Langsung ke konten utama

DOPODICHÉ: RISURREZIONE



  Hari hari berlalu, akupun mulai mencoba memakluminya. Aku sudah mulai ridha terhadap apa yang akan ditentukan Allah pada kehidupanku. Takkan ku memaksakan egoku yang meletup-letup bagai didihan air itu. Aku juga harus memastikan diri ini agar tidak terjerumus kepada sebuah dosa yang biasa diperbuat anak muda sepertiku. Tidak akan.

  Pekan demi pekan berlalu semenjak peristiwa tragis itu. Aku takkan bisa melupakannya sepanjang hidup, namun kabar baiknya aku sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan seperti ini. Kita tak bisa memaksakannya. Kendati kita lakukan apapun yang kita bisa, takkan mungkin bagi kita untuk menyelisihi takdir perjalanan hidup kita.

~  Ж  ~

  Sudah beberapa pekan ini aku dihantui oleh banyak sekali hal yang tidak masuk akal. Kekhawatiran akan hal itu seakan menggerogoti sebagian akal pemikiranku, seakan hidupku tak akan berjalan normal setelah ini. Rasa khawatir itu benar benar mengusik kesejahteraan hatiku. Tak ayal liburan yang kualami ini semakin panjang, namun diri ini belum juga merasakan sebuah kedamaian semenjak peristiwa itu, entah mengapa.

  Aku tak perduli jikalau badai besar menghampiri, asal diriku tidak mati, aku akan tetap di jalan ini.

  Kita tahu bahwa membuat sebuah keputusan besar dalam hidup itu bukanlah perkara mudah. Aku tak ingin nantinya semua  berjalan layaknya sebuah keterpaksaan, sehingga akupun akan tenggelam lebih dalam. Biarlah semua isi kehidupanku berlayar dan berlabuh bak air yang mengalir dari sebuah tempat yang tak diduga duga. Semuanya akan baik baik saja, Thariq. Yakinlah.



  Sebetulnya aku tak kuasa lagi untuk merasakan sebuah perpisahan dengannya. Perpisahan di hari kemarin saja itu sudah amat menyiksa batinku, apalagi yang akan terjadi di depan, merupakan perpisahan untuk perjalanan kehidupan yang amat sangat membuat penantian yang begitu lama? Tapi, itu merupakan hal yang tak bisa dihindari. Ujung ujungnya juga bakalan sama; jika aku selalu mencoba untuk meyakinkan diri ini agar bisa hidup tanpa dia, bagaimanapun caranya, pada akhirnya aku juga akan menemukan jalan pulang untuk kembali kepadanya. Jadi, merupakan sebuah hal yang sia sia jikalau aku mencoba untuk melupakannya. Meski seluruh perjalanan hidup akan terasa hambar jikalau tanpa ada dirinya, tetapi biarlah Allah yang menghendaki fenomena kehidupan apa yang akan terjadi di depan mata kita.



  Semuanya masih seperti itu, meletup letup di dalam kepalaku, dan masih saja menikam nikam jantungku. Terasa berat, tapi mau tidak mau harus kulewati. Aku harus survive, harus tetap hidup. Semuanya memang begitu berat sekarang, namun aku percaya bahwa aku bisa melewatinya, dan janji Allah itu pasti.



~  Ж  ~

  Batinku sudah merasa mendingan daripada hari hari sebelumnya, meski rasa keterpaksaan akan kehilangan kembali tak bisa terelakkan. Waktu akan menjawab semuanya. Apakah aku ‘kan bersamanya, atau pada akhirnya takkan pernah bersua kembali. Keinginanku memanglah “bersamanya selamanya”, namun memaksa jalan itu takkan bisa membuat kita menjadi lebih baik. Ada baiknya kita persilahkan kata “perpisahan” itu mengambil tempat diantara kita, membuat kita terpisah untuk beberapa lama, hingga datang saat yang telah ditentukan Yang Maha Kuasa.

  Inikah yang dinamakan “Menjauh untuk mendekat”?



  Rasa yang kurasakan ini, keperihan akan perpisahan, kesedihan dan keterpaksaan, takkan hilang dalam waktu dekat. Kurasa ini akan bertahan untuk bertahun tahun yang kulalui tanpa kehadiran dirinya di dalam hidupku. Butuh waktu yang lama. Mungkin sampai diri ini menemuinya kembali pada suatu masa nantinya, dan niat serta keberanianku telah membawaku untuk berbincang langsung denganmu tentang hidup kita. Namun, kuharap ada bantuan yang dapat mengancurkan rasa itu. Aku tidak mengatakan bahwa aku ingin kehilangan rasa rindu ataupun cinta, namun rasa khawatir inilah, yang kuamat ingin musnahkan nantinya. Ilahi, kumohon tolonglah diriku.

