Bagaimanapun,
bumi tidak akan berhenti berputar hanya karena salah satu penduduknya sedang
merana. Bumi akan baik baik saja, meskipun tidak dengan penduduknya. Waktu akan
terus berjalan walau kita sedang dilanda kemalangan atau bahkan cobaan. Kita
tak bisa menghindar olehnya.
Setelah
kejadian itu,, aku masih kerap kali kedinginan, mual, dan kerap kali sakit
perut serta sakit kepala.
Tak akan berarti bagimu kurasa. Aku saja yang berlebihan,
bukan?
Bener,
kan,?
Hahaha.
~ Ж ~
Sekarang sudah tanggal 5 Syawal. Itu berarti sudah
seminggu lebih semenjak kejadian itu. Bagaimana kabarmu sekarang, Salma?
Aku
harap tidak ada yang aneh setelah kemunculanku yang sekarang ini. Kurasa, meski
sudah banyak perbedaan, aku tetaplah diriku yang dulu. Assalamu’alaikum, Hai!
Aku
ceritain, deh. Hayuuk!
~ Ж ~
Sepanjang hari itu, aku benar benar merasakan rasa sakit
yang luar biasa dahsyatnya. Belum pernah selama ini, aku merasakan yang
sedemikian hebatnya. Itu merupakan kondisi paling Down yang pernah kulalui, dan
itu juga akan menjadi salah satu kondisi paling Down yang ada di hidupku.
Aneh
banget, ya?
Seharusnya
aku tidak sedih seperti ini. Aku harusnya senang.
Kuulangi
lagi, aku amat terpukul karena beberapa hal, yang pertama karena aku telah
membuat suatu kesalahan dengan menulis epilog blog yang seperti itu, aku telah
menyudahinya dan impossible untuk dia kembali seperti itu lagi, aku telah
kehilangan teman dekatku karena masalah ini (aku memilih Salma), dan satu
lagi... bahwa kondisi kita sudah hanya bisa pasrahkan kepada Allah.
Hari
itu sungguh berat buatku. Aku amat ingin menjelaskan semua yang ada di kepalaku
kepadanya, namun kurasa tidak mungkin dia ingin kembali. Aku benar benar sakit.
Sakitku ini menurutku sangat tidak biasa padaku, karena ini menyangkut emosi,
perasaan dan imunitas diri ini.
Salah
satu caraku menghilangkan rasa aneh di hatiku adalah mengambil sepeda, lalu
mengayuhnya sepanjang Protokol 32. Biasanya, ketika kembali, aku telah merasa
baikan. Namun, dengan sepaket surat yang sama, yang sedari pagi kubawa, aku
belum juga merasa lebih baik setelah kembali. Seharian itu aku benar benar
hancur. Hancur!
Aku
bukanlah anak motor yang suka berjalan jalan dengan teman seperti kebanyakan
temanku yang lain. Aku biasanya lebih memilih menghabiskan waktu liburku secara
berkualitas bersama orangtua. Aku hanya ingin, suasana keluarga hadir pada
liburku. Tapi hari itu lebih banyak kuhabiskan dengan merenungi apa yang telah
terjadi, seraya mengegas motor Kharisma yang usianya sama
dengan diriku (dinginnya luar
biasa meski matahari menampakkan sinarnya dengan gagah). Masih dengan kertas yang sama, kupegang dengan
kuat, mengingat semua yang pernah terjadi pada kita. Iya, “Kita”.
Hari itu, sesekali aku melewati depan
rumahnya, namun tidak seperti biasanya, aku menunduk kala melewatinya. Aku
berusaha menyimpan kertas itu ketika melewati rumahnya. Aku sangat benci diriku
sendiri ketika itu. Ah sudahlah, lupakan!
Aku
membaca surat itu sambil mengendarai motor. Jadi, fokusku terbagi. Untung
saja Allah masih menjaga ruh agar tetap berada di dalam jasadku, hingga
sekarang.
~ Ж ~
Malamnya, dingin yang terasa pada tubuhku mencapai
tingkat terparahnya. Entah berapa ton (kalo angin satuannya apa yak :v) angin yang menyusup ke dalam tubuhku. Aku bertambah
sakit. Seiring berjalannya waktu, bukannya malah membaik, namun semakin
memarah.
Aneh
sekali, teman!
