AARGH!
Semua barang disekitarku rasanya ingin
kubanting. Bola yang pernah dihadiahkan Orangtuaku untuk Hazeq sudah hampir
hancur kutendang.
Seperti inikah akhir dari kisah kita?
(That’s
Happened on 25 Ramadhan.)
~ Ж ~
بسم الله الرحمان
الرحيم
(Tangan gua masi gemetaran loh).
Semua itu dimulai pada Hari Rabu tanggal 21 Ramadhan 1441.
Hari itu, selepas sahur untuk berpuasa, Aku mengeluh kecape'an dan segera
merebahkan diri di kasurku. Tentunya, aku telah melaksanakan Shalat Shubuh.
Tak sempat merenung dan berlama lama, aku terlelap dalam tidur
indahku.
Aku langsung dihadapkan dengan latar masa lalu tepatnya di daerah
bukittinggi.
Singkatin aja deh, yang namanya mimpi mah absurd semua :v
Aku melakukan rihlah bersama teman teman alumniku semuanya. Tidak
jelas kemana, yang penting ketika itu kami berhenti di sebuah pusat
pembelanjaan. Tatkala aku telah melakukan apa yang perlu kulakukan di dalam,
aku pun keluar.
dan di sebelah kiriku ada dua orang yang sangat tidak asing bagi dua
mataku ini.
Salma dan Safna.
Safna menyapaku dengan kata kata yang aku tidak mampu aku ingat
lagi.
Seketika, akupun terbangun dari mimpiku.
~ Ж ~
Aku terbangun dengan
perasaan hampa. Kau pasti tau rasanya. Tidur dengan mimpi yang relatif aneh, kemudian terbangun dengan kantuk yang tidak tersisa sama
sekali
akibat respon terhadap mimpi tersebut.
Apa yang terjadi padaku?
Mengapa pertahanan hatiku semudah ini hancur?
Bukankah semuanya sudah berakhir?
Aku tiba tiba bisa mengenang semua. Seakan akan,
itu baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu. Kala aku sedih, senang bersamanya, dan banyak perasaan lain
yang bertempur di dalam hatiku. Hal itu memenuhi kepalaku. Rasanya, Ingin
kuledakkan saja rasanya kepala ini. Semua perasaan bercampur aduk.
Ah,
Mungkin ini azab tidur pagi :v
Sepanjang
hari, aku hanya memikirkan hal yang sekiranya bisa membuat hati ini benar benar
luluh kembali. Aku tak bisa berbohong. Hati ini benar benar menginginkan dia
untuk kembali.
~ Ж ~
Semenjak peristiwa itu
hingga kini, aku memiliki kebiasaan baru; Mendengarkan lagu lagu galau yang
tersedia pada tape yang berlabel Speaker Qur’an. (haha, speaker qur’an dijadiin
musik), seperti
Hari
itu sungguh berat bagiku. Aku dipaksa mengingat semua kejadian demi kejadian
yang telah menghantuiku hingga kini. Tidak tahu siapa yang memaksaku begitu,
Oleh karena itu kurasa ini Qadarullah untuk membuatku bertindak.
Berat.
Berat sekali untuk
mengingat semuanya. Susah sekali. Tetapi itu seakan masuk begitu saja ke dalam
kepalaku ini. Pun pada blog lamaku aku telah mengakhirinya dengan dramatis,
yang salah satu pokok pikirannya adalah meninggalkan semua kenangan di
belakang, kendati aku hanyalah bisa merangkak keluar dari memori itu.
Aku
menjadi labil.
Aku ingin aku teguh pada pendirianku, tapi sekali lagi, aku tak bisa membohongi
diriku sendiri. Aku menginginkannya untuk kembali.
Susah
sekali diceritakan, berat sekali untuk dikisahkan.
~ Ж ~
Akhirnya
aku memilih untuk membuka kenangan yang sudah lama tertinggal. Foto foto itu,
Blog lamaku, semuanya. Kenangan bersama teman teman lainnya terasa lagi,
terutama kamu. Iya, kamu.
Kala
siang menjelang sorenya, aku mendapat direct message dari
Nabilatul. Seperti biasanya, obrolan yang tidak jelas yang hanya punya inti
agar tetap terhubung. Hubunganku dengannya? Lain kali saja kujelaskan.
Artikel ini terkhusus untuk kamu.
Ia
mengatakan dalam pesan suaranya, bahwa si Salma AlKahfi ngechat dia. Akunya
auto nanya dong, apa dibilangnya. Kemudian Nabila memberikan screenshotnya.
What?
Kok bisa kebetulan gitu ya kejadiannya? Pas banget paginya ada sesuatu yang
menendang pikiranku hingga terbang melayang sampai ke angkasa. Tolonglah tuhan, aku sangat
keheranan.