~  Ж  ~

  Asal kau tahu, rasa keterpukulanku waktu itu, pasca kejadian 25 Ramadhan itu, sebenarnya aku bukan tidak bisa bangkit dari rasa keterpurukan. Aku memang menyengajakan agar rasa itu tetap ada di dalam diriku. Itu terbukti dari aku yang memang berusaha untuk selalu mengingat dan berlarut larut dalam kejadian itu, sehingga mustahil diri ini bisa melupakan insiden itu karena diriku sendiri yang memutuskannya. Aku juga tidak berusaha terus menerus untuk pergi dari rasa down waktu itu, dengan melakukan hal lain yang berpotensi memudarkan kesedihan tersebut.

  Lah, kok bisa?

  Karena dengan adanya rasa itu di hatiku, aku bisa merasakan kedekatan dengan Allah, yang benar benar terasa indah. Aku juga bisa mengenang memori kebersamaan kita dengan suasana hati yang haru, secara sempurna.

  Ah, susah juga menjelaskannya. Yang penting, aku memang menyengajakannya.

~  Ж  ~

  Rasa itu berbeda dengan rasa yang kualami beberapa hari ini. Aku bahkan berpikir bahwa itu tidak akan kubiarkan “ada” di dalam akal dan nuraniku. Rasa sedih dan haru yang terjadi di hari kemarin, tak boleh kusamakan dengan kail pancing syaithan yang membuatku selalu merasa khawatir akan masa depan yang sebenarnya telah disusun rapi oleh Allah. Aku harus ekstra mengontrol diri agar tidak kufur ilallah.

  Aku juga berusaha untuk menghilangkan rasa khawatir tersebut. Mana pernah coba, aku request jalan jalan yang tergolong lumayan jauh, bepergian ke Sasak dengan membawa motor sendirian? Selama ini aku tak pernah sama sekali. Tujuanku agar segala rasa penat dan sebagainya, termasuk rasa khawatir tersebut dapat segera binasa dari otakku, meski memang pada perjalanan ketika diriku masih memutar mutar tanganku (ngegas) di jalanan, kesedihan itu kerap kembali. Tak bisa mengelak, tapi yasudah. Semuanya perlu waktu.

  Aku memang benar benar ingin melupakannya, karena rasa khawatir terhadap masa depan merupakan bentuk keraguan terhadap ketetapan Allah, dan itu amat dilarang. Lagipula seperti yang dikatakan Umar ibn Al-Khaththab, Tidak ada kekhawatiran yang bisa merubah masa depan. :)

  Lagi lagi, dan ini kurasa sudah kesekian kali kukatakan. Dibanding kekhawatiran yang malah berdosa, lebih baik kita meletakkan harapan dan impian di sisi Rabb Semesta Alam. Do’a dan sabar, serta usaha yang tak boleh dilupakan.

  Kesabaran kita memang sangatlah diuji setelah ini, namun itu merupakan hal yang biasa pada suatu relationship, meski sebenarnya kita sendiri belum terbiasa dengan itu. Apa yang terjadi pada hari kemarin, kita harus ambil pelajaran darinya; tidak boleh berburuk sangka dan berlarut larut dalam kesalahpahaman. Banyak sekali yang dapat kita petik hikmahnya dari apa yang telah terjadi pada kita, sehingga akan membuat jari ini lepas kalau aku menyebutkannya satu persatu.

~  Ж  ~

  Perpisahan yang terjadi sebelum perjumpaan kita ini, aku sangat merasakan kejanggalan, atau kalau sekarang kukatakan bahwa itu adalah sebuah kesalahpahaman. Kau hilang begitu saja, seakan tak pernah peduli pada diriku lagi. Aku juga tak mungkin mencintai hehampaan, aku tak bisa. Aku sangatlah ingin bertemu denganmu, hanya untuk sekedar melihatmu baik baik saja. Tapi apa boleh buat, kondisilah yang sedang tidak baik baik saja.



  Bagaimanapun aku sangatlah rindu ketika teman aulad menyenggol bahuku disaat orangtuamu datang menjemputmu disaat kita masih sekelas, sambil mengatakan “mertua antum thor”.

  Mungkin aku agak kesal dan gregetan dikala itu, namun pada faktanya diri ini akhirnya ingin merasakan kembali momen seperti itu.

  Tentang apa yang telah kita rasakan bersama sama, sungguh tak bisa dijelaskan.  

  Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya mendengar bahwa kita disatukan satu team olimpiade PAI yang akan diutus bersama tatkala ada lomba.

  Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya semobil denganmu ketika pergi lomba kala itu, bahkan ketika kepala kita sangatlah dekat waktu itu,.. Ah bahkan aku saja tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku kala itu

  Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya mendengar kabar buwung bahwa kau juga menyukaiku.

  Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya menerima balasan atas surat yang kukirim sebelumnya.

  Mungkin kau takkan pernah tahu bagaimana gembiranya diriku ketika menerima kabar bahwa engkau melanjutkan pendidikan pada sekolah yang sama denganku.

  Mungkin kau tak pernah tahu bagaimana rasanya akhirnya kita bisa berbicara meski masih tergolong sedikit.

  Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya hadir di sekolah dasar dulu, namun ternyata engkau tidak hadir pada hari itu.

  Mungkin kau tak pernah tahu  rasanya ketika ada sesuatu yang kebetulan “sama” diantara kita, meski itu sebuah perkara yang sepele menurutmu.

  Mungkin kau tidak akan pernah tahu rasanya melihatmu tersenyum, dan itu dikarenakan oleh diriku.



  Mungkin kau tak pernah tahu rasanya menolak wanita lain karena yang ada di hatiku hanyalah dirimu. Lagian, emang gaboleh juga kan :v





  Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya putus asa kala dulu aku merasa tidak pantas untuk dibersamakan denganmu.

  Mungkin kau tak pernah peduli waktu aku bersikeras untuk mencari informasi tentangmu.

  Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya berusaha melihatmu yang tengah makan siang melalui celah celah bangku yang ada.

  Mungkin kau tak akan pernah mengerti bagaimana aku mengganti atributku, hanya karena ingin menyamakan dengan warna favoritmu.

  Mungkin kau takkan tahu bagaimana susahnya menahan senyum ketika dicie ciein denganmu oleh teman, guru, bahkan orangtuaku.

  Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya menyebut namamu dalam do’a do’a yang kupanjatkan sedari dulu.

  Mungkin kau tidak pernah tahu bagaimana caranya aku bisa bertahan sejauh ini.

  Mungkin kau tak akan pernah tahu seperti apa rasanya mengetik hingga larut malam, bahkan hingga fajar tiba, hanya untuk kau baca.

  Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya terpisah darimu bersama semua kesalahpahaman yang ada.

  Mungkin kau tak pernah menduga bagaimana kerasnya diri ini untuk mencari celah celah informasi tentangmu dari teman yang lain.

  Mungkin kau tak tahu seperti apa rasanya mendengar namamu juga tersebut dalam penerimaan raport di sekolah.

  Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya bertahan hidup tanpamu, yang akhirnya merubah diriku.

  Mungkin kau tak pernah tahu rasanya mengulang ulang kenangan tentang kita, surat surat yang pernah kita buat.

  Mungkin kau tak pernah tahu bagaimana aku berusaha mencintai yang lain, karena kurasa dirimu juga tak akan pernah peduli lagi padaku. Percuma kan, kalau pada akhirnya sad ending juga, padahal aku udah bertahan sejauh ini.

  Mungkin kau takkan pernah tahu rasanya mengulang ulang pesan darimu yang sebenarnya melukai diriku sendiri.

  Mungkin kau tak pernah tahu bahagianya diriku karena detik ini aku telah bisa berkomunikasi denganmu.

  Mungkin kau takkan pernah tahu bagaimana rasanya aku melihat akun WhatsAppmu berulang kali setiap menitnya, hanya ingin melihat bahwa apakah engkau itu online atau tidak.

  Mungkin kau tak pernah tahu seperti apa rasanya menunggu jawaban dari story yang kubuat.

  Ah, banyak sekali. Aku tak ingin postingan kali ini hanya berisi “Mungkin kau takkan pernah tahu seperti apa rasanya”.

~  Ж  ~

  Dulu pernah aku mencintaimu, dan katanya dirimu juga. Saat itu aku menduga bahwa kisah kita bakalan tak berujung, dan bertahan selamanya. Saat itu aku mengira kita takkan pernah terpisah seperti ini bahkan kedepan.

  Namun, ternyata yang tersisa hanyalah kisahnya, bukan kitanya.

