Langsung ke konten utama

Surrender? No!



  Ternyata aku sudah menerima pesan itu sedari pagi, namun aku belum membacanya hingga aku pulang ke rumahku. Pada kenyataannya, aku belum melupakan peristiwa semalam.

  Aku pulang dalam keadaan dimana jantungku masih berdebar kencang.

  Ketika aku mulai memakai smartphone, aku mencoba membuka aplikasi kloningan WhatsApp Messengerku. Sebelumnya aku tidak pernah mengira akan ada kelanjutan dari kisah chat semalam. Ah, sudahlah. Yang terpenting, aku benar benar terkedjoet melihat ada pesan yang begitu panjang like tali baruak dari akun WhatsApp mereka. Aku sudah memiliki firasat tidak enak semenjak mulai mengetahui bahwa pesan itu sampai padaku. Kurasa, ini akan mengubah, mengakhiri sehingga kisah kami tuntas sampai di sini saja. Padahal, Aku tidak pernah merasakan perasaan yang begitu bahagia selain di kala aku berada di dekatnya. Aku masih ingat, ketika lomba PAI di ArRisalah kita satu mobil, aku di bagian tengah mobil, dan kamu di bagian belakang mobil. Fakta menunjukkan bahwa kita depan belakangan.

  Kadang, aku melirik lirik ke belakang tanpa diketahui tiga orang di belakangku, termasuk Ust Amri Syafriadi yang berada di sampingku. Ketika kau dengan pakaian merahmu (itu apaan yah, kayaknya jaket deh, yang pake hoodie ituloh) . Pada suatu waktu, I find you dalam keadaan kepala yang menyender ke kursi di depanmu, iya, kursi tempatku duduk. Melihat keadaan itu, Aku sengaja menyandarkan tubuhku kepada kursi yang sama dengan tempat kepalamu tertempel itu, serta kepalaku mendongak ke atas, karena yaa kau pasti tahu bagian tengah tidak ada senderan kepalanya, dan kalau kepala kita mau disandarkan, kursi itu ‘kan menjadi bantal bagi orang yang duduk di situ (palanya mesti mendongak). Jadi kepalaku berada nyaris tertempel dengan kepalamu.

  Perasaanku waktu itu bercampur aduk. Antara bahagia dan apapun itu bentuknya. Rasanya aku telah menduduki tahta kepemilikan benua. Aku sangat bahagia waktu itu, terlepas apakah kau sadar itu terjadi atau tidak.
 
  Aduuh lari kemana ini pembicaraan kita, Kembali ke lep?top!

  Aku sadar, pesan itu sangatlah penting, yang akan menjawab rasa penasaranku selama ini. Aku tau itu hanya dari bahasa awal pesan itu. Aku bahagia waktu itu.

  Tak mau dikatakan senyum-senyum sendiri, apalagi dicyduck, Aku menempatkan diriku untuk duduk di bawah kanopi depan rumahku. Kurasa disitu aman, aku menengok kanan kiri depan belakang untuk memastikan apakah tempat itu layak dipakai untuk kepentingan seperti itu. Kubuka kembali, dan akupun memantapkan diri untuk mulai membacanya.

  Tapi aku lupa, aku telah mengakhiri segalanya. Realita yang terjadi adalah seperti itu. Aku lupa.

   ~  Ж  ~

  Aku memulai membacanya. Huruf demi huruf, kata demi kata, dan paragraf demi paragraf kubaca dengan cermat. Sungguh, ada patah hati terbesar i’ve ever feel yang kau kirimkan bersama pesan tersebut.

  Aku tidak mungkin meletakkan pesan tersebut disini, karena kurasa dia akan keberatan jika hal yang demikian terjadi. Iya, bukan? Namun pada kenyataannya aku tidak tahu dimana rangkaian huruf terindah yang pernah ada tersebut diletakkan agar ia selalu bisa kubaca. But, aku ngerti kok. Gausah dipaparkan disini.

  Kata kata yang kau kirimkan ibarat candu yang menguasai tubuhku. Kendati aku semakin sakit, aku selalu mengulang membacanya, berkali kali. Aku tidak bisa berhenti membacanya berulang ulang.