Jantung
ini tiba tiba berdenyut cepat ketika tahu kontak dia telah lahir. Aku mencoba
meyakinkan Nabila untuk menanyakan beberapa hal, salah satunya yaitu apakah itu
akun pribadi mereka berdua atau sebenarnya punya orangtua. Benar, pertanyaan
itu, aku yang suruh, Salma.
Mendapatkan
jawaban itu seakan menjadi lampu hijau buatku menumpahkan segala kegelisahanku
tentangmu. Aku harus bisa berkomunikasi dengannya!
Aku
mencoba membujuk Nabila untuk memberikan nomor telepon Salma kala itu. Susah
sekali bernegosiasi dengannya
Kalo
susah, Mengapa Nabila? Kan bisa Hanin?
Aku
percaya dengannya, dia bisa menjaga kerahasiaan chatku bersama Salma. Aku
percaya dia. Sepanjang ini, riwayatku masih dijaganya. Bahkan ketika tragedi
tragedi kala aku masih cupu dahulu, ia tak mengumbarnya.
Hingga
akhirnya, setelah lama bernegosiasi, sepaket dengan ledekan “CLBK ya”,, Aku
mendapatkan nomor teleponnya. Segera setelah itu, aku menyimpannya dengan nama
kontak “Salsa F 2020” tinggal nyambungin kata pertama ama F nya doang
kok, udah itu doang artinya. Tidak lebih kejam dari kalian yang melabeli
kontakku dengan “Urang Sasek” :v
~ Ж ~
Aku
sungguh kesulitan mencari nomor telepon yang akan digunakan untuk menghubungi
mereka. Sebenarnya aku tak mau memakai whatsapp, karena aku pernah disakiti
pihak WhatsApp gara gara aku menggunakan mod pada aplikasi mereka. (salah
gue juga sih).
Tetapi,
sekali lagi, demi kamu.
Ditambah lagi aku tidak mau mengurangi uang jerih payah orang tua untuk
digunakan membeli nomor baru supaya aku dapat berkomunikasi dengan mereka. Aku
menanyakan kepada beberapa orang terdekatku, untuk dapat menggunakan nomor
mereka sebagai aktivasi akun WhatsApp baruku. Susah sih, tapi gapapa.
~ Ж ~
Setelah beberapa hari berusaha mencari gratisan :v,, Aku mendapatkan
jalan keluar dengan stok SIM punya Nauval Aldis Muhammad, Kakkel saia. Aku
santuy saja, tidak terburu buru gegara periode WFH masih berjalan lama. (Karena w tau limitnya itu
selama WFH)
Langsung eksekusi dah di laptop, pake emulator MEmu.
Beberapa menit diproses, berhasil. Eeeh taunya menit selanjutnya nomorku
permanently diblock oleh pihak Whatsapp karena aku masih mengaktifkan Root
mode di laptopku. Ditambah lagi pihak whatsapp tidak mendukung terhadap
penggunaan emulator. 2 Hari aku memprosesnya ulang, Melobby pihak Whatsapp
lewat e-mail, bernegosiasi dengan mereka. Memang agak rumit, mereka slow respon
:v
~ Ж ~
Jalan keluar sesungguhnya adalah dikala aku sudah mendapat e-mail balasan
terhadap permintaanku untuk diasimilasi :v. Akhirnya aku diampuni mereka, lalu
segera kupasang aplikasi clone pada hape ortuku, supaya minim terdeteksi.
Setelah semua kelar, aku memutuskan membuat akun samaran yang mengatasnamakan
salah satu tokoh kartun, yaitu Ladoo Singh. Menurutku, itu lebih sehat dan
masuk akal daripada membuat gambar yang tidak jelas seperti banyak teman lain.
Mengapa aku memilih untuk menyamarkan
akunku?
Aku takut, ketika mereka mengetahui itu
adalah aku, mereka langsung ogah.
Aku
hanya ingin menambah limit waktu pembicaraan, walau aku tahu hanya bertambah sebentar.
Sesegera mungkin aku memberikan salam pada mereka, memulai chat yang aku tahu
pasti akan berakhir singkat.
Beberapa lama setelah itu, iqamat ‘Isya berkumandang. Aku baca cepat, dan dia
menanyakan siapakah diriku ini sebenarnya. Kuakui, aku menjawab dengan sesuatu
yang bersifat kontroversial.
Mungkin kalian bertanya tanya, mengapa aku mengatasnamakan pacarnya
Nabilatul?
