Ternyata aku sudah menerima pesan itu sedari pagi, namun aku belum
membacanya hingga aku pulang ke rumahku. Pada kenyataannya, aku belum
melupakan peristiwa semalam.
Aku pulang dalam keadaan dimana jantungku
masih berdebar kencang.
Ketika aku mulai memakai smartphone, aku
mencoba membuka aplikasi kloningan WhatsApp Messengerku. Sebelumnya aku tidak
pernah mengira akan ada kelanjutan dari kisah chat semalam. Ah, sudahlah. Yang
terpenting, aku benar benar terkedjoet melihat ada pesan yang begitu panjang
like tali baruak dari akun WhatsApp mereka. Aku sudah memiliki firasat tidak
enak semenjak mulai mengetahui bahwa pesan itu sampai padaku. Kurasa, ini akan
mengubah, mengakhiri sehingga kisah kami tuntas sampai di sini saja. Padahal,
Aku tidak pernah merasakan perasaan yang begitu bahagia selain di kala aku
berada di dekatnya. Aku masih ingat, ketika lomba PAI di ArRisalah kita satu
mobil, aku di bagian tengah mobil, dan kamu di bagian belakang mobil. Fakta
menunjukkan bahwa kita depan belakangan.
Kadang, aku melirik lirik ke belakang tanpa
diketahui tiga orang di belakangku, termasuk Ust Amri Syafriadi yang berada di
sampingku. Ketika kau dengan pakaian merahmu (itu apaan yah, kayaknya jaket deh, yang pake hoodie
ituloh) . Pada suatu waktu,
I find you dalam keadaan kepala yang menyender ke kursi di depanmu, iya,
kursi tempatku duduk. Melihat keadaan itu, Aku sengaja menyandarkan tubuhku
kepada kursi yang sama dengan tempat kepalamu tertempel itu, serta kepalaku
mendongak ke atas, karena yaa kau pasti tahu bagian tengah tidak ada senderan
kepalanya, dan kalau kepala kita mau disandarkan, kursi itu ‘kan menjadi bantal
bagi orang yang duduk di situ (palanya mesti mendongak). Jadi kepalaku berada
nyaris tertempel dengan kepalamu.
Perasaanku waktu itu bercampur aduk. Antara
bahagia dan apapun itu bentuknya. Rasanya aku telah menduduki tahta kepemilikan
benua. Aku sangat bahagia waktu itu, terlepas apakah kau sadar itu terjadi atau
tidak.
Aduuh lari kemana ini pembicaraan kita,
Kembali ke lep?top!
Aku sadar, pesan itu sangatlah penting, yang akan menjawab rasa penasaranku
selama ini. Aku tau itu hanya dari bahasa awal pesan itu. Aku bahagia waktu
itu.
Tak mau dikatakan senyum-senyum sendiri,
apalagi dicyduck, Aku menempatkan diriku untuk duduk di bawah kanopi depan rumahku.
Kurasa disitu aman, aku menengok kanan kiri depan belakang untuk memastikan
apakah tempat itu layak dipakai untuk kepentingan seperti itu. Kubuka kembali,
dan akupun memantapkan diri untuk mulai membacanya.
Tapi aku lupa, aku telah mengakhiri
segalanya. Realita yang terjadi adalah seperti itu. Aku lupa.
~ Ж ~
Aku memulai membacanya. Huruf demi huruf,
kata demi kata, dan paragraf demi paragraf kubaca dengan cermat. Sungguh, ada
patah hati terbesar i’ve ever feel yang kau kirimkan bersama pesan
tersebut.
Aku tidak mungkin meletakkan pesan tersebut
disini, karena kurasa dia akan keberatan jika hal yang demikian terjadi. Iya,
bukan? Namun pada kenyataannya aku tidak tahu dimana rangkaian huruf
terindah yang pernah ada tersebut diletakkan agar ia selalu bisa kubaca. But,
aku ngerti kok. Gausah dipaparkan disini.
Kata kata yang kau kirimkan ibarat candu yang
menguasai tubuhku. Kendati aku semakin sakit, aku selalu mengulang membacanya,
berkali kali. Aku tidak bisa berhenti membacanya berulang ulang.
~ Ж ~
Okay, lets we start it.
