Langsung ke konten utama

About Heart 💖


  Sebuah rasa.
  Menurutmu, apa arti sebuah rasa?
  Rasa yang tak lagi terpendam.
Akankah ia bertahan?
Ah, aku bahkan tak bisa menduga kejadian apa yang akan terjadi di depan mataku sendiri.



~  Ð–  ~

  Aku berlarian menyusuri jalur protokol 32, bersama tentramnya fajar dan segarnya udara pagi. Pepohonan terlihat di sepanjang jalur itu, dengan dedaunannya yang seolah melambai pada diriku. Tarian indah nan mempesona itu tak lagi hanya bisa dinikmati oleh para londo saja, namun kini orang seperti aku, kau, dan juga dia telah dapat menyaksikannya dengan tenang. Indonesia detik ini telah merdeka. Benar, sudah hampir delapan puluh tahun berlalu semenjak para proklamator menyerukan kata “Merdeka!“ dengan bangganya. Kalau dipikir-pikir, itu adalah waktu yang sudah amat sangat lama. Sayangnya, kemerdekaan Indonesia tidak diikuti dengan merdekanya hati hati penduduknya. Cih, jauh sekali aku berpikir. Tidak kedepan ataupun kebelakang, aku terlalu jauh dalam hal memikirkan sesuatu. Dasar aku.

  Pemikiran yang seperti itu, pasti ada baik dan buruknya. Kita sama sama mengetahui bahwa orang yang berpemikiran ke depan jauh lebih baik daripada orang orang yang hanya memikirkan “bagaimana cara mereka untuk makan” hari ini saja. Namun, terlalu berlarut seperti itu, ah, kurasa juga merupakan hal yang kurang baik.

~  Ð–  ~

Eheheh. Waktu itu dah "ngerasa" kaga? :v

~  Ð–  ~

  Hari hari selanjutnya, kucoba dengan mensyukuri apa yang ada. Semua yang terjadi padaku hari ini, haruslah sebaik mungkin untuk kusikapi. You know that i’m not perfect, but, i’ll try.


dan do'aku di masa lalu ternyata terkabul :)

  Sebuah angan masa depan terlukis disana. Tapak bersejarah jua dimilikinya. Momen hari ini, dia juga menyaksikan atas apa yang terjadi. Benar, segumpal darah itu menjadi saksi perjalanan hidupku. Hati ini, ah, terkadang diriku menaruh rasa kasihan kepadanya. Ya, memang, aku tak jarang untuk memaksanya.

  Kejadian hari ini, kebersamaan kita, biarlah seperti itu jua indahnya kedepan. Aku tak mengatakan bahwa itu secara pasti akan berlangsung selamanya, namun hanya dengan mengingatnya, kurasa hal itu akan menjadikan kita lebih ringan dalam menghadapi hidup. Seluruh hal yang terjadi detik ini, akan menjadi kenangan serta pelajaran berharga yang tak dapat ternilai oleh harta benda manapun. Memori ini? Ah, aku akan menjaganya hingga akhir menutup mata.

  Keberadaan kita di bumi, di alam semesta nan menakjubkan ini, tak luput dari kekuasaan-Nya. Keahlian kita, kemahiran kita, tidak ada ada apa apanya dibanding kehendak dan kekuasaan yang Dia miliki. Aku tidak bisa berjanji akan selalu memiliki jumlah perasaan yang sama padamu, namun aku dapat mengucap kata “janji” ‘tuk mencintaimu selalu. Cinta memang seperti itu, ada naik dan turunnya. Ada pasang dan surutnya, sesuai perkembangan hidup. Namun, harus kita ketahui bahwa sesuatu yang disebut “cinta” itu takkan pernah habis ditelan masa. Itu akan habis tak bersisa jikalau sang pemiliknya sendiri yang memutuskannya. Hei, hingga detik ini aku masih menjaganya, dan kuharap begitu jua hingga nanti dan selamanya :)

~  Ð–  ~

  Aku terbangun malam ini, dengan lirihnya jam dinding masih saja bergerak, tak pernah kenal lelah. Ia menunjukkan pukul satu dinihari. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain mengambil laptop ini dan mulai mengetik kembali. Mungkin hotspot bisa saja kunyalakan dari handphone kakakku, namun aku lebih memilih untuk ini. Meluapkan isi hati, tak perduli aku mengetik hingga terbitnya fajar. Laptop ini, akan menjadi sebuah artefak dari keberadaan kita. Ngarti teu, Sal?

Bicara tentang artefak, wah, kurasa banyak sekali. Pun semua hal yang ada di dunia ini, bisa mengingatkanku tentang dirinya. Dimulai dari surat menyurat hingga bahkan jajanan masa sekolah dasar dulu, bisa membawaku ‘tuk kembali menyelam di dalam samudera kenangan bersamamu. Itu dapat memberikan kembali apa arti pentingnya sebuah kenangan dalam hidup.

Bersorak sambil berharap kau ada disini, tapi kau tidak ada
Karena seluruh hal bisa membawa kembali semua kenangan
dari semua yang sudah kita lalui
~Maroon5-Memories

~  Ð–  ~

Aku adalah aku. Bukan dirimu, dirinya, and not somebody else. Aku adalah Thariq Almas Neil Authar yang pada kelas satu sekolah dasar telah merasakan ada getaran di dalam hati ketika melihat seseorang yang biasa dipanggil Salma tersebut. Dan rasa “cinta monyet” itu menggiringku hingga berada di titik ini, dimana aku bisa berteriak sekencang kencangnya tanpa ada yang mencegahku. Banyak hal yang mungkin telah dapat kunikmati, namun lagi lagi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa aku masih saja terjebak dalam ruang rindu.

Mungkin bagi kalian tak ada hubungannya, namun bagiku itu jelas jelas memiliki hubungan kausalitas dengan seluruh memori kebersamaanku dengannya. Tak mungkin dapat kujelaskan dengan kata kata. Semua mengalir begitu saja, laksana sungai kehidupan.

Tidak mungkin bagiku menjelaskan bagaimana bocah yang masih berumur enam tahun itu dapat mempertahankan rasanya hingga kini. Tak mungkin jua bagiku ‘tuk mendeskripsikan bagaimana cara bocah tersebut untuk terbebas dari segala rasa keputusasaan kala menerima kenyataan bahwa pujaan hatinya tak mungkin memiliki perasaan yang sama.

Ada waktu yang kuingat, saat aku tak tahu rasa sakit. saat aku tak pernah merasa begitu tersesat.
•••
saat aku percaya selamanya, semuanya pasti akan tetap sama
~Maroon5-Memories lage:v

~  Ð–  ~

Jejak kehidupan yang telah terbentuk, itu akan bertahan selamanya. Seluruh waktu dan masa, tak terkecuali kebersamaan kita, biarlah itu menjadi kenangan terindah sepanjang masa yang patut kita syukuri bersama, bahwa “kita pernah ada”. Gapai seluruh harapan dan impian sebagaimana kita diajarkan untuk selalu berusaha mewujudkannya. Semuanya akan berjalan normal pada masanya. Aku tak dapat mendustai diriku sendiri, bahwa kesedihan dan kecemasan akan terus menghantui hidupku jika tak bersamanya, namun juga merupakan sebuah kebahagiaan jikalau akhirnya diriku melihatnya bahagia.

Masalah jodoh tidak jodoh, kurasa aku bisa menanggungnya. Meski akhirnya akan memilukan, aku telah bahagia karena kita pernah saling ‘merasa’ walau akhirnya tak pernah memiliki. Aku akan terus mencoba berjalan ke depan kendati kau tak akan bersedia menemani perjalananku lagi.



  Aku bersyukur pernah berjumpa denganmu, baik di hari kemarin, kini, dan seterusnya. Angan angan yang sampai kini kugenggam erat, semoga dapat terwujud nantinya. Harapan dan impian pun demikian juga, semoga dapat tergapai dengan cara yang luar biasa indah. Jalan hidup memang takkan bisa ditebak, namun dengan cara mengusahakannya, tidak ada yang dapat diberi predikat mustahil. Yeah, like ur words, “Nothing is impossible”.

  Benar benar beruntung aku memiliki takdir seperti ini. Entah bagaimana caranya bocah yang dipanggil “Adek” (dulusbelumpunyaadik) itu lulus dari Taman Kanak Kanak, tidak diterima di SD N 09 (karena umur masih 5 tahun), libur setahun, dan akhirnya dipertemukan dengan Salma di SD IT Cahaya Makkah. Ya, kita tak bisa bertanya mengapa itu semua terjadi. Semua terjadi begitu saja. Tak ada sebab yang pasti atas pertanyaan “mengapa” segala sesuatu dapat terjadi di kehidupan kita. Asal muasal yang “pasti” itu, hanyalah tarian pena ilahi yang maha mengatur segalanya :’)

  Takdir seperti ini, sangatlah jarang dimiliki diantara manusia. Aku. Hanyalah aku yang dipercayakan mempunyai takdir yang super “wah” ini. Bertemu dengan orang sepertinya, hingga detik ini, ah, sangat sulit untuk menjelaskan semuanya.