Pada
malam sebelumnya hatiku ingin shalat tarawih segera berakhir, dan aku ingin
cepat cepat chat mereka dan melihat apa respon mereka.
Malam
itu, aku shalat seakan itu adalah shalat yang paling sendu, dan berharap itu
tidak akan pernah berakhir. Aku jatuh kembali, yaa rabb.
Alqur’an
pun kubaca seolah tidak pernah ada ujungnya, dan tidak terasa saja sudah banyak
lembaran yang kulalui.
Aku,
kalau suasana hatiku sedang merasakan keanehan, aku akan jatuh kembali ke
pangkuan sang khaliq. Aku pasti seakan bertambah akrab dengan yang maha
pemberi. Dan malam itu, aku benar benar jatuh. Tangisku yang tak bisa keluar selama
ini, benar benar menitik ketika aku berada dalam kesendirian di malam kelam, di
atas sajadah yang terbentang.
Terima
kasih Salma, melalui dirimu, aku sudah berkali kali jatuh dan bangun. Tidak
apa, karena itu semakin mendekatkanku pada Allah.
Aku
mengakhiri hari itu dengan mendengarkan lantunan tilawah qur’an, dan itu benar
benar mengiringi tidur panjangku.
~ Ж ~
Ruang story Instagram maupun Facebookku benar benar
kosong dalam beberapa hari. Kurasa, tidak ada ungkapan kata yang pantas untuk
mewakili suasana hati yang sangat parah ini. Terkadang aku hanya mengisi story
WhatsAppku, tidak jelas apa tujuannya, yang penting aku sangat mengharapkan
Salma membacanya. Parahnya lagi, semua story WhatsAppku berbau galau :v
~ Ж ~
Keesokan
harinya, aku bangun tidur seolah aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya
tidur nyenyak. Setelah sahur dan shalat shubuh, aku ingin meraih smartphone,
namun orangtuaku memakainya. Kalau memakai laptop, habis baterai gegara semalam
dipakai mengetik blog. Akhirnya, aku ingin jalan jalan pagi memakai sepeda,
namun dilarang pula oleh orang tua karena aku dituntut untuk mengecat rumah, hanya saja menurutku itu terlalu pagi untuk melakukan aktivitas seperti itu.
Akhirnya, aku terlelap tanpa sengaja, padahal aku tidak menginginkan mataku ini
terpejam.
Bangun
bangun, orang tuaku mengatakan bahwa Ustadz Abdurrahim memberi tahu bahwa acara
pembagian sembako yang beberapa hari ini diundur, jadi jam sepuluh nanti.
Pokoknya, jam sepuluh sudah sampai di Sekolah.
Aku
sih selow saja, santuy. Aku menghabiskan waktu pagi hari dengan Biirul
Walidayn, membantu mengecat tembok rumahku yang bagian depan. Sampai jam
sembilan seperempat, aku masih saja asyik dengan kegiatanku itu. Meski,
waktu itu aku memang sangat lemas. Bukan karena kondisi fisik, namun keadaan
bathin.
Lemah
sekali aku!
Sebagaimanapun kuatnya Alexander The
Great, ia wafat dikarenakan seekor nyamuk. Aku, bagaimanapun peranku, tetap
saja akan merana karena kehilangan sosok terbaikku.
Aku terkedjoed melihat jam, dan aku siap siap mandi kembali, memakai kaos oblong warna
cokelat, dilapisi jaket bermerek adidas serta celana pramuka sekolah. Kaos
Oblong? Iye. Seragam nantinya adalah Jaket AlKahfi. Jaket AlKahfi saya selama
libur ini tertinggal di Sekolah. Sekalian Jemput :v Jadi, kulapisi saja.
Aku
pergi dengan terburu buru, mengegas motor itu menyusuri jalan tembus Cahaya
Makkah- Rawit Indah. Padahal, waktu yang tersisa saat itu sangatlah sedikit.
Entah mengapa aku melewati jalan itu melulu, meski tujuan bisa dicapai lebih
mudah dan cepat jika melalui jalan yang lain.
Kecepatanku
bisa dibilang sangat kencang saat itu. Kepepet, ya mana mungkin nyantai! Ketika
aku memasuki Bandarejo, Jalan sudah lurus, motornya digas habis dan aku tidak tahu
mencapai kecepatan berapa waktu itu. Speedometer motor tua itu sudah rusak.
