Hari hari berlalu, akupun mulai mencoba
memakluminya. Aku sudah mulai ridha terhadap apa yang akan ditentukan Allah
pada kehidupanku. Takkan ku memaksakan egoku yang meletup-letup bagai didihan
air itu. Aku juga harus memastikan diri ini agar tidak terjerumus kepada sebuah
dosa yang biasa diperbuat anak muda sepertiku. Tidak akan.
Pekan demi pekan berlalu semenjak peristiwa
tragis itu. Aku takkan bisa melupakannya sepanjang hidup, namun kabar baiknya aku
sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan seperti ini. Kita tak bisa
memaksakannya. Kendati kita lakukan apapun yang kita bisa, takkan mungkin bagi
kita untuk menyelisihi takdir perjalanan hidup kita.
~ Ж ~
Sudah beberapa pekan ini aku dihantui oleh banyak
sekali hal yang tidak masuk akal. Kekhawatiran akan hal itu seakan menggerogoti
sebagian akal pemikiranku, seakan hidupku tak akan berjalan normal setelah ini.
Rasa khawatir itu benar benar mengusik kesejahteraan hatiku. Tak ayal liburan
yang kualami ini semakin panjang, namun diri ini belum juga merasakan sebuah kedamaian
semenjak peristiwa itu, entah mengapa.
Aku tak perduli jikalau badai besar
menghampiri, asal diriku tidak mati, aku akan tetap di jalan ini.
Kita tahu bahwa membuat sebuah keputusan
besar dalam hidup itu bukanlah perkara mudah. Aku tak ingin nantinya semua berjalan layaknya sebuah keterpaksaan,
sehingga akupun akan tenggelam lebih dalam. Biarlah semua isi kehidupanku berlayar
dan berlabuh bak air yang mengalir dari sebuah tempat yang tak diduga duga. Semuanya
akan baik baik saja, Thariq. Yakinlah.
Sebetulnya aku tak kuasa lagi untuk merasakan
sebuah perpisahan dengannya. Perpisahan di hari kemarin saja itu sudah amat
menyiksa batinku, apalagi yang akan terjadi di depan, merupakan perpisahan
untuk perjalanan kehidupan yang amat sangat membuat penantian yang begitu lama?
Tapi, itu merupakan hal yang tak bisa dihindari. Ujung ujungnya juga bakalan
sama; jika aku selalu mencoba untuk meyakinkan diri ini agar bisa hidup tanpa
dia, bagaimanapun caranya, pada akhirnya aku juga akan menemukan jalan pulang
untuk kembali kepadanya. Jadi, merupakan sebuah hal yang sia sia jikalau aku
mencoba untuk melupakannya. Meski seluruh perjalanan hidup akan terasa hambar
jikalau tanpa ada dirinya, tetapi biarlah Allah yang menghendaki fenomena
kehidupan apa yang akan terjadi di depan mata kita.
Semuanya masih seperti itu, meletup letup di
dalam kepalaku, dan masih saja menikam nikam jantungku. Terasa berat, tapi mau
tidak mau harus kulewati. Aku harus survive, harus tetap hidup. Semuanya
memang begitu berat sekarang, namun aku percaya bahwa aku bisa melewatinya, dan
janji Allah itu pasti.
~ Ж ~
Batinku sudah merasa mendingan
daripada hari hari sebelumnya, meski rasa keterpaksaan akan kehilangan kembali
tak bisa terelakkan. Waktu akan menjawab semuanya. Apakah aku ‘kan bersamanya, atau
pada akhirnya takkan pernah bersua kembali. Keinginanku memanglah “bersamanya
selamanya”, namun memaksa jalan itu takkan bisa membuat kita menjadi lebih
baik. Ada baiknya kita persilahkan kata “perpisahan” itu mengambil tempat
diantara kita, membuat kita terpisah untuk beberapa lama, hingga datang saat
yang telah ditentukan Yang Maha Kuasa.
Inikah yang dinamakan “Menjauh untuk
mendekat”?
Rasa yang kurasakan ini, keperihan akan
perpisahan, kesedihan dan keterpaksaan, takkan hilang dalam waktu dekat. Kurasa
ini akan bertahan untuk bertahun tahun yang kulalui tanpa kehadiran dirinya di
dalam hidupku. Butuh waktu yang lama. Mungkin sampai diri ini menemuinya
kembali pada suatu masa nantinya, dan niat serta keberanianku telah membawaku untuk berbincang langsung denganmu tentang hidup kita. Namun, kuharap ada bantuan yang dapat
mengancurkan rasa itu. Aku tidak mengatakan bahwa aku ingin kehilangan rasa
rindu ataupun cinta, namun rasa khawatir inilah, yang kuamat ingin musnahkan
nantinya. Ilahi, kumohon tolonglah diriku.