  Ah apasih, gajelas banget :)

~  Ð–  ~

  Detik ini aku dan dirinya telah mencapai titik dimana kami bisa bercakap cakap tanpa ada alasan yang jelas. Ya, mungkin kata “akrab” telah pantas diselipkan. Tak ada yang tahu, kan? Dulu, ketika waktu masih kecil, aku bertekad akan berani akrab secara langsung dengannya dikala menginjak kelas enam. Zaman terus berputar, hingga aku yang sudah SMP harus mengenyahkan segala mimpi tentangnya. Kurasa tak akan ada lagi pertemuan ataupun sepatah kata antara diriku dengan dirinya. Aku tak bisa bermimpi terlalu tinggi lagi, karena sudah ada pembatas antara kita. Dan, aku yakin dia takkan pernah mengharap kehadiranku kembali pada hidupnya.

  Mengharap, tak diharap!

  Kalimat itu kubaca dari puisi Habiell Pilar Ramadhan seputaran akhir kelas tujuh. Tak diundang ataupun diantar, nama “Salma Mutiara Irza” kembali tayang dalam pikiranku. Aku tidak tahu harus apa, yang jelas aku merindukannya namun kutahu dia tidak dan tidak akan pernah memiliki perasaan yang serupa.

~  Ð–  ~

  Jika dimasukkan dalam hukum jodoh, tentu hal yang kualami ini bukanlah hal yang etis untuk dilakukan. Namun, kerinduanku tak bisa terkalahkan oleh rasa gengsi yang ada. Aku ingin sekali melakukan sesuatu yang berharga untuk hidupnya di kesempatan kali ini.

  Aku tidak tahu apakah setelah ini dia masih mau berkomunikasi denganku apakah tidak. Apakah rasa takutnya itu lebih besar dari ‘rasa’ yang disebutkannya di hari kemarin, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, selepas tanggal 17 Juli ini, dia tidak pernah lagi mengucap sepatah kata padaku lagi :’)

  Wah, untuk lebih kedepan lagi, tamat SMP, itu semua menjadi lebih sulit. Aku hanya bisa tahu keberadaannya sekali enam bulan. Ditambah lagi tentang kemauan dirinya untuk berbincang denganku, i don’t know.

  Aku tak pernah meragukanmu. Tak pernah. Namun, kekhawatiran terus menerus berputar di dalam kepalaku, tidak tahu mengapa. Haruslah menyerahkan semua pada Rabb, namun logika manusiaku tak dapat mencernanya. Aku harus terus belajar tawakkal.

~  Ð–  ~

  Aku mencintainya. Ah, coba temukan di blog lamaku kata itu. Seingatku, aku hampir tidak pernah mengatakan itu. Aku baru mengucap kata “cinta” baru baru ini. Semua itu bukan berarti diriku telah paham betul dengan kata tersebut, bahkan seseorang semuda diriku bisa dibilang belum begitu mengenal cinta. Namun karena apa yang telah kualami selama ini. Hati, batin, serta otakku sudah mencerna semua yang ada di dalam hatiku, dan hasilnya; positif.

  Positif apean thor? Positif corona’?
  Positif apa ya? Hahaha. Baca aja kata berwarna merah tadi :)

  Aku sama sekali tidak mengetahui apa yang ada di hatinya. Apakah dia hanya sekedar “suka” atau bagaimana, i don’t know. Tapi, sudah jelas kewajiban bagiku untuk mengucapkan kata terimakasih kepadanya, karena dia telah menghargaiku sejauh ini :)

  Ah, aku semakin terpesona olehnya. Jarang sekali manusia yang seperti itu. Wanita yang menghargai seseorang yang mencintainya sampai sejauh itu, wah, cari saja, susah didapat :) Susah sekali diungkapkan bagaimana rasanya dihargai seperti ini, semua terjadi secara ajaib dan mengalir begitu saja. Bagaimanapun, kami tetaplah dua manusia yang sewaktu kelas lima, suka senyum senyum sendiri kalau “dicie ciein”

~  Ð–  ~


Ah, diriku. Beberapa hari ini aku memikirkan sesuatu. Sesuatu itu bukan tentang diriku, dan juga bukan tentang perasaanku

Aku juga telah sedikit mengungkit diatas, bahwa aku tidak tahu apapun tentang hatinya. Tidak seperti biasanya, takkan ku mengatakan bahwa “cukup dia dan Allah yang tahu”, namun aku ingin membuat dia menceritakan segalanya. Mungkin sangatlah sulit kalau melalui chat, dan sebenarnya akupun juga menginginkan kisah itu akan terabadikan di sini.

Ha? Maksudnya?

Benar, Salma akan menulis di sini.
:)

~  Ð–  ~

Beneran thor?
  Iya, emang ada yang salah?

  Pikiran itu cukup membuatku penat beberapa pekan ini. Ternyata diriku sangatlah egois. Selama ini aku hanya memikirkan diri sendiri, serta menuntut apa saja yang terbesit di dalam hati kecilku ini. Padahal, However, Hatiku ini hanyalah satu dari sekian milyar yang pernah “ada” di muka bumi ini. Namun aku bertingkah seakan hanya aku yang memiliki hati dan semua yang ada di dalamnya harus terwujud.

Semua kembali pada suatu poin; yakni EGO. Cukup sudah kurasa dalam menjelaskannya, lebih kurangnya aku tak mampu lagi. Yang penting, aku telah merasa cukup dalam menjelaskan hal itu pada beberapa postingan sebelumnya.

  Ya, rasa kita satu, ego kita dua.

  Dan itu menuntunku untuk memikirkannya lebih dalam, dan akan terus lebih mendalam. Aku tidak ingin hal semacam itu terjadi terus menerus hingga nanti. Jika begitu melulu, kurasa percuma saja diriku mengatakan kata “cinta” sekeras kerasnya. Aku tak ingin semuanya berlanjut secara monoton saja, seakan hanya aku saja yang ada diantara kita.

  Sekali lagi, aku tak pernah mengira bisa sampai begini. Tak kukira, bahkan tak pernah terlintas di kepalaku bahwa seorang Salma Mutiara Irza akan menulis apa yang ada di hatinya pada blog ini. Mungkin kamu belum terbiasa sal, namun coba saja. Coba saja ungkapkan apa yang ada di hatimu. InsyaAllah kita tidak akan tersiksa karena keputusan kita sendiri.



  Sebetulnya aku sama sekali tidak ingin dia repot repot untuk menulis di blog ini, namun kurasa itu merupakan suatu hal yang penting. Sangat penting. Aku benar benar merasa bersalah karena rasa egois itu seakan mengakar pada blog ini.

  Maaf, Salma. Maaf untuk semuanya :’(

~  Ð–  ~

  Ah, sangatlah susah untuk meminta Salma untuk menulis di sini. Masalahnya bukan pada Salma, namun terletak pada diriku sendiri yang sama sekali tidak ingin membuatnya repot. Namun, tekadku untuk mengubah segalanya lebih tinggi daripada sifat gaenakan itu.

  Kadang sifat gengsi dan gaenakan itu yang malah buat kita susah untuk ngapa ngapain:)
  Dan sedang kucoba sal, untuk mengalahkan sikap seperti itu.

  Hari yang akan menjadi saksi adalah 5 Juli 2020. Aku bertanya secara serius kepadanya, disaat yang sama diriku juga mencegah hal itu. Aku tidak ingin merepotkannya. Tapi, ya, aku tetap bertekad untuk menjadikan blogku seperti “hidup”. Bukan hanya diriku yang ngomong sendiri.

:)

  Seperti yang kalian bisa lihat pada situs ini, di sebelah kanan atas, ada garis tiga. Klik, dan sudah ada dua nama, bukan hanya diriku:)

  Dan jika kalian klik nama penaku untuk blog ini, “THOR”, tertera disitu bahwa aku telah aktif di dunia blog semenjak Maret 2015. Dan siapa yang mengira, lima tahun setelahnya, aku tidak berdiri sendirian disini. Thank you, Salma.