Kalau saja badanku tidak terlalu kuat untuk menahan dingin yang sangat luar
biasa, meski cuaca sedang terik sangad, pastilah aku sudah jatuh pingsan dalam
kecepatan selaju itu. Benar benar parah rasa sakit ini.
”AARGH!”,
teriakku dalam terjangan angin yang menerpaku pada kecepatan itu. Aku tidak
peduli dengan beberapa orang yang memandang aneh tingkahku, karena aku sendiri
tidak jelas memahami atau tidak, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.
Aku
memasuki komplek AlKahfi, dan bertemu Kevin dan Farhan. Aku menunggu jam
terbangnya sambil menghafal hafalan surat Al-Kahfi. Meski lantai bersih, jujur
kondisi Asrama sangat memprihatinkan. Aku duduk di dekat lemariku (lemari saye
tak begitu rapi, jadi maklum saja :v), lalu mengulang ayat demi ayat. Lebih
tenang, sampai saat dimana kejadian itu menghantam kepalaku kembali.
Salma,
kau dimana? Aku rindu :v
Ah, aku sangat gaje sekali. Aku iseng iseng
membuat beberapa video yang absurd tidak jelas sama sekali, tapi itu bisa membuktikan
suasana hatiku waktu itu sedang sedih. Sedih sekali! (males nayangin disini, agak lebay cuy :v kalo mau nengok jugak, whatsapp ae :v)
Lalu,
aku teringat video boomerang yang Radit lakukan beberapa hari
lalu. Aku ingin meledeknya, dengan membuat yang seperti itu juga, namun aku
kirim ke Radit yang versi benar benar ngejeknya. Kalau di WhatsApp mah, itu mah
iseng aje, udah dipotong videonya :v Inget, saia bukan Pakboiii ! :v
Siangnya
aku istirahat dan dibolehkan pulang dulu, namun pikiran jahat merasuki otakku.
Aku sengaja menelepon orangtuaku di sebrang rumah Salma. Haha! Maaf lancang!
Asal
kau tahu, Seharian itu surat kita masih ada di saku jaketku. :)
~ Ж ~
Kegiatanku seharian itu tak perlu
kuceritakan. Pokoknya, aku masih saja tak bisa lepas dari jeratan kesedihan
akibat peristiwa itu. Ustadz Hasnan, ketika aku datang, dia tiba tiba mencubit
hidungku, dan mengubek-ubek wajahku. Sayanya auto kaget dong
:v (katanya udah lama ga ketemu, senang banget
:v) Ia mengatakan bahwa suhu
badanku tinggi, kepalaku panas. Aku biasa saja, karena aku tidak ingin disebut
corona :v
Beberapa
hari itu aku berusaha seperti biasa saja, seperti tidak ada yang menimpaku.
Tapi sepertinya upaya itu gagal. Lagipula, tidak akan bisa diceritakan. Susah
sekali! Biarlah yang tau hanya aku dan Allah.
Malamnya, aku bisa menikmati bukaan nikmat +
ayam cabai hijau di dapur nenek. Oiya, aku seharian loh disana, dari pagi ampe malem. cuma pas istirahat siang, saia mah pulang :v
Hari itu, aku bisa sedikit meringankan rasa
sakit itu melalui senyum banyak orang yang dibantu oleh sekolah. Namun,
faktanya aku kembali merasakan rasa sakit itu di jalan kembali ke rumah.
Aku
pulang bersama Kevin, memakai jaket AlKahfi, dan convoi secara teratur. Hahaha,
mungkin baru kali ini ada yang namanya convoi yang mengantongi izin dari SMP IT
AlKahfi. Itu hanya dirasakan oleh aku dan Kevin. Meski semenjak pilketos aku
belum juga bisa berdamai dengannya, namun aku merasakan kedamaian bersamanya
malam itu.
Motorku
benar benar melaju pelan dan santai.
Mengiringi
perputaran ban motorku dan dia, terkadang aku teriak teriak gajelas nyanyiin
lagu
Already Over yang dipopulerkan oleh grup musik rock red.
Ah,
sudahlah, tak usah dipikirkan musik itu, yang penting aku benar benar
larut dalam keheningan malam.
Aku
kembali melewati jalur itu, jalur rumah Salma. Malampun, aku biasanya lewat
situ juga, meski gelapnya bukan main. Setiap hari juga seperti itu.