  ~  Ж  ~

  Okay, lets we start it.
  Saya mau memberikan tanggapan untuk pesan tersebut.

  ~  Ж  ~

   Wa’alaikumussalam.

   Salma, serius, aku tidak pernah memaksamu untuk memberikan rasa yang sama dengan apa yang telah kuberikan kepadamu selama ini.

  Namun, kenapa kau baru menyatakannya sekarang?

  Perlukah bagimu untuk menunggu kehancuran kita sehingga kau baru menyatakannya? Perlukah bagimu untuk menunggu keadaan kita yang seperti ini, tidak bisa berjumpa selayaknya dulu lagi? Perlukah bagimu untuk menunggu hingga kita sudah pasrah akan keadaan? Apakah aku harus memutuskan sesuatu yang kita berdua pandang menyakitkan, barulah kau mengatakan yang sebenarnya?  Mengapa baru sekarang kau mengatakan “kayaknya sekarang bisa” ? Aku telah terlanjur mengatakan semuanya di Epilog kemarin. Pada eps itu aku menentang segala yang telah aku tulis, masa’ untuk teks itu juga harus kutentang semuanya?

  Ah,tidak, aku telah menyalahkan sesuatu yang tidak harusnya disalahkan.

    ~  Ж  ~

  Ketika kau mengatakan “ini ana, Salma.” Aku sudah merasakan hal yang aneh. Nada bicaranya ini sudah berbeda. Serius amat nii.

  Tapi, bagaimanapun, Diriku yang kelas lima SD, jika melihat pesan yang seperti itu akan menjadi girang lelompatan kesana kemari. Hanya melihat kalimat itu, Aku yang sekarang juga bersyukur bisa berbicara dengan orang sepertinya.

  ~  Ж  ~

  What? Lupa denganmu?
 Tunggu dulu.

 Oh, iya, Aku sebenarnya telah mengakhiri duluan. Dan, ketika membaca itu, Aku langsung saja tertegun menyesali apa yang telah aku perbuat. Sedih saja melihat ada seseorang sepertinya yang ber-think dirinya akan dilupakan olehku.

  You will never be forgotten, Salma.

  Kau harus tau, aku mengatakan bahwa “Aku akan melupakanmu”, Karena aku berpikir bahwa tentunya kau tidak akan peduli lagi dengan diriku.Tidak lebih dari itu. Makanya, aku selanjutnya berpikir, untuk apa aku selalu mengelu-elukan orang yang tidak peduli dan sudah melupakanku?? Aku harus menunjukkan bahwa aku kuat tanpanya. Aku harus bisa berdiri tegak tanpanya. Itulah Ego dari seorang lelaki. :v

  Dan, aku putuskan untuk menulis itu. Aku juga tidak pernah membayangkan kamu akan membacanya juga, karena intinya kau sudah tidak peduli lagi dengan seseorang bernama Thariq Almas Neil Authar tersebut.

  Sebenarnya banyak faktor mengapa aku sampai sampai bisa menulis itu, tapi kurasa tidak cocok di sini.

  Aku hanya ingin mengutarakan kepada orang orang yang masih mempedulikanku, bahwa aku telah melupakan segalanya. Bahwa aku bisa mencintai seseorang selain dia.

  Dan, pada akhirnya aku sendiri dicederai oleh tindakanku sendiri.

  Oiya, ingat, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu hingga datangi yang dinamakan sakratul maut. :)

  ~  Ж  ~

  Apa? Ada kalimat yang dihilangkan?

  Aku langsung menuju jaket yang tergantung rapi di lemariku, merogoh sakunya dan mengambil beberapa surat yang menjadi aktivitas kita pada penghujung masa sekolah dasar.

  Sebenarnya, Aku tidak selalu menyimpannya di tempat itu. Selama ini, surat itu sudah beberapa kali pindah tempat. Mulanya aku meletakkannya pada tas belanja yang berlabel “Livestock Solok Selatan” (waktu lomba kesana dulu dapetnya) di atas lemari pada kamarku, lalu berpindah ke dalam lemariku, lalu pada kelanjutannya aku selalu menyimpannya di dalam restleting tas kecilku yang berlogo (S) port pada lemari asramaku (ini nih yang buat gue selalu khawatir kalo ada razia lemari oleh para asatidz, aku gapernah nyuri tapi aku menyimpan benda itu disana. Untung, gapernah kecyduck ampe detik ini tuh :v). Periode terlama adalah di situ. Aku terkadang membacanya sebelum tidur, ketika gabut, galau, sedih, dan lainnya. Tentunya dengan pertimbangan bahwa yang tidur disampingku adalah ustadz Abdurrahim. Jika aku pulang ke rumah, aku membawanya pada ranselku, untuk sekedar kureview kembali.

