Sebuah rasa.
Menurutmu, apa arti sebuah rasa?
Rasa yang tak lagi terpendam.
Akankah
ia bertahan?
Ah,
aku bahkan tak bisa menduga kejadian apa yang akan terjadi di depan mataku
sendiri.
~ Ж ~
Aku berlarian
menyusuri jalur protokol 32, bersama tentramnya fajar dan segarnya udara pagi.
Pepohonan terlihat di sepanjang jalur itu, dengan dedaunannya yang seolah melambai
pada diriku. Tarian indah nan mempesona itu tak lagi hanya bisa dinikmati oleh
para londo saja, namun kini orang seperti aku, kau, dan juga dia telah
dapat menyaksikannya dengan tenang. Indonesia detik ini telah merdeka.
Benar, sudah hampir delapan puluh tahun berlalu semenjak para proklamator
menyerukan kata “Merdeka!“ dengan bangganya. Kalau dipikir-pikir, itu adalah
waktu yang sudah amat sangat lama. Sayangnya, kemerdekaan Indonesia tidak
diikuti dengan merdekanya hati hati penduduknya. Cih, jauh sekali aku berpikir.
Tidak kedepan ataupun kebelakang, aku terlalu jauh dalam hal memikirkan
sesuatu. Dasar aku.
Pemikiran yang seperti itu, pasti ada baik
dan buruknya. Kita sama sama mengetahui bahwa orang yang berpemikiran ke depan
jauh lebih baik daripada orang orang yang hanya memikirkan “bagaimana cara
mereka untuk makan” hari ini saja. Namun, terlalu berlarut seperti itu, ah,
kurasa juga merupakan hal yang kurang baik.
~ Ж ~
Hari hari
selanjutnya, kucoba dengan mensyukuri apa yang ada. Semua yang terjadi padaku
hari ini, haruslah sebaik mungkin untuk kusikapi. You know that i’m not
perfect, but, i’ll try.
dan do'aku di masa lalu ternyata terkabul :)
Sebuah angan masa
depan terlukis disana. Tapak bersejarah jua dimilikinya. Momen hari ini, dia
juga menyaksikan atas apa yang terjadi. Benar, segumpal darah itu menjadi saksi
perjalanan hidupku. Hati ini, ah, terkadang diriku menaruh rasa kasihan
kepadanya. Ya, memang, aku tak jarang untuk memaksanya.
Kejadian hari
ini, kebersamaan kita, biarlah seperti itu jua indahnya kedepan. Aku tak
mengatakan bahwa itu secara pasti akan berlangsung selamanya, namun hanya
dengan mengingatnya, kurasa hal itu akan menjadikan kita lebih ringan dalam
menghadapi hidup. Seluruh hal yang terjadi detik ini, akan menjadi kenangan serta pelajaran berharga yang tak dapat ternilai oleh harta benda manapun. Memori ini? Ah,
aku akan menjaganya hingga akhir menutup mata.
Keberadaan kita
di bumi, di alam semesta nan menakjubkan ini, tak luput dari kekuasaan-Nya.
Keahlian kita, kemahiran kita, tidak ada ada apa apanya dibanding kehendak dan
kekuasaan yang Dia miliki. Aku tidak bisa berjanji akan selalu memiliki jumlah
perasaan yang sama padamu, namun aku dapat mengucap kata “janji” ‘tuk
mencintaimu selalu. Cinta memang seperti itu, ada naik dan turunnya. Ada pasang
dan surutnya, sesuai perkembangan hidup. Namun, harus kita ketahui bahwa
sesuatu yang disebut “cinta” itu takkan pernah habis ditelan masa. Itu akan
habis tak bersisa jikalau sang pemiliknya sendiri yang memutuskannya. Hei,
hingga detik ini aku masih menjaganya, dan kuharap begitu jua hingga nanti dan
selamanya :)
Aku terbangun malam ini, dengan lirihnya jam dinding masih saja bergerak, tak pernah kenal lelah. Ia menunjukkan pukul satu dinihari. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain mengambil laptop ini dan mulai mengetik kembali. Mungkin hotspot bisa saja kunyalakan dari handphone kakakku, namun aku lebih memilih untuk ini. Meluapkan isi hati, tak perduli aku mengetik hingga terbitnya fajar. Laptop ini, akan menjadi sebuah artefak dari keberadaan kita. Ngarti teu, Sal?
~ Ж ~
Aku terbangun malam ini, dengan lirihnya jam dinding masih saja bergerak, tak pernah kenal lelah. Ia menunjukkan pukul satu dinihari. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain mengambil laptop ini dan mulai mengetik kembali. Mungkin hotspot bisa saja kunyalakan dari handphone kakakku, namun aku lebih memilih untuk ini. Meluapkan isi hati, tak perduli aku mengetik hingga terbitnya fajar. Laptop ini, akan menjadi sebuah artefak dari keberadaan kita. Ngarti teu, Sal?
Bicara tentang artefak, wah, kurasa banyak
sekali. Pun semua hal yang ada di dunia ini, bisa mengingatkanku tentang
dirinya. Dimulai dari surat menyurat hingga bahkan jajanan masa sekolah dasar
dulu, bisa membawaku ‘tuk kembali menyelam di dalam samudera kenangan bersamamu.
Itu dapat memberikan kembali apa arti pentingnya sebuah kenangan dalam hidup.
Bersorak
sambil berharap kau ada disini, tapi kau tidak ada
Karena
seluruh hal bisa membawa kembali semua kenangan
dari
semua yang sudah kita lalui
~Maroon5-Memories
~ Ж ~
Aku adalah aku. Bukan dirimu, dirinya, and
not somebody else. Aku adalah Thariq Almas Neil Authar yang pada kelas satu
sekolah dasar telah merasakan ada getaran di dalam hati ketika melihat
seseorang yang biasa dipanggil Salma tersebut. Dan rasa “cinta monyet” itu
menggiringku hingga berada di titik ini, dimana aku bisa berteriak sekencang
kencangnya tanpa ada yang mencegahku. Banyak hal yang mungkin telah dapat
kunikmati, namun lagi lagi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa aku
masih saja terjebak dalam ruang rindu.
Mungkin bagi kalian tak ada hubungannya,
namun bagiku itu jelas jelas memiliki hubungan kausalitas dengan seluruh memori
kebersamaanku dengannya. Tak mungkin dapat kujelaskan dengan kata kata. Semua
mengalir begitu saja, laksana sungai kehidupan.
Tidak mungkin bagiku menjelaskan bagaimana bocah
yang masih berumur enam tahun itu dapat mempertahankan rasanya hingga kini.
Tak mungkin jua bagiku ‘tuk mendeskripsikan bagaimana cara bocah tersebut untuk
terbebas dari segala rasa keputusasaan kala menerima kenyataan bahwa pujaan
hatinya tak mungkin memiliki perasaan yang sama.
Ada
waktu yang kuingat, saat aku tak tahu rasa sakit. saat aku tak pernah merasa
begitu tersesat.
•••
saat
aku percaya selamanya, semuanya pasti akan tetap sama
~Maroon5-Memories
lage:v
~ Ж ~
~ Ж ~
Jejak kehidupan yang telah terbentuk, itu
akan bertahan selamanya. Seluruh waktu dan masa, tak terkecuali kebersamaan
kita, biarlah itu menjadi kenangan terindah sepanjang masa yang patut kita
syukuri bersama, bahwa “kita pernah ada”. Gapai seluruh harapan dan
impian sebagaimana kita diajarkan untuk selalu berusaha mewujudkannya. Semuanya
akan berjalan normal pada masanya. Aku tak dapat mendustai diriku sendiri, bahwa
kesedihan dan kecemasan akan terus menghantui hidupku jika tak bersamanya,
namun juga merupakan sebuah kebahagiaan jikalau akhirnya diriku melihatnya
bahagia.
Masalah jodoh tidak jodoh, kurasa aku bisa
menanggungnya. Meski akhirnya akan memilukan, aku telah bahagia karena kita
pernah saling ‘merasa’ walau akhirnya tak pernah memiliki. Aku akan terus
mencoba berjalan ke depan kendati kau tak akan bersedia menemani perjalananku
lagi.
Aku bersyukur
pernah berjumpa denganmu, baik di hari kemarin, kini, dan seterusnya. Angan
angan yang sampai kini kugenggam erat, semoga dapat terwujud nantinya. Harapan
dan impian pun demikian juga, semoga dapat tergapai dengan cara yang luar biasa
indah. Jalan hidup memang takkan bisa ditebak, namun dengan cara
mengusahakannya, tidak ada yang dapat diberi predikat mustahil. Yeah, like
ur words, “Nothing is impossible”.