  Aku tak mengatakan kita sampai disini saja, karena sadar ataupun tidak kita terikat dalam beberapa organisasi alumni(Aku tidak mengatakan TK ada acara alumninya ya:v). Jangan lupakan bahwa kita memilih sekolah dasar dan menengah pertama yang sama. Nanti, ketika kita telah dewasa, aku akan tetap berusaha datang jikalau ada pertemuan, meski kurasa nantinya aku bukan lagi penduduk pulau ini. Oiya, kamu datang ya, aku ingin melihatmu kembali nanti :)

~  Ж  ~

  Konyol sekali aku kemarin. Aku bertindak seolah telah dewasa, padahal sebenarnya tidak. Klasifikasi usia yang resmi di dunia ini menunjukkan bahwa kita masih dikatakan anak anak dibawah umur. Ya, kita tak bisa mengelak dari fakta itu. Kita masih anak anak. Tak peduli sebenarnya kita sendiri menganggap bahwa diri kita telah dewasa, telah besar, namun pada faktanya kita belum. Mungkin kita hampir atau bahkan sudah menginjak fase pemuda/mudi, namun sebaiknya kita tak perlu berharap terlalu tinggi pada perjalanan kehidupan kita setelah ini.  Tak bisa dipungkiri, hidup takkan pernah bisa lurus begitu saja. Lika liku kehidupan pastilah akan kita temui, yang mau tidak mau haruslah dihadapi. Jalan kita masih panjang. Dunia ataupun akhirat, jalan kita masih terbentang jauh kedepan.

  Mungkin dulu ketika kita masih menginjak kelas enam, kita menganggap bahwa kita sudah cukup besar dan cukup dewasa untuk mengambil suatu keputusan. Kita mengira diri kita telah cukup pandai dalam mengelola masalah, dan lainnya. Namun, aku yakin setiap kita, ketika melihat gambar atau media apapun yang menayangkan masa masa itu, ada rasa cringe yang seolah olah ingin membuat kita berkata, “Kok gue gitu dulu ya, kok saya gajelas banget dulu ya,”,, dan seribu ungkapan lainnya. Pun yakinlah akan seperti itu juga nantinya ketika kita menua, momen detik ini akan kita herankan pula.

  Namun, bukanlah suatu kesalahan untuk menggantung impian kita setinggi langit dari sekarang. Mimpi kita yang sekarang, akan teringat hingga kapanpun. Aku akan tetap mengingat dirimu hingga bila-bila, dan menjadikan salah satu impian yang kugantung adalah bersamamu selamanya. Mungkin terdengar mustahil sekarang, namun sekali lagi, Nothing is impossible >_<

  Impian yang kita tanam sekarang, laksana tumbuhan yang ditanam dengan tangan kita sendiri. Bisa saja ia nanti berkembang dan sukses, atau bisa saja layu bahkan mati seketika. Itu tergantung bagaimana kita mengelola impian tersebut. Jika dilestarikan, dijaga, dijadikan patokan dan harapan, InsyaAllah itu akan menjadi sebuah impian yang bercabang cabang, sukses, dan kita menggapainya dengan hati yang sangat gembira. Namun, jikalau kita sengaja melupakannya, bahkan menganggap hal itu sebagai sampah, itu tidak akan lebih dari anggapan kita sendiri. Worse than garbage.

  Semua yang pernah kita tanam, niscaya kita akan menuainya pada suatu saat nanti. Baik detik ini juga, besok, ataupun jauh didepan. Namun, aku yakin bahwa pada nantinya kita akan mendapat hasil yang baik dari apa yang hari ini telah kita gantung setinggi angkasa. Semua yang kurasakan sekarang, aku akan menjaganya agar tetap seperti itu hingga kapanpun. Rasa ini, akan kujaga. Boleh, kan? Kamu gimana? :v




~  Ж  ~

  Umur kita masih belasan tahun. Belum saatnya kita memikirkan segala tentang hubungan kita selanjutnya, meski aku sendiri takkan pernah bisa melupakannya. Kita seharusnya memandang kedepan dengan harapan yang pasti, karena masa depan yang gemilang ada di hadapan kita. Pendidikan, itu akan mempermudah kita untuk menjadi seseorang yang berstatus sosial lebih tinggi, dan pastinya memiliki banyak ilmu. SMA, Perkuliahan, harus kita maksimalkan sehingga masa depan kita akan tampak lebih indah nantinya. Masa masa sekarang, SD dan SMP, ketika kita masih bersama, jadikan saja pelajaran yang bisa dipetik hikmahnya. Ratusan bahkan ribuan hikmah dapat kita ambil dari momen itu. Selamat menempuh kehidupan, Sal. Lihatlah selalu kedepan, iya, kedepan. Jauh disana, kau akan menemukan kebahagiaan. Meski nantinya kita tak bisa bersama, tapi aku sudah bahagia melihatmu bahagia.