~  Ð–  ~

  Aku tidak mengira akan semudah itu. Dia langsung menjawab “ya”, namun terdapat hal yang diragukan olehnya, dan itupun sama sekali bukan tentang kemauan. Perihal dunia tulis menulis, dia masih merendah. Padahal, wah, coba aja dites :)

  Satu hal lagi yang diragukannya adalah tentang cara menulis dan apa yang akan ditulis. Apa yang akan ditulis? Wah, silahkan, terserah kamu:) Tumpahkan apa yang ada di hati kamu. Cuma nanti ada beberapa yang ingin aku tahu, dan kuingin kamu menjelaskannya secara detail, seakan kamu bicara tanpa penghalang. Ya, selama ini aku menulis di sini, aku bicara seolah tanpa ada pembatas antara kita. Bebas, dan kuharap engkau juga seperti itu. Jangan biarkan rasa gengsi menggerogoti perasaan kita melulu. Aku yakin kamu bisa sal, dan ini bukan hal yang sulit. Tak apa jika engkau kesulitan di awal, namun pada akhirnya aku harap engkau bisa menulis tanpa aku “request” padamu. :)

  Hari itu, 5 Juli, aku berhasil mengundang satu akun gmail lagi untuk dapat menulis di sini. Ya, itu adalah dirinya. Mungkin kami agak kesulitan dalam mengkonfirgurasi firsttime-nya karena beberapa kendala, dan kendala utamanya bisa dibilang merupakan diriku yang tidak secara langsung bersamanya dalam confignya:v hihi~

  Salma, Salma. Aku tak pernah meremehkanmu. Serius!

  Kamu mengatakan kurang pandai dalam hal yang begituan. Ya, sudah berapa kali kubilang bahwa kita semua adalah manusia. Pastilah punya kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana cara kita untuk mengelolanya, InsyaAllah semua itu dapat tertutupi.

  Tidak bisa? Tak usah merasa tidak mampu. Coba saja. Bakalan aku ajarin kok:).

  Demi Allah, aku bilang waktu itu bahwa diriku tertawa, bukan karena aku merendahkanmu. Namun, ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan dengan kata kata. Sumpah! Aku sangat terperangah mengetahui fakta itu, bahwa salma akan menulis pada blog yang sama pada diriku. Tak pernah terduga. Aku sampai salting salting sendiri karena kenyataan itu. Senyum senyum sendiri, dan nyengir nyengir sendiri. Sampai sampai, hal kecil yang terjadi saat itu dapat mengundang tawaku.

:v

~  Ð–  ~


  Sebenarnya bisa saja dia menulis dari memonya sendiri, lalu ia berikan padaku dan aku tinggal mengedit sedikit dan mempublishnya. Tapi, dengan memasukkan e-mailnya, you know ada tujuan lain. Aku hanya ingin, pada suatu hari nanti, ketika menemukan blog ini aku juga menemukan e-mailnya. Tidak perduli apakah dibaca atau tidak nantinya, yang jelas aku ingin mengirimkan pesan pesanku nantinya:) karena memang, email mereka tentunya tak selamanya satu untuk berdua. Mungkin saja email yang dipakai sekarang, tidak akan dipakai lagi. Tapi, sekali lagi, aku ingin mengirim sesuatu pada suatu hari nanti:)

  Dan... kurasa jauh lebih baik jika kita menulis di memo handphone atau Microsoft Word daripada langsung pada situs bloggernya. Mengapa? Karena, ah, pokoknya jauh lebih enteng dah. Apalagi kalau masalah save tulisan kita, di blogger harus memakai internet. Jadi, kalau tiba tiba sambungan internetnya mati, kelar dah. Hangus yang diketik kita. Sampai detik ini aku mengetik blog ini dengan cara, awalnya ketik di Microsoft Word (versi Professional Plus 2010), tamatkan di MS word itu, dan file ketikannya selalu disimpan dalam sebuah flashdisk. Jadi, mau ngetik dimanapun, di handphone, laptop, bisa kapan saja dengan flashdisk itu. Kapan saja bisa dilanjutkan. Ya, Cuma kalau saia lupa letak nyimpen tuh flashdisk, bisa bisa ga ngetik seharian. :v

  Kalau aku sedang di asrama, dan di sela sela kesibukan yang ada, aku menyempatkan menulis di buku agenda yang kupunya. Dan nantinya, ketika sampai di rumah, kuketik dan kujadikan postingan pada blogku. Mudah bukan?

  Tak apa jika kamu tulis saja di buku jurnalmu, dan ketika kita pulang kau foto dan kirim padaku:) Aku yang akan mengetiknya. Paham? Oiya satu lagi, ente merasa direpotin engga sih?

  Terimakasih, salma. Terimakasih udah mau.

Entah bagaimana caraku untuk membahasakannya. Mungkin aku takkan bisa mewujudkannya dalam kata kata.  Aku seakan berada dalam liang mimpi sekarang. Tak pernah kusangka bakalan seperti ini. :)

~  Ð–  ~

  Percayalah kepada dirimu sendiri, sal. Bahwa kamu bisa melakukan hal ini. Aku percaya kamu bisa menumpahkan segala yang ada di pikiranmu selama ini dalam bentuk kalimat dan paragraf. Perihal perasaanmu, tulis saja. Tulis saja semuanya. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi kedepannya.

  Dengan begitu, kau tidak usah lagi mengirim pesan seharu itu padaku ya:)

~  Ð–  ~  

  Ah, demi Allah, sampai detik ini, 11.23 pada tanggal 11 Juli 2020, aku masih saja merasakannya. Wah, sangat menyedihkan sekali aku. Aku memutar relaxing instrumental dari musik Aisyah Isteri Rasulullah, seraya membaca file yang berisikan pesan darinya tersebut. Kau tahu? Aku masih saja meringis ketika membacanya kembali. Dadaku masih saja sesak ketika membaca itu. Serius! Aku tak dapat mengungkapkan rasanya. Seluruh air mata yang kumiliki, merengek pada jiwaku untuk diizinkan mengalir. Ah, betul betul rasanya. Mataku sekarang berkaca-kaca. Semuanya berlangsung sedih seperti itu, dan kamu mungkin tidak tahu betapa tersiksanya seseorang yang merasa sangat down, namun alam bawah sadarnya tidak mengizinkan untuk menangis. Ya. Aku ingin sekali menangis, dan melepaskan semua hormon kesedihanku. Namun, entah mengapa, aku pernah berkomitmen untuk tidak akan menangis deras lagi. Aku melanggarnya hanya ketika merasakan hal hal yang berurusan dengan Rabb semesta alam. Oiya, satu lagi, perpisahan:)

  Ya, inilah diriku. Hantaman sebuah kepalan tinju dari orang lain ke arah kepalaku, aku tidak akan menangis karenanya. Sepakan, Sikutan orang, wah, aku juga takkan menangis.  Tapi, urusan hati, urusan yang orang bagak itu bilang sepele, aku dapat down parah. Urusan perpisahan, kehidupan, huft. Rumit sekali. Aku down parah.

  Semua yang kau tulis pada surel itu bagai menjelma film sedih yang terus diputar ulang dalam ingatanku ini. Semuanya terlukiskan olehnya. Bagaimana kita dahulu saling merasa, namun memilih diam. Bagaimana momen momen yang pernah kita lewati bersama. Bagaimana lihainya kita dalam memperhatikan satu sama lain. Dan bagaimana aku-bisa bisanya mencoba ingin melupakan segalanya. Semua itu tergambarkan oleh pikiran dan hatiku, seakan akan semua itu baru saja terjadi. Caramu menjelaskan semuanya, ah, itu dapat membuatku merasakan kesedihan yang mendalam. Semua itu meledakkan dan menyadarkanku kembali. Mungkin kamu telah biasa saja, namun tidak bagiku. Aku belum bisa melupa, bahkan dengan chat kita yang mulai begitu akrab, namun aku tak bisa melupakan rasa penyesalanku terhadap keputusanku di hari yang lalu. Maafin aku, Sal:(



  Sal, aku tak pernah benar benar ingin melupakanmu. Aku sedih, sangat sedih melihat bahasamu yang seakan menyangka bahwa aku telah benar benar melupa. Seakan di dalam hati kecilku ini tidak tersisa sama sekali “rasa” kepadamu. Jangankan permintaanmu, yang menginginkan agar aku tak melupakan semua, sejujurnya hingga kini seluruh kenangan itu masih tertera di dalam hatiku sendiri.



  I don’t care  jika kamu tidak terlalu mempedulikan semuanya, yang jelas selama ini memori itu masih terjaga dan aku masih sering mengingat betapa epicnya kita dulu:)

  Kau harus tahu, Salma, selama ini aku masih menggenggam semua itu dengan sangat erat. Kamu harus tahu, sal, bahwa aku takkan bisa melupakanmu. Pun meski pernah terlintas di kepalaku, namun kenyataannya; tidak akan pernah bisa.

~  Ð–  ~

  Aku tahu, sebenarnya kondisi batinku akan jauh lebih baik jikalau kejadian 25 Ramadhan kemarin tidak pernah terjadi. Ya, pastinya sampai detik ini aku masih saja terjebak dalam suasana liburan yang makin memanjang. Kondisiku lebih baik, jika tak pernah lagi bertemu dengannya. Tapi, jelas jelas itu akan lebih menyakitkan jikalau terus saja tanpa kabar seperti hari kemarin. Entah bagaimana rasanya nanti ketika ada reuni atau semacamnya, kita seperti orang yang tidak pernah saling mengenal. Itu jauh lebih menyakitkan:(




  Namun, aku tidak memperdulikan semuanya, tidak akan ku pedulikan kondisi batinku kalau berkaitan denganmu; tidak perlu banyak perhitungan.