Benar benar
beruntung aku memiliki takdir seperti ini. Entah bagaimana caranya bocah yang
dipanggil “Adek” (dulusbelumpunyaadik) itu lulus dari Taman Kanak Kanak, tidak
diterima di SD N 09 (karena umur masih 5 tahun), libur setahun, dan akhirnya
dipertemukan dengan Salma di SD IT Cahaya Makkah. Ya, kita tak bisa bertanya
mengapa itu semua terjadi. Semua terjadi begitu saja. Tak ada sebab yang pasti
atas pertanyaan “mengapa” segala sesuatu dapat terjadi di kehidupan kita. Asal
muasal yang “pasti” itu, hanyalah tarian pena ilahi yang maha mengatur
segalanya :’)
Takdir seperti
ini, sangatlah jarang dimiliki diantara manusia. Aku. Hanyalah aku yang dipercayakan mempunyai takdir yang super “wah” ini. Bertemu dengan orang sepertinya, hingga
detik ini, ah, sangat sulit untuk menjelaskan semuanya.
Ah apasih,
gajelas banget :)
~ Ж ~
Detik ini aku dan dirinya telah mencapai
titik dimana kami bisa bercakap cakap tanpa ada alasan yang jelas. Ya, mungkin
kata “akrab” telah pantas diselipkan. Tak ada yang tahu, kan? Dulu, ketika
waktu masih kecil, aku bertekad akan berani akrab secara langsung dengannya
dikala menginjak kelas enam. Zaman terus berputar, hingga aku yang sudah SMP
harus mengenyahkan segala mimpi tentangnya. Kurasa tak akan ada lagi pertemuan
ataupun sepatah kata antara diriku dengan dirinya. Aku tak bisa bermimpi
terlalu tinggi lagi, karena sudah ada pembatas antara kita. Dan, aku yakin dia
takkan pernah mengharap kehadiranku kembali pada hidupnya.
Mengharap, tak
diharap!
Kalimat itu kubaca dari puisi Habiell
Pilar Ramadhan seputaran akhir kelas tujuh. Tak diundang ataupun diantar,
nama “Salma Mutiara Irza” kembali tayang dalam pikiranku. Aku tidak tahu harus
apa, yang jelas aku merindukannya namun kutahu dia tidak dan tidak akan pernah memiliki
perasaan yang serupa.
~ Ж ~
Jika dimasukkan
dalam hukum jodoh, tentu hal yang kualami ini bukanlah hal yang etis
untuk dilakukan. Namun, kerinduanku tak bisa terkalahkan oleh rasa gengsi yang
ada. Aku ingin sekali melakukan sesuatu yang berharga untuk hidupnya di
kesempatan kali ini.
Aku tidak tahu
apakah setelah ini dia masih mau berkomunikasi denganku apakah tidak. Apakah
rasa takutnya itu lebih besar dari ‘rasa’ yang disebutkannya di hari kemarin,
aku sama sekali tidak mengetahuinya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, selepas
tanggal 17 Juli ini, dia tidak pernah lagi mengucap sepatah kata padaku lagi
:’)
Wah, untuk lebih
kedepan lagi, tamat SMP, itu semua menjadi lebih sulit. Aku hanya bisa tahu
keberadaannya sekali enam bulan. Ditambah lagi tentang kemauan dirinya untuk
berbincang denganku, i don’t know.
Aku tak pernah
meragukanmu. Tak pernah. Namun, kekhawatiran terus menerus berputar di dalam
kepalaku, tidak tahu mengapa. Haruslah menyerahkan semua pada Rabb, namun
logika manusiaku tak dapat mencernanya. Aku harus terus belajar tawakkal.
~ Ж ~
Aku mencintainya. Ah, coba temukan di blog
lamaku kata itu. Seingatku, aku hampir tidak pernah mengatakan itu. Aku baru
mengucap kata “cinta” baru baru ini. Semua itu bukan berarti
diriku telah paham betul dengan kata tersebut, bahkan seseorang semuda
diriku bisa dibilang belum begitu mengenal cinta. Namun karena apa yang telah
kualami selama ini. Hati, batin, serta otakku sudah mencerna semua yang ada di
dalam hatiku, dan hasilnya; positif.
Positif apean
thor? Positif corona’?
Positif apa ya?
Hahaha. Baca aja kata berwarna merah tadi :)
Aku sama sekali
tidak mengetahui apa yang ada di hatinya. Apakah dia hanya sekedar “suka” atau
bagaimana, i don’t know. Tapi, sudah jelas kewajiban bagiku untuk
mengucapkan kata terimakasih kepadanya, karena dia telah menghargaiku sejauh
ini :)
Ah, aku semakin
terpesona olehnya. Jarang sekali manusia yang seperti itu. Wanita yang menghargai
seseorang yang mencintainya sampai sejauh itu, wah, cari saja, susah didapat :)
Susah sekali diungkapkan bagaimana rasanya dihargai seperti ini, semua terjadi
secara ajaib dan mengalir begitu saja. Bagaimanapun, kami tetaplah dua manusia
yang sewaktu kelas lima, suka senyum senyum sendiri kalau “dicie ciein”
~ Ж ~
Ah, diriku. Beberapa hari ini aku memikirkan
sesuatu. Sesuatu itu bukan tentang diriku, dan juga bukan tentang perasaanku
Aku juga telah sedikit mengungkit diatas,
bahwa aku tidak tahu apapun tentang hatinya. Tidak seperti biasanya, takkan ku mengatakan
bahwa “cukup dia dan Allah yang tahu”, namun aku ingin membuat dia menceritakan
segalanya. Mungkin sangatlah sulit kalau melalui chat, dan sebenarnya akupun
juga menginginkan kisah itu akan terabadikan di sini.
Ha? Maksudnya?
Benar, Salma akan menulis di sini.
:)
~ Ж ~
Beneran thor?
Iya, emang ada
yang salah?
Pikiran itu cukup
membuatku penat beberapa pekan ini. Ternyata diriku sangatlah egois. Selama
ini aku hanya memikirkan diri sendiri, serta menuntut apa saja yang terbesit di
dalam hati kecilku ini. Padahal, However, Hatiku ini hanyalah satu dari
sekian milyar yang pernah “ada” di muka bumi ini. Namun aku bertingkah seakan
hanya aku yang memiliki hati dan semua yang ada di dalamnya harus terwujud.
Semua kembali pada suatu poin; yakni EGO.
Cukup sudah kurasa dalam menjelaskannya, lebih kurangnya aku tak mampu lagi.
Yang penting, aku telah merasa cukup dalam menjelaskan hal itu pada beberapa postingan
sebelumnya.
Ya, rasa
kita satu, ego kita dua.
Dan itu
menuntunku untuk memikirkannya lebih dalam, dan akan terus lebih mendalam. Aku
tidak ingin hal semacam itu terjadi terus menerus hingga nanti. Jika begitu melulu,
kurasa percuma saja diriku mengatakan kata “cinta” sekeras kerasnya. Aku tak
ingin semuanya berlanjut secara monoton saja, seakan hanya aku saja yang ada
diantara kita.
Sekali lagi, aku
tak pernah mengira bisa sampai begini. Tak kukira, bahkan tak pernah terlintas
di kepalaku bahwa seorang Salma Mutiara Irza akan menulis apa yang ada
di hatinya pada blog ini. Mungkin kamu belum terbiasa sal, namun coba saja. Coba
saja ungkapkan apa yang ada di hatimu. InsyaAllah kita tidak akan tersiksa karena
keputusan kita sendiri.
Sebetulnya aku
sama sekali tidak ingin dia repot repot untuk menulis di blog ini, namun kurasa
itu merupakan suatu hal yang penting. Sangat penting. Aku benar benar
merasa bersalah karena rasa egois itu seakan mengakar pada blog ini.
Maaf, Salma. Maaf
untuk semuanya :’(
~ Ж ~
Ah, sangatlah
susah untuk meminta Salma untuk menulis di sini. Masalahnya bukan pada Salma,
namun terletak pada diriku sendiri yang sama sekali tidak ingin membuatnya
repot. Namun, tekadku untuk mengubah segalanya lebih tinggi daripada sifat
gaenakan itu.
Kadang sifat
gengsi dan gaenakan itu yang malah buat kita susah untuk ngapa ngapain:)
Dan sedang kucoba sal, untuk mengalahkan sikap seperti itu.
Dan sedang kucoba sal, untuk mengalahkan sikap seperti itu.
Hari yang akan
menjadi saksi adalah 5 Juli 2020. Aku bertanya secara serius kepadanya, disaat
yang sama diriku juga mencegah hal itu. Aku tidak ingin merepotkannya.
Tapi, ya, aku tetap bertekad untuk menjadikan blogku seperti “hidup”. Bukan
hanya diriku yang ngomong sendiri.
:)
Seperti yang
kalian bisa lihat pada situs ini, di sebelah kanan atas, ada garis tiga. Klik,
dan sudah ada dua nama, bukan hanya diriku:)
Dan jika kalian
klik nama penaku untuk blog ini, “THOR”, tertera disitu bahwa aku telah aktif
di dunia blog semenjak Maret 2015. Dan siapa yang mengira, lima tahun
setelahnya, aku tidak berdiri sendirian disini. Thank you, Salma.