Saya mau memberikan tanggapan untuk pesan
tersebut.
~ Ж ~
Wa’alaikumussalam.
Salma, serius, aku tidak pernah memaksamu
untuk memberikan rasa yang sama dengan apa yang telah kuberikan kepadamu selama
ini.
Namun, kenapa kau baru menyatakannya
sekarang?
Perlukah bagimu untuk menunggu kehancuran
kita sehingga kau baru menyatakannya? Perlukah bagimu untuk menunggu keadaan
kita yang seperti ini, tidak bisa berjumpa selayaknya dulu lagi? Perlukah
bagimu untuk menunggu hingga kita sudah pasrah akan keadaan? Apakah aku harus
memutuskan sesuatu yang kita berdua pandang menyakitkan, barulah kau mengatakan
yang sebenarnya? Mengapa baru sekarang
kau mengatakan “kayaknya sekarang bisa” ? Aku telah terlanjur
mengatakan semuanya di Epilog kemarin. Pada eps itu aku menentang segala yang
telah aku tulis, masa’ untuk teks itu juga harus kutentang semuanya?
Ah,tidak, aku telah menyalahkan sesuatu yang
tidak harusnya disalahkan.
~ Ж ~
Ketika kau mengatakan “ini ana,
Salma.” Aku sudah merasakan hal yang aneh. Nada bicaranya ini sudah berbeda.
Serius amat nii.
Tapi, bagaimanapun, Diriku yang kelas lima
SD, jika melihat pesan yang seperti itu akan menjadi girang lelompatan kesana
kemari. Hanya melihat kalimat itu, Aku yang sekarang juga bersyukur bisa
berbicara dengan orang sepertinya.
~ Ж ~
What? Lupa denganmu?
Tunggu dulu.
Oh, iya, Aku sebenarnya telah mengakhiri duluan. Dan, ketika
membaca itu, Aku langsung saja tertegun menyesali apa yang telah aku perbuat.
Sedih saja melihat ada seseorang sepertinya yang ber-think dirinya akan
dilupakan olehku.
You will never be forgotten, Salma.
Kau harus tau, aku mengatakan bahwa “Aku akan
melupakanmu”, Karena aku berpikir bahwa tentunya kau tidak akan peduli lagi
dengan diriku.Tidak lebih dari itu. Makanya, aku selanjutnya berpikir, untuk
apa aku selalu mengelu-elukan orang yang tidak peduli dan sudah melupakanku??
Aku harus menunjukkan bahwa aku kuat tanpanya. Aku harus bisa berdiri tegak
tanpanya. Itulah Ego dari seorang lelaki. :v
Dan, aku putuskan untuk menulis itu. Aku juga
tidak pernah membayangkan kamu akan membacanya juga, karena intinya kau sudah
tidak peduli lagi dengan seseorang bernama Thariq Almas Neil Authar tersebut.
Sebenarnya banyak faktor mengapa aku sampai
sampai bisa menulis itu, tapi kurasa tidak cocok di sini.
Aku
hanya ingin mengutarakan kepada orang orang yang masih mempedulikanku, bahwa
aku telah melupakan segalanya. Bahwa aku bisa mencintai seseorang selain dia.
Dan, pada akhirnya aku sendiri dicederai
oleh tindakanku sendiri.
Oiya, ingat, aku tidak akan pernah bisa
melupakanmu hingga datangi yang dinamakan sakratul maut. :)
~ Ж ~
Apa? Ada kalimat yang dihilangkan?
Aku langsung menuju jaket yang tergantung rapi di lemariku, merogoh sakunya
dan mengambil beberapa surat yang menjadi aktivitas kita pada penghujung masa
sekolah dasar.
Sebenarnya, Aku tidak selalu menyimpannya di
tempat itu. Selama ini, surat itu sudah beberapa kali pindah tempat. Mulanya
aku meletakkannya pada tas belanja yang berlabel “Livestock Solok Selatan” (waktu lomba kesana dulu dapetnya) di atas lemari pada kamarku, lalu berpindah ke dalam
lemariku, lalu pada kelanjutannya aku selalu menyimpannya di dalam restleting
tas kecilku yang berlogo (S) port pada lemari asramaku (ini nih yang buat gue selalu khawatir kalo ada razia
lemari oleh para asatidz, aku gapernah nyuri tapi aku menyimpan benda itu
disana. Untung, gapernah kecyduck ampe detik ini tuh :v). Periode terlama adalah di situ. Aku terkadang
membacanya sebelum tidur, ketika gabut, galau, sedih, dan lainnya. Tentunya
dengan pertimbangan bahwa yang tidur disampingku adalah ustadz Abdurrahim. Jika
aku pulang ke rumah, aku membawanya pada ranselku, untuk sekedar kureview
kembali.