  Aku tidak tahu apakah nantinya engkau akan lebih dahulu menikah daripada diriku, karena aku akan tertinggal dari segi angkatan kelulusan. SMA? Aku akan sekolah empat tahun bahkan mungkin lima tahun. Iya, Pesantren rekomendasi orangtuaku memang menerapkan sistem seperti itu. Tahun pertama namanya Takhassus, dan tahun kelima itu dipakai untuk praktek mengajar. Kurasa, nantinya aku bakalan sekolah disitu juga. Di Bogor. Bukannya aku tidak memiliki pilihan sendiri, namun kurasa pilihan orangtuaku itu tidak ada salahnya, ada banyak ilmu dan pengalaman yang dapat diserap disana. Satu lagi, aku akan lebih mudah menjaga hati disana karena kemustahilan bertemu dengan akhwat setiap enam bulan. Belum pasti kesana sih, tapi persentasenya lebih 60%. Oiya, kamu dimana?

  Untuk hal yang kusebutkan pada episode sebelumnya, tentang aku yang ingin menikahimu, pikirkan saja di lain hari. Kurasa, itu merupakan sebuah tantangan kehidupan yang sangat luar biasa. Kendati seperti itu, aku akan tetap berusaha. Setelah selesai dari dunia pendidikan formal, bekerja, aku akan berusaha sesegera mungkin menikahimu.

  Dan aku sadar, impian setinggi itu tak akan bisa diwujudkan kecuali disertakan dengan ikhtiar yang luar biasa tinggi pula. Tidak akan terjadi sesuatupun jikalau aku terus diam disini dan mendengarkan lagu galau seperti kemarin. Aku harus bangkit, dan memulai keseriusan dalam hidup ini. Setiap aku mengingat dirimu, aku bisa lebih bersemangat lagi. Aku bersyukur, yaa Allah.

  Jalan kita masih panjang dengan beribu rintangan yang harus dihadapi. Namun itu takkan membuatku lupa akan indahnya kenangan kita bersama, meski nantinya juga kau anggap sekedar sebuah kenangan masa lalu. Aku takkan bisa melupakannya, begitu juga dengan hatiku, takkan bisa membuatku berganti arah.

  Aku mengetik hal yang seperti ini, bukannya diriku menyanggah tekadku pada postingan sebelumnya. Aku akan tetap begitu, dengan seribu harapan yang kusimpan di dalam kantong doraemon yang tertempel di hatiku. Aku akan tetap mencintaimu, sampai kapanpun. Aku akan tetap berusaha kedepannya, dengan do’a yang tak terhenti pula.



  Kamu, iya, Salma, harus menjadi orang berpendidikan kedepannya. Aku tidak perduli apakah pendidikannya kepada alqur’an atau formal, namun kau harus berkembang. Biar nanti semuanya bisa berjalan dengan baik. Kehidupanmu baik, takdirmu baik, hingga jodohmu nanti, yang kurasa akan luar biasa baiknya. Aku tidak tahu apakah yang kumaksud adalah diriku atau malah orang lain, namun, jalani saja. Tidak baik memaksakannya. Keluarga adalah yang terpenting.



  Kuakui aku bukanlah seseorang yang bisa dianggap rajin dan pekerja keras, namun setelah menyadari bahwa apa yang ada di depanku bukanlah sesuatu yang dianggap remeh, aku akan berusaha menjadi yang seperti itu.

~  Ж  ~

  Semua yang terhalu-kan di dalam kepalaku, akan aku jadikan motivasi untuk mewujudkannya. Bukanlah sesuatu yang hina, bukan? Ketika aku berusaha keras untuk mewujudkan impian untuk dibersamakan dengan seseorang yang kuinginkan.

  Jauh di dalam relung hatiku, sebenarnya aku juga merasa tidak bisa. Seluruh logika dan fakta terus berputar putar di kepalaku. Kalau dipikir-pikir, persentase kita untuk bersama nantinya hanyalah sekitar 50-60% (menurutku).




  Pertama, kau lebih dahulu melihat dunia daripada diriku. Kurasa kamu mengetahui maksudnya. Males aja saia jelasinnya :v. Kemudian, jika tidak benar benar menjaga hati, pernikahan dengan senior itu sangatlah umum terjadi. Aku telah mencoba menjelaskannya pada episode sebelumnya. Mereka lebih dahulu mapan daripada juniornya. Bisa saja ketika aku baru lulus dunia perkuliahan, kau telah menikah :). Coba kita lihat orangtua kita, orangtua yang lain. Kebanyakan mereka berbeda 4 tahun lebih.

