begadang, bangun hanya untuk shalat shubuh saja, itupun terlambat, lalu lanjut tidur hingga jam 10-12. Aku? jikalau aku ingin begadang, aku harus mengambil resiko bahwa besok paginya aku akan mengantuk.  Harus tanpa tidur lagi (kadang banget kebobolan), harus ditahan. Aku juga ingat umur, kesehatan. Aku tidak ingin mati muda! :v

  Episode kali ini lumayan singkat, ya? Hahaha, dipublishnya lama lagi. Iyaiya. Laptop lenovo ini sangat sulit untuk digunakan sekarang. Sering dilarang orangtua. Katanya punya organisasi negara :v jadi yaa menulis pakai hape sulit juga, lama jadinya otak ini mengencerkan isinya. Belum terbiasa, Kata katanya jadi sulit keluar. Dan detik ini, detik ke-48 pada menit kedua jam satu dinihari, aku mendapat celah kesempatan dalam menggunakan laptop. Aku rampungkan sekarang juga
 
  Jadi, kesimpulannya adalah bahwa diriku belum juga merasa sembuh total hingga kini. Butuh waktu, dan itu bukan sebentar. Ditambah lagi kondisi tanpa kuota internet seperti ini, ah aku menjadi lebih susah untuk bangkit, karena cara terefektifnya adalah berkomunikasi dengannya. Jadi, aku hanya bisa melihat lihat bekas chat siang hari ketika memakai wi-fi kantor ayahku. Sebenarnya kalau ditanya, kurang cukup. Tapi, tak pa lah :v

  Aku tahu bahwa diriku menempatkan rindu bukan pada tempatnya. Belum saatnya seperti ini, namun aku tak tahu mengapa diri ini tak ada hentinya untuk melakukan itu. Maklumlah, aku juga manusia. Aku masih berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.




  Kok ane sedih ya, dengan tiada berkomunikasi dengan ente lagi. Ah, susah rasanya untuk sekedar menjabarkan apa yang ada di dalam hati ane kini. Ente? Ada rasa aneh gitu kaga? Hadehhh :v

~  Ж  ~

  Wah, ternyata aku tidak sendirian  :)

:)

Terakhir kali disunting pada 27 Juni 2020, diuploadnya entah kapan. Sorry atas keterlambatan ini. Banyak sekali ujiannya, untuk episode kali ini:v

  :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

Tanpamu?

Gambar hanya pemahit :v awokawoawokawok   Manusia, pastilah punya sesuatu yang sangat berharga baginya. Selain Tuhan dan Agama, pasti ada juga. Pasti ada sesuatu yang jika tiada, akan membuat dia terpukul sekali. Baik itu harta, benda, cenderamata, ataupun manusia lainnya. Tak peduli berapapun rintangan yang akan dihadapi, Seorang manusia akan siap mempertaruhkan bermacam hal demi mendapatkannya.   Aku juga merupakan seorang manusia, yang punya hal yang berharga tersebut pula. Aku tak ingin ia pergi, tak ingin ia menghilang dari hidupku.   Dia adalah,   Hahaha, dah nebak ya?   Iya, tebakan kalian bener.      ~    Ж    ~   Hari hari berlalu tanpa dia. Rasanya berat sekali, namun mau tidak mau aku harus menjalaninya. Mau dipaksakan bagaimanapun, akan tetap begitu. Roda perputaran waktu akan terus berjalan seiring bergantinya masa. Kita tak punya hak untuk merubah tatanan qadha kita yang su...