Rencananya
malam itu aku ingin mengetik, namun rasa letih ‘bawaku menyelami samudera mimpi
bersama megahnya bintang gemintang di malam kelabu itu :)
~ Ж ~
Aku
melihat akun WhatsApp Salma mengesahkan story terbarunya. Aku membacanya dengan
teliti, dan menganalisa terhadap apa yang sebenarnya telah terjadi. What? Dia
tidak ingin aku menyalahkan diri sendiri, namun dia malah menyalahkan dirinya
sendiri! Aku tidak terima seperti itu, dan aku ingin menjelaskannya pada
episode selanjutnya. Akupun membalasnya dengan “Itulah yang akan kubahas pada
eps selanjutnya”, dan kurasa aku telah menjelaskannya, walau tak bisa
menjelaskan seluruh isi otakku.
~ Ж ~
Hari
hari selanjutnya terjadi begitu saja. Penuh dengan kesedihan, tidak peduli
bagaimana senangnya Jeff Bezos ataupun Bill Gates pada saat itu. Aku susah
sekali untuk bangkit, merangkak pun aku tiada daya. Susah sekali, Sal.
~ Ж ~
Pada
hari Sabtu, tepatnya pada pergantian Bulan Ramadhan dan Syawal, aku masih saja
merasakan hal yang aneh pada diriku. Aku menjalani hari dengan seadanya,
laksana seseorang yang tengah mukbang, tetapi dia sudah kekenyangan.
Malam
harinya, ketika aku hendak melangkahkan kakiku ke dapur, aku melihat ada
seseorang dengan motornya, berhenti tepat di sebrang rumahku, dekat mobilku
yang waktu itu belum dimasukin ke bawah kanopi.
Aku
sangat mengenali bajunya. Baju itu adalah baju seragam Yamaha, yang seingatku
betul betul disukai Fauzi (jarangbangetgantidiasrama). Malam itu malam takbiran, pastinya banyak
orang berkerumun di taman komplek yang juga kebetulan di depan rumahku. Aku
yang hanya memakai Tank top tentunya malu diliatin, tapi
akhirnya kubulatkan saja niatku untuk menghampirinya.
Dia
masih saja menunduk, dan aku ragu bahwa itu Fauzi atau bukan. Apalagi dia
membelakangiku, tentu saja sangat memalukan jika aku salah menyimpulkan.
Aku
mengendap endap ke belakangnya, lalu dia sadar dan menoleh ke arahku. Benar
saja, ia adalah penduduk Tongar. Muham(m)ad Al Fauzi.
”Eh,
baru aja mau manggil”, katanya.
“
Hahaha, udah keliatan dari baju yang ko gapernah ganti tuu”
“Enak
aja, baru dicuci kemaren ni”
“Hahaha”
Lalu
dia dipersilahkan masuk ke dalam rumahku. Percaya atau tidak, dia adalah tamu
pertama yang disambut pada bulan Syawal (kan kalo hijriyah ganti harinya maghrib, iyaiya kamu
udah tau :v) Dia disuguhi makanan
makanan lebaran, dan tentu tidak lupa Sirup termainstream se-Indonesia, Marjan.
Obrolan
berlangsung hangat, hingga Aku sadar bahwa Naufal kemarin itu mengirimkan
sebuah ajakan untuk JJS. Aku tidak sadar, mungkin yang baca orangtuaku. Aku
menjawab, “belum kebaca, lusa yuk?”
Oiya, seseorang yang masih menjadi teman baikku hingga kini, ya
Naufal seorang. Yang lain udah pada sibuk sendiri sama temen barunya, kalau
kami masih saja “sahabatan”. Ah, entahlah! Aku tidak yakin dengan kata itu.
Dia
langsung merespon. Dia malah menjawab seperti yang tidak kuduga, yakni
“Sekarang aja yuk”
Sebetulnya,
aku tidak memiliki rencana pergi kemanapun malam itu, baik dengan keluarga
ataupun teman. Aku juga tidak ingin kemana mana, sebenarnya.
Namun karena yang ngajak si Naufal, hayyuuuuk :v
Aku
bukanlah orang yang suka nongkrong dan jalan
jalan bersama teman. Buang waktu saja seperti itu. “Mending nonton
Golden Ways”, kata AwKarin KW.