Ya, sebagai lelaki seperti yang lain, diriku juga memiliki EGO
yang kuturuti sendiri. You know, pengen buktiin kalo w udah bahagia tanpa elu,
Seperti tradisi muda mudi millenial ini. Aku sadar aku salah, dengan membuat
itu. Padahal, aku sama sekali tidak pernah pacaran dengannya. Padahal,.. Diriku
sangat sunyi tanpa kehadiranmu.
Aku mohon maaf untuk semuanya.
By
the way, Aku shalat di masjid dengan tubuh yang super kedinginan. Aku
ngeri atas kelakuanku sendiri. Merasa kedinginan adalah salah satu respek
diriku jika aku dipaksa untuk menghadapi sebuah permasalahan. Itu terjadi
hingga detik ini. Iya, sampai detik aku menulis kali ini. Jam 10.00 tanggal 26
Ramadhan 1441 H. Dingin banget, terutama di bagian tangan dan kaki..
~ Ж ~
Pembicaraan berlangsung dingin. Berkesan jutek banget. Tapi
memang itulah yang seharusnya seorang wanita lakukan jika ada yang menghubungi
dan tidak dikenal. Dia menanyaiku berkali kali tentang siapakah aku sebenarnya.
Oiya, aku terbiasa menggunakan kata “Kau,gue lu” dan lain lain. Iya,
benar. Aku menggunakan semuanya. Aku hanya tidak nyaman menggunakan ana antum
pada chat. Walau kadang digunakan juga.
Lagipula, kata “kau” sering berada di dalam puisi, bukankah itu kata yang lebih
indah daripada kata “kamu” yang tergolong umum?
Tak kusangka, pembicaraan hanya berlangsung ± 2 jam saja. Menyedihkan sekali
diri ini. Begitu mereka tahu siapa aku, langsung saja mereka block. Aku sengaja
membuat clue “pernah dimuat pada profile pict nabila” agar ‘sambil menyelam minum
air’ apakah mereka sadar waktu itu atau tidak.
![]() Sebelum itu, aku udah janji ga marah :v Jadi udah jelas kan, gaada yang aneh. ![]() |
Pada
awalnya, ketika tahu si Nabila memuat profile dengan gambar diriku, aku
tertawa. Ditambah lagi ketika si kembar mengechat Nabila ketika PPnya masih ada
fotoku.
Tapi semua itu berubah ketika Mereka tau
tentang that’s Profile Photos. Aku geram akan kejadian itu.
Sakit, loh. Sakit banget.
Diblock dengan cara seperti itu dalam kondisi yang seperti itu, itu terasa
menghujam jantungku.
Kau tahu? Aku tidak pernah lagi tertarik
membuat akun Whatsapp semenjak lama. Hanya kehadiranmu yang membuatku seakan
terisi oleh bahan bakar sehingga aku bisa ngegas, eh beraksi.
Kau tahu? Membuat akun Whatsapp tanpa sebuah
kartu SIM tidaklah mudah. Aku hanya tidak ingin merepotkan orang tua disaat
krisis begini. Uang hasil jerih payahku (dagang diasrama :v) sebenarnya masih
banyak, tapi masih diperlukan orangtuaku.
Kau tahu? Whatsapp ini aku install lagi hanya
untuk kamu.
Kau tahu? Story story yang aku kirimkan pada Whatsapp itu hingga detik ini, semuanya untukmu! Kalau kau lihat di akun Facebook dan Instagramku, Aku tidak pernah mengirimkan banyak sekali story dalam sekali waktu. Aku melakukan itu di Whatsapp hanya untuk kamu, tau. Aku sadar waktu yang kupunya untuk berkomunikasi sangatlah sedikit, sedangkan jutaan kata belum kuutarakan padamu. Viewer storyku cuma 2, tau. Tapi tidak jarang pula aku privatekan viewernya hanya kamu. Kamu. Aku terkadang menunggu 1 viewer yang tidak datang datang untuk membaca storyku. kalau storyku menunggu selama 10 menit untuk kau baca, aku itu lihat viewernya setiap semenit dua kali.
Kau tahu? Perasaanku pada saat itu? Semua aura di dalam tubuhku naik ke permukaan. Itu membuat kepalaku seperti ingin menangis, walau tidak akan.
Kau tahu? Perasaanku pada saat itu? Semua aura di dalam tubuhku naik ke permukaan. Itu membuat kepalaku seperti ingin menangis, walau tidak akan.
Menangis bahagia, mungkin.
Bisa berkomunikasi dengan orang sepertinya.
Kau tahu? Rasanya diblock pada saat itu?
Dadaku sesak, aku ingin menangis walau tak akan bisa menangis, hatiku mendidih,
dan segala rasa di dalam tubuhku rasanya hancur. Benar, hatiku meringis pada
wanita kendati sebenarnya aku tidak ingin.