  Sudahlah. Kurasa sekarang kau juga menganggap diriku terlalu berlebihan. Terlalu sedih dan lebay sekaleeee:v

~  Ð–  ~

  Oke, bahasanya disantuykan sahaja.

  Nah, seluruh kesedihan itu membawaku kepada kerusakan kondisi batin dan jasmani. Ya, aku jadi mudah pusing entah mengapa. Dan yang paling membuatku muak adalah kebangkitan kembali para tentara bulan.

  Tentara bulan apean cuy? JERAWAT!

  Haduh, aku adalah orang yang rentan dengan jerawat. Kuakui selama ini gosip itu benar. Kelas tujuh dan awal kelas delapan aku jerawatan-_

  But i don't care about that's gossip. I just want make me feel happy and enjoy this life :)
'cause there's a time that my face is gloww :v

  Tapi udah bersih, dari beberapa bulan lalu!

  Astaghfirullah, pada nongol lagi dah, sebel tauk!

  Menurut salah satu artikel yang kutemukan di internet, stress tidak menimbulkan jerawat secara langsung, namun itu dapat menyebabkan/ memperparah orang yang rentan terhadap jerawat.

  Hormonque, damai yuk! Gamau berdamai? Gelud mau ngga? :v

  Yaudah deh, si Salmanya juga nyaranin make skincare:v Yowesla:v aowkawoawok~

~  Ð–  ~

  Dari situlah aku memutuskan untuk tidak akan memikirnya terlalu dalam lagi. Galau mungkin bisa membuatku lebih kalem, tapi itu tidak baik untuk penampilan pemuda sepertiku. Ya, kita sama sama tahu bahwa yang orang barat sana bilang “remaja” itu, sangat memerhatikan penampilannya. Mungkin diriku yang dewasa akan tertawa membaca paragraf ini:)

  Namun, aku menggunakan bahasa yang sama lagi, yakni “aku tidak bisa membohongi diri sendiri”. Aku masih saja tidak bisa benar benar bangkit dari seluruh kenyataan pahit yang kau tulis. Ya, benar, aku betul betul down ketika membacanya kembali. (itu adalah caraku membangkitkan mood supaya lancar dalam mengetik, menyiksa diri sendirikah namanya itu?)

  Ya, aku egois sekali. Bahkan aku tidak memikirkan bagaimana dirinya di seberang sana. Aku hanya memikirkan diri sendiri yang merindu, tanpa tahu di seberang sana dia juga merasakan hal yang sama. Aku hanya memikirkan rasaku, tanpa tahu bahwa dia ternyata punya rasa jua. Hatiku selama ini hanya dipenuhi rasa su’udzhan yang berpikir bahwa dia telah melupakan segalanya. Otakku hanya memprasangka bahwa dia tidak akan pernah peduli kepadaku lagi.



maybe like this:)

  Aku yang kala itu merasa kehilangan, hanya memikirkan perasaan sendiri. Tidak pernah menyangka bahwa dia juga merasakan hal itu juga. Aku yang merasa dia pergi begitu saja, tak tahu dia juga merasakan hal yang sama. Mungkin, apa yang dirinya rasakan pada saat pertama kali aku chat nomornya, ada miripnya dengan lagu Pura Pura Lupa dari Mahen.

  Semuanya menjadi jelas sekarang. Aku telah banyak su’udzhan. Segalanya bagai skenario sedih yang Allah tetapkan pada kehidupan kita. Oiya, Salma, pastikan kedepannya tidak menjadi seperti itu juga.

  (Kalo ada yang ane kegeeran pada dua paragraf atas, bilang yak! :v)

  Hari hari yang kita lalui semenjak 25Ramadhan itu, akan menjadi saksi betapa buruknya kualitas prasangka diriku. Semuanya terungkap begitu saja, seakan segalanya ditampakkan di depan mataku. Bagaimana ternyata selama ini kami punya rasa yang sama, hingga bagaimana kejelasan tentang “kegeeran” diriku yang merasa kami kerap kali saling memperhatikan. Semua memori itu seakan tayang kembali di otakku, dan hatiku merasakan kesedihan yang amat sangat karenanya. Aku tidak pernah mengira, bahwa hari hari yang kujalani di sekolah dasar dulu, yang kuanggap dihiasi oleh kehadirannya; ternyata seperti itu jua baginya.

  Ya, bagaimanapun jua, ternyata juga menyakitkan baginya untuk berpisah seperti ini. Perpisahan tanpa kejelasan yang terjadi di antara kita, menjelma jadi cambuk yang dapat melukai kita tiap saat dan tiap waktu. Ah, sulit sekali menjelaskannya. Bukan begitu, Sal? :)

  Dan sejujurnya yang membuatku sangat sedih itu adalah kamu yang merasa dilupa olehku, kamu yang mengira bahwa aku telah meninggalkan dengan riang setiap kenangan demi kenangan yang terjadi di antara kita. Demi Allah, aku waktu itu hanya ingin mengutarakan prasangka itu, dan kini aku sangat menyesalinya. Sal, mau kan, maafin aku?

  Seutuhnya itu bukanlah hal yang dapat kita tentukan siapa yang sebenarnya salah-meski dominan padaku. Takdir telah menuntun kita pada titik ini. Dari yang kemarin mencoba untuk melupa--meski aku sendiri takkan bisa, menjadi orang yang mengantongi harapan dan impian yang akan terjadi pada kita kedepannya. Ya, sekali lagi kita melihat bukti bahwa Allah adalah maha pembolak-balik hati seseorang.:)



  Mau kemanapun takdir membawa kita nantinya, kuharap kita dapat menerimanya dengan ikhlas. Kemungkinan kita untuk bersama selamanya- tidak akan terwujud jikalau kamu juga tidak blakblakan mengatakannya pada dunia.

  Ah, aku menaruh opini keras kembali. Ya, memang, kalau kamu tidak mengatakan pada dunia, ingin menjaga hati pada seseorang, dunia akan mencoba mencarikan dan memasangkan dirimu dengan seseorang yang lainnya. Dunia itu keras. Tapi jangan sekarang lah, dunia juga belum peduli:v

~  Ð–  ~

  Bukannya aku meragukanmu, namun ya, aku hanya memberikan fakta saja. Hidup itu keras. Tidak perduli bagaimana kita memperjuangkannya, kalau saja Allah tidak mengizinkannya, wah, kata pamungkas darimu itu tak dapat kuesahkan kembali. Nothing is Impossible, takkan dapat diberlakukan pada kondisi yang tidak diizinkan Allah.

  Tentang hatiku, ah, usahlah kau meragukannya. Kini, hanya ketetapan Allah yang dapat menghalangi apa yang ada di dalam dadaku sekarang. Mungkin segalanya tampak mustahil, namun jika Allah ma’ana, tidak ada yang dapat mengalahkan kita.

  Aku jatuh cinta padamu, tak dapat dibahasakan dengan kalimat ataupun sajak sajak yang terdapat pada bumi ini. Ribuan lirik lagu ataupun bait puisi, takkan sanggup menjelaskannya. Betapa indahnya rasa ini, dan betapa sakitnya luka ini, ah, Hanya Allah yang tahu pasti. Diriku saja tidak dapat menakar seberapa besar rasanya.

  Itulah yang kukhawatirkan. Aku takut Allah malah cemburu atas perasaan ini. Perasaan yang selama ini kupupuk dengan baik, akan sia sia jika tidak berdo’a, meminta bantuan kepada Yang Maha Pemberi. Aku takut rasa cintaku kepadamu malah lebih tinggi daripada Hubballillah-ku. Rasa yang ada di dalam dadaku ini, makin hari semakin menggebu gebu. Aku tak ingin itu malah meledak-saking besarnya. Aku takut apa yang kita rajut selama ini bakalan hancur seketika, jatuh sejatuh jatuhnya gara gara mengesampingkan (kendati tidak sengaja) cinta kepada Allah.




  Ya, begitulah. Masih banyak ketakutan dalam diri yang tak dapat dijelaskan. Demi Allah, aku sangat sulit untuk melawannya. Kuncinya hanya jalani, jalani, dan jalani :|

~  Ð–  ~

  “Thor, kalau seandainya ditolaknya antum, atau pokoknya akhirnya kalian engga samaan, setelah selama ini antum suka ke dia, gimana tu Thor? Bisa gila dibuatnya tu Thor..”