Namun, pada libur panjang karena coronavirus
ini, aku menyimpannya di jaket itu karena kurasa tempat tersebut lebih aman
dibanding dibiarkan saja di dalam tas.
Benda itu masih terjaga dengan baik
olehku. Bahkan amplop yang membungkus surat darimu itu masih ada hingga
sekarang, sepaket dengan yang lain. Tidak ada kata yang aku kurangi, atau
kutambahkan. Semua masih original, tanpa perubahan apapun. (Cuma yaa aku buru
buru atas landasan kesenengan ketika dapet surat dari kamu, jadi waktu itu
bagian atas amplop kubuka dengan keras hingga ada robek beberapa centimeter.)
Bagaimana dengan surat dariku? (BTW tulisan gue masih buriq banget yak waktu itu :v)
Mungkin sudah dibakar ya, hehe. Terakhir
kudengar seperti itu :)
~ Ж ~
Aku membawa surat tersebut ke
samping rumahku. Matahari telah menampakkan sinarnya secara jelas, itu waktu
dhuha. Aku menerawang ke dalam kertas kuning yang dahulu pernah membahagiakanku
setengah mati itu :v
Ternyata, benar, ada suatu kata yang seharusnya
bisa menghentikan segala tindakan burukku hingga kini. Ada suatu kata yang harusnya
bisa mencegah keadaan yang seperti ini. “Jadi”? ah, aku tidak akan membahas
panjang panjang arti kata itu. Aku percaya Salma tidak akan mengartikan kata
itu seperti manusia manusia lainnya. Akupun sekarang tidak percaya tuh, kalo
kata itu mengarah kepada mendekati zina.
Mendekati zina? Bukankah suratku yang
seperti itu?
Hahaha, iya, kuakui pola pikirku waktu itu masih dipengaruhi oleh cerita
cerita romansa yang terdapat pada gawai. Pada kenyataannya, aku sendiri waktu
itu belum terlalu mengerti akan hakikat cinta. Cinta itu yang utama pada Allah,
Rasul, nantinya barulah makhluk. Kurasa kalian sudah mengerti itu sejak lama.
Faktanya, berdasarkan hasil penelitian para
ahli, otak wanita itu lebih dewasa dua tahun daripada lelaki seusianya. Kalau
kau sudah tau itu sejak SD kelas enam,
aku baru tahu itu kelas Delapan ini :v (Aku sebenarnya memahami hal tersebut baru pada akhir semester satu di
kelas tujuh :v)
Oke, lanjut.
Tapi, kata itu bisa menunjukkan bahwa kamu
itu juga ada perasaan kepadaku. Jika saja aku telah mengetahuinya sedari dulu,
tidak akan seperti ini jadinya. Aku tidak menyangka apa yang sebenarnya terjadi
dibalik balutan tip-ex tersebut. Kukira selama ini itu merupakan sebuah
kesalahan penulisan biasa. Namun ternyata itu sangat berpengaruh pada hidupku
ini.
Sungguh, aku tidak pernah mengira itu
adalah sebuah kata yang bermakna seperti itu.
~ Ж ~
Salma, nih aku bilangin ya.
Manusia yang diciptakan oleh Allah itu ada
dua jenis, yakni Pria dan Wanita (Kalo
waria mah, gausah dibahas disini ya :v). Salah satu hakikat Lelaki adalah rasa ego yang besar. Berbeda dengan
pria, Wanita cenderung lebih kepada sifat malu. Dua sifat itu adalah
hakikat manusia, namun dominan kepada gender masing masing. Kalau yang umum
pada manusia, yang hakikatnya sendiri meski itu buruk adalah Gengsi.
Sifat-sifat itu, kalau kita tidak menakarnya
dengan baik, akan memakan hidup hidup diri kita sendiri. Tak ayal seberapapun
kuatnya tubuh seorang atlet, akan K.O juga sama sifat sifat seperti itu.