~ Ж ~
Aku tidak mengira
akan semudah itu. Dia langsung menjawab “ya”, namun terdapat hal yang
diragukan olehnya, dan itupun sama sekali bukan tentang kemauan. Perihal dunia
tulis menulis, dia masih merendah. Padahal, wah, coba aja dites :)
Satu hal lagi
yang diragukannya adalah tentang cara menulis dan apa yang akan ditulis. Apa
yang akan ditulis? Wah, silahkan, terserah kamu:) Tumpahkan apa yang ada di
hati kamu. Cuma nanti ada beberapa yang ingin aku tahu, dan kuingin kamu
menjelaskannya secara detail, seakan kamu bicara tanpa penghalang. Ya, selama
ini aku menulis di sini, aku bicara seolah tanpa ada pembatas antara kita.
Bebas, dan kuharap engkau juga seperti itu. Jangan biarkan rasa gengsi
menggerogoti perasaan kita melulu. Aku yakin kamu bisa sal, dan ini bukan hal
yang sulit. Tak apa jika engkau kesulitan di awal, namun pada akhirnya aku
harap engkau bisa menulis tanpa aku “request” padamu. :)
Hari itu, 5 Juli,
aku berhasil mengundang satu akun gmail lagi untuk dapat menulis di
sini. Ya, itu adalah dirinya. Mungkin kami agak kesulitan dalam
mengkonfirgurasi firsttime-nya karena beberapa kendala, dan kendala
utamanya bisa dibilang merupakan diriku yang tidak secara langsung bersamanya
dalam confignya:v hihi~
Salma, Salma.
Aku tak pernah meremehkanmu. Serius!
Kamu mengatakan kurang pandai dalam hal yang begituan. Ya, sudah berapa kali kubilang bahwa kita semua adalah manusia. Pastilah punya kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana cara kita untuk mengelolanya, InsyaAllah semua itu dapat tertutupi.
Kamu mengatakan kurang pandai dalam hal yang begituan. Ya, sudah berapa kali kubilang bahwa kita semua adalah manusia. Pastilah punya kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana cara kita untuk mengelolanya, InsyaAllah semua itu dapat tertutupi.
Tidak bisa?
Tak usah merasa tidak mampu. Coba saja. Bakalan aku ajarin kok:).
Demi Allah, aku
bilang waktu itu bahwa diriku tertawa, bukan karena aku merendahkanmu. Namun, ada
sesuatu yang tak bisa kujelaskan dengan kata kata. Sumpah! Aku sangat
terperangah mengetahui fakta itu, bahwa salma akan menulis pada blog yang sama
pada diriku. Tak pernah terduga. Aku sampai salting salting sendiri karena
kenyataan itu. Senyum senyum sendiri, dan nyengir nyengir sendiri. Sampai
sampai, hal kecil yang terjadi saat itu dapat mengundang tawaku.
:v
~ Ж ~
Sebenarnya bisa
saja dia menulis dari memonya sendiri, lalu ia berikan padaku dan aku tinggal
mengedit sedikit dan mempublishnya. Tapi, dengan memasukkan e-mailnya, you
know ada tujuan lain. Aku hanya ingin, pada suatu hari nanti, ketika
menemukan blog ini aku juga menemukan e-mailnya. Tidak perduli apakah dibaca atau
tidak nantinya, yang jelas aku ingin mengirimkan pesan pesanku nantinya:)
karena memang, email mereka tentunya tak selamanya satu untuk berdua. Mungkin saja
email yang dipakai sekarang, tidak akan dipakai lagi. Tapi, sekali lagi, aku
ingin mengirim sesuatu pada suatu hari nanti:)
Dan... kurasa
jauh lebih baik jika kita menulis di memo handphone atau Microsoft Word daripada
langsung pada situs bloggernya. Mengapa? Karena, ah, pokoknya jauh lebih enteng
dah. Apalagi kalau masalah save tulisan kita, di blogger harus memakai
internet. Jadi, kalau tiba tiba sambungan internetnya mati, kelar dah. Hangus
yang diketik kita. Sampai detik ini aku mengetik blog ini dengan cara,
awalnya ketik di Microsoft Word (versi Professional Plus 2010), tamatkan di MS
word itu, dan file ketikannya selalu disimpan dalam sebuah flashdisk. Jadi, mau
ngetik dimanapun, di handphone, laptop, bisa kapan saja dengan flashdisk itu.
Kapan saja bisa dilanjutkan. Ya, Cuma kalau saia lupa letak nyimpen tuh
flashdisk, bisa bisa ga ngetik seharian. :v
Kalau aku sedang
di asrama, dan di sela sela kesibukan yang ada, aku menyempatkan menulis di
buku agenda yang kupunya. Dan nantinya, ketika sampai di rumah, kuketik dan
kujadikan postingan pada blogku. Mudah bukan?
Tak apa jika kamu
tulis saja di buku jurnalmu, dan ketika kita pulang kau foto dan kirim padaku:)
Aku yang akan mengetiknya. Paham? Oiya satu lagi, ente merasa direpotin
engga sih?
Terimakasih,
salma. Terimakasih udah mau.
Entah bagaimana caraku untuk membahasakannya.
Mungkin aku takkan bisa mewujudkannya dalam kata kata. Aku seakan berada dalam liang mimpi sekarang.
Tak pernah kusangka bakalan seperti ini. :)
~ Ж ~
Percayalah kepada
dirimu sendiri, sal. Bahwa kamu bisa melakukan hal ini. Aku percaya kamu bisa
menumpahkan segala yang ada di pikiranmu selama ini dalam bentuk kalimat dan
paragraf. Perihal perasaanmu, tulis saja. Tulis saja semuanya. Aku tidak
ingin ada kesalahpahaman lagi kedepannya.
Dengan begitu,
kau tidak usah lagi mengirim pesan seharu itu padaku ya:)
~ Ж ~
Ah, demi Allah, sampai detik ini, 11.23 pada tanggal 11
Juli 2020, aku masih saja merasakannya. Wah, sangat menyedihkan sekali aku. Aku
memutar relaxing instrumental dari musik Aisyah Isteri Rasulullah, seraya
membaca file yang berisikan pesan darinya tersebut. Kau tahu? Aku masih
saja meringis ketika membacanya kembali. Dadaku masih saja sesak ketika membaca
itu. Serius! Aku tak dapat mengungkapkan rasanya. Seluruh air mata yang
kumiliki, merengek pada jiwaku untuk diizinkan mengalir. Ah, betul betul
rasanya. Mataku sekarang berkaca-kaca. Semuanya berlangsung sedih seperti itu, dan kamu mungkin tidak tahu betapa tersiksanya seseorang yang merasa sangat down,
namun alam bawah sadarnya tidak mengizinkan untuk menangis. Ya. Aku ingin
sekali menangis, dan melepaskan semua hormon kesedihanku. Namun, entah mengapa,
aku pernah berkomitmen untuk tidak akan menangis deras lagi. Aku melanggarnya
hanya ketika merasakan hal hal yang berurusan dengan Rabb semesta alam. Oiya,
satu lagi, perpisahan:)
Ya, inilah
diriku. Hantaman sebuah kepalan tinju dari orang lain ke arah kepalaku, aku
tidak akan menangis karenanya. Sepakan, Sikutan orang, wah, aku juga takkan
menangis. Tapi, urusan hati, urusan yang
orang bagak itu bilang sepele, aku dapat down parah.
Urusan perpisahan, kehidupan, huft. Rumit sekali. Aku down parah.
Semua yang kau
tulis pada surel itu bagai menjelma film sedih yang terus diputar ulang
dalam ingatanku ini. Semuanya terlukiskan olehnya. Bagaimana kita dahulu saling
merasa, namun memilih diam. Bagaimana momen momen yang pernah kita lewati
bersama. Bagaimana lihainya kita dalam memperhatikan satu sama lain. Dan
bagaimana aku-bisa bisanya mencoba ingin melupakan segalanya. Semua itu
tergambarkan oleh pikiran dan hatiku, seakan akan semua itu baru saja terjadi.
Caramu menjelaskan semuanya, ah, itu dapat membuatku merasakan kesedihan yang mendalam.
Semua itu meledakkan dan menyadarkanku kembali. Mungkin kamu telah biasa
saja, namun tidak bagiku. Aku belum bisa melupa, bahkan dengan chat kita yang
mulai begitu akrab, namun aku tak bisa melupakan rasa penyesalanku terhadap
keputusanku di hari yang lalu. Maafin aku, Sal:(
Sal,
aku tak pernah benar benar ingin melupakanmu. Aku sedih, sangat sedih melihat
bahasamu yang seakan menyangka bahwa aku telah benar benar melupa. Seakan di
dalam hati kecilku ini tidak tersisa sama sekali “rasa” kepadamu. Jangankan
permintaanmu, yang menginginkan agar aku tak melupakan semua, sejujurnya hingga
kini seluruh kenangan itu masih tertera di dalam hatiku sendiri.
I don’t care jika kamu tidak terlalu mempedulikan
semuanya, yang jelas selama ini memori itu masih terjaga dan aku masih sering
mengingat betapa epicnya kita dulu:)
Kau harus tahu,
Salma, selama ini aku masih menggenggam semua itu dengan sangat erat. Kamu
harus tahu, sal, bahwa aku takkan bisa melupakanmu. Pun meski pernah terlintas di
kepalaku, namun kenyataannya; tidak akan pernah bisa.