Kau tahu? Kali ini aku merasakan patah hati
terberat selama ini. Aku tidak percaya akhir cerita kita akan disudahi dengan
tidak hormat.
Semua barang disekitarku rasanya ingin
kubanting. Bola yang pernah dihadiahkan Orangtuaku teruntuk Hazeq sudah hampir
hancur kutendang. Dinding dinding di kamarku sudah kuhabisi. Dada yang sesak
ini ditambah sesak oleh hantaman tangan sendiri yang bergerak dengan
sendirinya. Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Oh iya, ada. Yang aku bisa
salahkan adalah seseorang bernama Thariq Almas Neil Authar.
Ribuan kata diperlukan agar dapat menerangkan
perasaanku saat itu. Aku hancur banget.
Apakah ini akhir dari kisah kita?
~ Ж ~
Anehnya, aku bertingkah seakan hidupku tinggal beberapa detik saja. Kepanikan
itu.., Ah, Aku seakan lost control dari tubuhku. Ampuni aku,
Yaa Rabb.
Aku berjalan di dalam rumahku sendiri tanpa kestabilan. Kepalaku sakit, Aku
ingin beristirahat. Tapi rencana untuk tidur berubah di kamarku, ketika
dentuman antara kepalan tinjuku dengan dinding terdengar begitu keras.
Tidak
akan kubiarkan semua berakhir seperti ini!!!
Aku berbalik arah, menuju ruang tamu yang mana smartphone masih tergeletak di
situ. Aku meraih benda itu, membuka whatsapp akun kakakku, dan mulai chat lain.
Aku tak tau mengapa aku melakukan itu. Aku hanya merasa ingin sekali meminta
maaf terhadapnya.
Salma,
aku selalu mencari masalah. Aku masih sering chat dengan akhwat. Bukannya
maksud apa apa, aku Cuma kesepian. Pernah sih, dipanggil sekali. Tapi, itupun
gara gara aku ngaku kok. Kalau engga, gaakan. Tapi aku tidak
pernah lagi berusaha memulainya denganmu, mengapa?
Karena...
Aku menyayangimu. Aku tidak ingin
kau memiliki masalah di sekolah, sehingga reputasimu hancur.
Aku ingin menjagamu. Aku tidak
ingin kau dinodai oleh seorang lelaki sebelum ia h\alal bagimu
Aku ingin menghargai keputsanmu untuk
memilih mengikuti peraturan semacam itu.
Aku..
Ah,
sudahlah. Kalimat seperti itu terlalu sensitif digunakan oleh orang seperti
kita.
. ~ Ж ~
Lanjut ah, aku tidak ingin bagian ini baper banget. Nanti aja.
Aku
melihat cloud Whatsappku. What? Kok foto profil dia udah keliatan? Ini kayaknya
udah dibuka blokirnya deh.
Dan telah aku pastikan, she canceled that. Aku benar benar menemukan secercah
harapan, tapi rasa sakit itu mustahil hilang begitu saja. Rasa itu tetap ada.
Tidak mungkin untuk kembali menghubunginya lagi. Aku mencoba dengan perantara.
Yups, siapa lagi.
Beragam masalah
yang timbul malam itu. Dimulai dari ketika aku mengaku Pacar Nabila, hingga
Screenshot bahwa si Nabilatul PPnya foto gua (yang ini kan udh dijelasin diatas)
Untuk jawaban Nabilatul tentang pacarnya itu sungguh membuat
hatiku seperti dihantam tombak untuk kedua kalinya. Coba, mengapa tidak jujur
saja? Malah mengatakan bahwa saya ngaku ngaku, seperti orang yang suka ngehalu
bin orgil saja.
Mungkin sepele bagi kalian, tetapi masalahnya bukan itu, Aku lagi down banget.
Ditambah dengan itu, AH!
Aku kecewa padanya.
Aku berusaha bersikap seperti tidak ada yang
terjadi. Karena, jika aku marah, tentu tidak akan ada lagi kelanjutan kisah ini.
dan, pada
akhirnya mereka meminta Nabila untuk tidak SS chat mereka. Aku tidak peduli.
lanjut saja, namun diakali. Aku meminta Nabila agar men-copas chat mereka.
Pada malam
itu, tiba tiba aku disuruh tidur oleh Kedua orangtuaku. Aku mewasiatkan kepada
Nabila, agar ketika bangun aku mau melihat apa isi chat mereka.
~ Ж ~
Aku tidak memiliki pilihan lain. Kuturuti
perintah Orangtuaku. Aku menghela napas, menuju kamar tidurku dengan perasaan
benar benar hancur dan kebingungan. Kepalaku masih pusing dan dadaku masih
sesak sedari tadi.