  Celotehan anak yang bernama Ahmad Raditya itu membuyarkan lamunanku. Itu terjadi pada kelas empat SD, namun aku masih saja mengingatnya. Sebelum itu, kadang terlintas juga pada pikiranku, bahwa aku bisa gila, kalau sampai tidak bisa bersatu dengannya. Ah, kelas empat saja sudah seperti itu-_

  Ya, kelas empat itu adalah momen momennya Safna kesal dibuat Radit. Aku sangat mengingatnya. Aku tak tahu apa yang terjadi pada Salma waktu itu, entah dia telah “merasa” atau tidak, namun yang jelas waktu itu Safna membenci kami (aku dan Radit). Itu yang dikatakan Safna pada kelas enam.

  Ya, ternyata aku selama ini berharap banyak pada manusia. Menempatkan sejuta harapan pada Salma. Entah mengapa, namun itu pasti. Aku mengharap banyak pada Allah tentang hubungan kita, kerap kali hanyalah ketika mengalami keterpurukan yang aku sendiri tidak dapat mengatasinya, contohnya ketika aku serahkan semua urusan kepada Allah tentang kita yang waktu itu hampir saja beda Sekolah Menengah Pertama.

  Benar benar gegabah sekali aku. Mengharap pada manusia, harus bersiap untuk jatuh sejatuh jatuhnya. Tak ingin aku seperti itu. Yang pasti hanyalah Allah. Tak dapat diungkapkan bagaimana rasa sesalku kini. Itu yang menyebabkan aku selalu down. Tidak baik pemuda sepertiku untuk galau melulu akibat permasalahan cinta. Mungkin rasa cinta itu sangatlah penting, namun itu urusan Allah. Kita hanya perlu mengusahakan, serta terus dan terus menjalani hidup dengan baik. Aththayyibin, Liththayyibat. Ingat saja itu, usahlah memikirkannya hingga dirimu malah terjatuh. Mungkin aku terkadang perlu “galau” itu juga, dan itu pasti. Tapi, tidak baik untuk merasa jatuh seperti itu. Yang mesti kupikirkan bukan hanya tentang cinta. Banyak hal lain yang harus kupikirkan. Membahagiakan orang tua, mengukir prestasi, bahkan yang saat ini tengah aku rajut bersama rekan semuanya. OSIS, wah, itu juga bisa membuatku down saking pusing dan susahnya mengurus sebuah tanggungjawab. Sejujurnya masih banyak yang dapat kupikirkan, namun pada saat ini aku hanya perlu memikirkan tentangmu:) yang lainnya, aku akan pada waktunya.

  Aku harus melepas tali yang dimana aku bergantung padanya selama ini. Bukan berarti aku menyerah akan segalanya, namun aku akan tetap berharap agar kita dibersamakan pada akhirnya. Harapan ini, aku gantungkan setinggi tingginya, dan semoga dikabulkan olehNya. Harapan ini, aku akan tujukan kepada satu; Allah.

  Namun tetap saja, kamu masih tetap rank teratas bagiku di kalangan manusia biasa. Setelah orangtua dan keluarga, kamu masih menduduki peringkat teratas:)

  Aku harus ikhlas, apapun yang terjadi. Meski aku “Hanya ingin kamu, tidak ingin yang lebih baik, baik dan burukmu.”,, tapi jika kehendak Allah untuk memisahkan kita, tidak ada yang bisa menghalanginya. Aku tidak boleh terombang ambing karenanya. Mungkin aku dapat kecewa akan takdir, mungkin aku bisa bisa merasa sakit akan kejadian pada masa depan, namun, bagaimana lagi. Kita tak bisa melawan takdir:(

  Aku harus mengikhlaskanmu. Mungkin aku akan terus mencintaimu, mungkin aku akan tetap merindukanmu kedepannya. Namun tidak bisa juga dipaksakan untuk tetap begini terus. Aku harus menjalani hidup, meski itu hambar tanpamu.

  Dan, salah satu puncak caraku untuk mengikhlaskanmu adalah dengan memutuskan untuk bersekolah tingkat MA di Bogor tersebut :)

  Berat, sangat berat untuk memutuskan ini. Namun, ini untuk kebaikan diriku juga. Aku harus lebih memilih Allah daripada makhluknya. Mungkin aku mencintainya, mungkin aku ‘kan merindukannya, namun jika saja aku memutuskan untuk tetap pada jalur ini, kalau nantinya kalau kita tidak ditakdirkan bersama, aku bisa benar benar kehilangan akal. Upaya upayaku untuk menggapainya, akan sia sia saja jika melihatnya berada di pelaminan dengan orang lain.

  Dengan aku memilih pesantren, aku menyerahkan semuanya pada rabb yang maha kuasa. Jadi, aku tidak akan terlalu terpukul jika aku telah menyerahkan segalanya pada tuhan.

  Aku harus keluar sedikit dari jalur pemikiran manusia, dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Mungkin saja aku akan ketinggalan dua tahun daripadanya, dan itu merupakan hal yang mustahil bagi manusia untuk menikahinya. But, again and again, “Nothing is impossible:)”

  Pada masa depan, mungkin saja aku akan berjalan di atas tanah Darunnajah itu dengan mendo’akanmu, dan mengingat kenangan kita bersama. Aku akan tetap menggenggam asa itu, serta menjaga hatiku selalu. Aku memandang langit yang juga sedang kau tatap waktu itu. Mungkin perih rasanya, namun aku akan tetap berdo’a, mengharap kepada Allah untuk menghadirkan keajaiban pada hidupku. Keajaiban seperti waktu lanjut SMP. Dimana manusia tidak pernah terpikir untuk sesuatu itu terjadi.

  Keajaiban yang tidak pernah terduga, dan Allah membersamai kita kembali dengan cara yang luar biasa indah.


~  Ð–  ~



  Kalimat itu tidak sembarangan. Bukan maksudnya digaya gayakan dengan Arabic style, bukan pula kalimat pemanis sahaja. Bagiku, kata itu mengandung makna yang sangat dalam.

  Kau tahu? Mengapa aku memilihmu?
  Bukan karena paras dan apalah itu namanya.
  Bukan juga karena kepintaranmu, kecerdasanmu, dan keelokan rupamu.

Iya, benar. But there is a truer reason.

  Ah, entahlah. Diriku tidak tahu jua mengapa bisa jatuh cinta padanya, bahkan sampai sedalam ini. Yang jelas, aku amat takjub dengan apa yang terjadi pada diriku sendiri setelah cinta ini tumbuh.

  Dari ketika aku baru duduk di kelas satu SD, hingga kelas tiga, aku bisa mengendalikan diriku secara penuh karenanya. Entah mengapa, namun itu pasti, bahwa aku yang pendiam waktu itu sangat menaruh rasa kagum padanya yang dapat membuatku jatuh cinta, dan kala itu aku juga tidak tahu mengapa aku dapat seperti itu.

  Kelas empat dan kelas lima, itu mulai begitu dalam, namun aku masih sama sekali tidak berani dalam hal mengungkapkan. Ah, kalau hal mengungkapkan, aku juga bersyukur tidak dalam periode ini. Kelas enam saja penyampaiannya kacau, apalagi masih kelas empat! :v

  Dan pada kelas enam, kita pasti sadar dan tahu akan apa yang terjadi, Sal.

  Sungguh tidak etis jika mengatakan bahwa aku hanya mencintainya gara gara keelokan rupa dan wujudnya saja. Jika benar seperti itu, aku pasti sudah menyukainya semenjak pandangan pertamaku. Wah, aku masih ingat sekali masa itu. Delapan tahun berlalu semenjak itu, namun itu masih terlukis jelas di akalku. Dan aku masih sangat ingat bagaimana rasaku ketika pertama kali melihat dua anak kembar yang baru saja datang ke sekolah, padahal dua hari sebelumnya mereka tidak masuk.

  Kalau kalian lihat mataku waktu itu, ah, aku melayangkan “caliak buruak” kepada mereka yang gayanya minta ampun (waktu tu sih gitu, ane juga lupa kenapa ampe mikir gitu)

  Dan siapa tahu, beberapa hari selanjutnya bocah yang biasa disapa Thariq itu malah jatuh hati padanya. Ah, cinta monyet itu~ I don’t too remember that, but really, that’s wonderful. Aku tidak tahu apakah yang kurasakan sekarang juga merupakan cinta monyet ataupun tidak, namun setidaknya aku merasakan keindahannya hingga kini. Bedanya, pada fase sekarang sudah kelihatan banyak rintangannya. Tidak apa apa, akan kuhadapi.

~  Ð–  ~

Adalah sebuah kebohongan jikalau aku mengatakan bahwa diriku tidak bisa jatuh hati kepada selain dirinya. Bagaimanapun, aku masih bisa jatuh hati kepada manusia selain Salma. Tapi, ya, kita tahu, sangat sulit, butuh proses yang sangatlah panjang, dan rasa yang kualami tidak seindah kepada Salma. Kau tahu? Butuh dua tahun lebih bagiku untuk menyukai seseorang yang lainnya.


Tentang rasa yang pernah kualami, sepeninggal Salma-eh, bukan sepeninggal. Salma tidak pernah meninggalkanku. Kuulangi, itu hanya su’udzhon belaka.