  Namun, pada libur panjang karena coronavirus ini, aku menyimpannya di jaket itu karena kurasa tempat tersebut lebih aman dibanding dibiarkan saja di dalam tas.

  Benda itu masih terjaga dengan baik olehku. Bahkan amplop yang membungkus surat darimu itu masih ada hingga sekarang, sepaket dengan yang lain. Tidak ada kata yang aku kurangi, atau kutambahkan. Semua masih original, tanpa perubahan apapun. (Cuma yaa aku buru buru atas landasan kesenengan ketika dapet surat dari kamu, jadi waktu itu bagian atas amplop kubuka dengan keras hingga ada robek beberapa centimeter.)

  Bagaimana dengan surat dariku? (BTW tulisan gue masih buriq banget yak waktu itu :v)

  Mungkin sudah dibakar ya, hehe. Terakhir kudengar seperti itu :)

    ~  Ж  ~

   Aku membawa surat tersebut ke samping rumahku. Matahari telah menampakkan sinarnya secara jelas, itu waktu dhuha. Aku menerawang ke dalam kertas kuning yang dahulu pernah membahagiakanku setengah mati itu :v

  Ternyata, benar, ada suatu kata yang seharusnya bisa menghentikan segala tindakan burukku hingga kini. Ada suatu kata yang harusnya bisa mencegah keadaan yang seperti ini. “Jadi”? ah, aku tidak akan membahas panjang panjang arti kata itu. Aku percaya Salma tidak akan mengartikan kata itu seperti manusia manusia lainnya. Akupun sekarang tidak percaya tuh, kalo kata itu mengarah kepada mendekati zina.

  Mendekati zina? Bukankah suratku yang seperti itu?

  Hahaha, iya, kuakui pola pikirku waktu itu masih dipengaruhi oleh cerita cerita romansa yang terdapat pada gawai. Pada kenyataannya, aku sendiri waktu itu belum terlalu mengerti akan hakikat cinta. Cinta itu yang utama pada Allah, Rasul, nantinya barulah makhluk. Kurasa kalian sudah mengerti itu sejak lama.

  Faktanya, berdasarkan hasil penelitian para ahli, otak wanita itu lebih dewasa dua tahun daripada lelaki seusianya. Kalau kau sudah tau itu sejak SD  kelas enam, aku baru tahu itu kelas Delapan ini :v (Aku sebenarnya memahami hal tersebut baru pada akhir semester satu di kelas tujuh :v)

  Oke, lanjut.

  Tapi, kata itu bisa menunjukkan bahwa kamu itu juga ada perasaan kepadaku. Jika saja aku telah mengetahuinya sedari dulu, tidak akan seperti ini jadinya. Aku tidak menyangka apa yang sebenarnya terjadi dibalik balutan tip-ex tersebut. Kukira selama ini itu merupakan sebuah kesalahan penulisan biasa. Namun ternyata itu sangat berpengaruh pada hidupku ini.

  Sungguh, aku tidak pernah mengira itu adalah sebuah kata yang bermakna seperti itu.
      ~  Ж  ~

  Salma, nih aku bilangin ya.
  Manusia yang diciptakan oleh Allah itu ada dua jenis, yakni Pria dan Wanita (Kalo waria mah, gausah dibahas disini ya :v). Salah satu hakikat Lelaki adalah rasa ego yang besar. Berbeda dengan pria, Wanita cenderung lebih kepada sifat malu. Dua sifat itu adalah hakikat manusia, namun dominan kepada gender masing masing. Kalau yang umum pada manusia, yang hakikatnya sendiri meski itu buruk adalah Gengsi.