Aku tidak merasa ngantuk sama sekali.
Isi kepalaku hanyalah dia, dia, dan dia. Kurasa, ini adalah akhirnya. Sudah
satu jam berlalu, Badanku masih saja merasakan hal yang telah kusebutkan tadi.
Aku sangat tidak tahan. Serius.
Pada akhirnya aku
memutuskan untuk menyelinap ke ruang tamu, Menghidupkan Hotspot Smartphone yang
terletak di meja depan, dan aku menyalakan Laptopku kembali di kamarku. Hal itu
semuanya kulakukan secara diam diam. Aku membuka browser, mengetik beberapa
paragraf episode ini serta menanyakan segala hal kepada Nabila tentang apa yang
terjadi. Kukira semuanya sudah tertidur, namun ternyata semuanya baru saja
usai.
Mau bilang apa ya?
Berarti yang dari tadi chat denganku adalah safna?
dia kenapa, ya?
Sejauh aku mengenalnya, dia tidak sejudes itu. Aku dahulu, ketika kelas 6 bukannya kami sering ngobrol? Mengapa tiba tiba begini? Aku Positive thinking aja, mungkin itu gara gara pembukaan yang aku sampaikan sangat kontroversial sekalee.
Aku rindu senyum Salma, aku kangen bacod-an safna :v
Perasaan sakit yang aku alami 3 jam belakangan ini seakan pudar. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa tidur.
dia kenapa, ya?
Sejauh aku mengenalnya, dia tidak sejudes itu. Aku dahulu, ketika kelas 6 bukannya kami sering ngobrol? Mengapa tiba tiba begini? Aku Positive thinking aja, mungkin itu gara gara pembukaan yang aku sampaikan sangat kontroversial sekalee.
Aku rindu senyum Salma, aku kangen bacod-an safna :v
Perasaan sakit yang aku alami 3 jam belakangan ini seakan pudar. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa tidur.
~ Ж ~
Aku terbangun
dengan otak yang lebih segar dibanding tadi malam, namun aku masih merasakan
sedikit rasa pusing.
Selepas shalat shubuh dan tilawah, aku meraih
smartphone, lalu browse Instagram.
Kutemui beberapa lagu galau, yang benar benar
membuatku merasa....
Ah, lupakan saja.
galau bet :(
Ah, aku tidak ingin
membuang waktu. Aku harus berolahraga.
Kuraih sepeda
berlabel PACIFIC itu, yang memiliki banyak kenangan tentang kita. Seperti biasanya, ruteku adalah Jalur 32 - Perum. Pasaman
Indah - Jalur 32. (lu tau kan tempat tinggal w di JB)
Kau tau kan maksudnya apa... Iya, kamu benar.
Ketika beberapa kali menikung pada kelokan
asik (w nyebutnya mah itu ae), Aku melihat sekelompok orang yang kelihatannya
tengah jalan pagi.
What? Bukannya itu?
AH! CABUT!
Aku tidak tau jelas siapa itu, namun aku
menduga itu keluarga Salma, (semoga engga ya, w kocar kacir banget waktu
itu)
Aku hanya tidak ingin terlihat kagok dimatanya. Tapi tingkahku waktu itu tidak menunjukkan keinginanku.
Aku tiba dirumahku dengan napas yang masih
terengap-engap. Kucoba menenangkan diri, dengan beberapa tarikan dan hembusan
napas yang dipercaya dapat menenangkan siapapun yang merasakan.
Badan masih berkeringat, kuambil handphone dan membuka clone app whatsappku. Aku melihat ada pesan baru, dan itu dari orang yang spesial menurutku. Salma. Panjaang banget. rasa penasaran muncul dong, kayaknya ini penting.
Bisa dibuktikan dari bahasanya, itu adalah pesan yang sangat penting. Aku menghela napas sebelum membacanya, dan akupun mulai berpindah ke bawah teduhnya sebuah kanopi.
Aku membaca kata per kata. Setiap katanya membuat diriku tidak tenang. Apa?
Sudah
cukup, untuk tanggapan terhadap pesan itu aku akan menjelaskan
itu secara rinci pada next post. Terlalu panjang untuk diceritakan disini.
Pada akhirnya, aku merasakan penyesalan atas
diriku sendiri yang membuat epilog seperti itu. Aku tak menyangka ujungnya
bakalan seperti ini.
Harusnya aku senang dong, karena perasaanku
selama ini ternyata terbalaskan.
Harusnya aku senang dong, karena.... AH!
Aku menyesal, Salma..
Aku hanya mencoba baik baik saja tanpamu,
padahal never
Aku tahu aku tak pantas melakukan ini, namun
tolong maafkan aku.