~ Ж ~
Asal kau tahu, rasa keterpukulanku waktu itu,
pasca kejadian 25 Ramadhan itu, sebenarnya aku bukan tidak bisa bangkit
dari rasa keterpurukan. Aku memang menyengajakan agar rasa itu tetap ada di
dalam diriku. Itu terbukti dari aku yang memang berusaha untuk selalu mengingat
dan berlarut larut dalam kejadian itu, sehingga mustahil diri ini bisa
melupakan insiden itu karena diriku sendiri yang memutuskannya. Aku juga tidak
berusaha terus menerus untuk pergi dari rasa down waktu itu, dengan
melakukan hal lain yang berpotensi memudarkan kesedihan tersebut.
Lah, kok bisa?
Karena dengan adanya rasa itu di hatiku, aku
bisa merasakan kedekatan dengan Allah, yang benar benar terasa indah. Aku juga
bisa mengenang memori kebersamaan kita dengan suasana hati yang haru, secara
sempurna.
Ah, susah juga menjelaskannya. Yang penting,
aku memang menyengajakannya.
~ Ж ~
Rasa itu berbeda dengan rasa yang kualami beberapa hari ini. Aku bahkan
berpikir bahwa itu tidak akan kubiarkan “ada” di dalam akal dan nuraniku. Rasa
sedih dan haru yang terjadi di hari kemarin, tak boleh kusamakan dengan kail
pancing syaithan yang membuatku selalu merasa khawatir akan masa depan yang
sebenarnya telah disusun rapi oleh Allah. Aku harus ekstra mengontrol diri agar
tidak kufur ilallah.
Aku juga berusaha untuk menghilangkan rasa
khawatir tersebut. Mana pernah coba, aku request jalan jalan yang tergolong
lumayan jauh, bepergian ke Sasak dengan membawa motor sendirian? Selama ini aku
tak pernah sama sekali. Tujuanku agar segala rasa penat dan sebagainya,
termasuk rasa khawatir tersebut dapat segera binasa dari otakku, meski memang
pada perjalanan ketika diriku masih memutar mutar tanganku (ngegas) di jalanan,
kesedihan itu kerap kembali. Tak bisa mengelak, tapi yasudah. Semuanya perlu
waktu.
Aku memang benar benar ingin melupakannya,
karena rasa khawatir terhadap masa depan merupakan bentuk keraguan terhadap
ketetapan Allah, dan itu amat dilarang. Lagipula seperti yang dikatakan
Umar ibn Al-Khaththab, Tidak ada kekhawatiran yang bisa merubah masa depan. :)
Lagi lagi, dan ini kurasa sudah kesekian
kali kukatakan. Dibanding kekhawatiran yang malah berdosa, lebih baik kita
meletakkan harapan dan impian di sisi Rabb Semesta Alam. Do’a dan sabar, serta
usaha yang tak boleh dilupakan.
Kesabaran kita memang sangatlah diuji setelah
ini, namun itu merupakan hal yang biasa pada suatu relationship, meski
sebenarnya kita sendiri belum terbiasa dengan itu. Apa yang terjadi pada hari
kemarin, kita harus ambil pelajaran darinya; tidak boleh berburuk sangka dan
berlarut larut dalam kesalahpahaman. Banyak sekali yang dapat kita petik
hikmahnya dari apa yang telah terjadi pada kita, sehingga akan membuat jari ini
lepas kalau aku menyebutkannya satu persatu.
~ Ж ~
Perpisahan yang terjadi sebelum perjumpaan
kita ini, aku sangat merasakan kejanggalan, atau kalau sekarang kukatakan bahwa
itu adalah sebuah kesalahpahaman. Kau hilang begitu saja, seakan tak pernah
peduli pada diriku lagi. Aku juga tak mungkin mencintai hehampaan, aku tak
bisa. Aku sangatlah ingin bertemu denganmu, hanya untuk sekedar melihatmu baik
baik saja. Tapi apa boleh buat, kondisilah yang sedang tidak baik baik saja.
Bagaimanapun aku sangatlah rindu ketika teman
aulad menyenggol bahuku disaat orangtuamu datang menjemputmu disaat kita
masih sekelas, sambil mengatakan “mertua antum thor”.
Mungkin aku agak kesal dan gregetan dikala itu, namun pada faktanya diri ini akhirnya ingin merasakan kembali momen seperti itu.
Mungkin aku agak kesal dan gregetan dikala itu, namun pada faktanya diri ini akhirnya ingin merasakan kembali momen seperti itu.
Tentang apa yang telah kita rasakan bersama
sama, sungguh tak bisa dijelaskan.
Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa
rasanya mendengar bahwa kita disatukan satu team olimpiade PAI yang akan diutus
bersama tatkala ada lomba.
Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya semobil denganmu ketika pergi lomba kala itu, bahkan ketika kepala kita sangatlah dekat waktu itu,.. Ah bahkan aku saja tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku kala itu
Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya mendengar kabar buwung bahwa kau juga menyukaiku.
Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya menerima balasan atas surat yang kukirim sebelumnya.
Mungkin kau takkan pernah tahu bagaimana gembiranya diriku ketika menerima kabar bahwa engkau melanjutkan pendidikan pada sekolah yang sama denganku.
Mungkin kau tak pernah tahu bagaimana rasanya akhirnya kita bisa berbicara meski masih tergolong sedikit.
Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya hadir di sekolah dasar dulu, namun ternyata engkau tidak hadir pada hari itu.
Mungkin kau tak pernah tahu rasanya ketika ada sesuatu yang kebetulan “sama” diantara kita, meski itu sebuah perkara yang sepele menurutmu.
Mungkin kau tidak akan pernah tahu rasanya melihatmu tersenyum, dan itu dikarenakan oleh diriku.
Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya semobil denganmu ketika pergi lomba kala itu, bahkan ketika kepala kita sangatlah dekat waktu itu,.. Ah bahkan aku saja tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku kala itu
Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya mendengar kabar buwung bahwa kau juga menyukaiku.
Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya menerima balasan atas surat yang kukirim sebelumnya.
Mungkin kau takkan pernah tahu bagaimana gembiranya diriku ketika menerima kabar bahwa engkau melanjutkan pendidikan pada sekolah yang sama denganku.
Mungkin kau tak pernah tahu bagaimana rasanya akhirnya kita bisa berbicara meski masih tergolong sedikit.
Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya hadir di sekolah dasar dulu, namun ternyata engkau tidak hadir pada hari itu.
Mungkin kau tak pernah tahu rasanya ketika ada sesuatu yang kebetulan “sama” diantara kita, meski itu sebuah perkara yang sepele menurutmu.
Mungkin kau tidak akan pernah tahu rasanya melihatmu tersenyum, dan itu dikarenakan oleh diriku.
Mungkin kau tak pernah tahu rasanya menolak wanita lain karena yang ada di hatiku hanyalah dirimu. Lagian, emang gaboleh juga kan :v
Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya putus asa kala dulu aku merasa tidak pantas untuk dibersamakan denganmu.
Mungkin kau tak pernah peduli waktu aku bersikeras untuk mencari informasi tentangmu.
Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya berusaha melihatmu yang tengah makan siang melalui celah celah bangku yang ada.
Mungkin kau tak akan pernah mengerti bagaimana aku mengganti atributku, hanya karena ingin menyamakan dengan warna favoritmu.
Mungkin kau takkan tahu bagaimana susahnya menahan senyum ketika dicie ciein denganmu oleh teman, guru, bahkan orangtuaku.
Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya menyebut namamu dalam do’a do’a yang kupanjatkan sedari dulu.
Mungkin kau tidak pernah tahu bagaimana caranya aku bisa bertahan sejauh ini.
Mungkin kau tak akan pernah tahu seperti apa rasanya mengetik hingga larut malam, bahkan hingga fajar tiba, hanya untuk kau baca.
Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya terpisah darimu bersama semua kesalahpahaman yang ada.
Mungkin kau tak pernah menduga bagaimana kerasnya diri ini untuk mencari celah celah informasi tentangmu dari teman yang lain.
Mungkin kau tak tahu seperti apa rasanya mendengar namamu juga tersebut dalam penerimaan raport di sekolah.
Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya bertahan hidup tanpamu, yang akhirnya merubah diriku.
Mungkin kau tak pernah tahu rasanya mengulang ulang kenangan tentang kita, surat surat yang pernah kita buat.
Mungkin kau tak pernah tahu bagaimana aku berusaha mencintai yang lain, karena kurasa dirimu juga tak akan pernah peduli lagi padaku. Percuma kan, kalau pada akhirnya sad ending juga, padahal aku udah bertahan sejauh ini.
Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya mengulang ulang pesan darimu yang sebenarnya melukai diriku sendiri.
Mungkin kau tak pernah tahu bahagianya diriku karena detik ini aku telah bisa berkomunikasi denganmu.
Mungkin kau takkan pernah tahu bagaimana rasanya aku melihat akun WhatsAppmu berulang kali setiap menitnya, hanya ingin melihat bahwa apakah engkau itu online atau tidak.
Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya menunggu jawaban dari story yang kubuat.
Ah, banyak sekali. Aku tak ingin postingan
kali ini hanya berisi “Mungkin kau takkan pernah tahu seperti apa rasanya”.
~ Ж ~
Dulu pernah aku mencintaimu, dan katanya dirimu
juga. Saat itu aku menduga bahwa kisah kita bakalan tak berujung, dan bertahan
selamanya. Saat itu aku mengira kita takkan pernah terpisah seperti ini bahkan
kedepan.