~ Ж ~
Aku tahu, sebenarnya kondisi batinku akan
jauh lebih baik jikalau kejadian 25 Ramadhan kemarin tidak pernah terjadi. Ya,
pastinya sampai detik ini aku masih saja terjebak dalam suasana liburan yang
makin memanjang. Kondisiku lebih baik, jika tak pernah lagi bertemu dengannya.
Tapi, jelas jelas itu akan lebih menyakitkan jikalau terus saja tanpa kabar
seperti hari kemarin. Entah bagaimana rasanya nanti ketika ada reuni atau
semacamnya, kita seperti orang yang tidak pernah saling mengenal. Itu jauh
lebih menyakitkan:(
Namun, aku tidak memperdulikan semuanya,
tidak akan ku pedulikan kondisi batinku kalau berkaitan denganmu; tidak perlu banyak perhitungan.
Sudahlah. Kurasa
sekarang kau juga menganggap diriku terlalu berlebihan. Terlalu sedih dan lebay
sekaleeee:v
~ Ж ~
Oke, bahasanya
disantuykan sahaja.
Nah, seluruh
kesedihan itu membawaku kepada kerusakan kondisi batin dan jasmani. Ya, aku
jadi mudah pusing entah mengapa. Dan yang paling membuatku muak adalah
kebangkitan kembali para tentara bulan.
Tentara bulan
apean cuy? JERAWAT!
Haduh, aku adalah
orang yang rentan dengan jerawat. Kuakui selama ini gosip itu benar. Kelas
tujuh dan awal kelas delapan aku jerawatan-_
But i don't care about that's gossip. I just want make me feel happy and enjoy this life :)
'cause there's a time that my face is gloww :v
But i don't care about that's gossip. I just want make me feel happy and enjoy this life :)
'cause there's a time that my face is gloww :v
Tapi udah
bersih, dari beberapa bulan lalu!
Astaghfirullah,
pada nongol lagi dah, sebel tauk!
Menurut salah
satu artikel yang kutemukan di internet, stress tidak menimbulkan jerawat
secara langsung, namun itu dapat menyebabkan/ memperparah orang yang rentan
terhadap jerawat.
Hormonque, damai
yuk! Gamau berdamai? Gelud mau ngga? :v
Yaudah deh, si Salmanya juga nyaranin make
skincare:v Yowesla:v aowkawoawok~
~ Ж ~
Dari situlah aku
memutuskan untuk tidak akan memikirnya terlalu dalam lagi. Galau mungkin
bisa membuatku lebih kalem, tapi itu tidak baik untuk penampilan pemuda
sepertiku. Ya, kita sama sama tahu bahwa yang orang barat sana bilang “remaja”
itu, sangat memerhatikan penampilannya. Mungkin diriku yang dewasa akan
tertawa membaca paragraf ini:)
Namun, aku
menggunakan bahasa yang sama lagi, yakni “aku tidak bisa membohongi diri
sendiri”. Aku masih saja tidak bisa benar benar bangkit dari seluruh kenyataan
pahit yang kau tulis. Ya, benar, aku betul betul down ketika membacanya
kembali. (itu adalah caraku membangkitkan mood supaya lancar dalam
mengetik, menyiksa diri sendirikah namanya itu?)
Ya, aku egois
sekali. Bahkan aku tidak memikirkan bagaimana dirinya di seberang sana. Aku
hanya memikirkan diri sendiri yang merindu, tanpa tahu di seberang sana dia
juga merasakan hal yang sama. Aku hanya memikirkan rasaku, tanpa tahu bahwa dia
ternyata punya rasa jua. Hatiku selama ini hanya dipenuhi rasa su’udzhan yang
berpikir bahwa dia telah melupakan segalanya. Otakku hanya memprasangka bahwa dia
tidak akan pernah peduli kepadaku lagi.
Aku yang kala itu
merasa kehilangan, hanya memikirkan perasaan sendiri. Tidak pernah menyangka
bahwa dia juga merasakan hal itu juga. Aku yang merasa dia pergi
begitu saja, tak tahu dia juga merasakan hal yang sama. Mungkin, apa yang
dirinya rasakan pada saat pertama kali aku chat nomornya, ada miripnya
dengan lagu Pura Pura Lupa dari Mahen.
Semuanya menjadi jelas sekarang. Aku telah
banyak su’udzhan. Segalanya bagai skenario sedih yang Allah tetapkan pada
kehidupan kita. Oiya, Salma, pastikan kedepannya tidak menjadi seperti itu
juga.
(Kalo
ada yang ane kegeeran pada dua paragraf atas, bilang yak! :v)
Hari hari yang
kita lalui semenjak 25Ramadhan itu, akan menjadi saksi betapa buruknya kualitas
prasangka diriku. Semuanya terungkap begitu saja, seakan segalanya ditampakkan
di depan mataku. Bagaimana ternyata selama ini kami punya rasa yang sama,
hingga bagaimana kejelasan tentang “kegeeran” diriku yang merasa kami kerap
kali saling memperhatikan. Semua memori itu seakan tayang kembali di otakku,
dan hatiku merasakan kesedihan yang amat sangat karenanya. Aku tidak pernah
mengira, bahwa hari hari yang kujalani di sekolah dasar dulu, yang kuanggap
dihiasi oleh kehadirannya; ternyata seperti itu jua baginya.
Ya, bagaimanapun
jua, ternyata juga menyakitkan baginya untuk berpisah seperti ini. Perpisahan
tanpa kejelasan yang terjadi di antara kita, menjelma jadi cambuk yang dapat
melukai kita tiap saat dan tiap waktu. Ah, sulit sekali menjelaskannya. Bukan
begitu, Sal? :)
Dan sejujurnya
yang membuatku sangat sedih itu adalah kamu yang merasa dilupa olehku, kamu
yang mengira bahwa aku telah meninggalkan dengan riang setiap kenangan demi
kenangan yang terjadi di antara kita. Demi Allah, aku waktu itu hanya ingin
mengutarakan prasangka itu, dan kini aku sangat menyesalinya. Sal, mau kan,
maafin aku?
Seutuhnya itu
bukanlah hal yang dapat kita tentukan siapa yang sebenarnya salah-meski dominan
padaku. Takdir telah menuntun kita pada titik ini. Dari yang kemarin mencoba
untuk melupa--meski aku sendiri takkan bisa, menjadi orang yang mengantongi
harapan dan impian yang akan terjadi pada kita kedepannya. Ya, sekali lagi
kita melihat bukti bahwa Allah adalah maha pembolak-balik hati seseorang.:)
Mau kemanapun
takdir membawa kita nantinya, kuharap kita dapat menerimanya dengan ikhlas.
Kemungkinan kita untuk bersama selamanya- tidak akan terwujud jikalau kamu juga
tidak blakblakan mengatakannya pada dunia.
Ah, aku menaruh
opini keras kembali. Ya, memang, kalau kamu tidak mengatakan pada dunia, ingin
menjaga hati pada seseorang, dunia akan mencoba mencarikan dan memasangkan
dirimu dengan seseorang yang lainnya. Dunia itu keras. Tapi jangan sekarang
lah, dunia juga belum peduli:v
~ Ж ~
Bukannya aku
meragukanmu, namun ya, aku hanya memberikan fakta saja. Hidup itu keras.
Tidak perduli bagaimana kita memperjuangkannya, kalau saja Allah tidak
mengizinkannya, wah, kata pamungkas darimu itu tak dapat kuesahkan kembali. Nothing
is Impossible, takkan dapat diberlakukan pada kondisi yang tidak diizinkan
Allah.
Tentang hatiku,
ah, usahlah kau meragukannya. Kini, hanya ketetapan Allah yang dapat
menghalangi apa yang ada di dalam dadaku sekarang. Mungkin segalanya tampak
mustahil, namun jika Allah ma’ana, tidak ada yang dapat mengalahkan kita.
Aku jatuh cinta
padamu, tak dapat dibahasakan dengan kalimat ataupun sajak sajak yang terdapat
pada bumi ini. Ribuan lirik lagu ataupun bait puisi, takkan sanggup
menjelaskannya. Betapa indahnya rasa ini, dan betapa sakitnya luka ini, ah,
Hanya Allah yang tahu pasti. Diriku saja tidak dapat menakar seberapa besar
rasanya.
Itulah yang
kukhawatirkan. Aku takut Allah malah cemburu atas perasaan ini. Perasaan yang
selama ini kupupuk dengan baik, akan sia sia jika tidak berdo’a, meminta
bantuan kepada Yang Maha Pemberi. Aku takut rasa cintaku kepadamu malah lebih
tinggi daripada Hubballillah-ku. Rasa yang ada di dalam dadaku ini,
makin hari semakin menggebu gebu. Aku tak ingin itu malah meledak-saking
besarnya. Aku takut apa yang kita rajut selama ini bakalan hancur seketika,
jatuh sejatuh jatuhnya gara gara mengesampingkan (kendati tidak sengaja) cinta
kepada Allah.
Ya, begitulah.