Tentang rasa yang pernah kualami, setelah perpisahanku dengan Salma kemarin, aku tidak berbohong. Waktu itu aku sempat suka dengan dua orang pada kelas 8. Pertama adalah orang yang berinstagram @azzaisyah_ihr. Aku tidak usah menyebutkan namanya, yang penting aku telah bermasalah dengannya sekarang. Sial. eh, tapi aku tidak menyesalinya. Salma adalah yang terindah bagaimanapun jua.

Yang kedua, ya, Nabilatul. Aku merasakan ada yang mengganjal pada hatiku. Entah mengapa, aku menyukai dia, tapi bahasaku semakin parah. Ya. Setelah aku terbiasa kembali dengan lingkungan Sumatera Barat setelah kepergianku ke pulau Jawa waktu itu, bahasaku kembali bersih. Aku sadar aku adalah anak yang baik, dan santri yang baik pula. “Ana-antum” kembali melekat pada mulutku.

Tapi, semenjak kepulangan akibat wabah virus corona ini, kami jadi kian akrab. Keakraban, berarti pencampuran bahasa pula. “Gue-elu”, “anjir/anjay”, dan banyak kata kata lainnya yang pada hari ini aku sendiri menyesalinya. Kelakuanku baik baik saja, seperti ini juga. Tapi, kalau persoalan bahasa, wah, parah. Bagaimanapun, ketika melihat history chat pertama kali dengan Salma pada 25Ramadhan itu, aku yang sekarang merasa jijik dengan bahasaku waktu itu.

  Tapi bagaimanapun, ketika aku menyukai yang lain, aku tetap menyukaimu, hanya saja aku kepikiran tentang dirimu yang tidak akan pernah menyukaiku. Ya, su'udzhon. Aku tidak bisa begitu saja menyukai yang lain tanpa adanya dirimu di hatiku. Mungkin seperti itu juga pada saat dewasa nanti, kamu tetap ada di hatiku.

  Kau terindah, kan slalu terindah :) :v

  Terimakasih salma. Terimakasih telah mengembalikanku lagi. Sekarang, aku telah terbiasa kembali dengan “Ana-antum”, dan “Ane-ente”. Bagaimanapun, kehadiranmu sekarang merubah segalanya, hingga sampai hal seperti bahasaku juga telah berubah setelah kehadiran dirimu:)

(saia udah beriman dari dulu yak:v intinya ente udah ngerubah ane. Ituaja.)

  Ini mirip dengan masa SD, dimana diriku berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi  untuk dapat “setara” dengan Salma. Aku tidak tahu waktu itu ada prinsip “Aththayyibini Liththayyibat”, namun aku melakukannya supaya dia suka padaku. Tapi sekarang, ah, aku memantaskan diri untuk bisa dibersamakan dengan dirinya.

  Semua sama saja seperti dulu, aku menjadi lebih baik ketika bersamamu. Denganmu, bukan saja hidupku yang terasa lebih indah, tapi hingga kelakuan dan amalku. Bukan maksud aku tidak ikhlas karena Allah dan niatnya untukmu, tapi pokoknya aku dapat merasakan lebih baik ketika bersamamu ketimbang hampa tanpamu.

~  Ð–  ~

Tapi semua itu, semua yang telah kulewati tanpamu, rasanya hampa. Bagaimanapun aku mencoba menyukai yang lain, sama saja, dihatiku tetap ada tempat khusus untukmu. Aku tidak akan mencoba suka kepada yang lain jika semuanya jelas sedari awal.

Aku mencintaimu selalu, meski kau tidak ada di sisiku selayaknya hari kemarin. Kita tidak tahu nantinya pada saat dewasa, apakah kita dibersamakan atau tidak, yang penting aku akan merasakan perasaan yang sama padamu hingga kapanpun.


Aku akan mencoba mengenang setiap memori yang kita lalui bersama, kapanpun. Kepergianku nanti, ke Bogor, aku akan terus mengingat kita. Aku akan selalu menyayangimu kapanpun jua. Mungkin kita tidak lagi bersua, namun yakinlah Allah selalu pertemukan hati kita. Ingatlah, do’a itu lebih kuat dari apapun. Jika rindu, kirim saja do’a. Aku tidak tahu dan tidak terlalu mengharap kau akan rindu padaku nantinya, namun aku pasti akan merasakan itu. Kedepannya, aku akan menjaga hatiku, tidak perduli apakah kamu demikian pula, atau tidak. Ketidakjelasannya kondisi kita pada masa lalu yang membuatku mencoba menyukai seseorang yang lain. Ahsudahlah, yang penting kedepannya tidak akan begitu. Meski “kalau saja” akhirnya kita tidak bersama, namamu adalah kenangan abadi di hatiku, dan ukiran namamu tetap selalu membekas hingga kapanpun jua :)

   Eh, tapi kamu juga telah mengatakannya padaku dengan bahasa yang khas dari dirimu :)

Ah,entahlah:v


~  Ð–  ~

  Hati juga bicara masalah selera.

Kalau ditanya, aku akan memilih wanita yang pastinya menjaga diri. Buktinya, pada saat aku pergi JJS bersama Fauzi ke kantor bupati, kami menemui beberapa rombongan wanita yang sedang berkumpul. Fauzi bilang,”Wah, mantap ya” kepada rombongan wanita yang sedang berada di tengah lapangan. Ah, mereka mengenakan pakaian seadanya, kaos gituaja, dan jeans. Itu sangat mengganggu mataku. Mereka terlihat kecentilan dengan teriakan teriakan khas para wanita yang tengah gemes, sambil mengangkat tangan mereka, maksudnya untuk berswafoto. Ketimbang ngeliatin mereka, aku lebih baik melihat ponsel. Sayangnya aku tidak membawa ponsel:v

  Ya, inilah aku, masih banyak kekurangan yang terdapat pada diriku. Aku susah menahan mataku kepada rombongan yang hanya berisikan dua orang di dekat gerbang masuk itu. Ah, yang satunya memakai cadar.

  Bukannya aku menilai baiknya orang dari kelihatannya, bukan karena dia memakai cadar lalu aku menilai dia adalah orang yang baik. Hanya saja, dia pasti “menjaga diri”. Aku tidak mengatakan bahwa aku menyukai orang yang memakai cadar, namun aku bisa tahu dari sana yang mana yang menjaga diri dan mana yang menjual diri.

  Aku lebih menyukai orang yang shalehah. Aku tidak tertarik sama sekali untuk chat dengan seseorang like Ana Aisyah Sarpina itu. Ahh, malas sekali.

  Apalagi yang sana cekrek, sini cekrek, dikit-dikit cekrek. Itu adalah spesies aneh di muka bumi ini. Ah, aku pasti akan memandang aneh jika hal tersebut terjadi disekitarku. Tak perduli siapapun, bahkan kakakku saja, ah, aku sudah risih melihatnya seperti itu. Berkali kali kuingatkan, wanita tidak boleh seperti itu. Tapi, ah, dia anggap layaknya bahan bercandaan saja.

  Walau mungkin kamu agak sering melihat fotoku dipajang pada status atau storyku, namun yang terjadi bukan seperti kelihatannya. Aku melakukan fotografi pada diriku sendiri hanya pada waktu tertentu saja. Saat jalan jalan, misalnya. Dan, kalau kau amati, tidak ada foto yang kuambil secara selfie.

  Aku telah mengenal Salma sejak lama. Kurasa, dia adalah orang yang tepat. Dia adalah orang yang baik, bahkan sangat baik. Hafalannya, cara dia menjaga diri, wah, aku sangat terpesona selama ini. Entah mengapa, namun yang pasti aku mengaguminya karena segala hal yang baik. Orang sana dan sini memuja orang lain yang dikata “cantik”, namun malah kurasa centil, lebay. Tapi aku jauh lebih menyukai orang yang shalehah. Mungkin ada banyak orang lain yang lebih baik dari Salma, namun aku maunya dengannya, baik dan buruknya :)

  Selama ini, selalu mengasyikkan jika berteman dengan orang yang lumayan pendiam dan suka ngotot. Aku lebih memilih berteman dengan teman yang lebih pendiam daripada diriku. Naufal. dan lainnya lah. Aku sangat suka. 

  Wah, kalau dichat, akupun lumayan segan. Dia tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku, kecuali dalam kondisi yang sangat terpuruk. Tidak seperti yang lain, kalau kita ingin berbicara dan tidak jadi mengatakannya, dia mampu menahan rasa keponya. Aku telah mengamatinya selama ini. Dia hanya mengatakan hal semacam “Yalah”.