Namun, ternyata yang tersisa hanyalah
kisahnya, bukan kitanya.
Aku tak mengatakan kita sampai disini saja, karena sadar
ataupun tidak kita terikat dalam beberapa organisasi alumni(Aku tidak
mengatakan TK ada acara alumninya ya:v). Jangan lupakan bahwa kita memilih
sekolah dasar dan menengah pertama yang sama. Nanti, ketika kita telah dewasa,
aku akan tetap berusaha datang jikalau ada pertemuan, meski kurasa nantinya aku
bukan lagi penduduk pulau ini. Oiya, kamu datang ya, aku ingin melihatmu
kembali nanti :)
~ Ж ~
Konyol sekali aku kemarin. Aku bertindak
seolah telah dewasa, padahal sebenarnya tidak. Klasifikasi usia yang resmi di
dunia ini menunjukkan bahwa kita masih dikatakan anak anak dibawah umur. Ya,
kita tak bisa mengelak dari fakta itu. Kita masih anak anak. Tak peduli
sebenarnya kita sendiri menganggap bahwa diri kita telah dewasa, telah besar,
namun pada faktanya kita belum. Mungkin kita hampir atau bahkan sudah menginjak
fase pemuda/mudi, namun sebaiknya kita tak perlu berharap terlalu tinggi pada
perjalanan kehidupan kita setelah ini.
Tak bisa dipungkiri, hidup takkan pernah bisa lurus begitu saja. Lika
liku kehidupan pastilah akan kita temui, yang mau tidak mau haruslah dihadapi. Jalan
kita masih panjang. Dunia ataupun akhirat, jalan kita masih terbentang jauh
kedepan.
Mungkin dulu ketika kita masih menginjak
kelas enam, kita menganggap bahwa kita sudah cukup besar dan cukup dewasa untuk
mengambil suatu keputusan. Kita mengira diri kita telah cukup pandai dalam
mengelola masalah, dan lainnya. Namun, aku yakin setiap kita, ketika melihat
gambar atau media apapun yang menayangkan masa masa itu, ada rasa cringe yang
seolah olah ingin membuat kita berkata, “Kok gue gitu dulu ya, kok saya
gajelas banget dulu ya,”,, dan seribu ungkapan lainnya. Pun yakinlah
akan seperti itu juga nantinya ketika kita menua, momen detik ini akan kita
herankan pula.
Namun, bukanlah suatu kesalahan untuk menggantung impian
kita setinggi langit dari sekarang. Mimpi kita yang sekarang, akan teringat
hingga kapanpun. Aku akan tetap mengingat dirimu hingga bila-bila, dan
menjadikan salah satu impian yang kugantung adalah bersamamu selamanya. Mungkin
terdengar mustahil sekarang, namun sekali lagi, Nothing is impossible
>_<
Impian yang kita tanam sekarang, laksana tumbuhan yang
ditanam dengan tangan kita sendiri. Bisa saja ia nanti berkembang dan sukses,
atau bisa saja layu bahkan mati seketika. Itu tergantung bagaimana kita
mengelola impian tersebut. Jika dilestarikan, dijaga, dijadikan patokan dan
harapan, InsyaAllah itu akan menjadi sebuah impian yang bercabang cabang,
sukses, dan kita menggapainya dengan hati yang sangat gembira. Namun, jikalau
kita sengaja melupakannya, bahkan menganggap hal itu sebagai sampah, itu
tidak akan lebih dari anggapan kita sendiri. Worse than garbage.
Semua yang pernah kita tanam, niscaya kita
akan menuainya pada suatu saat nanti. Baik detik ini juga, besok, ataupun jauh
didepan. Namun, aku yakin bahwa pada nantinya kita akan mendapat hasil yang
baik dari apa yang hari ini telah kita gantung setinggi angkasa. Semua yang kurasakan
sekarang, aku akan menjaganya agar tetap seperti itu hingga kapanpun. Rasa ini,
akan kujaga. Boleh, kan? Kamu gimana? :v
~ Ж ~
Umur kita masih belasan tahun. Belum saatnya
kita memikirkan segala tentang hubungan kita selanjutnya, meski aku sendiri
takkan pernah bisa melupakannya. Kita seharusnya memandang kedepan dengan
harapan yang pasti, karena masa depan yang gemilang ada di hadapan kita.