Masih banyak ketakutan dalam diri yang tak dapat dijelaskan. Demi Allah, aku sangat
sulit untuk melawannya. Kuncinya hanya jalani, jalani, dan jalani :|
~ Ж ~
“Thor, kalau
seandainya ditolaknya antum, atau pokoknya akhirnya kalian engga samaan,
setelah selama ini antum suka ke dia, gimana tu Thor? Bisa gila dibuatnya
tu Thor..”
Celotehan anak
yang bernama Ahmad Raditya itu membuyarkan lamunanku. Itu terjadi pada kelas
empat SD, namun aku masih saja mengingatnya. Sebelum itu, kadang terlintas juga
pada pikiranku, bahwa aku bisa gila, kalau sampai tidak bisa bersatu dengannya.
Ah, kelas empat saja sudah seperti itu-_
Ya, kelas empat
itu adalah momen momennya Safna kesal dibuat Radit. Aku sangat mengingatnya. Aku
tak tahu apa yang terjadi pada Salma waktu itu, entah dia telah “merasa” atau
tidak, namun yang jelas waktu itu Safna membenci kami (aku dan Radit). Itu yang
dikatakan Safna pada kelas enam.
Ya, ternyata aku
selama ini berharap banyak pada manusia. Menempatkan sejuta harapan pada Salma.
Entah mengapa, namun itu pasti. Aku mengharap banyak pada Allah tentang hubungan
kita, kerap kali hanyalah ketika mengalami keterpurukan yang aku sendiri tidak
dapat mengatasinya, contohnya ketika aku serahkan semua urusan kepada Allah
tentang kita yang waktu itu hampir saja beda Sekolah Menengah Pertama.
Benar benar
gegabah sekali aku. Mengharap pada manusia, harus bersiap untuk jatuh sejatuh
jatuhnya. Tak ingin aku seperti itu. Yang pasti hanyalah Allah. Tak dapat
diungkapkan bagaimana rasa sesalku kini. Itu yang menyebabkan aku selalu down.
Tidak baik pemuda sepertiku untuk galau melulu akibat permasalahan cinta.
Mungkin rasa cinta itu sangatlah penting, namun itu urusan Allah. Kita hanya
perlu mengusahakan, serta terus dan terus menjalani hidup dengan baik. Aththayyibin,
Liththayyibat. Ingat saja itu, usahlah memikirkannya hingga dirimu malah
terjatuh. Mungkin aku terkadang perlu “galau” itu juga, dan itu pasti. Tapi,
tidak baik untuk merasa jatuh seperti itu. Yang mesti kupikirkan bukan hanya
tentang cinta. Banyak hal lain yang harus kupikirkan. Membahagiakan orang tua,
mengukir prestasi, bahkan yang saat ini tengah aku rajut bersama rekan
semuanya. OSIS, wah, itu juga bisa membuatku down saking pusing dan
susahnya mengurus sebuah tanggungjawab. Sejujurnya masih banyak yang dapat
kupikirkan, namun pada saat ini aku hanya perlu memikirkan tentangmu:) yang
lainnya, aku akan pada waktunya.
Aku harus melepas
tali yang dimana aku bergantung padanya selama ini. Bukan berarti aku menyerah
akan segalanya, namun aku akan tetap berharap agar kita dibersamakan pada
akhirnya. Harapan ini, aku gantungkan setinggi tingginya, dan semoga dikabulkan
olehNya. Harapan ini, aku akan tujukan kepada satu; Allah.
Namun tetap
saja, kamu masih tetap rank teratas bagiku di kalangan manusia biasa. Setelah
orangtua dan keluarga, kamu masih menduduki peringkat teratas:)
Aku harus
ikhlas, apapun yang terjadi. Meski aku “Hanya ingin kamu, tidak ingin yang
lebih baik, baik dan burukmu.”,, tapi jika kehendak Allah untuk memisahkan
kita, tidak ada yang bisa menghalanginya. Aku tidak boleh terombang ambing
karenanya. Mungkin aku dapat kecewa akan takdir, mungkin aku bisa bisa merasa sakit
akan kejadian pada masa depan, namun, bagaimana lagi. Kita tak bisa melawan
takdir:(
Aku harus
mengikhlaskanmu. Mungkin aku akan terus mencintaimu, mungkin aku akan tetap
merindukanmu kedepannya. Namun tidak bisa juga dipaksakan untuk tetap begini
terus. Aku harus menjalani hidup, meski itu hambar tanpamu.
Dan,
salah satu puncak caraku untuk mengikhlaskanmu adalah dengan memutuskan untuk
bersekolah tingkat MA di Bogor tersebut :)
Berat, sangat
berat untuk memutuskan ini. Namun, ini untuk kebaikan diriku juga. Aku harus lebih
memilih Allah daripada makhluknya. Mungkin aku mencintainya, mungkin aku ‘kan
merindukannya, namun jika saja aku memutuskan untuk tetap pada jalur ini, kalau
nantinya kalau kita tidak ditakdirkan bersama, aku bisa benar benar kehilangan
akal. Upaya upayaku untuk menggapainya, akan sia sia saja jika melihatnya
berada di pelaminan dengan orang lain.
Dengan aku
memilih pesantren, aku menyerahkan semuanya pada rabb yang maha kuasa. Jadi,
aku tidak akan terlalu terpukul jika aku telah menyerahkan segalanya pada
tuhan.
Aku harus keluar
sedikit dari jalur pemikiran manusia, dan menyerahkan semuanya kepada Allah.
Mungkin saja aku akan ketinggalan dua tahun daripadanya, dan itu merupakan hal
yang mustahil bagi manusia untuk menikahinya. But, again and again,
“Nothing is impossible:)”
Pada masa depan, mungkin saja aku akan
berjalan di atas tanah Darunnajah itu dengan mendo’akanmu, dan mengingat
kenangan kita bersama. Aku akan tetap menggenggam asa itu, serta menjaga hatiku
selalu. Aku memandang langit yang juga sedang kau tatap waktu itu. Mungkin
perih rasanya, namun aku akan tetap berdo’a, mengharap kepada Allah untuk
menghadirkan keajaiban pada hidupku. Keajaiban seperti waktu
lanjut SMP. Dimana manusia tidak pernah terpikir untuk sesuatu itu terjadi.
Keajaiban yang tidak pernah terduga, dan Allah membersamai kita kembali dengan cara yang luar biasa indah.
Keajaiban yang tidak pernah terduga, dan Allah membersamai kita kembali dengan cara yang luar biasa indah.
~ Ж ~
Kalimat itu tidak
sembarangan. Bukan maksudnya digaya gayakan dengan Arabic style, bukan
pula kalimat pemanis sahaja. Bagiku, kata itu mengandung makna yang sangat
dalam.
Kau tahu? Mengapa
aku memilihmu?
Bukan karena
paras dan apalah itu namanya.
Bukan juga karena
kepintaranmu, kecerdasanmu, dan keelokan rupamu.
![]() |
| Iya, benar. But there is a truer reason. |
Ah, entahlah. Diriku tidak tahu jua mengapa bisa
jatuh cinta padanya, bahkan sampai sedalam ini. Yang jelas, aku amat takjub dengan
apa yang terjadi pada diriku sendiri setelah cinta ini tumbuh.
Dari ketika aku
baru duduk di kelas satu SD, hingga kelas tiga, aku bisa mengendalikan diriku
secara penuh karenanya. Entah mengapa, namun itu pasti, bahwa aku yang pendiam
waktu itu sangat menaruh rasa kagum padanya yang dapat membuatku jatuh cinta,
dan kala itu aku juga tidak tahu mengapa aku dapat seperti itu.
Kelas empat dan
kelas lima, itu mulai begitu dalam, namun aku masih sama sekali tidak berani
dalam hal mengungkapkan. Ah, kalau hal mengungkapkan, aku juga bersyukur tidak dalam periode
ini. Kelas enam saja penyampaiannya kacau, apalagi masih kelas empat! :v
Dan pada kelas
enam, kita pasti sadar dan tahu akan apa yang terjadi, Sal.
Sungguh tidak etis
jika mengatakan bahwa aku hanya mencintainya gara gara keelokan rupa dan
wujudnya saja. Jika benar seperti itu, aku pasti sudah menyukainya semenjak
pandangan pertamaku. Wah, aku masih ingat sekali masa itu. Delapan tahun
berlalu semenjak itu, namun itu masih terlukis jelas di akalku. Dan aku masih
sangat ingat bagaimana rasaku ketika pertama kali melihat dua anak kembar yang
baru saja datang ke sekolah, padahal dua hari sebelumnya mereka tidak masuk.
Kalau kalian
lihat mataku waktu itu, ah, aku melayangkan “caliak buruak” kepada
mereka yang gayanya minta ampun (waktu tu sih gitu, ane juga lupa kenapa ampe
mikir gitu)
Dan siapa
tahu, beberapa hari selanjutnya bocah yang biasa disapa Thariq itu malah jatuh
hati padanya. Ah, cinta monyet itu~ I don’t too remember that, but really,
that’s wonderful. Aku tidak tahu apakah yang kurasakan sekarang juga
merupakan cinta monyet ataupun tidak, namun setidaknya aku merasakan
keindahannya hingga kini. Bedanya, pada fase sekarang sudah kelihatan banyak
rintangannya. Tidak apa apa, akan kuhadapi.