Jika dikiaskan pada hubungan kita, Kalau aku
terus menerus mementingkan Egoku sendiri, Ujung ujungnya aku bisa mengarah
kepada pemaksaan. Akan berujung kepada ketidak sesuaian antara diriku sendiri
dengan kodrat dan hakikat agama islam. Tentu kita tidak ingin menjauh dari
agama dikarenakan oleh manusia.
Kalau kata fimela.com, Egonya lelaki itu
sebesar Godzilla :v
Malu? Yaa kita sama sama mengetahui bahwa itu
adalah mahkota kehormatan seorang wanita. Kendati aku sudah mempelajarinya, aku
merasa kalian lebih memahaminya daripada diriku ini.
Nah, kalau gengsi, Itulah yang terjadi pada
diri kita selama ini. Aku gengsi menyatakan secara terang terangan . dan kamu,
enggan pula, karena kau tidak merasa pernyataan itu merupakan hal yang penting.
Kau hanya merasa yang penting itu perihal hati. Padahal, pada ujungnya kau juga
tidak nyaman selalu menyimpan di dalam relung hati sahaja.
Benar, bukan?
Mengungkapkan isi hati itu merupakan hal yang subjektif. Okelah jika kau
memang seperti itu. Setiap orang berbeda caranya. Kamu sebenarnya telah lama
mengungkapkannya, namun dengan caramu sendiri. Tetapi, saranku, jangan sampai
kita dilukai oleh cara kita sendiri. Okay?You see?
~ Ж ~
Jangan merendah seperti itu.
Kau tahu? Kemarin, hari Rabu 28 Ramadhan
1441, aku pergi ziarah ke makam adik kandungku sendiri, Faiz Almas Arrayyan.
(Kalo liat post instagram kakak saia yang
terbaru beberapa hari ini, kebayang dah)
(Padahal w belum mandi tuh, wkwkwkwk ditambah
lagi kerana lama kali’ nunggu yang lain udah ketiduran pulak :v)
Pada mulanya, aku enjoy enjoy saja ikut.
Mobil itu melaju dengan kecepatan standar menyusuri jalanan pasaman. Namun,
ketika posisi sudah dekat, aku meminjam handphone kakakku lalu iseng membuka
situs PutriAlkahfi :v (Aku
tau aku salah)
Berbeda dengan ikhwah yang orangnya
dua orang itu keitu saja, akhwat kulihat banyak yang pointnya melebihi angka
100. Salah satunya,
Salma Mutiara Irza.
Harusnya aku senang dong, minimal biasa saja.
Tapi, memikirkannya lama lama akan membuatku
gila. Aku memikirkan Aththayyibin liththayyibat. Aku takut kau tidak untukku.
Namaku sampai sekarang belum pernah tertera pada situs tersebut.
Mungkin kau selalu memperbaiki diri, pun
begitu juga diriku. Namun, tingkatan levelnya kau diatasku.
Aku takut kau bukan jodohku.
Aku tahu rencana Allah itu luar biasa, namun
kalau dihadapkan dengan hal yang seperti ini, aku belum siap.
Mungkin sepele, ya.
Namun faktanya itu merusak moodku satu hari
penuh.
~ Ж ~
Okelah kau mengatakan bahwa kau itu masih
banyak kurangnya. Pun aku begitu, dan seluruh manusia di bumi ini pada zaman
millenial ini banyak kurangnya. Aku tidak mengatakan para syaikh sekarang
banyak dosa, tapi kalau kekurangan, InsyaAllah seluruh orang pasti punya dan
itu tidak sedikit.
Dirimu tidak sebaik yang lain?
Mungkin benar, tidak sebaik ‘Aisyah r.a,
Fatimah, Khadijah, :v
Dan, kalau dipikir pikir, meski jikalau ada
ribuan bahkan jutaan manusia di bumi ini yang lebih baik darimu, tetapi aku maunya
kamu, Aku sendiri bisa apa?
~ Ж ~
Iye, iye gue maapin :v
Honestly, Aku tidak pernah berpikir bahwa surat yang kau beri itu kurang
memuaskan. Kau memberi secarik kertas itu, aku sudah bahagia banget loh.