Pendidikan, itu akan mempermudah kita untuk menjadi seseorang yang berstatus sosial
lebih tinggi, dan pastinya memiliki banyak ilmu. SMA, Perkuliahan, harus kita
maksimalkan sehingga masa depan kita akan tampak lebih indah nantinya. Masa
masa sekarang, SD dan SMP, ketika kita masih bersama, jadikan saja pelajaran
yang bisa dipetik hikmahnya. Ratusan bahkan ribuan hikmah dapat kita ambil dari
momen itu. Selamat menempuh kehidupan, Sal. Lihatlah selalu kedepan, iya,
kedepan. Jauh disana, kau akan menemukan kebahagiaan. Meski nantinya kita tak
bisa bersama, tapi aku sudah bahagia melihatmu bahagia.
Aku tidak tahu apakah nantinya engkau akan
lebih dahulu menikah daripada diriku, karena aku akan tertinggal dari
segi angkatan kelulusan. SMA? Aku akan sekolah empat tahun bahkan mungkin lima
tahun. Iya, Pesantren rekomendasi orangtuaku memang menerapkan sistem seperti
itu. Tahun pertama namanya Takhassus, dan tahun kelima itu dipakai untuk
praktek mengajar. Kurasa, nantinya aku bakalan sekolah disitu juga. Di Bogor.
Bukannya aku tidak memiliki pilihan sendiri, namun kurasa pilihan orangtuaku
itu tidak ada salahnya, ada banyak ilmu dan pengalaman yang dapat diserap
disana. Satu lagi, aku akan lebih mudah menjaga hati disana karena kemustahilan bertemu dengan akhwat setiap enam bulan. Belum pasti kesana sih, tapi persentasenya lebih 60%. Oiya, kamu
dimana?
Untuk hal yang kusebutkan pada episode
sebelumnya, tentang aku yang ingin menikahimu, pikirkan saja di lain hari.
Kurasa, itu merupakan sebuah tantangan kehidupan yang sangat luar biasa.
Kendati seperti itu, aku akan tetap berusaha. Setelah selesai dari dunia
pendidikan formal, bekerja, aku akan berusaha sesegera mungkin menikahimu.
Dan aku sadar, impian setinggi itu tak akan
bisa diwujudkan kecuali disertakan dengan ikhtiar yang luar biasa tinggi pula.
Tidak akan terjadi sesuatupun jikalau aku terus diam disini dan mendengarkan
lagu galau seperti kemarin. Aku harus bangkit, dan memulai keseriusan dalam
hidup ini. Setiap aku mengingat dirimu, aku bisa lebih bersemangat lagi. Aku
bersyukur, yaa Allah.
Jalan kita masih panjang dengan beribu
rintangan yang harus dihadapi. Namun itu takkan membuatku lupa akan indahnya
kenangan kita bersama, meski nantinya juga kau anggap sekedar sebuah kenangan
masa lalu. Aku takkan bisa melupakannya, begitu juga dengan hatiku, takkan bisa
membuatku berganti arah.
Aku mengetik hal yang seperti ini, bukannya
diriku menyanggah tekadku pada postingan sebelumnya. Aku akan tetap begitu,
dengan seribu harapan yang kusimpan di dalam kantong doraemon yang
tertempel di hatiku. Aku akan tetap mencintaimu, sampai kapanpun. Aku akan
tetap berusaha kedepannya, dengan do’a yang tak terhenti pula.
Kamu, iya, Salma, harus menjadi orang
berpendidikan kedepannya. Aku tidak perduli apakah pendidikannya kepada
alqur’an atau formal, namun kau harus berkembang. Biar nanti semuanya bisa
berjalan dengan baik. Kehidupanmu baik, takdirmu baik, hingga jodohmu nanti,
yang kurasa akan luar biasa baiknya. Aku tidak tahu apakah yang kumaksud adalah
diriku atau malah orang lain, namun, jalani saja. Tidak baik memaksakannya.
Keluarga adalah yang terpenting.
Kuakui aku bukanlah seseorang yang bisa
dianggap rajin dan pekerja keras, namun setelah menyadari bahwa apa yang ada di
depanku bukanlah sesuatu yang dianggap remeh, aku akan berusaha menjadi yang
seperti itu.
~ Ж ~
Semua yang terhalu-kan di dalam kepalaku,
akan aku jadikan motivasi untuk mewujudkannya. Bukanlah sesuatu yang hina,
bukan? Ketika aku berusaha keras untuk mewujudkan impian untuk dibersamakan
dengan seseorang yang kuinginkan.
Jauh di dalam relung hatiku, sebenarnya aku
juga merasa tidak bisa. Seluruh logika dan fakta terus berputar putar di
kepalaku. Kalau dipikir-pikir, persentase kita untuk bersama nantinya hanyalah
sekitar 50-60% (menurutku).