  Sifat-sifat itu, kalau kita tidak menakarnya dengan baik, akan memakan hidup hidup diri kita sendiri. Tak ayal seberapapun kuatnya tubuh seorang atlet, akan K.O juga sama sifat sifat seperti itu.

  Jika dikiaskan pada hubungan kita, Kalau aku terus menerus mementingkan Egoku sendiri, Ujung ujungnya aku bisa mengarah kepada pemaksaan. Akan berujung kepada ketidak sesuaian antara diriku sendiri dengan kodrat dan hakikat agama islam. Tentu kita tidak ingin menjauh dari agama dikarenakan oleh manusia.

  Kalau kata fimela.com, Egonya lelaki itu sebesar Godzilla :v

  Malu? Yaa kita sama sama mengetahui bahwa itu adalah mahkota kehormatan seorang wanita. Kendati aku sudah mempelajarinya, aku merasa kalian lebih memahaminya daripada diriku ini.

  Nah, kalau gengsi, Itulah yang terjadi pada diri kita selama ini. Aku gengsi menyatakan secara terang terangan . dan kamu, enggan pula, karena kau tidak merasa pernyataan itu merupakan hal yang penting. Kau hanya merasa yang penting itu perihal hati. Padahal, pada ujungnya kau juga tidak nyaman selalu menyimpan di dalam relung hati sahaja.

  Benar, bukan?

  Mengungkapkan isi hati itu merupakan hal yang subjektif. Okelah jika kau memang seperti itu. Setiap orang berbeda caranya. Kamu sebenarnya telah lama mengungkapkannya, namun dengan caramu sendiri. Tetapi, saranku, jangan sampai kita dilukai oleh cara kita sendiri. Okay?You see?

      ~  Ж  ~

  Jangan merendah seperti itu.

  Kau tahu? Kemarin, hari Rabu 28 Ramadhan 1441, aku pergi ziarah ke makam adik kandungku sendiri, Faiz Almas Arrayyan.

  (Kalo liat post instagram kakak saia yang terbaru beberapa hari ini, kebayang dah)

  (Padahal w belum mandi tuh, wkwkwkwk ditambah lagi kerana lama kali’ nunggu yang lain udah ketiduran pulak :v)

  Pada mulanya, aku enjoy enjoy saja ikut. Mobil itu melaju dengan kecepatan standar menyusuri jalanan pasaman. Namun, ketika posisi sudah dekat, aku meminjam handphone kakakku lalu iseng membuka situs PutriAlkahfi :v (Aku tau aku salah)

   Berbeda dengan ikhwah yang orangnya dua orang itu keitu saja, akhwat kulihat banyak yang pointnya melebihi angka 100. Salah satunya,

  Salma Mutiara Irza.

  Harusnya aku senang dong, minimal biasa saja.

  Tapi, memikirkannya lama lama akan membuatku gila. Aku memikirkan Aththayyibin liththayyibat. Aku takut kau tidak untukku. Namaku sampai sekarang belum pernah tertera pada situs tersebut.

  Mungkin kau selalu memperbaiki diri, pun begitu juga diriku. Namun, tingkatan levelnya kau diatasku.

  Aku takut kau bukan jodohku.

  Aku tahu rencana Allah itu luar biasa, namun kalau dihadapkan dengan hal yang seperti ini, aku belum siap.

  Mungkin sepele, ya.

  Namun faktanya itu merusak moodku satu hari penuh.

        ~  Ж  ~

  Okelah kau mengatakan bahwa kau itu masih banyak kurangnya. Pun aku begitu, dan seluruh manusia di bumi ini pada zaman millenial ini banyak kurangnya. Aku tidak mengatakan para syaikh sekarang banyak dosa, tapi kalau kekurangan, InsyaAllah seluruh orang pasti punya dan itu tidak sedikit.

  Dirimu tidak sebaik yang lain?

  Mungkin benar, tidak sebaik ‘Aisyah r.a, Fatimah, Khadijah, :v

  Dan, kalau dipikir pikir, meski jikalau ada ribuan bahkan jutaan manusia di bumi ini yang lebih baik darimu, tetapi aku maunya kamu, Aku sendiri bisa apa?