Semua begitu saja terjadi, dan akupun benar
benar menyesal karena menekan “Publikasikan” pada Epilog itu.
Sungguh, hatiku bukan seperti itu.
Aku hanya ingin mengatakan pada dunia, bahwa
diri ini tidak akan tumbang begitu saja.
Kamu tidak pernah lepas dari hatiku.
~ Ж ~
Entah bagaimana aku bisa menjelaskannya,
betapa down-nya diri ini. Aku kehabisan kata kata.
Otakku benar benar ingin menegur apa yang
telah dilakukanku.
Bukankah aku pernah menyatakan, kau mengukir
namamu sendiri pada hatiku. MENGUKIR!
Mengukir itu jauh berbeda dari menulis.
Kau tahu ukiran pada sebuah batu?
Ibaratkan saja kau mengukir sebuah batu yang
punya label Thariq Almas Neil Authar. Kau mengukirnya dengan perasaan. Namun,
kau sengaja meninggalkannya di suatu tempat yang tandus, dengan alasan kau
tidak ingin batu itu pergi kemana mana jika ia diletakkan di dalam sungai. Lama
kelamaan, batu tersebut berdebu dan ukirannya memudar.
Kau tak bisa bohong, kau rindu batu itu.
Suatu hari kau datang dengan perasaan
kehilangan mengenai segala tentang batu itu. Kau hanya memastikan keadaannya.
Batu itu meminta maaf dan terima kasih, namun sebenarnya dirimu tersipu malu
sendiri gara gara itu. Namun kau tetap mencoba bersikap dingin.
Kau
mengetahui batu itu ada, dan kau meyakini itu.
Kau
mengetahui dimana batu itu berada, dan kau tahu pasti akan itu.
Dan
kau bahagia atas itu.
Tapi kau tidak mengambilnya kembali, padahal
dirimu ingin.
Dan sekali lagi, kau tidak bisa bohong. Kau
amat rindu dengan batu itu, tapi kau hanya diam seribu bahasa memendam perasaan
itu. Kau yakin, akan datang suatu masa dimana batu itu akan membuat kau
bahagia.
Batu itu tetap setia menunggu disitu, masih
dengan debu debu disekujur tubuhnya, serta belum jua paham apa penyebabnya kau
berkelakuan seperti itu.
Tetapi, ukiran yang kau buat ternyata
memiliki kekuatan magis, ia dapat menggulung dirinya sendiri dalam sebuah
kertas, dan melayangkan diri sendiri ke kepalamu. Batu itu ingin menyatakan
bahwa ia lebih baik tidak bersamamu, padahal batu itu sangat mengharapkan
bersamamu.
Dan akhirnya kau membaca apa yang ada di
dalam kertas tersebut, dan kaupun menangis karena tidak tahan perasaanmu yang
ternodai serta sakitnya kepalamu atas hantaman batu itu.
Pada akhirnya tanpa mengontrol tubuhmu,
mencucinya kembali dan ukiran itu bahkan tampak lebih jelas dibanding ketika
kau mengukir itu.
Kau memajangnya di atas meja tamu dan ukiran
itu bertahan selamanya. Selamanya!
.......
Batu itu memiliki cerita sendiri.
Pada saat diukir, dia sangat senang sekali.
Ia seperti bahagia sepanjang masa.
Namun lambat laun ia ditinggalkan begitu
saja, dan ia menganggap bahwa dirimu telah membuangnya. Ia tidak menyadari alasan dibalik semua
tindakanmu.
Lama lama ia dipenuhi debu, dan akhirnya
ukiran yang sempat membuatnya bahagia setengah mati itu memudar.
Ia masih belum menyadari apa alasanmu. Dia
hanya ingin kau pedulikan.
Setiap hari tanpa kabar darimu, membuatnya
muak.
Beberapa kali kamu temukan ia di jalan, dan
dia mengungkapkan maaf terima kasih, kau hanya menanggapinya dengan dingin.
“Dia harus tahu bahwa aku bisa bahagia
tanpamu!”, gumamnya.
Namun dia tidak bisa berbohong, ia masih
sangat merindukanmu.
Ia masih sangat merindukan beragam
ekspresimu.
Dan dia berusaha untuk mewujudkan kalimatnya
sendiri, qadarullah ia bisa kecipratan sedikit air, namun tidak sebersih air
yang diberikanmu.
Ia sedikit senang, namun tetap saja kau yang
terbaik baginya. Ia memilih untuk dibersihkan oleh sedikit cipratan tersebut
karena tidak ada pilihan lain, kau hanya diam seribu bahasa.