Pertama, kau lebih dahulu melihat dunia
daripada diriku. Kurasa kamu mengetahui maksudnya. Males aja saia
jelasinnya :v. Kemudian, jika tidak benar benar menjaga hati, pernikahan dengan
senior itu sangatlah umum terjadi. Aku telah mencoba menjelaskannya pada
episode sebelumnya. Mereka lebih dahulu mapan daripada juniornya. Bisa saja
ketika aku baru lulus dunia perkuliahan, kau telah menikah :). Coba kita lihat
orangtua kita, orangtua yang lain. Kebanyakan mereka berbeda 4 tahun lebih.
Namun, semua kemungkinan buruk itu aku sudah
berusaha hilangkan. Tadi malam pun ketika diriku baru pulang dari barbershop
medan orbit (awoakwoawoawk endorse), Aku berbincang dengan ayahku tentang pernikahan satu
angkatan. Beberapa teman ayahku juga berhasil kok. Bahkan ada yang menikah
dengan kakak kelasnya. Yang penting itu niat. Berusaha untuk mewujudkannya. oiya
lupa nanti kao kan kakak kelas saye :v aduh sedih:v
~ Ж ~
Fakta fakta yang semakin memperpuruk
kemungkinan yang terjadi, enyahkan saja. Aku yakin suatu saat nanti mimpi itu
akan terwujud, bagaimanapun jalannya. Yang penting kaga ke dukun cuy :v
Bagaimanapun, aku yakin hatimu tak akan pergi
jauh jauh. Buktinya, momen itu, momen yang bahkan telah terlupakan olehku. Kau
masih mengingatnya! (saking banyaknya memori kita. Hahaha, bilang aja
gitu, awoakowaowk). Yaa
ituloh, momen yang dimana aku memberitahumu tentang sebuah coretan di aqua
gelas milikmu.
Merupakan sebuah kemustahilan jikalau engkau
ingat itu sampai kini tanpa pernah dikenang sekalipun. Aku sendiri saja bisa
lupa, woi! Kurasa aku masih punya banyak memori yang kuanggap lebih indah daripada
itu, jadi aku bisa lupa. Eh tapi ternyata kau menganggap itu bukan suatu memori
biasa, yaudah deh, aku juga pasti bakalan masukin itu ke daftar memori unggulan
:v
~ Ж ~
Semuanya baik baik saja, namun kita saja yang
kurang beryukur.
Aku
seharusnya bersyukur karena saat ini diriku telah dapat berkomunikasi
dengannya. Meski cara berkomunikasi kami memang agak terkesan aneh tapi unik,
namun mau tidak mau aku harus menikmatinya. Mungkin history percakapan kita
tidak akan bertahan lama, sehingga beberapa pesan penting darimu telah
kuabadikan dengan ScreenShot. Bolehkan? :v (udah disimpan rapi di
laptop, dijadikan archives winrar, lalu dimasukkan ke cloud storage supaya
bertahan lama) Keakraban
kita sekarang, meski sebatas percakapan melalui gawai, itu merupakan sebuah
keajaiban yang parkir di dalam hidupku. Meski candaan garing pada percakapan
kita tak dapat kita lihat kedepannya, namun kurasa memori ini takkan muak untuk
menyimpan kenangan tentangmu. Masih ada triliunan terrabytes, bahkan mungkin unlimited
untuk menyimpan semua itu.
Cara yang digunakan itu sebenarnya agak
tergolong sulit juga, karena tanpa notifikasi dan menunggunya juga pasti
bakalan lebih lama. Pesanku tak bisa dibalas sesegera mungkin. Pastilah ada penantian
semenit keatas jikalau mau dibalas. Aku bisa memakluminya. Akupun kerap membuka
tutup aplikasi itu setiap seperempat menit jika aku tengah menunggu balasan
darimu. Eh, ternyata balasannya cuma
“haha”. Ups, salah, aku juga senang jika engkau sengaja mencari bahan
pembicaraan. Keliatan cuy. Tapi, ya seperti itulah. Makasih, ya.
Aku sering juga berpikir bahwa “percakapan
kita tuh dikit banget, yak”. Tapi pada faktanya percakapan kita dalam
sehari itu bisa banyak banget tau. Lagi lagi titik permasalahannya itu terletak
pada kurangnya rasa syukur.
Mungkin aku juga pernah berpikir, membandingkan kecepatan
reply dari Salma dengan yang lain. Namun, aku tidak terlalu
mempermasalahkan itu. Tidak apa apa bagiku untuk menunggu jawaban dari pesanku,
meski sesekali aku telah menjadi fosil duluan. Ah, bercanda :v. Cepet kok.
Lagipula, jikalau kita logikakan, wanita yang terlalu dekat dengan ponsel akan
cenderung ceroboh dalam melaksanakan pekerjaan. Anak anak bisa terlantar, dan
lainnya. Aduuh kok lagi lagi kesana mikirnyaa :v Yaa pokoknya gitulah, dunia
ini luas, banyak yang bisa kita lakukan di dalamnya. Kalau kehidupan sehari
hari kita hanya terpaku dengan layar ponsel saja, itu dapat membuang banyak
waktu berharga yang telah dijatahkan pada kita.