        ~  Ж  ~

  Iye, iye gue maapin :v

  Honestly, Aku tidak pernah berpikir  bahwa surat yang kau beri itu kurang memuaskan. Kau memberi secarik kertas itu, aku sudah bahagia banget loh. Serius!

  Kamu? Punya rasa kepadaku juga?
  Boleh ketawa enggak?

  Jujur aku sangat bahagia kau mengatakan itu, namun sekali lagi kamu mengatakannya pada saat yang sudah tidak tepat. Tapi tak apa, aku senang mendengar itu. Coba saja kau mengatakannya sedari dulu, semua tidak akan berjalan seperti ini. Aku akan menjaganya.

  Aku hanya sedih ketika mengingat kita tidak akan bisa berbuat apa apa lagi.


    ~  Ж  ~

   Aku hanya merasa seperti itu. Aku pernah berada di titik dimana aku itu merasa hanya menjadi parasit sepanjang kau kenal aku. Aku pernah merasa bahwa aku itu hadir pada hidupmu hanya akan mengganggu alur kisah hidupmu. Dan itu nyata terjadi, apalagi ketika yaa teman teman kita melakukan hal yang seperti itu (cie-ciein). Lama lama aku itu bosan juga tau, orang orang selalu berkelakuan seperti itu.

  Lama lama kau terbiasa juga ya?

  Haha, benar kata Adolf Hitler, “Suatu kejahatan yang diulang ulang akan menjadi kebenaran pada nantinya.” Kalau soal senyum senyum sendiri, aku juga telah melihatmu seperti itu, namun seperti kata salah satu temenmu, Kamu itu ga suka aku gara gara sering kegeeran. Jadi, aku menghindari untuk merasa senyummu itu adalah suatu hal yang “lebih” :)

  Kalau tentang curi curi pandang, kuakui kitalah juaranya :)

 Tidak ada satupun teman kita yang memiliki bakat sehandal kita dalam melakukan itu.
 
  Tradisi itu kita jalani bertahun tahun, tanpa disadari secara jelas oleh classmate yang lain. Mungkin kita tidak akan bisa melakukan hal seperti itu lagi kini, namun, pada hakikatnya kita harus bangga, tertawa mengenang masa kita dulu. Terima kasih, ya.

  “Kita pernah sama sama ada rasa.”
 Bagaimana dengan sekarang?
 Haha, aku berpemikiran sebodoh itu.
 Impossible, kan, Salma?



        ~  Ж  ~

  Wah, aku salut. Tajam sekali ingatanmu. Aku mau nanya nih, itu emang memori kamu yang Triliunan Terrabytes atau Kamu sengaja tidak melupakannya? :)
 
  Aku akui, kenangan tentang coretan itu sempat terhempas begitu saja dari kepalaku. Pun waktu aku kelas lima, mungkin aku juga sudah lupa. Namun, kau mengingatkanku pada enam tahun setelahnya. Setelah kau ingatkan, memori itu langsung kembali. Bahkan, aku ingat bagaimana caraku memberitahumu. Aku ingat bagaimana bentuk coretan tersebut.

  Terima kasih ya, sudah ngehargain. :’)

       ~  Ж  ~

  Kalau kau masih banyak yang mau dibilang, bilang saja! Tidak ada yang larang, kok! Aku sudah bilang, nanti kalau ditahan mulu, malah ngelukain :v Cukup bilang saja, dan aku akan menyimaknya dengan sepenuh hati :)

  Kau takut,eaa?
  Prihatin juga aku melihat orang yang takut seperti itu :v

        ~  Ж  ~

  Ya, pada penghujung kelas enam, berkat bantuan teman kita (menurutku terutama arkan yah, meski dia udah kayak bajingan sekarang! Tidak ada alumni CM yang ingin mengakui dia adalah alumni kita! Ah, lupain. Aku tidak ingin ngomongin orang)

  Berkat bantuan teman, kita akhirnya saling bicara. Itupun pada saat musim UN. Hanya sedikit waktu yang kita bisa tempuh bersama, hingga kita terpisah seperti ini.

  Meski begitu, aku bahagia sangad loh!
  Ga kebayang.