Dia masih saja bersikeras untuk membuatmu menyesal
telah membiarkan dia begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ia menggunakan
seluruh keahliannya dengan menggunakan kekuatan magis yang sebenarnya
tercipta kerana diukir olehmu.
Dan dia melakukannya, tapi ia sadar
setelahnya, bahwa ia mengambil keputusan yang salah. Melihat sang dewi
menangis, ia sangat tidak tega. Dia tidak tega membiarkannya seperti itu,
Akhirnya ia dibersihkan kembali (padahal dirimu lost control) dan ia bahagia
bersamamu pada rumahmu selamanya.
~ Ж ~
Oke, akan kuhubungkan dengan kisah kita
berdua. Aku dulunya adalah orang cupu yang tidak mengerti apa apa tentang
cinta. Dan kau hadir, merubah segalanya menjadi lebih indah. Sepanjang waktu
aku memikirkanmu, dan itu terjadi lama sekali sehingga tibalah aku bukanlah
orang yang cupu lagi. Aku sudah mengembangkan diri, menyeimbangkan
dengan dirimu. Kau membuatku jatuh cinta sebagaimana dirimu juga seperti itu
kepadaku.
Akan tetapi, kau meninggalkanku begitu saja
tanpa kabar sama sekali semenjak kita menempuh pendidikan pada sekolah yang
sama. Sekolah yang sama, loh!
Aku
letih tau, kamu pergi tapi mau tidak mau harus kukejar. Waktu itu
aku juga tidak mengetahui apa penyebabmu sampai sampai berlaku begitu kepadaku.
Aku yang tidak tau apapun tentang alasanmu
seperti itu tentunya muak akan hal yang kualami beberapa waktu kebelakang.
Bayangkan saja, aku ingin mencintai sesuatu, namun aku tidak tahu ia masih ada
di bumi atau tidak. Mendengar kabarnya saja hampir tidak pernah, bagaimana jika
suatu saat aku meninggal, apakah dia akan tahu?
Itu sama saja seperti kau mencintai sesuatu
yang kau tidak tau sendiri. Kau sendiri tidak mengetahui siapa dia, apakah dia
masih ada atau tidak. Sungguh, itu melelahkan!
Akhirnya disebabkan oleh kelamaan
ditinggalkan, aku malah berubah kepada yang lebih buruk. Bukan apa apa, aku
hanya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku hanya perlu ditemuimu untuk sekali
saja, sekali saja. Aku bak bergelimangan dosa tanpamu. Wanita demi wanita sakit
hati karenaku.
Pada dasarnya kau hanya memilih untuk tetap
diam, menyangka diriku ini masih baik baik saja. Aku hampa tanpamu!
:)
Dan tujuanmu sebenarnya sangatlah baik, yakni
ingin membuatku supaya memang akan yang ditakdirkan padamu dengan cara
meninggalkanku (Logika Rabbaniyyah). Dan aku waktu itu belum mengerti apa apa
tentang itu.
Kau tahu? Hidupku selama dua tahun belakangan
ini? Aku luntang lantung tanpa kehadiranmu dalam hidupku! Aku tidak
memiliki suatu pegangan yang erat dan aku tidak yakin tentang apapun yang
datang kepadaku. Aku jadi masa bodoh terhadap kata cinta. Tolonglah
mengerti!
Sebenarnya kau juga menginginkanku kembali
pada hidupmu, kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Kau lebih memilih
untuk menyimpannya dalam relung hati terdalam. Kau ingin bersama lagi, namun
benar benar tidak berdaya. Kau mengikuti alur hidup dengan melaksanakan aturan
yang ada.
Namun, sekali lagi, aku hampa tanpamu! Aku hanya
perlu mengetahui apakah kau masih baik baik saja disana, sikapmu masih seperti
itu dan lainnya! Aku hanya butuh tahu bahwa kau masih ada di bumi ini! Itu saja!!!
Kau mengerti tentang itu sebenarnya, tapi kau
memilih untuk diam seribu bahasa. Aku kerap kali mencoba komunikasi denganmu meminta maaf dan berterima kasih,
tapi kau malah menjawabnya dengan dingin, serta penuh ketakutan. Sakit,tau. aku udah berusaha.
Lambat laun sikapmu mengubahku menjadi seseorang yang bertekad akan berubah, dan melupakan semua tentangmu. Padahal, hati ini masih saja tidak berhenti memujamu. Tak apa, waktu itu aku percaya bahwa suatu hari aku akan benar benar berhenti.
Akhirnya aku mengenal teman wanita lain, mencoba untuk mencintainya dengan apa yang aku bisa, padahal ukiran pada hatiku itu masih tetap ada, tidak berubah sama sekali, kau masih yang terbaik bagiku, tetapi kau masih menganggap semua masih baik baik saja.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memberitahu dunia bahwa aku sudah berubah, dan kau membacanya. Kau tidak bisa mendustai dirimu sendiri, kamu sangat sedih akan hal itu.