~ Ж ~
Adalah sebuah kebohongan jikalau aku
mengatakan bahwa diriku tidak bisa jatuh hati kepada selain dirinya.
Bagaimanapun, aku masih bisa jatuh hati kepada manusia selain Salma. Tapi, ya,
kita tahu, sangat sulit, butuh proses yang sangatlah panjang, dan rasa yang
kualami tidak seindah kepada Salma. Kau tahu? Butuh dua tahun lebih bagiku
untuk menyukai seseorang yang lainnya.
Tentang rasa yang pernah kualami, sepeninggal
Salma-eh, bukan sepeninggal. Salma tidak pernah meninggalkanku. Kuulangi, itu
hanya su’udzhon belaka.
Tentang rasa yang pernah kualami, setelah
perpisahanku dengan Salma kemarin, aku tidak berbohong. Waktu itu aku sempat
suka dengan dua orang pada kelas 8. Pertama adalah orang yang berinstagram @azzaisyah_ihr. Aku tidak usah menyebutkan namanya, yang
penting aku telah bermasalah dengannya sekarang. Sial. eh, tapi aku tidak menyesalinya. Salma adalah yang terindah bagaimanapun jua.
Yang kedua, ya, Nabilatul. Aku merasakan ada
yang mengganjal pada hatiku. Entah mengapa, aku menyukai dia, tapi bahasaku
semakin parah. Ya. Setelah aku terbiasa kembali dengan lingkungan Sumatera
Barat setelah kepergianku ke pulau Jawa waktu itu, bahasaku kembali bersih. Aku
sadar aku adalah anak yang baik, dan santri yang baik pula. “Ana-antum” kembali
melekat pada mulutku.
Tapi, semenjak kepulangan akibat wabah virus
corona ini, kami jadi kian akrab. Keakraban, berarti pencampuran bahasa pula.
“Gue-elu”, “anjir/anjay”, dan banyak kata kata lainnya yang pada hari ini aku
sendiri menyesalinya. Kelakuanku baik baik saja, seperti ini juga. Tapi, kalau
persoalan bahasa, wah, parah. Bagaimanapun, ketika melihat history chat
pertama kali dengan Salma pada 25Ramadhan itu, aku yang sekarang merasa jijik
dengan bahasaku waktu itu.
Tapi bagaimanapun, ketika aku menyukai yang lain, aku tetap menyukaimu, hanya saja aku kepikiran tentang dirimu yang tidak akan pernah menyukaiku. Ya, su'udzhon. Aku tidak bisa begitu saja menyukai yang lain tanpa adanya dirimu di hatiku. Mungkin seperti itu juga pada saat dewasa nanti, kamu tetap ada di hatiku.
Kau terindah, kan slalu terindah :) :v
Terimakasih
salma. Terimakasih telah mengembalikanku lagi. Sekarang, aku telah terbiasa
kembali dengan “Ana-antum”, dan “Ane-ente”. Bagaimanapun, kehadiranmu sekarang
merubah segalanya, hingga sampai hal seperti bahasaku juga telah berubah
setelah kehadiran dirimu:)
![]() |
| (saia udah beriman dari dulu yak:v intinya ente udah ngerubah ane. Ituaja.) |
Ini mirip dengan
masa SD, dimana diriku berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi untuk dapat “setara” dengan Salma. Aku tidak
tahu waktu itu ada prinsip “Aththayyibini Liththayyibat”, namun aku
melakukannya supaya dia suka padaku. Tapi sekarang, ah, aku memantaskan diri
untuk bisa dibersamakan dengan dirinya.
Semua sama
saja seperti dulu, aku menjadi lebih baik ketika bersamamu. Denganmu, bukan
saja hidupku yang terasa lebih indah, tapi hingga kelakuan dan amalku. Bukan
maksud aku tidak ikhlas karena Allah dan niatnya untukmu, tapi pokoknya aku
dapat merasakan lebih baik ketika bersamamu ketimbang hampa tanpamu.
~ Ж ~
Tapi semua itu, semua yang telah kulewati
tanpamu, rasanya hampa. Bagaimanapun aku mencoba menyukai yang lain, sama saja,
dihatiku tetap ada tempat khusus untukmu. Aku tidak akan mencoba suka kepada
yang lain jika semuanya jelas sedari awal.
Aku mencintaimu selalu, meski kau tidak ada
di sisiku selayaknya hari kemarin. Kita tidak tahu nantinya pada saat dewasa,
apakah kita dibersamakan atau tidak, yang penting aku akan merasakan perasaan
yang sama padamu hingga kapanpun.
Aku akan mencoba mengenang setiap memori yang
kita lalui bersama, kapanpun. Kepergianku nanti, ke Bogor, aku akan terus
mengingat kita. Aku akan selalu menyayangimu kapanpun jua. Mungkin kita tidak
lagi bersua, namun yakinlah Allah selalu pertemukan hati kita. Ingatlah, do’a
itu lebih kuat dari apapun. Jika rindu, kirim saja do’a. Aku tidak tahu dan
tidak terlalu mengharap kau akan rindu padaku nantinya, namun aku pasti akan
merasakan itu. Kedepannya, aku akan menjaga hatiku, tidak perduli apakah kamu
demikian pula, atau tidak. Ketidakjelasannya kondisi kita pada masa lalu yang
membuatku mencoba menyukai seseorang yang lain. Ahsudahlah, yang penting
kedepannya tidak akan begitu. Meski “kalau saja” akhirnya kita tidak bersama,
namamu adalah kenangan abadi di hatiku, dan ukiran namamu tetap selalu membekas
hingga kapanpun jua :)
Eh, tapi kamu
juga telah mengatakannya padaku dengan bahasa yang khas dari dirimu :)
![]() |
| Ah,entahlah:v |
~ Ж ~
Hati juga
bicara masalah selera.
Kalau ditanya, aku akan memilih wanita yang
pastinya menjaga diri. Buktinya, pada saat aku pergi JJS bersama Fauzi ke
kantor bupati, kami menemui beberapa rombongan wanita yang sedang berkumpul.
Fauzi bilang,”Wah, mantap ya” kepada rombongan wanita yang sedang berada di
tengah lapangan. Ah, mereka mengenakan pakaian seadanya, kaos gituaja, dan
jeans. Itu sangat mengganggu mataku. Mereka terlihat kecentilan dengan teriakan
teriakan khas para wanita yang tengah gemes, sambil mengangkat tangan
mereka, maksudnya untuk berswafoto. Ketimbang ngeliatin mereka, aku
lebih baik melihat ponsel. Sayangnya aku tidak membawa ponsel:v
Ya, inilah aku,
masih banyak kekurangan yang terdapat pada diriku. Aku susah menahan mataku
kepada rombongan yang hanya berisikan dua orang di dekat gerbang masuk itu. Ah,
yang satunya memakai cadar.
Bukannya aku
menilai baiknya orang dari kelihatannya, bukan karena dia memakai cadar lalu
aku menilai dia adalah orang yang baik. Hanya saja, dia pasti “menjaga diri”.
Aku tidak mengatakan bahwa aku menyukai orang yang memakai cadar, namun aku
bisa tahu dari sana yang mana yang menjaga diri dan mana yang menjual diri.
Aku lebih
menyukai orang yang shalehah. Aku tidak tertarik sama sekali untuk chat dengan
seseorang like Ana Aisyah Sarpina itu. Ahh, malas sekali.
Apalagi yang sana cekrek, sini cekrek, dikit-dikit cekrek. Itu adalah spesies aneh di muka bumi ini. Ah, aku pasti akan memandang aneh jika hal tersebut terjadi disekitarku. Tak perduli siapapun, bahkan kakakku saja, ah, aku sudah risih melihatnya seperti itu. Berkali kali kuingatkan, wanita tidak boleh seperti itu. Tapi, ah, dia anggap layaknya bahan bercandaan saja.
Walau mungkin kamu agak sering melihat fotoku dipajang pada status atau storyku, namun yang terjadi bukan seperti kelihatannya. Aku melakukan fotografi pada diriku sendiri hanya pada waktu tertentu saja. Saat jalan jalan, misalnya. Dan, kalau kau amati, tidak ada foto yang kuambil secara selfie.
Apalagi yang sana cekrek, sini cekrek, dikit-dikit cekrek. Itu adalah spesies aneh di muka bumi ini. Ah, aku pasti akan memandang aneh jika hal tersebut terjadi disekitarku. Tak perduli siapapun, bahkan kakakku saja, ah, aku sudah risih melihatnya seperti itu. Berkali kali kuingatkan, wanita tidak boleh seperti itu. Tapi, ah, dia anggap layaknya bahan bercandaan saja.
Walau mungkin kamu agak sering melihat fotoku dipajang pada status atau storyku, namun yang terjadi bukan seperti kelihatannya. Aku melakukan fotografi pada diriku sendiri hanya pada waktu tertentu saja. Saat jalan jalan, misalnya. Dan, kalau kau amati, tidak ada foto yang kuambil secara selfie.