Bagaimanapun, aku harus tetap bersyukur.
Aku telah bisa berkomunikasi dengannya, dan apapun yang terjadi padaku hari
ini.
Semua
‘kan berubah sejalan dengan waktu. Tapi hukum itu kuharap tidak berlaku pada
perasaan diantara kita. Kini, setiap detik berharga bagiku.
Syukuri sajalah, dan aku akan memaksimalkan
kesempatan kali ini untuk bertanya banyak kepadanya. Mungkin dia risih, mungkin
dia tidak nyaman, tapi biarlah. Pokoknya aku harus bisa menggunakan kesempatan
ini dengan sebaik baiknya.
~ Ж ~
Aku sangat senang karena kamu juga mau diajak
berbicara dalam kondisi yang seperti ini. Namun, terkadang aku juga berpikir,
bagaimana jikalau kita dicyduck oleh asatidz? Oh, aku yang akan mengakui
kesalahanku. Tenang saja. Aku juga ingin meminta maaf jikalau malah
membuatmu merasa tidak aman gara gara melanggar peraturan itu.
Tapi kurasa, dengan cara kita
berkomunikasi seperti sekarang ini, sangatlah kecil kemungkinannya untuk diciduk.
~ Ж ~
Masih ada satu tahun lagi untuk berkomunikasi
seperti ini. (eh tapi ituh hape jadi kaga, abis masa karantina ini
katanya engga lagi) Setelah itu, I don’t know, apakah
nantinya engkau masih bersedia atau bahkan tak ingat dan tidak teringin
mengingat tentang diriku lagi. Lagipula, aku tidak akan terlalu bersedih
apalagi memaksamu untuk berkomunikasi kembali denganku. Karena itu terserah
padamu, dan itu merupakan keputusanmu. Aku tak bisa mencampurinya.
~ Ж ~
Tidak ada yang mengetahui kisahku secara
pasti kecuali diriku sendiri dan Allah. Begitu pula kalian, aku tak tahu kisah
kalian secara pasti. Setiap orang memiliki kisah yang mereka genggam sendiri
bersama ilahi. Pastinya ada yang mengharukan, dan mungkin ada yang semasa
hidupnya hanya untuk bersenang senang saja. Masing masing dari kita pasti punya
penyesalan terbesar dalam hidup pula. Orang yang sudah dewasa sekarang, pasti
memilikinya. Aku tidak ingin yang disesalkan dalam hidupku adalah tentang aku
dan dia.
Betapa menyedihkannya nasib kita tak bisa
dibandingkan dengan orang orang diluar sana. Masih banyak yang mempunyai
masalah hidup yang jauh lebih banyak dan besar daripada yang ditimpakan kepada
kita. Aku tak bisa membandingkan betapa menyedihkannya nasibku dengan kalian,
karena hanya Allah yang bisa. Bahkan mungkin, masalahku belum ada apa apanya
dibanding yang dimiliki kalian.
Aku masih saja mencoba untuk memulihkan kembali jiwaku
setelah kejadian itu. Kurasa, aku sudah banyak kehilangan rasa yang menyedihkan
itu. Imunitasku sudah naik kembali, ragaku juga sudah baik baik saja. Aku harus
mensyukuri itu. Bagaimanapun kita kedepannya, aku akan tetap bersyukur karena
telah dipertemukan dengan dirimu. Setidaknya kita pernah bertemu dan bersama.
Kita pernah saling mengenal selama delapan tahun, dan itu akan segera genap
menjadi sembilan tahun. Syukuri saja apa yang akan terjadi pada diri kita
kedepannya, kendati mungkin aku takkan pernah memilikimu. “Tak pa lah”,
itu kalimat yang sering kubaca dari pesanmu :’)
Aku akan bercerita kepada isteriku nantinya
tentang bagaimana epicnya kisah kita sekarang. Mungkin akan sulit, namun dia
pasti juga mengerti setiap orang memiliki kenangan indah dalam hidupnya. Akupun
juga begitu nantinya, akan mendengarkan kisah demi kisah yang diceritakannya.
Kuakui bakalan sulit jikalau melihat engkau
bahagia tetapi tak bersamaku, namun apa boleh buat, aku harus tetap menerima
pahitnya alur kehidupan. Memaksakannya tidak akan membuatnya menjadi lebih
baik.