Serius!
Kamu? Punya rasa kepadaku juga?
Boleh ketawa enggak?
Jujur aku sangat bahagia kau mengatakan itu,
namun sekali lagi kamu mengatakannya pada saat yang sudah tidak tepat. Tapi tak
apa, aku senang mendengar itu. Coba saja kau mengatakannya sedari dulu, semua
tidak akan berjalan seperti ini. Aku akan menjaganya.
Aku hanya sedih ketika mengingat kita
tidak akan bisa berbuat apa apa lagi.
~ Ж ~
Lama lama kau terbiasa juga ya?
Haha, benar kata Adolf Hitler, “Suatu
kejahatan yang diulang ulang akan menjadi kebenaran pada nantinya.” Kalau soal
senyum senyum sendiri, aku juga telah melihatmu seperti itu, namun seperti kata
salah satu temenmu, Kamu itu ga suka aku gara gara sering kegeeran. Jadi, aku
menghindari untuk merasa senyummu itu adalah suatu hal yang “lebih” :)
Kalau tentang curi curi pandang, kuakui
kitalah juaranya :)
Tidak ada satupun teman kita yang memiliki
bakat sehandal kita dalam melakukan itu.
Tradisi itu kita jalani bertahun tahun, tanpa
disadari secara jelas oleh classmate yang lain. Mungkin kita tidak akan bisa
melakukan hal seperti itu lagi kini, namun, pada hakikatnya kita harus bangga,
tertawa mengenang masa kita dulu. Terima kasih, ya.
“Kita pernah sama sama ada rasa.”
Bagaimana dengan sekarang?
Haha, aku berpemikiran sebodoh itu.
Impossible, kan, Salma?
~ Ж ~
Wah, aku salut. Tajam sekali ingatanmu. Aku
mau nanya nih, itu emang memori kamu yang Triliunan Terrabytes atau Kamu
sengaja tidak melupakannya? :)
Aku akui, kenangan tentang coretan itu sempat
terhempas begitu saja dari kepalaku. Pun waktu aku kelas lima, mungkin aku juga
sudah lupa. Namun, kau mengingatkanku pada enam tahun setelahnya. Setelah kau
ingatkan, memori itu langsung kembali. Bahkan, aku ingat bagaimana caraku memberitahumu.
Aku ingat bagaimana bentuk coretan tersebut.
Terima kasih ya, sudah ngehargain. :’)
~ Ж ~
Kalau kau masih banyak yang mau dibilang,
bilang saja! Tidak ada yang larang, kok! Aku sudah bilang, nanti kalau ditahan
mulu, malah ngelukain :v Cukup bilang saja, dan aku akan menyimaknya dengan
sepenuh hati :)
Kau takut,eaa?
Prihatin juga aku melihat orang yang takut
seperti itu :v
~ Ж ~
Ya, pada penghujung kelas enam, berkat
bantuan teman kita (menurutku terutama arkan yah, meski dia udah kayak bajingan
sekarang! Tidak ada alumni CM yang ingin mengakui dia adalah alumni kita! Ah, lupain.
Aku tidak ingin ngomongin orang)
Berkat bantuan teman, kita akhirnya saling
bicara. Itupun pada saat musim UN. Hanya sedikit waktu yang kita bisa tempuh
bersama, hingga kita terpisah seperti ini.
Meski begitu, aku bahagia sangad loh!
Ga kebayang.
~ Ж ~
Lomba kita yang satu itu memang bukan saja
petualangan mencari prestasi, namun petualangan hidup juga terasa di situ. Aku
tentu tidak akan melupakannya, apalagi dengan fasilitas blogku waktu itu :)
Kurasa, itu puncak diri ini yang masih
botchah menyampaikan keberanian, namun akhirnya aku merasa itu tidak cukup
sekarang.
~ Ж ~
Terima kasih ya, sudah mau baca blognya.
Pada awal aku membuat suatu blog pada waktu
itu, aku sendiri hanya menulis tentang lomba kita di ArRisalah tersebut, dan
ingin menyimpannya untuk diri sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, aku
tidak pernah menduga bisa dibaca oleh orang seperti kalian. :)
Apalagi kata “menunggu”? wah, aku merasa
sangat dihargai.