        ~  Ж  ~

  Lomba kita yang satu itu memang bukan saja petualangan mencari prestasi, namun petualangan hidup juga terasa di situ. Aku tentu tidak akan melupakannya, apalagi dengan fasilitas blogku waktu itu :)

  Kurasa, itu puncak diri ini yang masih botchah menyampaikan keberanian, namun akhirnya aku merasa itu tidak cukup sekarang.

        ~  Ж  ~

  Terima kasih ya, sudah mau baca blognya.

  Pada awal aku membuat suatu blog pada waktu itu, aku sendiri hanya menulis tentang lomba kita di ArRisalah tersebut, dan ingin menyimpannya untuk diri sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, aku tidak pernah menduga bisa dibaca oleh orang seperti kalian. :)

  Apalagi kata “menunggu”? wah, aku merasa sangat dihargai.

      ~  Ж  ~

  Kenapa engkau yang berterima kasih? Bukannya terbalik? Aku yang seharusnya berterima kasih atas apapun yang telah aku dapatkan darimu. Terima kasih atas kenangannya :D

  Sampai SMP?

  Kau salah, Salma. Aku akan menyimpan rasa itu selamanya.

  Tapi, Bagaimana jika aku udah nikah ama yang lain? (semoga engga :v  awokawokawok)

   Aku akan tetap mencintaimu.

  Barbar bukan? Ahahhahah~

  Itulah yang aku takutkan, salma. Suatu hari nanti, kala kita hanya berpas-pasan di jalan, aku mengingat semua tentangmu. Begitu saja, aku yakin pertahanan hatiku bisa hancur. Aku takut nanti istri yang kunikahi malah tidak kucintai. Aku sungguh takut itu. (makanya, solusinya ya kita nikah :v awoakwoawk)



      ~  Ж  ~

  Aku sudah bilang, aku tidak akan melupakannya. Tidak akan. Apalagi semuanya, tidak akan. Aku akan menyimpannya di dalam memori terdalamku, dan tunggu nanti kehadiranku pada suatu saat nanti.

  Aku juga sudah bilang, aku maunya kamu.
        ~  Ж  ~

   Kamu tidak pantas meminta maaf sedemikian banyaknya. Kau membuatku sangat merasa bersalah. Dan ingat, aku tidak akan pernah bosan untuk mencintaimu, apalagi hanya membaca pesan yang seperti itu. Aku akan menyimak dengan baik :)

   Engkau kalau menulis, yang masuk akal sajalah.
 
Kamu mengatakan, kamu tidak begitu pandai menulis? Lalu mengapa, aku membacanya terus menerus hingga aku sendiri terluka karenanya? Mengapa setiap hari aku mengulangi bacaan yang kau buat? Mengapa tulisanmu itu begitu dalam masuk kepada otakku?

  -_- tadi kau cakap banyak yang kau nak bilang -_ lah dibawah, malah bilang “Oke. Itu aja yang mau ana bilang” :v

     Wa’alaikumussalam. :)

          ~  Ж  ~

   Masa bodoh jika itu tidak usah kujawab. Bagaimanapun, aku ingin memperbaiki apa yang telah terlanjur terbuai begitu saja. Aku ingin memberikan kesan yang baik pada masa akhir dia mengenalku. Dengan begitu, suatu hari nanti, jika kau mendengar namaku, hanya yang baik baik saja yang terbayang di benakmu.

  Rasa takutmu itu...

  Apakah dengan tamatnya kita pada sekolah kita sekarang ini, akan menyembuhkanmu? Aku heran. Tapi biarlah, jarang ada wanita sepertimu di zaman ini. Aku sangat bersyukur bisa berjumpa dengannya, walau hanya sesaat.

  Oiya, Aku tidak akan mengantuk membaca sesuatu selagi itu berasal dari kamu. Energiku mustahil tetap habis selepas aku membaca itu.

          ~  Ж  ~

   Aku melihat banyak emoticon senyum pada pesan tersebut. Aduh! Wajahnya tersenyum beneran di benakku, walau hanya sekedar melihat emot itu.

  Melihat kau membuat namamu sendiri untukku, rasanya luar biasa.

  Terima kasih, terima kasih untuk semuanya.

   Kenangannya, pelajarannya dan apapun itu bentuknya.

  Sekali lagi, terima kasih ya?

  Terima kasih sudah pernah ada.