Kehidupan
malamku, tidak pernah menjadi masalah dalam keluargaku. Palingan sesekali, aku
dicyduck begadang. Namun, kalau urusan nongkrong mah, Engga! Jadi, jika aku
diizinkan keluar malam itu juga, itu bukanlah sesuatu yang aneh. Ditambah lagi
aku memang jarang keluar rumah untuk sekedar berjalan jalan bersama teman,
wajar dong dibolehin jalan jalan sekali itu saja (sekali itu doang minta jalan2 ma temen selama liburni)
Aku
segera mengganti pakaianku. Eh, bukan! Aku hanya melapisi tank top tersebut
dengan Sweater berhoodie yang baru kubeli dua hari sebelumnya dari Bandung, yaa
Shopee lah. Kalau celana mah, aku engga ganti, gausah banyak gaya deh, memakai
celana training slebor saja sudah cukup bagiku!
Aku
dan Fauzi pamit, lalu mengambil motor masing masing dan tentunya menggunakan
protokol kesehatan yang telah berlaku. Memakai masker. Aku tahu, Polisi banyak
sekali berkeliaran pada malam seperti itu. Oiya, Bedanya aku dengan
Fauzi, aku menjaga otakku dengan helm, namun Fauzi enggan.
Bagiku
keselamatan itu lebih penting daripada Gaya rambut!
Aku memulai gas, dan keluar dari
perumahan Pratama Griya Makmur. Aku melihat banyak sekali manusia;
baik itu anak muda maupun sudah tua, semua berada di atas aspal dan motor
mereka masing masing. Aku berhenti di depan Kantor ayahku, Kantor kementerian
agama. Kutelfon Naufal, lalu dia mengatakan bahwa dia beli sendal dulu ke
Seven, katanya kehidupan asrama, biasalah :v
Oiya, aku belum ceritain bahwa aku tidak
diperbolehkan membeli hape sendiri sebelum aku menginjakkan kaki di bumi ini
dengan Status SMA. Kalau memang aku punya, itu adalah bekas dari orangtuaku
yang beli hape baru, sedangkan yang lama dioper ke saia :v Engga betah bet tau, make yang udah bekas abistu dicampakkan ke saia pulak :v Aku hanya memiliki
device Laptop Lenovo ideapad 330 yang juga sebenarnya adalah laptop ayahku
sebagai sekretaris lembaga IPHI. Make laptop negara woii :v Kalo malam itumah, aku bawa handphone kakak saia :v
Aku
tidak ingin lama lama menunggu, aku tancap gas lagi, dan masuk ke dalam komplek
Cahaya makkah, dan lewati jalan tembus ke Rawit Indah. Melalui jalan yang
kulewati setiap hari itu, aku bisa merasakan fauzi yang dari tadi masih saja
menyesuaikan kecepatannya denganku malam itu. Dia biasa ngebut, namun dia
mengikuti aku yang memilih santuy saja.
Sampai
di Seven, Naufal tahu kami datang, dan kami sadar bahwa dia akan pulang kembali
dengan ”papa” nya. Dia pergi dengan papanya malam itu. Bertanya kabar,
lalu basa basi sedikit,
“Woi,
gimana tuh, si Paja Biso ituh? Masih?”
“Kalau
dia mah nggak main lagi doh”
“Tengok Fauzi ni, pacaran aja kerjanya. Sama
si Suci suci apalah tu! Dia sendiri saja najis!”
Tawa
pecah saat itu juga. Aku memang seperti itu, jikalau bersama orang yang lebih
pendiam daripada diriku. Aku cenderung memancing suasana agar lebih rame jika
dengan orang yang seperti itu. Aku akan lebih ribut daripada biasanya. Kalo ama
orang yang lebih cerewet daripada aku, kebalikannya :v
“Ancak pulo?”, kata si Naufal.
“Serah
am-“, Fauzi menjawab, namun kupotong,
“Ancak
jo Salma leh!”, aku menyahut dengan memotong pembicaraan itu. (awokawokawokawok)
Logat
bahasa minangku belum juga fasih, kata teman temanku :v
Naufal
tertawa. Dia mengatakan bahwa aku tak perlu melakukannya. Sudah delapan tahun,
thor!. Kira kira seperti itulah katanya.
Aku
diam saja, dan melanjutkan pembicaraan sampai Papa Naufal selesai belanja di
dalam, dan si Naufal pamit dan mengatakan akan balik lagi.