~ Ж ~
Kenapa engkau yang berterima kasih? Bukannya terbalik?
Aku yang seharusnya berterima kasih atas apapun yang telah aku dapatkan darimu.
Terima kasih atas kenangannya :D
Sampai SMP?
Kau salah, Salma. Aku akan menyimpan rasa itu
selamanya.
Tapi, Bagaimana jika aku udah nikah ama yang
lain? (semoga
engga :v awokawokawok)
Aku akan tetap mencintaimu.
Barbar bukan? Ahahhahah~
Itulah yang aku takutkan, salma. Suatu hari
nanti, kala kita hanya berpas-pasan di jalan, aku mengingat semua tentangmu. Begitu
saja, aku yakin pertahanan hatiku bisa hancur. Aku takut nanti istri yang kunikahi
malah tidak kucintai. Aku sungguh takut itu. (makanya, solusinya ya kita
nikah :v awoakwoawk)
~ Ж ~
Aku sudah bilang, aku tidak akan
melupakannya. Tidak akan. Apalagi semuanya, tidak akan. Aku akan menyimpannya
di dalam memori terdalamku, dan tunggu nanti kehadiranku pada suatu saat nanti.
Aku juga sudah bilang, aku maunya kamu.
~ Ж ~
Kamu
tidak pantas meminta maaf sedemikian banyaknya. Kau membuatku sangat merasa
bersalah. Dan ingat, aku tidak akan pernah bosan untuk mencintaimu, apalagi
hanya membaca pesan yang seperti itu. Aku akan menyimak dengan baik :)
Engkau kalau menulis, yang masuk akal
sajalah.
Kamu
mengatakan, kamu tidak begitu pandai menulis? Lalu mengapa, aku membacanya
terus menerus hingga aku sendiri terluka karenanya? Mengapa setiap hari aku
mengulangi bacaan yang kau buat? Mengapa tulisanmu itu begitu dalam masuk
kepada otakku?
-_- tadi kau cakap banyak yang kau nak bilang
-_ lah dibawah, malah bilang “Oke. Itu aja yang mau ana bilang” :v
Wa’alaikumussalam. :)
~ Ж ~
Masa bodoh jika itu tidak usah kujawab. Bagaimanapun,
aku ingin memperbaiki apa yang telah terlanjur terbuai begitu saja. Aku ingin
memberikan kesan yang baik pada masa akhir dia mengenalku. Dengan begitu, suatu
hari nanti, jika kau mendengar namaku, hanya yang baik baik saja yang terbayang
di benakmu.
Rasa takutmu itu...
Apakah dengan tamatnya kita pada sekolah kita
sekarang ini, akan menyembuhkanmu? Aku heran. Tapi biarlah, jarang ada wanita
sepertimu di zaman ini. Aku sangat bersyukur bisa berjumpa dengannya, walau
hanya sesaat.
Oiya,
Aku tidak akan mengantuk membaca sesuatu selagi itu berasal dari kamu. Energiku
mustahil tetap habis selepas aku membaca itu.
~ Ж ~
Aku
melihat banyak emoticon senyum pada pesan tersebut. Aduh! Wajahnya tersenyum
beneran di benakku, walau hanya sekedar melihat emot itu.
Melihat kau membuat namamu sendiri untukku,
rasanya luar biasa.
Terima kasih, terima kasih untuk semuanya.
Kenangannya, pelajarannya dan apapun itu
bentuknya.
Sekali lagi, terima kasih ya?
Terima kasih sudah pernah ada.
Sudah pernah ada di dalam kisah hidupku,
sudah pernah mengukir sebuah rasa ini.
Syukran.
~ Ж ~
(Beberapa cuplikan novel milea. Bagaimanapun, aku tidak ingin kita berakhir seperti
mereka)
Masih ada lagi, masih buanyak lagi yang aku
mau ceritakan. Masih betah engga? Kalo engga, yaudah, tamat deh ^_^ hahaha
Menyalahkan diri sendiri memang sangatlah salah. Namun, menyalahkan "kita"?
Itu adalah sebuah kebodohan yang haqiqi.
Menyalahkan diri sendiri memang sangatlah salah. Namun, menyalahkan "kita"?
Itu adalah sebuah kebodohan yang haqiqi.


Komentar
Posting Komentar