  Dan sungguh, aku tak akan merasa terganggu dengan itu. Meski dia agak lambat dalam urusan balas chat, tapi aku tidak akan mempermasalahkannya. Syukur sekali dia mau membalas. Sekali lagi, tak pernah terpikir bakalan begini. We know this is a really amazing condition.

beneran loh :)


  Keakraban ini, ah, aku teringin mengalaminya tiap detik dan tiap waktu. Aku ingin menjagamu untuk tetap ada di sini, dan meneriakkan sekeras kerasnya di dekat telingamu bahwa “JANGAN PERGI!”. Tapi sekali lagi tak mungkin. Kita harus mengejar cita cita dan impian masing masing, dan berjanjilah padaku kita akan bertemu lagi pada suatu saat nanti:)


Jujur, aku masih saja merasa tak dapat berkutik jika didekatnya. Pun kurasa dirinya, tidak akan seperti di chat. Aku mencintainya dengan caraku sendiri. Dulu, segalanya tampak indah tanpa percakapan seperti ini. Namun kondisi hari ini menuntunku untuk melalui chat demi chat, dan aku cukup menikmatinya:)

(Wah, ketika Safna mengatakan bahwa dia tengah kurang sehat, aku terkejut tapi tak bisa apa apa. Hanya kata kata yang membuat diriku sendiri cringe dalam hal menulisnya.

  Dan, kao, adek lucknut! Kao kerjain kakak ente, tipu saia pulaa!:v)

*sidestory
Sebenarnya aku senyum senyum sendiri kalau dipanggil Safna dengan sebutan "abang ipar". tapi, mengingat tuaan dia, ah, tidak fair saja rasanya :v

Beberapa hari ini aku agak jarang chat dengannya, malah si sapenah:v Dia kenapa ya? Perasaan baru dua hari aku tidak berkomunikasi dengannya, tapi aku merasa itu sudah sangat lama. Ah, rasanya sudah berabad abad.

  Safna mengatakan bahwa Salma tengah menulis sesuatu, itu melulu. Aku jadi penasaran terhadap apa yang ditulisnya, namun aku tidak ingin memaksakan kehendakku. Biarlah dia sendiri yang memberitahukannya padaku. Lagipula, kurasa itu bukan urusanku, jadi lebih baik untuk tidak ikut campur.

~  Ð–  ~

  Ya, setelah itu aku dapat menghubunginya, setelah sekian lama. (antahlah:v)

  Namun entah karena aku yang merasa bersalah, atau mungkin dia yang memang berbeda. Perlakuannya agak beda, namun setelah kubaca ulang, biasa saja. Jadi, sebelum itu aku membuat masalah. Tentang Nabila Agustin Dinata. Ah, untuk menjelaskannya saja aku malas.

  Dan kemarin, ah, masalah itu sangatlah membuatku merasa antah berantah. Aku sudah terlalu sering membuat kesalahan. Pada saat itu, ketika mengetahui adanya masalah besar yang harus kuhadapi, aku langsung lemah. Tubuhku langsung lemas, tidak tahu mengapa. Aku hanya muak atas semua yang kulakukan. Aneh, ya. Aku yang bersalah, aku yang seperti itu. Ingin kusesali, tapi sudah terlanjur seperti itu.

 Biasanya, ketika aku melakukan kesalahan, aku akan segera mencoba memperbaikinya. Namun untuk masalah itu, ah, entah mengapa, hanya saja aku sudah sangat muak kepada diriku sendiri.



Aku hanya lemas, tak berdaya waktu itu, seraya meratapi diri sendiri yang sering sekali membuat permasalahan dalam hidupnya. Kali itu, aku benar benar merasakan bahwa aku ini adalah parasit di hidupnya.

Permasalahan yang timbul dariku untuknya selalu dari satu sifat yang sama, EMBER. Kali ini aku tidak akan marah dikatakan seperti itu. Meski aku telah lama sekali tidak mendengar kata itu terlayang padaku, namun dua bulan ini aku telah mengata-ngatai diriku sendiri dengan kata tersebut. Apakah itu bentuk dari perkembangan sebuah kata yang menjelma menjadi do’a? Ah, semoga saja, kalau itu dideteksi langit sebagai do’a, akan diralat kembali. Aku tidak ingin itu menjadi sifatku. Mungkin aku tidak ingin menjadi pendiam lagi, namun aku juga tidak ingin kata ember menjadi perwakilan sikapku.

Sal? Halo? :') :(


Dan, terima kasih Salma. Akhirnya kau yang mencari jalan keluarnya, wah, sangat mengejutkan sekali. Thank you. Meski cara yang kau gunakan itu merupakan cara yang kurang efisien, namun itu menunjukkan betapa kau berusaha. Aku tidak akan merasa aneh akan hal itu, karena masalahnya itu sangatlah mendadak dan rumit sekali. Hei, kalian satu atap, satu kamar! Aku saja tidak akan bisa mengatasi hal tersebut. Aku tidak bisa memecahkan akar permasalahannya. Kunci penyelesaiannya juga hanya terdapat pada Salma.

?

~  Ð–  ~

  Sudahlah, Salma. Tidak perlu berlaku demikian. Harusnya aku yang minta maaf. Aku hanya takut rasa percayamu itu telah habis untukku. Itu saja. Setelah semua yang kulakukan, masalah demi masalah, entah mengapa rasanya semakin canggung saja. Aku kangen dengan nada pembawaan chat kita dahulu, ketika awal awal pertemuan kita.

I'm just worried it's broken :(

  Pembawaan chat kita akhir akhir ini semakin tidak jelas, dan aku mengakui hal itu. Aku tidak bisa memungkirinya, dan itu memang benar benar terjadi. Tapi, setelah permasalahan ini, aku rasa nada chat kita kembali lagi ke masa itu, masa awal aku bucin kembali :v

~  Ð–  ~

  Malam permasalahan itu membara, aku sangat merasa bersalah. Aku muak akan kelakuan diriku sendiri. Entahlah bagaimana aku sampai segitunya. Sebenarnya kalau dipikir pikir, aku tidak apa apa disini, tidak akan terjadi apa apa padaku. Tapi yang kukhawatirkan adalah Salma. “Wah, bagaimana mereka berdua saat ini.“

Aku memejamkan mataku, sambil berpura pura telah tidur pada orang tua yang terbangun sekitar jam setengah dua belas malam, dan secara tidak sengaja, lautan mimpi telah terbentang di hadapan. Aku terlelap tanpa sengaja, dan laptop itu, masih saja dalam dekapanku hingga pagi.

Keesokan paginya ketika aku terbangun, aku terkejut bukan kepalang, karena melihat laptop itu masih saja di dalam pelukanku. Untung saja orangtuaku tidak menyadarinya :v.

  Aku awalnya biasa saja, namun beberapa detik setelahnya, ingatan akan kejadian tadi malam membuatku jadi malas bangun. Jam sudah menunjukkan jam setengah lima. Ah, itu sudah sangat cepat untuk orang yang tidur kemalaman seperti aku tadi. Mungkin kantukku telah reda, tapi ingatanku tentang masalah tadi malam membuatku malas untuk beranjak dari kasur. Alhasil, aku menunggu suara tilawah dari masjid terdengar.

  Pagi itu, diriku amat ingin menanyakan tentang perkembangan yang terjadi pada masalah tersebut. Tapi, setelah berpikir panjang, aku rasa tidak baik langsung bertanya seperti itu. Lebih baik menunggu masa yang tepat, ketika masalah sudah reda. Aku bukannya ingin lari ataupun kabur dari permasalahan itu, but really, better to do that.

Ah, sangatlah susah untuk sekedar melakukan hal tersebut. Kau tahu? Susah untuk tidak chat denganmu. Tidak bermaksud lebay atau apa, namun aku kangen. Aowkaowkaowk.


  Seharian tanpa chat, aku berharap dia chat duluan. Namun hal itu berubah menjadi mustahil karena aku teringat akan tunduknya goodgirl terhadap peraturan. *ungkapan nothing is impossible berlaku untuk ini:)

  Tapi tidak apa, karena aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada mereka berdua di rumah mereka, dan apa yang terjadi pada Salma. Bisa saja masalah tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar dibanding sekedar rasa kangenku saja.

Sehari itu, memang berat untukku dengan tidak berkomunikasi dengannya, padahal dia online. Tapi itu merupakan hal yang lebih baik dengan menerima kenyataan bahwa keadaan sedang tidak baik baik saja.

  Ah, bagaimana aku bisa menghadapi perpisahan, sedangkan untuk sehari saja aku sudah seperti itu.

~  Ð–  ~

Esoknya, juga setelah mengokohkan diri, aku mencoba menyapanya, dan aku maklum saja chatannya agak lama dibalas.