Tanpa tindakan apa apa darimu, kau menjelaskan lagi ukiran itu. Ketika aku bermimpi yang sudah aku jelaskan di atas tadi, semua rasa itu seakan kembali menyelinap di dalam tubuhku, tanpa kamu sadari itu telah menjadi seperti sebelumnya bahkan lebih jelas lagi daripada rasa yang pernah ada.
dan kau yang telah terlanjur membaca itu, mengirimkan pesan perpisahan terakhir kita. Aku sangat menyesal telah menyatakan hal tersebut. AKU INGIN KEADAAN KEMBALI LAGI !
~ Ж ~
Aku tidak bisa melakukan apa apa lagi. Rasa sakit hati ini lebih parah dibanding semalam. Jauh lebih parah. Aku menyesal telah menyudahi duluan kisah ini. Kumohon, Maafkan aku.
Badanku masih saja kedinginan hingga detik ini. Hatiku masih saja merasakan sakit sampai menit ini. Aku langsung sakit, tau, setelah kejadian itu. Seketika imunitas tubuhku hancur berantakan. Mungkin kalau terinfeksi coronavirus, aku bisa mati.
Kalau ibuku, penyakit bawaannya adalah mudah flu. Kalau aku sih beda, aku sangat mudah masuk angin begitu imunitas melemah. Hingga detik ini, aku masih merasakan tidak fit.
Ustadz Hasnan, Guru BK kita saja mengatakan bahwa badan aku panas ketika ke sekolah. Kalau eps ke sekolah ini ada nanti khususnya.
Kau, kalau melihatku 3 hari belakangan, tentu kau akan menganggap aku sakit. Mataku senantiasa berair, wajahku selalu pucat, dan mendadak aku menjadi seorang yang pendiam. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan
~ Ж ~
Aku menghantam semua kusen kusen yang ada. AH! Mengapa aku melakukannya? dia sudah terlanjur pergi. Belum tentu ketika aku mengharapnya sekarang untuk kembali, dia mau.
Pada akhirnya, aku pergi ke taman komplekku, menduduki ayunan dan mulai mengayunkan benda itu. Aku yang duduk di pangkuannya hanya meratapi nasibku yang kian parah.
Sepanjang hari itu, aku berkeliling simpang empat, beberapa kali melewati rumahnya, dan tidak lupa membawa sepaket surat suratan kita selama ini.
Maafin aku ya, Salma :(
~ Ж ~
Aku tak mengira aku akan sehancur ini. Demi Allah, Aku sangat tidak baik baik saja sekarang. Aku benar benar kehabisan kata sekarang. Kumohon, mengertilah, Salma.
Benar benar hancur diriku kini. Ini jauh lebih parah dibanding semua rasa sakit yang pernah ada. Kalau aku mampu sudah kuremas jantungku dan memuncratkan segala yang kupunya.
Aku hancur karena menyesal telah membuat perkataan itu.
Aku tahu perkataanku disini menentang apa yang ada di epilog tersebut, jadi, untuk keberkian kalinya, kuingatkan, ALLAH MAHA PEMBOLAK BALIK HATI.
Aku percaya kepadamu, sikapmu tidak akan berubah. Tetap sebagai Salma yang aku kenal dan orang spesial menurutku. Setidaknya, kita pernah saling memiliki rasa, saling memiliki impian yang akan kita giring bersama.
Kumohon, jangan berakhir di sini dulu. Masih banyak yang aku mau bahas.
الحمد لله رب العالمين.
Selesai diedit 20 Mei '20 jam 12.26.
Benar benar hancur diriku kini. Ini jauh lebih parah dibanding semua rasa sakit yang pernah ada. Kalau aku mampu sudah kuremas jantungku dan memuncratkan segala yang kupunya.
Aku hancur karena menyesal telah membuat perkataan itu.
Aku tahu perkataanku disini menentang apa yang ada di epilog tersebut, jadi, untuk keberkian kalinya, kuingatkan, ALLAH MAHA PEMBOLAK BALIK HATI.
Aku percaya kepadamu, sikapmu tidak akan berubah. Tetap sebagai Salma yang aku kenal dan orang spesial menurutku. Setidaknya, kita pernah saling memiliki rasa, saling memiliki impian yang akan kita giring bersama.
Kumohon, jangan berakhir di sini dulu. Masih banyak yang aku mau bahas.
الحمد لله رب العالمين.
Selesai diedit 20 Mei '20 jam 12.26.



Komentar
Posting Komentar