~ Ж ~
Aku pergi dari halaman Market Seven tersebut,
dan kembali melewati jalan yang sama. Jalan depan rumah Salma. Kali ini, aku
menghadapkan wajah ke arah rumahnya, padahal mataku terpejam. Fauzi yang
dibelakangku melihat kejadian itu dan berteriak,
“Mato
woi, mato!”, sambil dia tertawa.
~ Ж ~
Aku menginjakkan kakiku di luar gerbang SDIT Cahaya
Makkah. Malam itu, Akulah kaptennya, Fauzi dan Naufal mengikutiku kemana aku
mau :v
Aku
memilih Sekolah dasar itu gara gara siangnya Naufal menanggapi storyku tentang
musik “Semua tentang kita”, yang berlatar belakang Sekolah itu. Dia bilang,
“Kapan,
ya. Kita kesana lagi”
Aku
ingin mewujudkannya malam itu juga :v, jadi aku memilih tempat itu untuk
pemberhentian pertama. Setelah beberapa kali cekrek cekrek, Naufal
datang dengan motornya dan tidak lupa mengenakan masker scubanya.
Aku memberitahu ketika awal sampai di tempat itu, bahwa kami sudah berpindah
tempat ke sekolah dulu.
Beberapa saat berbincang disitu, selanjutnya kami
bingung mau kemana, karena tempat manapun tergolong ramai sekali pada malam hari itu. Kami tidak ingin dibubarkan Satpol PP :v ,, Hingga aku memutuskan untuk pergi ke taman yang di seberang Perpusda itu.
Ternyata, tidak seramai yang dibayangkan. Hanya ada sekitar lima pasangan muda
mudi di situ.
Aku
masuk gerbang dengan menyanyikan lagu tomat oleh wali band :v
"Ingat mati ingat sakit, ingatlah saat kau sulit, ingat ingat hidup
Cuma satu kali :v"
Aku lumayan keras menyanyikannya, dan
beberapa orang melihatku. Bodoamat :v
Ketika
telah duduk, aku membaca ayat Isra’ ayat 32 dengan keras. Dua temanku yang
disampingku hanya tertawa geleng geleng melihat tingkahku. Naufal asyik
memainkan Mobile Legendsnya, sedangkan Fauzi sibuk chat sama si Indah.
Pada
malam itu, kebetulan aku kehabisan kuota. Tempat duduk taman itu kurasa kurang
jikalau tidak ada jaringan internet :v. Aku rebut handphone si Naufal, dan
ajaibnya Naufal membiarkanku menyalakan hotspotnya pada malam itu. Langka, tau,
orang yang mau di tethering-in :v
Aku
memulai browse dengan membuka Instagram, dan mencari keywords #antipacaran. Ajaibnya,
aku berani sekali mengeraskan volume hapeku hingga max. Dan pada akhirnya satu
taman itu yang memang sedang bermesraan seketika memandang
buruk diriku :v
Aku
mengatakan bahwa aku tidak pernah nongkrong malam malam seperti ini. Aku baru
pertama kali. Begitu juga Naufal, dia mengungkapkan seperti itu.
Fauzi
mengajak kami Merokok. NO! Aku dan Naufal langsung mengatakan bahwa mulut kami
masih suci! Kami tidak tertarik sama sekali menyentuh benda lucknut itu!
Bagaimanapun, Fauzi itu mudah dijinakkan. Dia tidak memaksakan
kehendaknya.
Setengah
jam duduk di situ, dipengaruhi juga oleh semakin jauhnya orang yang di depan
kami dari syariat islam, akhirnya kami memutuskan untuk mencari makan malam.
Kami bingung mau kemana, dan kami menyusuri jalan sambil melihat apa yang ada
di pinggir jalan.
Ada lautan manusia di sekitar bundaran simpang empat. Aku sangat muak dengan
hal yang seperti itu, dan memutuskan memisahkan diri dari convoi tiga orang
tadi, masuk ke dalam jalan KKN.
Aku menelepon mereka, dan mengatakan bahwa aku membelot ke jalan KKN. Mereka
mengatakan bahwa mereka sudah berhenti di sebuah warung sate madura. Aku
mengenyahkan segala rasa aneh, dan memulai gas kembali.
Aduh, di depan kimia farma motorku tiba tiba datdutdatdut, Abis
bensin!
Aku tidak cemas sama sekali, biasa bae. Karena aku tahu, orang sangat banyak
disini, serta aku yakin dekat sini ada orang jual minyak bahan bakar.