Tapi aku tidak :)


Dan ternyata, semua masalah telah beres. Maafkan aku sehingga kamu harus menghadapi hal yang seperti itu, apalagi saking paniknya harus sedikit berbohong. Tak apa. Hidup tidak selamanya tentang kebaikan. Manusia tempatnya dosa dan kesalahan, tinggal bagaimana cara ktia mengelolanya.
:)

Ondeeeh :v

~  Ð–  ~

  Dan bagaimanapun, yang salah tetaplah aku, yang mulai tetaplah aku. Jadi, aku yang salah! Udah, baikan sonoh! Eheh~ *Iyaiya saia tau kok klean udh baikan :v

~  Ð–  ~

Percayalah, yang kau temui sekarang, bukanlah versi terbaik dari diriku. Akan selalu ada update dan pembaruan. Diriku yang sekarang, masihlah labil dalam segala urusan, belum bisa berpegang teguh kepada jalan yang benar. Aku masih sering melakukan dosa, masih kerap kali berbuat salah. Mungkin beberapa orang menganggapku sudah lebih berlaku dewasa, namun aku tetaplah sesuatu yang disebut-oleh orang barat sana “Remaja”. Pendirianku terkadang lemah, dan kadang malah terkesan keras kepala. Aku baru melewati sedikit dari lereng gunung permasalahan hidup. Baru sedikit. Untuk itu, dengan upaya dan keteguhan hati, nantinya InsyaAllah, temuilah aku dalam kondisi yang paling terbaru, versi paling mutakhir. Memang, kita sama sekali tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan, bahkan pada detik selanjutnya saja, kita tidak mengetahui secara pasti. Apakah aku akan lebih baik kedepannya, atau bahkan lebih buruk. Kita tidak tahu. Tapi merupakan suatu hal yang pasti, bahwa aku disini bertekad bahwa yang terjadi di depanku mengarah kepada yang lebih baik. Apalagi dengan adanya dirinya, meski tidak secara langsung, aku akan terus berusaha menjadi pribadi yang layak baginya. Meningkatkan kualitas diri untuk Allah, dan memantaskan diri, untuknya :)

~  Ð–  ~

Harapan dan impian, biarlah semua menyatu di dalam jiwa dan raga, mengalir begitu saja, dan berujung kepada pertemuan kita suatu hari nanti, dimana aku telah menjadi pribadi yang layak bagimu dan semua akan berjalan sebagaimana impianku. Mungkin sekarang harapanku hanya digantungkan pada-Nya, namun impianku, ah, kamu mengambil tempat dominan pula disana.

Mungkin ada banyak kecemasan, ada banyak kekhawatiran. Tapi itu tergantung bagaimana cara kita mengelola dan mengaturnya. Mungkin saja semua itu masih saja mustahil hingga kini, namun sekali lagi, “Nothing is Impossible”.

Aku tidak ingin lagi mencemaskannya, walau terkadang ia mendatangiku secara paksa. Tapi, untuk semua kecemasan dan kekhawatiran, aku telah memiliki jalan keluarnya. Serahkan saja semua pada Allah. Allahlah yang mengatur semuanya. Masa depan, ada dalam genggaman Allah dan kita. Allah yang menetapkan dan mengatur, dan kita yang berusaha. Semoga apa yang kita impikan akan terus tergantung tinggi di angkasa sana, dan berusahalah untuk meraihnya bersama :)

~  Ð–  ~

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Eh, anu :v salah satunya saja yang kuceritakan, sebab nanti terlalu panjang nih artikel :v

..

Aku adalah orang yang pandai sekali berpaling. Aku bisa saja melakukannya dengan banyak hal, apakah itu refreshing atau dengan mencari sesuatu yang lain. Contohnya saja, ketika ada Salma tidak jua menjawab pesan dariku, aku bisa saja chat dengan yang lain.

  Tapi yang harus kau tahu, setiap orang punya prioritasnya. Kalaupun ada ratusan teman chatku, tapi kalau yang kupentingkan yaitu Salma, wah, yang lain bisa apa.

  Namun dalam beberapa kondisi, seperti ketika 25Ramadhan itu, ah, aku tidak sanggup dan tidak ingin bangkit. Aku bisa saja langsung mengambil motor dan pergi bersama teman teman, namun aku lebih menginginkan untuk diam.

  Ya, itulah caranya.

  Ha, cara apaan?

  Aku telah menyimpulkan sesuatu itu menjadi suatu hal yang bermanfaat. Ah, entahlah. Aku akan membaca pesan darinya kalau ingin mengetik pada blog ini, supaya dapat memancing moodku. Kalau sudah kulakukan seperti itu, wah, tidak akan ada yang dapat melawannya. Aku lebih pandai membahasakan semuanya kalau jiwaku sedang berada pada kondisinya.

  Dan untuk menghilangkannya, cukup mudah; ambil motor, atau yang lainnya. Cukup berjalan dan temui teman. Rasa itu sudah mulai bisa kukontrol. Kalau dulunya aku tak bisa menghilangkan rasa itu meski dengan bagaimanapun, sekarang aku dapat mengontrol datang dan perginya, sesuai kebutuhanku.

~  Ð–  ~

  Setelah ini, kita akan pergi ke sekolah. Menuntut ilmu, ngurusin osis-_ dan banyak hal lainnya yang harus kita lakukan. Aku tidak tahu apakah nantinya kami akan tetap berkomunikasi, ataukah terhenti sampai di sini saja.

  Dan akupun juga akan memaklumi keputusannya, apapun itu. Komunikasi kami yang sekarang ini, tidak lain dan tidak bukan juga merupakan keputusannya. Entah bagaimana ia bisa menjawab dan meladeniku, sedang ia sendiri mengatakan bahwa dirinya takut akan peraturan sekolah. Itu merupakan sebuah keajaiban, dimana goodgirl bisa bisa ngechat.

  Mungkin kita harus terpisah untuk sementara waktu ini, dan ingatlah bahwa kejadian kemarin itu pernah terjadi. Mungkin kita tak dapat memaksakan, namun suatu hal yang pasti bahwa kita dapat merasakan untuk beberapa saat atau bahkan dekade selanjutnya. ^_^

  Jaga selalu, dan jangan sampai lupa :)






:)


















  Sebenarnya masih banyak yang ingin diceritakan, namun, aku tidak ingin ini terlalu panjang.

Oke? Selamat membaca.











  Salma,... Salma. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu itu. Entahlah. Pertanyaan yang kulayangkan di blog ini, apakah tega dibiarkan begitu saja, tidak terjawab? Apakah aku harus berkata dan bertanya sendiri setiap hari? ah, entahlah. Sedangkan pertanyaanku yang kuberi pada tengah malam waktu itu, tidak dijawab hingga kini. Aku memberikan waktu untukmu tidur, karena memang pikiranmu sedang tidak baik baik saja waktu itu. Apakah hingga kini seperti itu jua? entahlah. Mungkin kamu bisa menjelaskannya pada tulisanmu nanti.














   



Aku tidak ingin selalu menjadi parasit dalam hidupnya, dengan membuat masalah demi masalah lagi. Aku takut semuanya akan segera pudar gara gara tingkahku. Bahkan menurutku, lebih baik untuk menahan diri agar tidak chatan untuk sementara waktu.

Semua itu terpikirkan olehku, karena
Jikapun kita tidak lagi berhubungan ataupun berkomunikasi hingga akhir hayat, yang tinggal di benakmu tentang diriku hanya yang baik baik saja. Namaku harus terkesan baik ketika diingat oleh dirimu pada suatu hari nanti.

  Ah, aku tidak bisa memutuskan sesuatu itu. Kondisi masa kini menjadikan untuk tidak memungkinkan berkomunikasi secara terus menerus. Namun aku tidak yakin dapat menahan rasa rindu lagi. Yaa Rabb, kumohon bantulah diriku.





:)


   Yang mau ditulis?
   1. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada hatimu sejak SD, ketika kita masih bersama. Serta momen momen yang teringat dan ingin kau ceritakan

2. Yang terjadi sekarang
3. Harapan kedepan

Yang nomor satu aja dulu ya ^_^ gausah banyak banyak, ntar ga fokus belajar :v

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

DOPODICHÉ : UNA SPERANZA

PERINGATAN : Episode ini mengandung tingkat halusinasi yang sangat tinggi, jika sekiranya pembaca tidak kuat menahan cringe dalam membacanya,... ah pokoknya lanjut aja deh :v   Hai, Salma!   Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.   Akhirnya kita bertemu lagi, ya?   Meskipun tidak bertatap muka, aku sudah senang sekali. Saangat bahagia!   Kendati aku tidak memiliki hak apapun dalam hal merindukanmu, aku melanggarnya! (anebukanbangga) Selama ini kumerindukanmu.   Setelah dua tahun lamanya, akhirnya kita memiliki titik temu juga. Walau memang, pertemuan kita ini begitu tidak diduga dan sangat mendadak, apalagi dimulai dengan luka, akhirnya kita bisa berjumpa kembali!       :) ~    Ð–    ~   Aku mencoba menenangkan diri. Aku keluar dari rumahku, meraih tali penyangga ayunan itu, dan mulai mengayunkannya dengan sesekali hentakan kaki yang cukup membuatku merasa melayang. ...