  Namun, semua kemungkinan buruk itu aku sudah berusaha hilangkan. Tadi malam pun ketika diriku baru pulang dari barbershop medan orbit (awoakwoawoawk endorse), Aku berbincang dengan ayahku tentang pernikahan satu angkatan. Beberapa teman ayahku juga berhasil kok. Bahkan ada yang menikah dengan kakak kelasnya. Yang penting itu niat. Berusaha untuk mewujudkannya. oiya lupa nanti kao kan kakak kelas saye :v aduh sedih:v

~  Ж  ~

  Fakta fakta yang semakin memperpuruk kemungkinan yang terjadi, enyahkan saja. Aku yakin suatu saat nanti mimpi itu akan terwujud, bagaimanapun jalannya. Yang penting kaga ke dukun cuy :v

  Bagaimanapun, aku yakin hatimu tak akan pergi jauh jauh. Buktinya, momen itu, momen yang bahkan telah terlupakan olehku. Kau masih mengingatnya! (saking banyaknya memori kita. Hahaha, bilang aja gitu, awoakowaowk). Yaa ituloh, momen yang dimana aku memberitahumu tentang sebuah coretan di aqua gelas milikmu.

  Merupakan sebuah kemustahilan jikalau engkau ingat itu sampai kini tanpa pernah dikenang sekalipun. Aku sendiri saja bisa lupa, woi! Kurasa aku masih punya banyak memori yang kuanggap lebih indah daripada itu, jadi aku bisa lupa. Eh tapi ternyata kau menganggap itu bukan suatu memori biasa, yaudah deh, aku juga pasti bakalan masukin itu ke daftar memori unggulan :v

~  Ж  ~

  Semuanya baik baik saja, namun kita saja yang kurang beryukur.

  Aku seharusnya bersyukur karena saat ini diriku telah dapat berkomunikasi dengannya. Meski cara berkomunikasi kami memang agak terkesan aneh tapi unik, namun mau tidak mau aku harus menikmatinya. Mungkin history percakapan kita tidak akan bertahan lama, sehingga beberapa pesan penting darimu telah kuabadikan dengan ScreenShot. Bolehkan? :v (udah disimpan rapi di laptop, dijadikan archives winrar, lalu dimasukkan ke cloud storage supaya bertahan lama) Keakraban kita sekarang, meski sebatas percakapan melalui gawai, itu merupakan sebuah keajaiban yang parkir di dalam hidupku. Meski candaan garing pada percakapan kita tak dapat kita lihat kedepannya, namun kurasa memori ini takkan muak untuk menyimpan kenangan tentangmu. Masih ada triliunan terrabytes, bahkan mungkin unlimited untuk menyimpan semua itu.

  Cara yang digunakan itu sebenarnya agak tergolong sulit juga, karena tanpa notifikasi dan menunggunya juga pasti bakalan lebih lama. Pesanku tak bisa dibalas sesegera mungkin. Pastilah ada penantian semenit keatas jikalau mau dibalas. Aku bisa memakluminya. Akupun kerap membuka tutup aplikasi itu setiap seperempat menit jika aku tengah menunggu balasan darimu. Eh, ternyata balasannya cuma  “haha”. Ups, salah, aku juga senang jika engkau sengaja mencari bahan pembicaraan. Keliatan cuy. Tapi, ya seperti itulah. Makasih, ya.

  Aku sering juga berpikir bahwa “percakapan kita tuh dikit banget, yak”. Tapi pada faktanya percakapan kita dalam sehari itu bisa banyak banget tau. Lagi lagi titik permasalahannya itu terletak pada kurangnya rasa syukur.

  Mungkin aku juga pernah berpikir, membandingkan kecepatan reply dari Salma dengan yang lain. Namun, aku tidak terlalu mempermasalahkan itu. Tidak apa apa bagiku untuk menunggu jawaban dari pesanku, meski sesekali aku telah menjadi fosil duluan. Ah, bercanda :v. Cepet kok. Lagipula, jikalau kita logikakan, wanita yang terlalu dekat dengan ponsel akan cenderung ceroboh dalam melaksanakan pekerjaan. Anak anak bisa terlantar, dan lainnya. Aduuh kok lagi lagi kesana mikirnyaa :v Yaa pokoknya gitulah, dunia ini luas, banyak yang bisa kita lakukan di dalamnya. Kalau kehidupan sehari hari kita hanya terpaku dengan layar ponsel saja, itu dapat membuang banyak waktu berharga yang telah dijatahkan pada kita.

  Bagaimanapun, aku harus tetap bersyukur. Aku telah bisa berkomunikasi dengannya, dan apapun yang terjadi padaku hari ini.

  Semua ‘kan berubah sejalan dengan waktu. Tapi hukum itu kuharap tidak berlaku pada perasaan diantara kita. Kini, setiap detik berharga bagiku.
 