Benar saja, ada orang jual itu di seberang tempatku berdiri. Aku mendorong
motorku, meski kesusahan karena banyak sekali orang di atas aspal, aku akhirnya
bisa menginjakkan kaki di seberangnya. Selanjutnya, aku menuju lokasi.
Setibanya di lokasi, aku memilih tempat duduk
untuk bertiga, lalu memesan setengah porsi. Yang laen mah ngikut aja, setengah
porsi semuanya. Kalau Fauzi dari awal juga bilang gausah makan, karena dia juga
abis makan di tempatku, plus dia engga bawa hepeng :v
Setelah berbincang sedikit, Aku membuka
Instagram kembali, melalui hotspot Naufal yang belum mati. Aku log-in akun
sendiri, lalu melihat kembali pesan yang terindah didunia itu. Aku memang
menyimpannya di Instagram.
Naufal yang disampingku melirik pesan itu,
dan membaca headernya sedikit. “Ini ana, Salma”. Aku langsung menutup, namun
dia sudah terlanjur membaca nama itu. Ia menanyakan pada aplikasi apa kami berkomunikasi.
Aku jawab secara jujur, lalu Naufal mendesakku untuk memberikan nomor
teleponnya. Nomor Salma Cuma ada di handphone ayahku, dirumah! Lagipula aku
juga belum mengantongi izin dari mereka berdua, jikalau aku mau memberikan
nomor mereka. Kalau tanpa izin, bakal berabe deh jika nopal bilang “dari
Thariq”
Aku bilangin ke dia, kutanyai dulu mereka.
Oiya, aku memaksa si Nopal berfoto. Sedari awal bertemu tadi memang tidak ingin
berlensa. (padahal udah sampe dirumah dia mintain hasil
fotonya :v) Akhirnya, oke.
Aduhh gegara kakak w suka make mode cantik, lupa dimatiin, jadi supaya agak natural gitu dikasi filter :v
Selesai
semua agenda, makan-makan pun sudah usai. Kami memutuskan untuk membayar apa
yang sudah kami makan disitu. Berabenya, aku sendiri hanya membawa 20K pada
awal pergi dari rumah. Ehh tau taunya abis bensin, jadi tinggal 10K. Engga
cukup untuk bayar setengah porsi sate yang belasan ribu :v
Untungnya kami jalan jalan ama anak sultan :v
Si Naufal membawa uang 50K, lalu mentraktir kami semua, eh bukan deh, aku
memberikan uang 10K kepada Naufal, jadi aku ditraktir engga sampe limarebo :v
Akhirnya kami pulang dari situ, dan berpisah
dengan Naufal pada persimpangan KKN. Naufal lurus, sedangkan Fauzi
mengantarkanku hingga rumah.Sepanjang jalan yang sudah mulai sepi, kami
berbincang tentang apapun, mulai dari dukungan terhadap mak’e nya yang
merupakan tim medis, sampai tentang
“Menurut antum fau, Malam ini biasa biasa
aja atau gimana?”
“Luar biasa”
“Iya pulak? Ana kira gegara karena antum tu
emang suka jalan jalan malem jugak, biasa aja nyh”
“Engga tuh”
Malam itu sungguh spektakuler menurutku. Pada
awalnya tidak ada rencana sama sekali, eh akhirnya bisa jalan jalan dengan
teman. Pada malam itulah, rasa sakit yang ada pada diriku ini mulai berkurang.
Meski kurangnya sedikit, aku telah
merasakannya.
~ Ж ~
Aku
tiba di rumah dengan memasuki pintu belakang. Kamarku ya di belakang :v, aku
tidak ingin mengganggu tidur yang di depan.
Kulepaskan sweaterku, lalu kuambil laptopku.
Aku mengetik sampai jam dinding rumahku menunjukkan pukul satu malam.
~ Ж ~
Aku menjalani hari tersebut selayaknya Idul Fitri sebelumnya, hanya format destinasi silaturrahimnya yang lumayan berbeda. Lebih sedikit, dan kalaupun silaturrahim, yang dekat saja.