Sekali lagi aku bukannya pesimis terhadap apa
yang terjadi di depan. Aku hanya mencoba untuk mengalahkan egoku. Aku tidak
ingin sekarang aku berkata semua hal tentang kita yang indah pada masa depan,
hingga melupakan kemungkinan terburuk yang mungkin juga terjadi. Aku
tidak ingin kegeeran atas kemungkinan baik yang terjadi. Kan kalau malah engga
terjadi, kan malu jadinya, udah ditulisin semua disini :v
Bagaimanapun, akan tetap kuusahakan mimpi
ini akan menjadi nyata. :D
~ Ж ~
Aku mengatakan bahwa jalanku untuk pulang
adalah dirimu, namun aku sendiripun tidak bisa memastikan bahwa aku akan benar
benar pulang kembali suatu saat nanti. Manatahu kan, ketika aku tengah
mengarungi lautan impian, orang lain telah menjadi rumahmu. I don’t know.
~ Ж ~
Hari ini adalah bukti bahwa kita pernah
berbincang akrab meski hanya melalui ponsel saja. Aku sudah sangat senang
mengetahui fakta itu. Aku bahkan tidak pernah menduga akan sampai pada titik ini perihal mencintaimu :)
~ Ж ~
Dan benar, aku kembali merasakannya dalam
berisiknya rintikan hujan yang menyerang atap rumahku. Di bawah awan hitam ini,
aku kembali membisikkan kepada semesta, bahwa aku mencintainya. Tidak lupa
berdo’a pada tuhan, bahwa aku sangat menginginkannya. Semoga do’aku ini
diijabah, karena ini merupakan salah satu momen do’a yang mustajab.
Sekali
lagi, terima kasih atas semuanya, Sal :). Semoga kisah kita nanti takkan seolah
menjadi kata pengantar dalam perjalanan hidup kita saja ya :)
Heh, safna, ente ni bacain mulu, anenya malu
tau! Kan ketauan jadinya siapa salah satu pelopor bucinisasi di Indonesia:v
~ Ж ~
Wait. Tunggu, tunggu.
Someone tell to me, bahwa aku ini memilih
salma dikarenakan rupa dan wujudnya.
Oke, aku sebut saja orangnya, Nabilatul. Hei,
setelah itu kamu juga mengatakan bahwa dunia ini akan adil padamu kalo kamu cakep.
Ingat kisah nabi Yusuf a.s?
Bukannya mendapat keadilan, beliau malah dihantam fitnah
bertubi tubi karena ketampanannya.
Kau tahu Bilal bin Rabbah?
Beliau membuktikan bahwa rupa tak selamanya menentukan
respek seseorang pada kita. Buktinya, dengan kulit superhitam yang dimilikinya,
dia masih dikenang oleh para muslimin di seluruh dunia.
Aku memilih Salma, mengapa ya?
Aku tidak akan pikir banyak banyak jikalau
disuruh memilih antara seseorang bernama Salma Mutiara Irza itu dengan orang
lain. Aku akan jawab dengan pasti, “Salma".
Aku juga tidak tahu mengapa. Aku hanya merasakan, bahwa dia adalah bagian dari diriku, hidupku. Itu saja, kurasa itu telah mencakup semua alasanku.
Beragam orang yang mampir pada hidupku sepeninggalmu kemarin, dan kata orang, paras mereka mengalahkan orang yang sedari dulu kusukai. Buktinya, aku tidak tertarik tuh, karena telah terbentuknya suatu ikatan yang rumit, hingga diriku sendiri tidak mengetahuinya secara pasti.
Aku juga tidak tahu mengapa. Aku hanya merasakan, bahwa dia adalah bagian dari diriku, hidupku. Itu saja, kurasa itu telah mencakup semua alasanku.
Beragam orang yang mampir pada hidupku sepeninggalmu kemarin, dan kata orang, paras mereka mengalahkan orang yang sedari dulu kusukai. Buktinya, aku tidak tertarik tuh, karena telah terbentuknya suatu ikatan yang rumit, hingga diriku sendiri tidak mengetahuinya secara pasti.
Mencintainya
merupakan salah satu bagian dari hidupku, meski memilikinya masih menjadi
impian di dalam hidupku. Aku akan tetap begini meski apapun yang terjadi.
Bagaimanapun rupamu di masa depan, aku masih memiliki rasa yang sama padamu.
Jadi, kalau kamu suatu saat nanti bersedih dan down, bahkan merasa tidak
punya apapun lagi, ingatlah Innallaha ma’ana. Satu lagi, ingat bahwa aku ada.
Aku bisa saja menerimanya apa adanya hingga kapanpun, namun aku tidak tahu apakah dia akan menerimaku.
Teruntuk kamu, dimanapun kamu berada, terimakasih banget yak :)
Aku bisa saja menerimanya apa adanya hingga kapanpun, namun aku tidak tahu apakah dia akan menerimaku.
Teruntuk kamu, dimanapun kamu berada, terimakasih banget yak :)
ah, kurasa ada yang kurang. ada yang belum kubahas rasanya.


















Komentar
Posting Komentar