Aku telah
mengenal Salma sejak lama. Kurasa, dia adalah orang yang tepat. Dia adalah
orang yang baik, bahkan sangat baik. Hafalannya, cara dia menjaga diri, wah,
aku sangat terpesona selama ini. Entah mengapa, namun yang pasti aku mengaguminya
karena segala hal yang baik. Orang sana dan sini memuja orang lain yang dikata “cantik”,
namun malah kurasa centil, lebay. Tapi aku jauh lebih menyukai orang yang shalehah. Mungkin ada
banyak orang lain yang lebih baik dari Salma, namun aku maunya dengannya, baik
dan buruknya :)
Selama ini,
selalu mengasyikkan jika berteman dengan orang yang lumayan pendiam dan suka
ngotot. Aku lebih memilih berteman dengan teman yang lebih pendiam daripada diriku. Naufal. dan lainnya lah. Aku sangat suka.
Wah, kalau dichat, akupun lumayan segan. Dia tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku, kecuali dalam kondisi yang sangat terpuruk. Tidak seperti yang lain, kalau kita ingin berbicara dan tidak jadi mengatakannya, dia mampu menahan rasa keponya. Aku telah mengamatinya selama ini. Dia hanya mengatakan hal semacam “Yalah”.
Wah, kalau dichat, akupun lumayan segan. Dia tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku, kecuali dalam kondisi yang sangat terpuruk. Tidak seperti yang lain, kalau kita ingin berbicara dan tidak jadi mengatakannya, dia mampu menahan rasa keponya. Aku telah mengamatinya selama ini. Dia hanya mengatakan hal semacam “Yalah”.
Dan sungguh, aku
tak akan merasa terganggu dengan itu. Meski dia agak lambat dalam urusan balas
chat, tapi aku tidak akan mempermasalahkannya. Syukur sekali dia mau membalas.
Sekali lagi, tak pernah terpikir bakalan begini. We know this is a really
amazing condition.
Keakraban ini,
ah, aku teringin mengalaminya tiap detik dan tiap waktu. Aku ingin menjagamu
untuk tetap ada di sini, dan meneriakkan sekeras kerasnya di dekat telingamu
bahwa “JANGAN PERGI!”. Tapi sekali lagi tak mungkin. Kita harus mengejar cita
cita dan impian masing masing, dan berjanjilah padaku kita akan bertemu lagi
pada suatu saat nanti:)
Jujur, aku masih saja merasa tak dapat
berkutik jika didekatnya. Pun kurasa dirinya, tidak akan seperti di chat. Aku
mencintainya dengan caraku sendiri. Dulu, segalanya tampak indah tanpa
percakapan seperti ini. Namun kondisi hari ini menuntunku untuk melalui chat
demi chat, dan aku cukup menikmatinya:)
(Wah, ketika Safna mengatakan bahwa dia
tengah kurang sehat, aku terkejut tapi tak bisa apa apa. Hanya kata kata yang
membuat diriku sendiri cringe dalam hal menulisnya.
Dan, kao, adek lucknut! Kao kerjain kakak
ente, tipu saia pulaa!:v)
*sidestory
Sebenarnya aku senyum senyum sendiri kalau dipanggil Safna dengan sebutan "abang ipar". tapi, mengingat tuaan dia, ah, tidak fair saja rasanya :v
Beberapa hari ini aku agak jarang chat
dengannya, malah si sapenah:v Dia kenapa ya? Perasaan baru dua hari aku tidak
berkomunikasi dengannya, tapi aku merasa itu sudah sangat lama. Ah, rasanya
sudah berabad abad.
Safna mengatakan bahwa Salma tengah menulis
sesuatu, itu melulu. Aku jadi penasaran terhadap apa yang ditulisnya, namun aku
tidak ingin memaksakan kehendakku. Biarlah dia sendiri yang memberitahukannya
padaku. Lagipula, kurasa itu bukan urusanku, jadi lebih baik untuk tidak ikut
campur.
~ Ж ~
Ya, setelah itu
aku dapat menghubunginya, setelah sekian lama. (antahlah:v)
Namun entah
karena aku yang merasa bersalah, atau mungkin dia yang memang berbeda.
Perlakuannya agak beda, namun setelah kubaca ulang, biasa saja. Jadi, sebelum
itu aku membuat masalah. Tentang Nabila Agustin Dinata. Ah, untuk
menjelaskannya saja aku malas.
Dan kemarin, ah, masalah itu sangatlah
membuatku merasa antah berantah. Aku sudah terlalu sering membuat
kesalahan. Pada saat itu, ketika mengetahui adanya masalah besar yang harus
kuhadapi, aku langsung lemah. Tubuhku langsung lemas, tidak tahu mengapa. Aku
hanya muak atas semua yang kulakukan. Aneh, ya. Aku yang bersalah, aku yang
seperti itu. Ingin kusesali, tapi sudah terlanjur seperti itu.
Biasanya, ketika aku melakukan kesalahan, aku
akan segera mencoba memperbaikinya. Namun untuk masalah itu, ah, entah mengapa,
hanya saja aku sudah sangat muak kepada diriku sendiri.
Aku hanya lemas, tak berdaya waktu itu, seraya meratapi diri
sendiri yang sering sekali membuat permasalahan dalam hidupnya. Kali itu, aku
benar benar merasakan bahwa aku ini adalah parasit di hidupnya.
Permasalahan yang timbul dariku untuknya selalu dari satu sifat
yang sama, EMBER. Kali ini aku tidak akan marah dikatakan seperti itu.
Meski aku telah lama sekali tidak mendengar kata itu terlayang padaku, namun
dua bulan ini aku telah mengata-ngatai diriku sendiri dengan kata tersebut.
Apakah itu bentuk dari perkembangan sebuah kata yang menjelma menjadi do’a? Ah,
semoga saja, kalau itu dideteksi langit sebagai do’a, akan diralat kembali. Aku
tidak ingin itu menjadi sifatku. Mungkin aku tidak ingin menjadi pendiam lagi,
namun aku juga tidak ingin kata ember menjadi perwakilan sikapku.
![]() |
| Sal? Halo? :') :( |
Dan, terima kasih Salma. Akhirnya kau yang mencari jalan
keluarnya, wah, sangat mengejutkan sekali. Thank you. Meski cara yang kau
gunakan itu merupakan cara yang kurang efisien, namun itu menunjukkan betapa
kau berusaha. Aku tidak akan merasa aneh akan hal itu, karena masalahnya itu
sangatlah mendadak dan rumit sekali. Hei, kalian satu atap, satu kamar! Aku
saja tidak akan bisa mengatasi hal tersebut. Aku tidak bisa memecahkan akar
permasalahannya. Kunci penyelesaiannya juga hanya terdapat pada Salma.
?
~ Ж ~
Sudahlah, Salma. Tidak
perlu berlaku demikian. Harusnya aku yang minta maaf. Aku hanya takut rasa
percayamu itu telah habis untukku. Itu saja. Setelah semua yang kulakukan,
masalah demi masalah, entah mengapa rasanya semakin canggung saja. Aku kangen
dengan nada pembawaan chat kita dahulu, ketika awal awal pertemuan kita.
I'm just worried it's broken :(
Pembawaan chat kita akhir
akhir ini semakin tidak jelas, dan aku mengakui hal itu. Aku tidak bisa
memungkirinya, dan itu memang benar benar terjadi. Tapi, setelah permasalahan
ini, aku rasa nada chat kita kembali lagi ke masa itu, masa awal aku bucin kembali
:v
~ Ж ~
Malam permasalahan itu
membara, aku sangat merasa bersalah. Aku muak akan kelakuan diriku sendiri. Entahlah
bagaimana aku sampai segitunya. Sebenarnya kalau dipikir pikir, aku tidak apa
apa disini, tidak akan terjadi apa apa padaku. Tapi yang kukhawatirkan adalah
Salma. “Wah, bagaimana mereka berdua saat ini.“
Aku memejamkan mataku, sambil berpura pura telah tidur pada orang
tua yang terbangun sekitar jam setengah dua belas malam, dan secara tidak
sengaja, lautan mimpi telah terbentang di hadapan. Aku terlelap tanpa
sengaja, dan laptop itu, masih saja dalam dekapanku hingga pagi.
Keesokan paginya ketika aku terbangun, aku terkejut bukan
kepalang, karena melihat laptop itu masih saja di dalam pelukanku. Untung
saja orangtuaku tidak menyadarinya :v.
Aku awalnya biasa saja, namun beberapa detik
setelahnya, ingatan akan kejadian tadi malam membuatku jadi malas bangun. Jam sudah menunjukkan jam setengah lima. Ah,
itu sudah sangat cepat untuk orang yang tidur kemalaman seperti aku tadi.
Mungkin kantukku telah reda, tapi ingatanku tentang masalah tadi malam
membuatku malas untuk beranjak dari kasur. Alhasil, aku menunggu suara tilawah
dari masjid terdengar.
Pagi itu, diriku amat ingin menanyakan
tentang perkembangan yang terjadi pada masalah tersebut. Tapi, setelah berpikir
panjang, aku rasa tidak baik langsung bertanya seperti itu. Lebih baik menunggu
masa yang tepat, ketika masalah sudah reda. Aku bukannya ingin lari ataupun
kabur dari permasalahan itu, but really, better to do that.