Lumayan banyak juga sih, rumah di komplek PGM itu yang kukunjungi. (Hadehh gaada yang ngasi THR, adek w doang. Katanya udah gede :v). Aku capek, benar benar capek. Bahkan, ketika bertamu ke rumah ibu Susilawatisam, aku tertidur. Aku terlelap di ruang tamunya, menyenderkan kepalaku ke dindingnya. Kata kakakku, setidaknya ada setengah jam aku begitu :v (gasopan bgt :v)
Sore tiba, dan aku telah mengetahui semenjak dua hari yang lalu bahwa maminya Nabiila Amalia mengundang keluargaku untuk bertamu ke rumahnya pada hari nan suci itu. Maka, aku menyiapkan diri, memakai pakaian bermerk samase yang memang menjadi seragam lebaran tahun ini, dan memakai sepatu. Terlintas di kepalaku ingin membawa laptop, karena pada hari itu tak sehurufpun yang bertambah pada tulisanku. Namun, kuenyahkan saja keinginan itu karena menurutku itu hal yang tidak mungkin. Bertamu bawa laptop, aneh banget!
Setelah semuanya beres di rumah Nabiila, Orangtuaku memilih untuk bersilaturrahim ke tetangga lama kami, Anda Aquarium. Sambutannya cukup baik. Langsung ditawari kue kuean dan beberapa minuman kaleng. Aku hanya mengambil minuman kaleng, itupun berdua dengan ayahku. Ibuku dan kakakku masuk ke dalam, bersama bu Sri dan anak anaknya. Pak Candra, aku dan ayahku lebih memilih untuk berbincang di bagian depan toko.
Obrolan menurutku cenderung biasa saja, karena membahas tentang virus corona juga. Bosan tau, topiknya itu melulu. Aku mengalihkan fokusku kepada smartphone ayahku yang sebenarnya sudah habis kuota.
Samar samar, kulihat ada cahaya putih, maksudku mobil berwarna silver datang dan hendak parkir di depan toko itu. Mobil itu adalah mobil yang sepertinya sangat kukenali.
Seketika sekelebat ingatan melintas di kepalaku. Selama ini, ketika aku masih menempati toko paloma itu, aku sudah beberapa kali melihat keluarganya, bahkan Salmanya datang ke toko aquarium itu. Jadi, aku langsung berfirasat bahwa mobil itu adalah milik keluarganya. Aku belum terlalu ngeliatin, tapi ketika aku melihat plat nomornya, aku yakin. Itu adalah mobil keluarganya! Wadooh :v (gw sempet kagok woe, langsung ke dalem, tapi ralat, males kagok gitu, keluar lagi ah :v)
Dulu, aku sangat hafal sekali plat nomor mobil mereka itu. Namun, dua tahun belakangan aku belum juga memperbaharui referensi nomor polisi mobil itu. Sampai akhirnya sekitar dua minggu lalu, sambil lewat rumahnya, kuhapal dengan baik :v mungkin bagi kalian itu hal yang sepele, namun menurutku itu adalah salah satu cara agar kita mengetahui bahwa seseorang itu masih tersedia di bumi allah ataukah tidak :)
Tiga orang turun dari mobil itu, Adik terkecilnya, serta orangtuanya. Aku tidak melihat salma turun dari mobil itu, namun aku melihat ada bayangan hitam bergerak gerak di dalam mobilnya. Kurasa, ada orang di situ. (dan benar saja, setelah beberapa hari si salmanya konfirmasi bahwa itu memang dia, dan dia itu awalnya kepengen turun, eh ada saia :v)
Setelah beberapa saat, jokes sedikit dari ayahku kepada ayahnya Salma, dan kamipun pamit mau ke sebelah. Ke toko HNI ibu Nurita. Ketika hendak pergi, seseorang dalam balutan cadar itu mengatakan, “Thariq udah lebih tinggi daripada ayahnya ya”.
Aduh, senengnya engga ketulungan :v
Dikasih THR lagi, ama dua toko situ :v
Hari itu berlangsung seru, meski pertemuan itu terjadi singkat saja. Itu telah menyembuhkanku >_<
Hari hari selanjutnya, aku menempuh salah satu periode terindah dalam hidupku. Kami bisa berkomunikasi! meski sedikit sedikit, aku sudah amat sangat bahagia. Meski rasa sakit kadang kadang muncul, kurasa itu sudah bisa dibilang pulih. Kau tahu? Aku selalu ingin mengobrol denganmu. Terkadang, aku mencari sesuatu yang bisa ditanyakan, hanya karena ingin mengobrol denganmu :) terimakasih ya, sudah meladeniku.



Komentar
Posting Komentar