  Syukuri sajalah, dan aku akan memaksimalkan kesempatan kali ini untuk bertanya banyak kepadanya. Mungkin dia risih, mungkin dia tidak nyaman, tapi biarlah. Pokoknya aku harus bisa menggunakan kesempatan ini dengan sebaik baiknya.



~  Ж  ~

  Aku sangat senang karena kamu juga mau diajak berbicara dalam kondisi yang seperti ini. Namun, terkadang aku juga berpikir, bagaimana jikalau kita dicyduck oleh asatidz? Oh, aku yang akan mengakui kesalahanku. Tenang saja. Aku juga ingin meminta maaf jikalau malah membuatmu merasa tidak aman gara gara melanggar peraturan itu.

  Tapi kurasa, dengan cara kita berkomunikasi seperti sekarang ini, sangatlah kecil kemungkinannya untuk diciduk.

~  Ж  ~

  Masih ada satu tahun lagi untuk berkomunikasi seperti ini. (eh tapi ituh hape jadi kaga, abis masa karantina ini katanya engga lagi)  Setelah itu, I don’t know, apakah nantinya engkau masih bersedia atau bahkan tak ingat dan tidak teringin mengingat tentang diriku lagi. Lagipula, aku tidak akan terlalu bersedih apalagi memaksamu untuk berkomunikasi kembali denganku. Karena itu terserah padamu, dan itu merupakan keputusanmu. Aku tak bisa mencampurinya.

~  Ж  ~

  Tidak ada yang mengetahui kisahku secara pasti kecuali diriku sendiri dan Allah. Begitu pula kalian, aku tak tahu kisah kalian secara pasti. Setiap orang memiliki kisah yang mereka genggam sendiri bersama ilahi. Pastinya ada yang mengharukan, dan mungkin ada yang semasa hidupnya hanya untuk bersenang senang saja. Masing masing dari kita pasti punya penyesalan terbesar dalam hidup pula. Orang yang sudah dewasa sekarang, pasti memilikinya. Aku tidak ingin yang disesalkan dalam hidupku adalah tentang aku dan dia.



  Betapa menyedihkannya nasib kita tak bisa dibandingkan dengan orang orang diluar sana. Masih banyak yang mempunyai masalah hidup yang jauh lebih banyak dan besar daripada yang ditimpakan kepada kita. Aku tak bisa membandingkan betapa menyedihkannya nasibku dengan kalian, karena hanya Allah yang bisa. Bahkan mungkin, masalahku belum ada apa apanya dibanding yang dimiliki kalian.

  Aku masih saja mencoba untuk memulihkan kembali jiwaku setelah kejadian itu. Kurasa, aku sudah banyak kehilangan rasa yang menyedihkan itu. Imunitasku sudah naik kembali, ragaku juga sudah baik baik saja. Aku harus mensyukuri itu. Bagaimanapun kita kedepannya, aku akan tetap bersyukur karena telah dipertemukan dengan dirimu. Setidaknya kita pernah bertemu dan bersama. Kita pernah saling mengenal selama delapan tahun, dan itu akan segera genap menjadi sembilan tahun. Syukuri saja apa yang akan terjadi pada diri kita kedepannya, kendati mungkin aku takkan pernah memilikimu. “Tak pa lah”, itu kalimat yang sering kubaca dari pesanmu :’)

  Aku akan bercerita kepada isteriku nantinya tentang bagaimana epicnya kisah kita sekarang. Mungkin akan sulit, namun dia pasti juga mengerti setiap orang memiliki kenangan indah dalam hidupnya. Akupun juga begitu nantinya, akan mendengarkan kisah demi kisah yang diceritakannya.

  Kuakui bakalan sulit jikalau melihat engkau bahagia tetapi tak bersamaku, namun apa boleh buat, aku harus tetap menerima pahitnya alur kehidupan. Memaksakannya tidak akan membuatnya menjadi lebih baik.







  Sekali lagi aku bukannya pesimis terhadap apa yang terjadi di depan. Aku hanya mencoba untuk mengalahkan egoku. Aku tidak ingin sekarang aku berkata semua hal tentang kita yang indah pada masa depan, hingga melupakan kemungkinan terburuk yang mungkin juga terjadi. Aku tidak ingin kegeeran atas kemungkinan baik yang terjadi. Kan kalau malah engga terjadi, kan malu jadinya, udah ditulisin semua disini :v

  Bagaimanapun, akan tetap kuusahakan mimpi ini akan menjadi nyata. :D

~  Ж  ~

  Aku mengatakan bahwa jalanku untuk pulang adalah dirimu, namun aku sendiripun tidak bisa memastikan bahwa aku akan benar benar pulang kembali suatu saat nanti. Manatahu kan, ketika aku tengah mengarungi lautan impian, orang lain telah menjadi rumahmu. I don’t know.