Ah, sangatlah susah untuk sekedar melakukan hal tersebut. Kau
tahu? Susah untuk tidak chat denganmu. Tidak bermaksud lebay atau apa, namun
aku kangen. Aowkaowkaowk.
Seharian tanpa chat, aku berharap dia chat
duluan. Namun hal itu berubah menjadi mustahil karena aku teringat akan
tunduknya goodgirl terhadap peraturan. *ungkapan
nothing is impossible berlaku untuk ini:)
Tapi tidak apa, karena aku sama sekali tidak
tahu apa yang terjadi pada mereka berdua di rumah mereka, dan apa yang terjadi
pada Salma. Bisa saja masalah tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih
besar dibanding sekedar rasa kangenku saja.
Sehari itu, memang berat untukku dengan tidak berkomunikasi
dengannya, padahal dia online. Tapi itu merupakan hal yang lebih baik dengan
menerima kenyataan bahwa keadaan sedang tidak baik baik saja.
Ah, bagaimana aku bisa menghadapi perpisahan,
sedangkan untuk sehari saja aku sudah seperti itu.
~ Ж ~
Esoknya, juga setelah mengokohkan diri, aku mencoba menyapanya,
dan aku maklum saja chatannya agak lama dibalas.
![]() |
| Tapi aku tidak :) |
Dan ternyata, semua masalah telah beres. Maafkan aku sehingga kamu
harus menghadapi hal yang seperti itu, apalagi saking paniknya harus sedikit
berbohong. Tak apa. Hidup tidak selamanya tentang kebaikan. Manusia tempatnya
dosa dan kesalahan, tinggal bagaimana cara ktia mengelolanya.
:)
Ondeeeh :v
~ Ж ~
Dan bagaimanapun, yang salah tetaplah aku, yang mulai tetaplah
aku. Jadi, aku yang salah! Udah, baikan sonoh! Eheh~ *Iyaiya saia tau kok klean udh baikan :v
~ Ж ~
Percayalah, yang kau temui sekarang, bukanlah versi terbaik dari
diriku. Akan selalu ada update dan pembaruan. Diriku yang sekarang,
masihlah labil dalam segala urusan, belum bisa berpegang teguh kepada jalan
yang benar. Aku masih sering melakukan dosa, masih kerap kali berbuat salah.
Mungkin beberapa orang menganggapku sudah lebih berlaku dewasa, namun aku
tetaplah sesuatu yang disebut-oleh orang barat sana “Remaja”. Pendirianku
terkadang lemah, dan kadang malah terkesan keras kepala. Aku baru melewati
sedikit dari lereng gunung permasalahan hidup. Baru sedikit. Untuk itu,
dengan upaya dan keteguhan hati, nantinya InsyaAllah, temuilah aku dalam
kondisi yang paling terbaru, versi paling mutakhir. Memang, kita sama sekali
tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan, bahkan pada detik
selanjutnya saja, kita tidak mengetahui secara pasti. Apakah aku akan lebih
baik kedepannya, atau bahkan lebih buruk. Kita tidak tahu. Tapi merupakan suatu
hal yang pasti, bahwa aku disini bertekad bahwa yang terjadi di depanku
mengarah kepada yang lebih baik. Apalagi dengan adanya dirinya, meski tidak secara
langsung, aku akan terus berusaha menjadi pribadi yang layak baginya. Meningkatkan
kualitas diri untuk Allah, dan memantaskan diri, untuknya :)
~ Ж ~
Harapan dan impian, biarlah semua menyatu di dalam jiwa dan raga,
mengalir begitu saja, dan berujung kepada pertemuan kita suatu hari nanti,
dimana aku telah menjadi pribadi yang layak bagimu dan semua akan berjalan
sebagaimana impianku. Mungkin sekarang harapanku hanya digantungkan pada-Nya,
namun impianku, ah, kamu mengambil tempat dominan pula disana.
Mungkin ada banyak kecemasan, ada banyak kekhawatiran. Tapi itu
tergantung bagaimana cara kita mengelola dan mengaturnya. Mungkin saja semua
itu masih saja mustahil hingga kini, namun sekali lagi, “Nothing is
Impossible”.
Aku tidak ingin lagi mencemaskannya, walau terkadang ia
mendatangiku secara paksa. Tapi, untuk semua kecemasan dan kekhawatiran, aku
telah memiliki jalan keluarnya. Serahkan saja semua pada Allah. Allahlah yang
mengatur semuanya. Masa depan, ada dalam genggaman Allah dan kita. Allah yang
menetapkan dan mengatur, dan kita yang berusaha. Semoga apa yang kita impikan
akan terus tergantung tinggi di angkasa sana, dan berusahalah untuk meraihnya
bersama :)
~ Ж ~
Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Eh, anu :v salah satunya saja
yang kuceritakan, sebab nanti terlalu panjang nih artikel :v
..
Aku adalah orang yang pandai sekali berpaling. Aku bisa saja
melakukannya dengan banyak hal, apakah itu refreshing atau dengan mencari
sesuatu yang lain. Contohnya saja, ketika ada Salma tidak jua menjawab pesan
dariku, aku bisa saja chat dengan yang lain.
Tapi yang harus kau tahu, setiap orang punya
prioritasnya. Kalaupun ada ratusan teman chatku, tapi kalau yang kupentingkan
yaitu Salma, wah, yang lain bisa apa.
Namun dalam beberapa kondisi, seperti ketika
25Ramadhan itu, ah, aku tidak sanggup dan tidak ingin bangkit. Aku bisa saja
langsung mengambil motor dan pergi bersama teman teman, namun aku lebih
menginginkan untuk diam.
Ya, itulah caranya.
Ha, cara apaan?
Aku telah
menyimpulkan sesuatu itu menjadi suatu hal yang bermanfaat. Ah, entahlah. Aku
akan membaca pesan darinya kalau ingin mengetik pada blog ini, supaya dapat memancing moodku.
Kalau sudah kulakukan seperti itu, wah, tidak akan ada yang dapat melawannya.
Aku lebih pandai membahasakan semuanya kalau jiwaku sedang berada pada kondisinya.
Dan untuk menghilangkannya, cukup mudah;
ambil motor, atau yang lainnya. Cukup berjalan dan temui teman. Rasa itu sudah
mulai bisa kukontrol. Kalau dulunya aku tak bisa menghilangkan rasa itu meski
dengan bagaimanapun, sekarang aku dapat mengontrol datang dan perginya, sesuai
kebutuhanku.
~ Ж ~
Setelah
ini, kita akan pergi ke sekolah. Menuntut ilmu, ngurusin osis-_ dan banyak hal lainnya yang
harus kita lakukan. Aku tidak tahu apakah nantinya kami akan tetap
berkomunikasi, ataukah terhenti sampai di sini saja.
Dan akupun juga akan memaklumi keputusannya,
apapun itu. Komunikasi kami yang sekarang ini, tidak lain dan tidak bukan juga
merupakan keputusannya. Entah bagaimana ia bisa menjawab dan meladeniku, sedang
ia sendiri mengatakan bahwa dirinya takut akan peraturan sekolah. Itu merupakan
sebuah keajaiban, dimana goodgirl bisa bisa ngechat.
Mungkin kita harus terpisah untuk sementara
waktu ini, dan ingatlah bahwa kejadian kemarin itu pernah terjadi. Mungkin kita
tak dapat memaksakan, namun suatu hal yang pasti bahwa kita dapat merasakan untuk beberapa saat atau bahkan dekade selanjutnya. ^_^
![]() |
| :) |
Sebenarnya masih banyak yang ingin diceritakan, namun, aku tidak ingin ini terlalu panjang.
Oke? Selamat membaca.
Salma,... Salma. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu itu. Entahlah. Pertanyaan yang kulayangkan di blog ini, apakah tega dibiarkan begitu saja, tidak terjawab? Apakah aku harus berkata dan bertanya sendiri setiap hari? ah, entahlah. Sedangkan pertanyaanku yang kuberi pada tengah malam waktu itu, tidak dijawab hingga kini. Aku memberikan waktu untukmu tidur, karena memang pikiranmu sedang tidak baik baik saja waktu itu. Apakah hingga kini seperti itu jua? entahlah. Mungkin kamu bisa menjelaskannya pada tulisanmu nanti.
Semua itu terpikirkan olehku, karena
Jikapun kita tidak lagi berhubungan ataupun berkomunikasi hingga akhir hayat, yang tinggal di benakmu tentang diriku hanya yang baik baik saja. Namaku harus terkesan baik ketika diingat oleh dirimu pada suatu hari nanti.
:)
Yang mau ditulis?
1. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada hatimu sejak SD, ketika kita masih bersama. Serta momen momen yang teringat dan ingin kau ceritakan
2. Yang terjadi sekarang
3. Harapan kedepan
Yang nomor satu aja dulu ya ^_^ gausah banyak banyak, ntar ga fokus belajar :v





























Komentar
Posting Komentar