  Sudah pernah ada di dalam kisah hidupku, sudah pernah mengukir sebuah rasa ini.

  Syukran.

          ~  Ж  ~




(Beberapa cuplikan novel milea. Bagaimanapun, aku tidak ingin kita berakhir seperti mereka)


  Masih ada lagi, masih buanyak lagi yang aku mau ceritakan. Masih betah engga? Kalo engga, yaudah, tamat deh ^_^ hahaha

Menyalahkan diri sendiri memang sangatlah salah. Namun, menyalahkan "kita"?

Itu adalah sebuah kebodohan yang haqiqi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epilog.

Kalau bukan karena dirinya, mestinya aku baik-baik saja hari ini. Mungkin saja aku tidak terlalu berkegantungan dengan gawai. Akan tetapi cara pamitnya Salma membuatku geram sendiri. Aku bak hilang ditelan bumi hari ini, kan? Hahah. Lucu, ya. Sekarang sudah larut malam, dan aku masih sedikit kesal dengan apa yang menimpaku. Ah, mengapa kuota malah habis di saat yang seperti ini? Oke, aku ‘maafkan diriku sendiri. Kini aku mesti menikmati kesendirian. Tanpa dirinya lagi. Agh, tiada lagi orang yang selalu kutuju dalam setiap snap wa-ku. Tiada lagi orang yang merasa keribed-an ketika kuhubungi tiap waktu. Hehe. Huft , Thariq, percayalah ini sebentar saja. Dan, benar saja. Malam ini kulangkahkan kakiku ke luar ruangan, ke taman. Melebur dengan udara yang menusuk kulit. Duduk di antara jutaan gugus gemintang yang bertebaran di lautan angkasa. Pun begitu pula indahnya dengan rembulan, yang menggantung anggun di atas sana. Segalanya tampak indah, segalanya tampak megah. Perlahan kuhemb...

;bermetamorfosis

hari ini, sukmaku temaram. rintihan pilu menguap ke angkasa, mengutarakan senandung kebiruan dan kebingungan. tak dapat ditebak, aku jatuh kembali. di pangkuan yang sama, persis sepuluh tahun silam. saat semuanya telah berubah, ada saja secercah cahaya yang menuntunku pulang. aneh tapi nyata, semuanya bermanuver hingga aku kembali di titik ini, titik dinamis yang membersamaiku selama proses pendewasaan ini. dunno whut to do. di dunia yang seluas ini, mengapa kamu selalu menjadi tempat pulangku? sejauh apapun aku berlari, berjuta tempat yang kusambangi, mengapa aku kembali jatuh di sini? apa yang kau lakukan hingga aku bisa seterikat ini? pertanyaan itu bukan retoris, aku serius. tak logis sama sekali, seolah frekuensi ini selalu menjadi dasar di sukmaku. kalau saja esok hari aku harus melihat engkau dibersamai orang lain, apakah aku kuat? apakah aku bisa berusaha biasa saja seperti selama ini? aku takut aku tidak bisa benar-benar mengusirmu pergi dari hidupku, aku takut selama ini aku ...

Tanpamu?

Gambar hanya pemahit :v awokawoawokawok   Manusia, pastilah punya sesuatu yang sangat berharga baginya. Selain Tuhan dan Agama, pasti ada juga. Pasti ada sesuatu yang jika tiada, akan membuat dia terpukul sekali. Baik itu harta, benda, cenderamata, ataupun manusia lainnya. Tak peduli berapapun rintangan yang akan dihadapi, Seorang manusia akan siap mempertaruhkan bermacam hal demi mendapatkannya.   Aku juga merupakan seorang manusia, yang punya hal yang berharga tersebut pula. Aku tak ingin ia pergi, tak ingin ia menghilang dari hidupku.   Dia adalah,   Hahaha, dah nebak ya?   Iya, tebakan kalian bener.      ~    Ж    ~   Hari hari berlalu tanpa dia. Rasanya berat sekali, namun mau tidak mau aku harus menjalaninya. Mau dipaksakan bagaimanapun, akan tetap begitu. Roda perputaran waktu akan terus berjalan seiring bergantinya masa. Kita tak punya hak untuk merubah tatanan qadha kita yang su...