~  Ж  ~

  Hari ini adalah bukti bahwa kita pernah berbincang akrab meski hanya melalui ponsel saja. Aku sudah sangat senang mengetahui fakta itu. Aku bahkan tidak pernah menduga akan sampai pada titik ini perihal mencintaimu :)

~  Ж  ~

  Dan benar, aku kembali merasakannya dalam berisiknya rintikan hujan yang menyerang atap rumahku. Di bawah awan hitam ini, aku kembali membisikkan kepada semesta, bahwa aku mencintainya. Tidak lupa berdo’a pada tuhan, bahwa aku sangat menginginkannya. Semoga do’aku ini diijabah, karena ini merupakan salah satu momen do’a yang mustajab.




  Sekali lagi, terima kasih atas semuanya, Sal :). Semoga kisah kita nanti takkan seolah menjadi kata pengantar dalam perjalanan hidup kita saja ya :)



  Heh, safna, ente ni bacain mulu, anenya malu tau! Kan ketauan jadinya siapa salah satu pelopor bucinisasi di Indonesia:v

~  Ж  ~
 
  Wait. Tunggu, tunggu.

  Someone tell to me, bahwa aku ini memilih salma dikarenakan rupa dan wujudnya.

  Itu yang ngomong seperti itu mau dibacok ato gimana?




  Oke, aku sebut saja orangnya, Nabilatul. Hei, setelah itu kamu juga mengatakan bahwa dunia ini akan adil padamu kalo kamu cakep.

  Ingat kisah nabi Yusuf a.s?

  Bukannya mendapat keadilan, beliau malah dihantam fitnah bertubi tubi karena ketampanannya.

  Kau tahu Bilal bin Rabbah?

  Beliau membuktikan bahwa rupa tak selamanya menentukan respek seseorang pada kita. Buktinya, dengan kulit superhitam yang dimilikinya, dia masih dikenang oleh para muslimin di seluruh dunia.

  Aku memilih Salma, mengapa ya?

  Aku tidak akan pikir banyak banyak jikalau disuruh memilih antara seseorang bernama Salma Mutiara Irza itu dengan orang lain. Aku akan jawab dengan pasti, “Salma".

  Aku juga tidak tahu mengapa. Aku hanya merasakan, bahwa dia adalah bagian dari diriku, hidupku. Itu saja, kurasa itu telah mencakup semua alasanku.

  Beragam orang yang mampir pada hidupku sepeninggalmu kemarin, dan kata orang, paras mereka mengalahkan orang yang sedari dulu kusukai. Buktinya, aku tidak tertarik tuh, karena telah terbentuknya suatu ikatan yang rumit, hingga diriku sendiri tidak mengetahuinya secara pasti.

  Mencintainya merupakan salah satu bagian dari hidupku, meski memilikinya masih menjadi impian di dalam hidupku. Aku akan tetap begini meski apapun yang terjadi. Bagaimanapun rupamu di masa depan, aku masih memiliki rasa yang sama padamu. Jadi, kalau kamu suatu saat nanti bersedih dan down, bahkan merasa tidak punya apapun lagi, ingatlah Innallaha ma’ana. Satu lagi, ingat bahwa aku ada.



  Aku bisa saja menerimanya apa adanya hingga kapanpun, namun aku tidak tahu apakah dia akan menerimaku. 

  Teruntuk kamu, dimanapun kamu berada, terimakasih banget yak :)


ah, kurasa ada yang kurang. ada yang belum kubahas rasanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

DOPODICHÉ : UNA SPERANZA

PERINGATAN : Episode ini mengandung tingkat halusinasi yang sangat tinggi, jika sekiranya pembaca tidak kuat menahan cringe dalam membacanya,... ah pokoknya lanjut aja deh :v   Hai, Salma!   Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.   Akhirnya kita bertemu lagi, ya?   Meskipun tidak bertatap muka, aku sudah senang sekali. Saangat bahagia!   Kendati aku tidak memiliki hak apapun dalam hal merindukanmu, aku melanggarnya! (anebukanbangga) Selama ini kumerindukanmu.   Setelah dua tahun lamanya, akhirnya kita memiliki titik temu juga. Walau memang, pertemuan kita ini begitu tidak diduga dan sangat mendadak, apalagi dimulai dengan luka, akhirnya kita bisa berjumpa kembali!       :) ~    Ж    ~   Aku mencoba menenangkan diri. Aku keluar dari rumahku, meraih tali penyangga ayunan itu, dan mulai mengayunkannya dengan sesekali hentakan kaki yang cukup membuatku merasa melayang. ...